Sabtu, 28 Agustus 2010

The Final Merging, Everlasting Beauty - Ghazal 464

THE GLITTER OF THIS FANTASY

Now comes the final merging,
Now comes everlasting beauty.
Now comes abundant grace,
Now comes boundless purity.

The infinite treasure is shining,
The mighty ocean is roaring,
The morning of grace has come -
Morning? - No!
This is the eternal Light of God!

Who occupies this beautiful form?
Who is the ruler and the prince?
Who is the wise man? -
Nothing but a veil.

The wine of love removes these veils.
Drink with your head and your eyes -
Both your eyes,
and both your heads!

Your head of clay is from the earth,
Your pure awareness is from heaven.
O how vast is that treasure
which lies beneath the clay!
Every head you see depends on it!

Behind every atom of this world
hides an infinite universe.

O Saaqi, free us from the facade of this world.
Bring wine - barrels full!
Our eyes see too straight -
straight past the truth!

The Light of Truth shines from Tabriz.
It is beyond the beyond
yet it is here,
shining through every particle of this world.

-- Ghazal (Ode) 464
Version by Jonathan Star
"Rumi - In the Arms of the Beloved "
Jeremy P. Tarcher/Putnam, New York 1997


Offered From Sunlight

Recognizing a Person's True Nature

If in the darkness of ignorance,
you don't recognize a person's true nature,
look to see whom he has chosen for his leader.

Gar to na-shenâsi kasi-râ az zalâm
be-negar u-râ kush sâzidast emâm

-- Mathnawi IV: 1640
Version by Camille and Kabir Helminski
"Rumi: Jewels of Remembrance"
Threshold Books, 1996
Persian transliteration courtesy of Yahyá Monastra

Offered From Sunlight,

Jumat, 27 Agustus 2010

seminggu lagi

Seminggu lagi,
ada apa ya seminggu hari lagi?
Hmmmmm......
apa coba???
Tujuh hari lagi abi faza datang, liburan sekalian lebaran bareng keluarga.
Alhamdulillah... akhirnya bisa lebaran bareng lagi setelah dua tahun berturut-turut merayakan idul fitri di tempat terpisah. Di momen seperti ini yang paling bahagia tentu anak-anak, karena mereka bisa kumpul-kumpul bareng keluarga dalam keadaan komplit ada umi-abinya. Biasanya kan, adaaa saja tatapan tersembunyi di mata mereka, ketika semua sepupunya berkumpul dengan umi-abi mereka, sedangkan anak-anak hanya bersama umi mereka. Sabar ya anakku... Allah kan Maha Penyayang dan tak akan meninggalkan kalian, :)

Cuti kali ini jaraknya cukup panjang. Kami harus menunggu selama enam belas minggu sebelum akhirnya berkumpul lagi. Enam belas minggu atau empat bulan setengah. Kalau single sih rasanya tak masalah, saya sendiri pun tak begitu mempersoalkan. Namun ketika berkeluarga, tentu rasanya jadi setengah berbeda. Kenapa setengah? Yaahhh... karena yang setengahnya lagi ya memang harus dirasakan karena Allah sudah mengaturnya begitu, jadi dinikmati saja ;)

Sedang setengah yang lain.... umm... faktor-faktor akibat terlalu lama berpisah, hehe... mungkin kebutuhan biologis bisa jadi nomor satu bagi para suami. Namun bagi para istri, kebutuhan psikologis justru biasanya menjadi faktor pemicu stress nomor satu. Secara perempuan kan biasanya butuh teman berbagi, teman ketawa, teman buat berkeluh-kesah, siapa lagi kalo bukan suami? Apalagi kalo kondisi sekitar tidak memungkinkan, seperti status saya yang notabene no bestfriends here (well... not really bad but sometimes it does stressed me out)...temen ada, tetangga banyak, tapi sebatas ok-ok friends, say hi and smile then bye kalo ketemu. Bukannya teman yang bisa diajak sharing apa aja atau hang out ke mana aja, atau bahkan bisa dititipin anak kalo pas lagi mendesak (hmm.. tapi kalo sekarang sih anak-anak juga ada pengasuhnya walo cuma temporer alias kalo pas lagi ada perlu aja). Yaah... gitu lah salah satu resiko tumbuh dan besar di kampung orang. Sekali balik ke kampung sendiri udah pada ga kenal orang, temen-temen yang biasa setia menemani juga udah jauh berpisah.. hmmm... melas banget :P

Balik lagi tentang menunggu lama, awal cerita suami harusnya sudah cuti di awal agustus lalu, tapi mengingat kami sudah dua tahun tidak berlebaran bersama, iseng-iseng suami coba ajukan pengunduran cuti hingga bisa disesuaikan dengan momen Idul Fitri, ga taunya Allah memang kasih rezeki buat sama-sama, dikasih lah itu izin pengunduran cuti. Padahal kita udah tawakkal aja dah waktu itu, soalnya mundurnya jauh banget sampe lima minggu. Untuk buruh tambang (eh hehe buruh tambang, sori bi) kaya dia sih pada dasarnya tidak dianjurkan, karena pastinya sangat mengganggu schedule cuti karyawan lain juga. Tapi ya itu tadi, alhamdulillaaaaah Allah tentuka "ya" (memang enak ya kalo minta langsung sama Yang Di Atas ^_^).

Dan jadilah kami semua harus menunggu lima minggu lagi dari cuti yang dijadwalkan. gapapa, yang penting anak-anak bisa lebaran sama abinya juga. Tapi yang agak repot menjelaskan dengan anak-anak, terutama si kakak. Walaupun belum mengerti konsep minggu dan bulan, tapi mereka sudah terbiasa dengan schedule 10 minggu atau paling lama 12 minggu, jadi ketika sampai waktunya, "alarm otomatis" di otak mereka bunyi tuh, wah ini waktunya abi datang nih... tapi kok malah dipostpone sampe 16 minggu lagi??? sehingga hampir setiap kali pesawat lewat di depan rumah, si kakak selalu teriak, "Miii!! Itu pesawatnya abi datang!!" atau, "Miii!! Itu pesawatnya lagi pergi jemputin abi!!" yang langsung disambut oleh lompatan membabi buta si adik. Wah, benar-benar kompak. Belum lagi "endless-why-questions" nya faza. Pertanyaan "kenapa" nya itu lo ga berhenti-berhenti sampai dia merasa sudah dapat jawaban yang (menurutnya) pas. Sedangkan saya pun kadang ga ngerti, jawaban seperti apa yang dia "mau". Seperti,
"Mi, kenapa abi kok belum datang?"
"Iya, soalnya abi belum libur."
"kenapa kok abi belum libur?"
"sebab abi masih kerja, belum waktunya libur."
"kenapa kok abi masih kerja, kok gak libur?"
"iya, karena jadwal liburnya abi mundur?"
"kenapa kok mundur-mundur?"
"iya, biar liburannya abi pas sama lebaran idul fitri."
"kenapa kok harus sama lebaran?"
"iya dong... biar enak nanti faza lebaran sama abi, kita bisa jalan-jalan ke mana aja. kalo cuma ada umi aja kan kita agak repot kalo mau pergi-pergi jauh."
"kenapa kalo ga lebaran sama-sama?"
"kalo ga lebaran sama-sama kan nanti ga rame. nanti sepi kalo lebaran ga da abi"
"tapi kenapa ko lebarannya lama?"
"iya, soalnya kan kita masih puasa dulu... habis puasa baru lebaran... nah kalo sudah mau lebaran baru abi libur.."
"kenapa abi ko ga puasa aja liburnya?"
"soalnya kalo abi libur pas puasa, nanti bisa-bisa pas lebaran abi udah balik kerja lagi, ga bisa lebaran sama abi kita nanti. Nanti faza sedih kalo pas lebaran semuanya kumpul tapi abi faza kerja.."
"tapi kapan abi datangnya..."
"sabar nak.... seminggu lagi ya..."
"seminggu lagi jam berapa?"
"nanti, masih tujuh hari lagi.. berarti faza harus tujuh kali tidur malam, sabar ya anak pintar..."
"kenapa kok..... bla bla blaaa..."

.....

Dan akhirnya, setelah penantian panjang, tinggal seminggu lagi deh. Tapi rasanya malah jauh lebih lamaaaaaaaa dibandingkan harus nunggu berbelas-belas minggu. Sepertinya waktu melambat :). Masalah lain adalah(bukan masalah sih sebenarnya, hanya pikiran ga penting yang sering saya anggap beban), ketika waktu cuti menjelang, saya justru jadi sangat sebal kalau ingat ini hanya akan berlangsung dua minggu. Setelah itu berpisah lagi, dan saya akan menemukan kehampaan yang sama setiap saat masuk ke rumah yang kosong sepulang dari bandara mengantarnya bekerja. Dan di hari-hari pertama, saya akan menyaksikan senyum yang tiba-tiba enggan singgah di bibir anak-anak, hanya tawa malas yang kadang singgah di saat mereka mencoba bermain-main untuk mengusir sepi.Whew.....

Tapi apapun kondisinya, Alhamdulillah, Allah menurunkan kebahagiaan buat kami, baik di saat bersama maupun kala jauh. Semoga kebahagiaan kami senantiasa berkah, Aamiin....

Bintang-bintangku yang gemerlap, sabar sedikit lagi yaaa.... seminggu lagi abi datang! ^_^

Rabu, 25 Agustus 2010

mencoba sadar

Hidup itu Indah maka jangan dibuat susah,
Namun jika dunia tak cukup ramah kepadamu,
kenapa tak berhenti mengejarnya?
Bukankah kita punya Pilihan yang Pasti?

Bahkan jika ia terlalu ramah padamu,
berhati-hatilah mungkin kau akan terjebak di dalamnya.
mengapa kita tak berhenti melenakan diri?
Bukankah kita punya Pilihan yang Pasti?



Balikpapan, Ramadhan 15th, 1431 Hijriyah
Adrie Faizal, dalam rangka mentaubatkan hatiku

Senin, 16 Agustus 2010

Maaf

Ada seseorang yang saat ini menurutku melakukan kesalahan yang fatal terhadapku. Dan aku mau dia minta maaf. Childish banget ya? karena sampai sekarang, hatiku belum ikhlas mengingat kesalahannya. Saat itu (bahkan sampai sekarang) sakitnya masih terasa. Dan dia ga tau tuh kayanya kalo sudah bikin salah.

Wah.. wahhh... betapa sempitnya hatiku.
betapa dangkalnya telaga hatiku.
Sedikit garam membuatnya pahit.
Mungkin ia sangat berlumpur dan becek.
oh my God... apakah segitu dangkalnya hatiku???

Tapi ya, bisa jadi.
Karena aku belum bisa mendamaikan hatiku dengan masa lalu,
dalam hal ini, merelakan rasa sakit akibat kalimatnya yang menusuk hati.
Tapi bukankah itu hanya kalimat???
Ia seperti angin yang berhembus lalu hilang??
Aku bahkan tidak kehilangan rumah, harta benda, bahkan badanku pun tidak jatuh. Ia hanya angin kagetan yang tiba-tiba berhembus. Bukan angin puting beliung, bukan katrina...
Bisa jadi ia hanya seperti rem angin dari truk tronton yang kebetulan menghembuskan 'nafas' bau, panas, polutive, dan bertekanan itu, saat aku lewat di sampingnya di lampu merah. Hanya begitu saja??? Dan aku masih mengingatnya hingga berbulan-bulan ini???? I cant believe this!

Hatiku tersayang.....
Melunaklah...
Allah itu Maha Mengampuni,
padahal dosamu kalo dihitung udah ga keampunan lagi,
Lagi pula mana tau, ada orang lain di luar sana, siapapun dia,
yang ternyata menyimpan dendam yang sama dengan yang kau simpan terhadapnya,
tanpa kau sadari, mungkin kau tak kan pernah tau??
Tiba-tiba di akhirat, dengan amalmu yang sudah sedikit itu,
masih pula dikurangi lagi akibat dendam orang-orang yang tak kau sadari itu.
Orang-orang yang mungkin tak ingin memaafkanmu seperti kau segan memaafkan dia.
Memangnya, kamu mau seperti itu???

Bukankah lebih baik memaafkan?
Bahkan jika kau diberi kesempatan untuk membalas,
Bukannya lebih baik memaafkan?
Semoga kesalahanmu pada orang lain, diikhlaskannya juga.
Maafkan sudah....
Dia cuma manusia biasa sepertimu,
Dan kesombonganmu itu sangat tidak pantas!!

Hatiku...
berdamailah,
:)

Sahabat...
maafkan aku ya,
karena begitu lama aku baru memaafkanmu,
kuharap kau maafkan khilafku,
...


"Usah mengharapkan kesenangan,
Dalam perjuangan perlu pengorbanan,
Usah dendam berpanjangan,
Maafkan kesalahan insan,
Begitu aturan Tuhan.."

^_^

untuk setiap hati yang masih menyimpan sangkal, lepaskanlah, atau kau tak akan pernah damai :)

Minggu, 15 Agustus 2010

Rejeki Supir Taxi by. Ust. H. Yusuf Mansyur

~~~~~~~~~~~~~
Kali ini saya ingin berbagi hikmah. Saya mengutip note ini dari Yusuf Mansyur Network on Facebook, silakan di add bagi yang belum add, sangat banyak kisah inspiratif yang menggugah jiwa, dan insya Allah menambah keimanan. Selamat berwisata hati! :)

~~~~~~~~~~~~~


Tuesday, June 22, 2010 at 4:55pm
"Kramat Raya, Pak?" tanya saya setengah ragu. "Mari, Pak!" kata sopir taksi itu mengiyakan, tanpa berpikir sejenakpun.

Tentu saja saya gembira, karena tidak menyangka lelaki itu bakal mau mengantar.

Saya segera naik ke jok belakang, menutup pintu. Taksi pun melaju. Sebentar kemudian berputar 180 derajat di perempatan Cempaka Putih. Sekarang melaju ke arah Senen.

"Kok Bapak mau ke Kramat? Kan jaraknya dekat aja, Pak?" tanya saya memancing.

"Kita kan tidak pernah tahu ada apa di balik yang dekat itu, Pak," katanya sejenak kemudian. Senyumnya saya lihat di spion atas kepalanya. "Jika penumpang yang jarak dekat tidak diambil, rasanya seperti tidak menghargai Tuhan yang membagi rezeki buat kita."

Berkata bijak ternyata bukan hanya monopoli kaum filosof. Tetapi juga bisa keluar dari mulut Firmansyah, begitu nama yang terpampang di dashboard, seorang sopir taksi bersahaja yang saya temui pagi ini.

Maka meluncurlah cerita "filosof" yang sopir taksi itu.

"Saya banyak mengalami, kadang memang rasanya gimana gitu ketika sudah lama ngantri, ternyata dapat penumpang yang dekat," katanya sembari menarik napas perlahan. "Dapat lagi, dekat lagi. Dapat lagi, dekat lagi."

Saya cuma tersenyum. Tentu saja saya bisa merasakan "duka" itu. Seperti kita mengharapkan durian runtuh, tetapi apa daya jika kenari yang ternyata melayang jatuh.

"Tetapi, tak jarang," imbuh lelaki itu, "saya dapat yang dekat-dekat, tetapi berkali-kali. Juga pernah sekalinya dapat yang jauh, tetapi setelah itu baliknya tidak membawa penumpang sama sekali."

Ia tersenyum di tengah klakson jembatan layang menuju Kemayoran.

Saya mengangguk-angguk.

"Yah, artinya lebih baik terima saja yang masuk ke taksi, entah jurusan dekat ataupun jauh," kata saya. "Karena kita tidak pernah tahu, setelah itu dapat rezeki dalam bentuk apa lagi."

***

Beberapa hari berikutnya, saya menumpang taksi dari tempat dan dengan tujuan yang sama. Kali ini Bluebird, langganan saya.

"Kok Bapak mau mengantar penumpang dengan tujuan yang dekat seperti saya?" tanya saya memancing. Taksi sedang melaju ke arah Senen. Saya mencomot roti sarapan pagi dengan sekotak minuman dingin.

Ia tertawa.

"Jangankan Kramat Raya, Pak," katanya bersemangat, "bahkan saya pernah mengantar orang dari Cempaka Emas ke Ruko Cempaka Emas!"

"O, ya?" sergah saya heran. Jarak itu tak lebih dari selemparan lembing atau sebidikan panah. "Argo Bapak bahkan mungkin tidak sempat bergerak dari angka awal lima ribu perak, dong?"

"Yah, waktu itu sedang macet sih. Sempat nyampai enam ribu rupiah."



Saya mengangguk-angguk. Saya berandai-andai. Lima belas persen dari enam ribu tak lebih dari seribu rupiah. Itu yang dia dapat untuk mengantar penumpang sedekat itu, buah dari mengantri di pool mungkin setengah hari.

"Belum lagi ketika kembali ke pool, ternyata sudah penuh," katanya menerawang. "Harus berputar dulu tiga-empat kali untuk dapat antrian lagi."

"Wah, susah juga, ya Pak?" timpal saya. Sudah dapat yang sangat dekat, kembali ke pool antri di paling belakang lagi. Itu pun setelah muter lebih dulu.

"Ya. Bahkan saya pernah, sudah mengantri di belakang, diserobot teman lagi," katanya enteng, bahkan cenderung riang. "Saya sih pasrah saja. Tidak lama, teman saya mendapat penumpang dengan tujuan Patra Jasa. Sebentar kemudian, seorang penumpang mengetok pintu mobil saya. Cikarang, Pak? Tentu saja saya ambil karena jaraknya jauh, berlipat-lipat dibandingkan Patra Jasa."

Saya ikut tersenyum mendengar ceritanya. "Itu semua buah dari keikhlasan, Pak."

"Alhamdulillah, saya nggak pernah menolak penumpang sedekat apapun tujuan mereka. Saya yakin, Allah memberikan rezeki saya dengan cara yang demikian. Kadang sedikit, kadang banyak. Saya tidak pilih-pilih."

Demikianlah Pak Endang, begitu namanya terpampang di dashboard, menyimpulkan. Sebuah kesimpulan sederhana yang tidak sesederhana maknanya.

***

Saya banyak belajar dari kedua orang itu, Pak Firmansyah dan Pak Endang; sopir-sopir taksi yang sederhana. Mereka masih "menghargai Tuhan", begitu bahasa mereka. Caranya sungguh sangat sederhana: mengantarkan penumpang yang naik taksi mereka, meski dekat sekalipun jaraknya. Menolak penumpang, sama saja dengan menolak rezeki yang sudah Allah hidangkan di hadapan. Menolak penumpang, sama halnya tidak menghargai Sang Pembagi Rezeki. Karenanya, tidak ada yang sepatutnya harus dilakukan, bagi mereka, kecuali ikhlas mengantar.

Terbukti dalam berbagai kesempatan mengantar penumpang yang dekat itu, ternyata sambung-menyambung dengan penumpang yang turun naik; begitu satu penumpang turun, ada yang langsung naik. Bahkan tak jarang, banyak penumpang jarak dekat yang memberikan "uang lebih" berkat kesediaan mereka mengantar tanpa mengeluh. Jumlahnya sering lebih banyak ketimbang persentase yang mereka terima dari mengantar penumpang jarak jauh. Jarak dekat, karenanya tidak lantas identik dengan rezeki cekak.

Sungguh sebuah sikap hidup yang, kata orang Jawa, sumarah. Pasrah, tetapi bukan layaknya wayang. Dalam bahasa agama, barangkali inilah pengejawantahan sikap tawakal setelah berazam. Bukan sikap pasrah yang salah-kaprah; yang sering salah dipahami sebagai "pulung sugih pulung mlarat". Kalau Tuhan menakdirkan kita kaya, tanpa berusaha pun, kita akan kaya. Kalau ditakdir miskin, bekerja keras peras-keringat-banting-tulang sekalipun ibaratnya, tetap akan miskin.

Saya lantas teringat dengan sebuah hadits, bahwa Allah itu tergantung pada persangkaaan (dzon) hamba pada-Nya. Kedua lelaki di atas, dalam pandangan saya, telah memberikan persangkaan yang baik pada rencana Tuhan di balik penumpang yang dekat itu. Ketika sopir yang lain menyangka "rugi" ketika harus mengantar penumpang yang dekat, keduanya tidak pernah berprasangka demikian.

Boleh jadi keduanya tidak hapal dengan ayat Al-Qur'an tentang rezeki yang min haitsu laa yahtasib. Tetapi saya yakin, keduanya, juga kita, paham bahwa rezeki itu datangnya bisa tidak disangka-sangka. Tetapi sementara kedua sopir di atas sudah mempraktekkan pemahaman itu di kehidupan keseharian, kita sendiri barangkali masih berkutat pada tataran teori.

Jika Nabi Musa pernah belajar kepada Khidir, kita yang bukan siapa-siapa ini tak ada salahnya belajar pada orang-orang sederhana seperti kedua sopir taksi di atas.

Kamis, 12 Agustus 2010

When You Ask, The Answer Will Be Given - Quatrain 99

Do you know what the music is saying?
"Come follow me and you will
find the way.
Your mistakes can also lead you
to the Truth.
When you ask,
the answer
will be given.

-- Translation by Azima Melita Kolin
and Maryam Mafi
Rumi: Whispers of the Beloved
HarperCollins Publishers Ltd, 1999

do you hear
the fiddle's surround sound
follow me and
your path will be found
only going astray
ypu'll find a saintly way
only knowing questions
you'll find a reply.

-- Translation by Nader Khalili
"Dancing the Flame"
Cal-Earth, 2001

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Jika saya ditanya tentang syair ini,
maka saya katakan ini adalah sesuatu yang nyata.
Dan saya selalu tertarik dengan pertanyaa. Hidup saya pun berkutat dengan pertanyaan. Tentu saja, semua orang yang mencari jati dirinya, pasti berkutat dengan pertanyaan kan? Dan di usia saya yang baru menginjak 25 tahun, hmm... saya akui (dengan malu-malu) bahwa saya baru saja mengenal sedikit tetang jiwa dan hati saya. duh!


Saya, sejak kecil selalu sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan tentang diri saya,
tentang apa yang saya lakukan, tentang mengapa saya lahir, mengapa saya bernama adrie, mengapa saya harus jadi anak terakhir, mengapa bumi ini kadang terlihat 'aneh', mengapa saya dapat melihat dan mendengar, mengapa 'bola' itu dinamakan 'bola', dan pertanyaan-pertanyaan konyol lainnya. Tak jarang saya menganalogi satu pertanyaan dengan pertanyaan lainnya, atau membayangkan kemungkinan jawabannya seperti apa.. Bahkan pernah di saat saya empat SD, saya tertegun lama sekali memperhatikan kedua tangan saya. Dalam hati saya sibuk bertanya, kenapa bentuk tangan saya seperti ini? kenapa kulit saya teksturnya begini, kenapa jari-jarinya 'terlihat' begitu aneh, kenapa pori-pori saya berpola sedemikian rupa? kenapa rasanya menyentuh itu seperti ini? kenapa menyentuh kulit orang lain berbeda rasanya dengan menyentuh kulit sendiri? kenapa garis telapak tangan saya terlihat seperti simpul yang rapat? dan pertanyaan-pertanyaan absurd lainnya. Tentu saja sebenarnya dari segi ilmiah semua itu terjawabkan. Tapi berhubung saya masih kelas empat esde, dan kurikulum ketika itu juga tidak memuat masalah tekstur kulit dalam buku IPA, jadi bagi saya itu hanya pertanyaan-pertanyaan yang entah kenapa kok melintas di kepala saya. Tapi ketika itu, saking lamanya saya berkutat dengan semua pertanyaan itu (itu yang mampu saya ingat, rasanya saya mengajukan begitu banyak pertanyaan yang sebagia besarnya tak mampu saya ingat lagi), saya sampai merasa di dunia ini hanya ada mata dan tangan saya yang seolah-olah makin membesar, blur, dan semakin tampak aneh. Hingga pada akhirnya saya menutup mata dan menggeleng kuat-kuat, mencoba menepis semua pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa saya jawab sendiri itu.


Beranjak remaja, pertanyaan-pertanyaan saya masih sekonyol itu. Namun bedanya, saya mulai belajar mencari jawabnya, secara kan tiap tahun juga saya naik kelas ^_~, seiring itu pula, pertanyaan-pertanyaan saya berkembang menjadi lebih diplomatis, kritis, puitis, terkadang begitu mendalam, tapi sering pula retoris dan lagi-lagi, ya konyol. Apalagi ketika itu, saya termasuk remaja yang berpikiran terlalu idealist (padahal faktanya sih paling tidak ideal ;p) dan opportunist. Saya memang bukan bintang kelas yang 'tak tergantikan', bagaimana tidak, 6 tahun masa remaja, hanya satu kali ranking 1. hahaha!! Tapi saya cukup percaya diri, saya tangguh, saya merasa berbakat (dan menyalurkan bakat-bakat tersebut), penuh semangat, saya berbeda. Dan lingkungan saya saat itu mengakui keunggulan dan keberbedaan saya. Wah kedengarannya arogan banget ya?? Sebenarnya sih ga arogan (semoga benar tidak arogan), mungkin penggambaran saya kali ini membuatnya terlihat begitu. Pada dasarnya saya saaaaangat pemalu, tipe yang tidak akan disadari keberadaannya (duh tragis amat ~_~'), namun saya pengamat yang ulung, saya mencerna dalam diam, menilai dengan objektivitas, dan membangun kekuatan diri perlahan tapi pasti (wah, kok saya terlihat makin weird sih :D). Dan pada usia dan posisi demikian, pertanyaan-pertanyaan saya lebih sering jadi kritik dan judge terhadap orang lain maupun sistem yang mengikat saya ketika itu. Sebagian saya utarakan, terutama kepada pihak-pihak yang saya anggap mampu mengerti maksud saya, selebihnya saya simpan sendiri karena saya lebih suka menganggap teman-teman sebaya saya 'ga sampe' mikirnya dengan apa yang saya pikirkan (wah kalo ini sih benar-benar remaja yang angkuh... tobat!!!! "~_~`)



Beranjak dewasa, mulai mengerti dunia, mulai memahami iman, juga memahami dosa dan rasa bersalah, mulai mengenal permainan dunia, ujian keimanan.... hmmm.... pertanyaan-pertanyaan saya kini pun banyak berorientasi kepada, apa yang sebenarnya saya cari dalam hidup ini. Yaa, dalam tahap ini tentu saja semua orang memiliki pertanyaan yang sama. Setiap orang yang berusaha mengenali dirinya pasti akan berhadapan dengan pertanyaan ini. Terdengar klise, namun itulah yang terjadi pada setiap proses berkehidupan seorang anak manusia. Terlebih jika seseorang melakukan kesalahan dan terperangkap dalam kesalahannya. Ia tau jalan keluarnya di mana, tau ke mana harus menuju tapi ia tak melihat jalannya. Matanya kerap buta. Hmm... ia bisa melihat 'pintunya', di mana ia bisa mengakhiri permainan dunianya, tapi ia tak melihat 'jalan' pintu itu. Lagi pula, ada beberapa faktor, ketika seorang manusia tergoda hal-hal duniawi, atau melakukan dosa, apapun itu mulai dari sekedar kebohongan kecil hingga, naudzubillah, dosa-dosa besar, syeitan menggodanya, membisikinya bermacam apologi dan justifikasi sehingga ia merasa dapat 'berhak' melakukan dosa itu, lalu terjadilah sin circle, lingkaran dosa, jerat dosa... naudzubillah mindzalik...



Namun, kodrat manusia adalah kembali pada PenciptaNya. Setiap hati merindukan Rabb nya, setiap jiwa merindukan pulang. Setiap ruh meyakini bahwa tempatnya yang sebenarnya adalah di Sisi Rabb nya. Kembali pada aturanNya, kembali pada penghambaan total terhadapNya, kembali berkeluh kesah hanya kepadaNya, mengembalikan segala harapan kepadaNya... setiap manusia ingin meniti jalan pulang. Dan, seorang guru yang telah begitu banyak mengarungi ujian kepahitan demi kemanisan iman, mengajarkan kepada saya, bahwa, "semua diawali oleh satu pertanyaan"

Dan dari pertanyaan-pertanyaan itu, jawabannya akan menentukan arah kita selanjutnya. Ada orang yang berkutat mencari jawaban atas setiap panggilan dan pertanyaan hatinya, namun tak kunjung ia temukan. Ada pula yang mendapatkan jawaban namun bimbang, ada yang mendapatkan jawaban namun ia butuh waktu untuk menyadari bahwa ia telah menemukan apa yang ia cari…. Hmm.. banyak hal, setiap orang punya perjalanan spiritual masing-masing kan..?

Nah kan, hanya hati kita yang tau, pertanyaan yang mana, dan jawaban mana yang kita pilih untuk mengubah hidup kita menjadi muslim kaffah... jalan mana yang kita pilih untuk pulang…?? :)


^^^^^^^^^^^^^^

Ya Allah…

Hamba pun masih meniti jalan pulang menujuMu,

Sungguh ini tak mudah Ya Allah…

Hamba rindu BimbinganMu...


(Balikpapan, 4 Ramadhan 1431 H)








Kamis, 05 Agustus 2010

start

life is too short to be fulfilled with complains
life is too beautiful to be fulfilled with angry and lowering your self
life is too precious to be fulfilled with sin and bad things

You are a winner since you were born
God wants you to be a winner
The best one

You deserve all the best things in this world
You don't deserve even a single bad thing

But the question is,
Do you deserve to deserve all those best things???

Lets stop here,
Start to make ourself deserve for all best things in this world.
Lets only good things happen to our life.
Be different!
Don't do something in average
Do it above the standard
and keep trying,
all things start from zero then one
I didn't say its gonna be easy
It does bloody hard,
but it worth it

Lets change our future start from now on

Rabu, 04 Agustus 2010

The Body Is Like A Letter

The body is like a letter:
look into it and see whether it's worthy to be read by the King.
Go into a corner, open the letter, and read what is in it,
see whether its words are suitable for royalty.
If it isn't suitable, tear it to pieces,
write another letter, and remedy the fault.
But don't think it's easy to open the letter of the body;
otherwise everyone would readily discover the secret of the heart.
How difficult it is to open that letter!
It's only for the strong, not for those playing games.

-- Mathnawi, IV:1564-1568
Version by Camille and Kabir Helminski
"Rumi: Jewels of Remembrance"
Threshold Books, 1996

Senin, 02 Agustus 2010

We Two Were Once One - Ghazal 2243

Thy shining Face has become my spirit's mirror -
we two were once one, my spirit and thy Spirit.
Oh perfect, full Moon! The house of the heart is
Thine! The intellect - which was once the master - has
become Thy slave and doorman.
From the day of Alast the spirit has been drunk
with Thee, though for a time it was distracted by water
and clay.
Since the clay has now settled to the bottom, the
water is clear - no more do I say, "This is mine, that is
Thine."
Now the Emperor of Rum has smashed the
Ethiopians* - may Thy laughing good fortune be forever
victorious!
Oh, Thy Face is like the moon - let me lament
from time to time, for Thy eloquent love has become my
veil.

-- Ghazal (Ode) 2243
Translation by William C. Chittick
"The Sufi Path of Love"
SUNY Press, Albany, 1983

* Rum or the Byzantine Empire is employed by Rumi to symbolize
light and union, while the Ethiopians symbolize darkness and
separation.

How Shall I Beguile Him? (Ghazal 1634)

"This Will Not Win Him"

Reason says,
I will win him with my eloquence.

Love says,
I will win him with my silence.

Soul says,
How can I ever win him
When all I have is already his?

He does not want, he does not worry,
He does not seek a sublime state of euphoria -
How then can I win him
With sweet wine or gold? . . .

He is not bound by the senses –
How then can I win him
With all the riches of China?

He is an angel,
Though he appears in the form of a man.
Even angels cannot fly in his presence -
How then can I win him
By assuming a heavenly form?

He flies on the wings of God,
His food is pure light –
How then can I win him
With a loaf of baked bread?

He is neither a merchant, nor a tradesman -
How then can I win him
With a plan of great profit?

He is not blind, nor easily fooled -
How then can I win him
By lying in bed as if gravely ill?

I will go mad, pull out my hair,
Grind my face in the dirt –
How will this win him?

He sees everything –
how can I ever fool him?

He is not a seeker of fame,
A prince addicted to the praise of poets –
How then can I win him
With flowing rhymes and poetic verses?

The glory of his unseen form
Fills the whole universe
How then can I win him
With a mere promise of paradise?

I may cover the earth with roses,
I may fill the ocean with tears,
I may shake the heavens with praises -
none of this will win him.

There is only one way to win him,
this Beloved of mine -

Become his.

-- Version by Jonathan Star
"A Garden Beyond Paradise"
Bantam Books, 1992

Reason says, I will beguile him with the tongue;" Love
says, "Be silent. I will beguile him with the soul."
The soul says to the heart, "Go, do not laugh at me
and yourself. What is there that is not his, that I may
beguile him thereby?"
He is not sorrowful and anxious and seeking oblivion
that I may beguile him with wine and a heavy measure.
The arrow of his glance needs not a bow that I should
beguile the shaft of his gaze with a bow.
He is not prisoner of the world, fettered to this world
of earth, that I should beguile him with gold of the
kingdom of the world.
He is an angel, though in form he is a man; he is not
lustful that I should beguile him with women.
Angels start away from the house wherein this form
is, so how should I beguile him with such a form and
likeness?
He does not take a flock of horses, since he flies on wings;
his food is light, so how should I beguile him with bread?
He is not a merchant and trafficker in the market of the
world that I should beguile him with enchantment of gain
and loss.
He is not veiled that I should make myself out sick and
utter sighs, to beguile him with lamentation.
I will bind my head and bow my head, for I have got out
of hand; I will not beguile his compassion with sickness or
fluttering.
Hair by hair he sees my crookedness and feigning; what's
hidden from him that I should beguile him with anything
hidden.
He is not a seeker of fame, a prince addicted to poets,
that I should beguile him with verses and lyrics and
flowing poetry.
The glory of the unseen form is too great for me to
beguile it with blessing or Paradise.
Shams-e Tabriz, who is his chosen and beloved – perchance
I will beguile him with this same pole of the age.

-- Translation by A. J. Arberry
"Mystical Poems of Rumi 2"
The University of Chicago Press, 1991


adrie and faiz daisy path

Daisypath Anniversary tickers