Sabtu, 14 Desember 2019

Gathering Netizen MPR

INI terdengar konyol tapi ini terjadi. Saya login blog dan menulisinya setelah lima tahun lebih berlalu. Rasanya seperti mengunjungi rumah lama yang tak dihuni, lalu tiba-tiba memasak dan menyajikan hidangan di sana, entah siapa yang akan menikmati. Tapi ini jadi menyadarkan saya, bahwa sesuatu yang dimulai harus diselesaikan, dan saya tak menyelesaikan apapun di sini, kecuali hanya meninggalkan bekas-bekas yang tidak berkesan. Kewajiban menulis pasca menghadiri event Gathering Ngobrol Bareng MPR dan Netizen membuks peluang baru bahwa masih ada yang bisa dilakukan dengan blog ini. Tulisan ini mungkin mengawalinya. 

Jadi ceritanya, pekan lalu tepatnya hari Sabtu, 7 Desember 2019, MPR menghelat acara tahunan Netizen MPR ID bertajuk "Ngobrol dengan MPR". Yang baru saya tau, acara ini ternyata sudah berulang tahun ke empat, artinya sudah digagas sejak tahun 2015, hanya saja gaungnya belum menggema ke mana-mana. Saya bersyukur Balikpapan menjadi tuan rumah netizen MPR tahun ini, jika tidak mungkin saya tak akan pernah tau program istimewa ini. Sebuah acara di mana perwakilan MPR bertemu dan melibatkan para pengguna media sosial untuk mengkampanyekan nilai moral dari empat pilar yang merupakan ideologi dan dasar negara. Empat pilar tersebut yakni, Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Gempuran budaya asing yang masuk dan bebas diakses melalui berbagai jenis media, juga gaya hidup anti sosial yang sekarang jadi lumrah, suka tidak suka telah mengikis nilai-nilai moral berbangsa dan bernegara kita. Belum lagi kolom komentar di media sosial telah menjelma menjadi panggung bagi tiap-tiap netizen untuk menyuarakan pendapatnya secara benar-benar bebas, tanpa peduli apakah komentar tersebut membangun, mensupport, atau malah menyakitkan, destruktif, fanatis, dan sifat negatif lainnya.

Nah, di sinilah peran penting terlibatnya para blogger dan influencer di event ini, mereka akan menjadi pembawa pesan dan pengawal Empat pilar MPR melalui konten-konten positif yang akan mereka sebarkan. Diharapkan, setiap konten yang dibuat oleh para netizen ini, dapat mengaitkan aktivitasnya dengan nilai moral Pancasila, UUD NRI 1945, dan juga Bhinneka Tunggal Ika, sehingga pesan-pesan ini kembali meluas ke masyarakat dan lambat laun tertanam kembali. Saya pikir ini cara yang baik dan efektif mengingat para follower millenial pasti peduli dengan apa yang dikatakan seorang influencer. Jika semua influencer dan public figure melakukan hal yang sama, maka dengan mudah masyarakat jadi terbiasa mengaitkan setiap hal positif dengan nilai moral Pancasila.

Saya juga memandang bahwa ini adalah kesempatan bagi para blogger dan konten creator muslim untuk menunjukkan kepada masyarakat luas dan terutama pemerintah, bahwa nilai-nilai kehidupan Islam secara universal berjalan di jalur yang sama dengan nilai-nilai luhur Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini sangat penting mengingat di periode pemerintahan ini terjadi kesalahpahaman masif terhadap nilai-nilai keislaman. Pun, pemahaman dan ketaatan yang mendalam terhadap agama seringkali dibenturkan dengan tindakan radikalisme dan terorisme, entah dalam maksud apa. 

Saya juga menantikan dengan penuh harap, bahwa nilai-nilai Pancasila yang dikampanyekan ini dapat terserap lebih dahulu kepada Pemerintah sebagai teladan utama perwujudan empat pilar negara melalui kebijakan-kebijakan yang mengedepankan kepentingan rakyat serta menghormati kedaulatan rakyat. Jika saja, empat pilar ini dipegang teguh dan dilaksanakan dengan baik oleh Pemerintah, maka tanpa kampanye masif pun, rakyat akan menghormati dan menjadikan empat pilar sebagai bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Salam Empat Pilar. 
MPR Rumah Kebangsaan, 
Pemimpin baik, rakyat baik, negara baik.




Senin, 05 Mei 2014

Bulan Meleleh

Malam ba'da isya.....
Nabigh lagi ikut abi buang sampah, kata abi, Nabigh di rumah aja nanti capek. Tapi Nabigh tetap mau ikut.

adek : "abi ke mana? buang sampah ya? ade ikut nah..."

abi : "gak usah.... nanti ade capek, buang sampahnya jauh loh naik gunung."

adek : "gapapaa.... ade kuat kok! ade kan sudah besal, badan ade kan sudah gede!"

abi : "nanti ade capeek... ga usah gin ade tinggal aja gin"

adek : "enda ade mau ikut!"

abi : "ya sudah ikut dah, nanti kalo ade cape abi gendong."

Akhirnya abi sama ade pergi buang sampah di pinggir jalan sekitar 200 meter dari rumah. Jalanannya menanjak karena letak rumah di perbukitan, namanya juga Gunung Polisi. hehe....
Sekitar 10 meter dari bak sampah...
abi : "sudah ade tunggu sini aja, tempatnya kotor, abi aja yang buang."

adek : "iyaaa, ade tunggu sini"

Sampah dilempar. Selesai tugas buang sampah.
abi : "ayo dek, kita pulang!"
sambil gandeng tangan adek.
jalan beberapa langkah.

adek : "bental bi, pinggang ade sakit eh!"

abi : "terus?"

adek : "iya, pinggang ade sakit eh!"

abi : "teruss??"
abi mulai curiga.

adek : "iya, kayanya ade cape deh!"

abi : "teruss??"
abi tambah curiga, perasaan ga enak nih...

adek : "iya, ade minta gendong!"
adek nyengir dengan wajah polos yang mempesona #merayu

abi : "beeeehhh.... adeeee..... katanya tadi kuaaaattt??"

adek : "hehehehee..... kan bilang  abi tadi kalo ade cape abi gendong!"

abi : "beeeehhh... ya sudah, sini hambin."
adek lompat ke punggung abi.
abi jalan lagi pulang ke rumah.

abi : "bintangnya banyak dek ya?"

adek : "iya! bagus ya bi!"

abi : "tapi ndada bulan dek, bulannya sembunyi! sembunyi atau ketutup awan ya?"

adek : "mungkin bulannya sembunyi di sanaaaa....."
tangannya menunjuk ke timur,
adek : "atau di sebelah sanaaaaaa...... nda keliatan sama kita, kan jauuuhh!!"
tangannya menunjuk ke langit barat.

abi : "iya kali ya dek,"

adek : "o iyaaaa ade tauuuu!!!"
adek berseru.

adek : "mungkin bulannya meleleh!!"

abi : "loh! kok meleleh?" abi kaget.

adek : "iya kena obol peltamina."
jawabnya kalem.

abi : ???????

hahahaahaa..... adek.... adek....



Jumat, 25 Oktober 2013

doa buat abi

Segala Puji Bagi Allah bahwa Faza sudah mulai disiplin sholat lima waktu di usia tepat enam tahun, dan sudah beberapa bulan terakhir ini Faza melakukannya dengan cukup konsisten untuk anak seusianya, tidak mengeluh capek, malas, mengantuk, atau menjadikan acara tv sebagai alasan. Semoga anak-anak umi dan abi selalu diberi hidayah Allah sepanjang hidupnya, aamiin...

Awalnya Faza hanya sholat saat ia mau, tapi kemudian Ramadhan kemarin membawa "kebiasaan" sangat baik untuk anak-anak, terutama Faza. Berawal dari semangatnya mengisi lembar Muhasabah Ramadhan (yang hasilnya jadi juara tiga di kelas), ritme ibadah itu terbawa hingga pasca Ramadhan, dan alhamdulillah, meningkat seiring pemahamannya tentang ketuhanan dan penghambaan, walaupun, tentu saja, dengan cara paling sederhana yang ia pahami.

Shalatnya pun masih "terserah Faza", seringkali tak berwudhu dan kalau kumat malasnya, gak mau pakai mukena tapi pinjam jilbab umi yang lebar. Tak jarang pula ba'da shalat saya menatap matanya dengan ekspresi pura-pura curiga dan mendapatinya tersenyum-senyum simpul karena malu ketahuan tidak membaca bacaan sholat dan hanya memainkan udara di dalam mulutnya dan membuat suara-suara seperti balon. Yang agak ekstrim, kalau sholat subuh Faza kerap kali tidak berwudhu, jadi bangun tidur langsung pakai mukena, sholat, berdoa, dan nonton tv atau balik tidur lagi. Khas anak-anak, hehehe.... Namun kebiasaan tak berwudhu saat subuh ini agak terobati di hari-hari sekolah saat ia harus langsung mandi setelah bangun tidur.

Aku memang tidak banyak mengkritik cara sholatnya, bukan karena tak ingin melihatnya sholat dengan sempurna, kadang memang ia melakukannya dengan sempurna, tapi tentu saja tidak selalu. Biarlah ia memahami dengan pikiran kanak-kanaknya, dan menjalankannya dengan apa yang ia pahami juga. Khawatirnya kalau keseringan mengoreksi bisa membuatnya malas melakukan sesuatu yang tadinya ia nikmati.

Biasanya setelah shalat Faza berdoa, hanya doa orang tua dan kebaikan dunia akhirat saja, namun kutemukan sesuatu yang berbeda seminggu ini, seminggu sejak abinya berangkat kerja lagi. Setelah sholat, biasanya ia berdoa nyaring-nyaring dan cepat-cepat. Tapi kali ini, ia berdoa dalam diam, menadahkan tangan, berbisik, dan memejamkan mata.

Terjadi empat kali sehari selama seminggu (kalau dzuhur Faza shalat di sekolah), dan aku jadi penasaran apa yang dibacanya. Jadi semalam saat melipat mukena selepas sholat isya, aku bertanya pada Faza,
"Kak, kakak biasanya doanya cepet-cepetan, kok sekarang doanya lama, bisik-bisik lagi." setengah menggoda kulirik ia. Faza senyum, "Iya, Jaju bedoa itu mi..." jawabnya.
"Faza berdoa apa boleh gak umi tau?"
"Jaju doa buat abi," katanya.
"Faza doa buat abi??" tanyaku lagi.
"Iya..."
"Beneran Faza doain abi? Sebut nama abi?" tanyaku menegaskan, surprise.
"Iya miii...." jawabnya sederhana.
"Hmmm..... Boleh tau gak Faza doain apa buat abi?"
"Emmm..... Emmmm.... tapi pendek aja mi...." ia ragu-ragu.
"Gak papa lah biar pendek. Yang penting kan Faza doa. Faza minta apa sama Allah...?" saya setengah membujuk.
"Hmmm.... Jaju doa orang tua, kaya biasa, terus robbana atina itu, terus Jaju bilang gini,
'Ya Allah, berikan abi kesehatan, panjang umur, dan yang baik-baik, dan pekerjaan yang mudah', "
Faza menatap mataku mengakhiri kalimatnya.
"Faza minta itu sama Allah?" tanyaku, setengah tak percaya.
"Iiiiyaaa....." jawabnya sambil hampir nyengir.

Aku memeluknya, haru, "Subhanallaaah.... anak umi....." ku usap kepalanya, ku cium pipinya,
"Terima kasih ya naakk.... Terima kasih sudah doakan abi ya naak,"
Kulihat matanya sambil tersenyum, Faza datar seperti biasanya.
"Faza tau, doa Faza itu luar biasa artinya buat abi. Dan doa Faza pasti didengar Allah!"
Ia menundukkan kepalanya memainkan jemarinya, sepertinya bosan ya kak ditanya-tanya terus.
"Nanti doakan abi lagi ya nak, jangan berhenti doakan abi ya nak!"
pintaku sambil membelai kepalanya lagi, Faza menelengkan kepalanya ke kanan, senyum-senyum lagi dan mengangguk.
Memberikan jawabannya.

Takjub ia menumpahkan kerinduan melalui doa sederhananya, rasanya hampir menangis melihat ia membangun ikatan dengan abinya dalam doa. Aku bahkan tak peduli ia tak menyebut namaku secara khusus, ia mendoakan abinya dengan khusyuk begitu sungguh sudah jadi anugerah. Doanya jelas jauh lebih kuat terdengar di 'Arsy daripada doa-doa kami sendiri, jelas lebih maqbul daripada doa-doa kami orangtuanya yang sudah tumpah ruah dengan dosa.

Alhamdulillaah....


"Pahlawan keluargaku!
 Dengan bismillah abiku bekerja!
 Tetes keringatnyaaa, bagai mutiaraaa!
 Bagi keluargakuuuu...!!"

Lantang Nabigh menyanyikan lagu yang diajarkan guru tknya saat menelpon abi.
Nabigh juga punya caranya sendiri untuk mendoakan abi, hehehe....
Ah, semua yang terbaik memang untuk Abi, :-)

Terima kasih Nak, terima kasih telah menjaga abi dengan doa-doa kalian.
Semoga Allah selalu melindungi abi, dan menyatukan hati kita dalam ketaatan kepadaNya,
sehingga kita selalu bisa bersama di dunia dan kelak di akhirat.
Aamiin Ya Mujibas sailiinn....



adrie and faiz daisy path

Daisypath Anniversary tickers