“Terima kasih anda mau berpikir dari hal-hal kecil...membiasakan mengelola air limbah dari kamar mandi..memilah dan membuang sampah pada tempatnya..anda boleh berteriak jika betul2 paham sehingga bangsa ini lebih maju...terdidik dan disiplin..biasakan berproses...”
Saya tertarik dengan status salah seorang kawan di Facebook, Ery Mbah Jenggot Judhianto yang kebetulan juga teman suami saya. Beliau menghimbau untuk lebih peduli pada pengelolaan limbah dan sampah rumah tangga. Hal ini memang terkesan sepele, sekaligus (berasa) sulit dilakukan bagi masyarakat awam. Padahal inilah justru inti dari Go Green yang sekarang banyak dikampanyekan para aktivis pembela lingkungan hijau. Bagaimana kita bisa mulai memelihara Bumi jika kita tak memulainya dari lingkup terkecil, yakni rumah kita sendiri?
Dimulai dari sampah yang kita hasilkan setiap hari, kita bisa pilih dan pilah dari rumah sebelum di buang ke tempat sampah umum. Ini akan memudahkan petugas kebersihan juga untuk memilah-milahnya. Di Balikpapan sendiri sudah ada ketentuan untuk memilah sampah dari jenis-jenisnya, organic dan non organic. Jika non organic dipisahkan lagi menjadi sampah yang bisa didaur ulang dan yang tidak, atau yang mengandung bahan kimia berbahaya, seperti baterai, botol bekas semprotan serangga, dan lain-lain. Kemas sampah organic secara tersendiri sebelum digabung dengan sampah lainnya agar sampah tidak tercampur dan menambah kesan sampah yang jorok. Setelah itu ikat kemasan dan buang di tempatnya, di jam-jam pembuangan sampah (18.00 sore hingga 06.00 pagi), atau paling tidak sebelum truk sampah lewat. Sebenarnya jika memiliki halaman, akan lebih efektif jika mendaur ulang sampah organic menjadi kompos. Namun jika tak memiliki tempat penampungan khusus, sampah organic berupa sisa-sisa sayur dan makanan basi dapat dikubur di dalam tanah dan dibiarkan membusuk sendiri. buatkan lubang galian khusus untuk memendam sampah tadi. Ini akan membawa kebaikan secara langsung dan menambah unsure hara tanah. Jangan mengubur sampah selain sampah organic seperti yang pernah disarankan iklan layanan masyarakat beberapa tahun lalu. Karena kegiatan itu justru akan merusak unsur-unsur mineral tanah berikut lapisannya. Hmm… sepertinya juga himbauan itu sudah tidak pernah lagi terdengar, pasti karena memang sudah dilarang kan?
Jika berbelanja, lebih baik bawa sendiri kantong belanja dari rumah, atau gunakan kardus yang banyak disediakan. Namun jika terpaksa menggunakan kantong plastic, gunakan plastic kemasannya untuk membungkus sampah. Sebenarnya kurang efektif juga sih mengingat akan semakin banyak sampah-sampah plastic akibat aktifitas ini. Tapi dari pada dibuang begitu saja, masih lebih baik dimanfaatkan dulu sebagai pembungkus sampah. Sebenarnya sekarang ini sudah banyak beredar kantung plastic biodegradable yang bisa hancur sendiri dalam hitungan 2 bulan hingga 2 tahun. Namun retail yang menggunakan kantung plastic semacam ini masih sangat terbatas sekali. Kebanyakan baru di beberapa resto dan butik ternama, juga supermarket-supermarket besar.
Limbah berikutnya adalah limbah cair rumah tangga, rumah kita memproduksi tiga macam limbah, yaitu clear water, yang bisa berasal dari tetesan AC atau kulkas, grey water, berasal dari limbah dapur dan sisa cucian non kakus, dan black water, berasal dari limbah kotoran manusia. Clear water digolongkan menjadi limbah paling aman karena dapat langsung digunakan lagi untuk flush pada kloset duduk, atau menyiram tanaman. Sedangkan black water sebaiknya diresapkan pada tanki penampungan berdasar tanah untuk memudahkan proses degradasinya. Namun demikian penampungannya harus diatur agar tidak mengganggu sumber air bersih yang ada. Sedangkan yang sepele namun mengundang masalah yang tak kalah besar adalah Grey water, si level menengah. Grey water berasal dari sisa cucian piring, cucian sayur atau makanan basi, air mandi, dan cuci pakaian. Umumnya rumah tangga yang ada mengalirkan langsung limbah grey waternya ke selokan-selokan yang nanti bermuara ke sungai-sungai, dan akhirnya ke laut. Padahal grey water, memiliki zat-zat pencemar seperti Amonium, Nitrat, Nitrit, Phosphat, dan Biochemical Oxygen Demand (BOD) yang akan menyerap kadar oksigen dalam air, sehingga mengancam kehidupan biota air, menyebabkan terjadinya dekomposisi dan pencemaran air tanah. Bahkan dari penelitian yang dilakukan oleh BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) Jakarta, bahwa dari segi jumlah, limbah domestic (rumah tangga) memberikan kontribusi terbesar dalam pencemaran air tanah wilayah Jakarta dan sekitarnya, yaitu 75% dengan beban polutan organic sebesar 70%, air limbah perkantoran dan daerah komersial sebesar 15% dengan beban polutan organic 14%, dan justru limbah industry hanya mempengaruhi pencemaran sebesar 10% dengan beban polutan organic sebesar 16%. Hal ini disebabkan karena di setiap industry, gedung perkantoran atau pertokoan, apartemen, hotel, dan perumahan elit biasanya sudah dibangun pula Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sesuai dengan skala masing-masing, nah kalo di rumah-rumah penduduk? Memangnya siapa yang mau bikin IPAL dari rumah ke rumah kalau bukan kesadaran pemilik rumahnya masing-masing? Itulah makanya limbah rumah tangga jadi penyumbang kontribusi pencemaran air terbesar.
Sekarang ini di pasaran memang ada dijual semacam biofilter untuk mengolah limbah rumah tangga, namun harganya juga selangit, belum lagi dimensinya yang biasanya besar-besaran sebesar tandon, harus ditanam pula. Apalagi kesadaran mengolah limbah juga belum jadi budaya di negeri tercinta ini, jadilah opsi itu rasanya jadi tidak efektif untuk ditempuh. Dan grey water (terutama limbah cuci pakaian) tidak bisa dibuang ke dalam septic tank karena zat-zat dalam detergent dapat membunuh bakteri yang diperlukan dalam proses dekomposi black water. Jadi dalam bayangan saya, sebaiknya setiap rumah, terutama ketika baru membangun rumah, sekalian dibuatkan System Pengolah Air Limbah (SPAL) yang sederhana saja, paling tidak, ketika air dialirkan ke selokan, zat-zat impuritiesnya minimal sudah berkurang dan tidak memperparah pencemaran. Atau kita bisa memodifikasi saluran selokan untuk dialirkan dulu ke SPAL sederhana yang kita buat. SPAL nya dapat berupa beberapa tanki resapan sederhana dengan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat. Tanki pertama dapat diisi sabut kelapa, atau ijuk untuk menyaring sisa sampah yang terikut. Tanki kedua berisi kerikil untuk menyaring impurities nya, begitu pula tanki ketiga yang berisi arang dan atau batu koral. Selepas dari itu air dapat dialirkan menuju saliran pembuangan dengan lebih aman, atau dapat ditampung lagi untuk menyiram tanaman, mencuci mobil, atau kegiatan bersih-bersih lainnya.
Ada pula satu teladan yang patut ditiru, di daerah Sukolilo Surabaya, warga setempat yang terdiri dari 28 keluarga secara swadaya membangun suatu IPAL yang mereka sebut sebagai Pintu Air, guna mengolah limbah grey water dari rumah-rumah mereka. Dan ketika dilakukan uji bakteri dengan komparasi sampel air PDAM, hasilnya adalah, 600 ppm bakteri untuk sampel air daur ulang dari IPAL milik warga, dan 1200 ppm bakteri untuk sampel air PDAM. Sejak saat itu mereka menjaga kualitas IPAL tersebut agar air hasil daur ulangnya bisa kembali dimanfaatkan untuk aktivitas sehari-hari secara utuh.
Hmm… Selain itu, untuk meminimalkan bahaya limbah grey water, kita dapat menggunakan detergent ramah lingkungan/biodegradable. Memang sedikit lebih mahal, namun menjaga lingkungan dari kerusakan juga bernilai ibadah kan?
^_~
-referensi dari berbagai sumber
Ps. Setelah corat-soret ini selelsai, saya lapor sama suami, apa infonya? Katanya Pak ery adalah pakarnya Enviro… oh my God… saya jadi malu (^_^), mohon koreksinya yaaa….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar