Selasa, 10 April 2012

Butter Corn Sausage

hi bloggers,
kali ini saya punya resep praktisan buat makan malam, khususnya yang sedang diet carbo, cocok buat malam hari, type yang mengenyangkan namun much less carbo.. sebenernya ini menu jadi-jadian, karena tak terencana dan terjadi begitu saja, gak taunya kok enak. so, fyi, saya kasih judul.... apa ya....
butter corn sausage mungkin...??
bahan-bahannya....
1 jagung manis, ambil kernelnya,
1 wortel, diced alis potong dadu,
2 pcs sosis ayam/sapi terserah selera, potong kembang.

bumbunya simple,
2 sdm butter (mentega biasa juga boleh...)
1 siung bawang merah,
1 siung bawang putih,
1/2 cm jahe merah,
kesemuanya ini dicincang halus.
tambahan lain siapkan oregano, lada putih, dan garam.

caranya? gampang.....
1, tumis bawang dan jahe dengan 1 sdm butter, sampai harum yaa....
2. masukkan sosis, aduk rata, lalu masukkan jagung dan wortelnya
3. tambahkan lagi 1 sdm butter untuk mengeringkan sosisnya, tapi sekaligus juga untuk membuat sayurannya lebih moist...
4. saat sosis sudah terlihat mengembang, tambahkan 1 sdt oregano, lalu lada putih sesuai selera, dan sejumput garam. benar-benar hanya butuh sedikit garam karena sosis biasanya sudah asin dan butter juga sudah membentuk savoury nya di sana....
5. hummmm.... aromanya wangiiii..... silakan dicicip, diangkat dari pemanas, dan start to plate up.

i swear its worth to try! bisa juga pakai shrimp (pernah nyoba juga dan enak juga hehehe)
sayangnya satu hal yang terlupa, saya tak sempat memotretnya untuk Anda. seharusnya itu wajib dilakukan, supaya Anda bisa membayangkan bahwa its really worth to try ^^

Senin, 09 April 2012

Titik Balik


Ada satu momen menggelitik dalam dialog santai-tak sengaja antara aku dan Faza, yang membuatku memikirkan dialog itu untuk beberapa waktu dan kemudian ia menjadi titik balik dalam kehidupanku.
Jadi sore itu aku sedang membantu Faza keramas, sambil memijat kepalanya ku katakan padanya bahwa ia sudah besar dan rambut lembutnya lambat laun semakin panjang. Faza memandangku sambil tersenyum lebar sekali memamerkan deretan giginya yang gigis habis, ia menanggapi ucapanku dengan berkata, “kalau besar jaju mau jadi apa yok mi?”

“jaju mau jadi apa?”
“jaju mau jadi dokter anak laaah….”
“biar apa jadi dokter anak?”
“ya biar bantuin anak-anak yang sakit laah…. Yang cekelakaan (kecelakaan)kaya Jaju, yang sakit perut, yang gatal-gatal juga kaya jaju, hihihi!”
 “jaju mau jadi dokter anak memangnya jaju suka anak-anak?”
“iyaaa…. Jaju kan senang sama ade bayi, jaju suka kalo ada ade kecil, jaju maunya jadi dokter anak…. 

Umi kalo sudah besar mau jadi apa? Lanjutnya balik bertanya.
“umi kan sudah besar,” jawabku sambil merapikan rambut kusutnya.
“iyaaa…. Umi mau jadi apa….?” Tanyanya lagi sambil mengerutkan kening dan mengerucutkan bibir.
“umi….. umi sekarang sudah jadi ibu.” Jawabku setengah ragu dengan jawabanku sendiri. Benar saja, ia meneruskan selidiknya. “iya, jaju tau umi ibu, ibu apa?”
“hmm….. ibunya jaju laaah….” Jawabku sambil memercik-mercikkan air di wajahnya.
“loooohhhh…!!! Bukan iitu yang jaju mau tau…. Itu jaju tauu…..” kilahnya sambil bibirnya kian mengerucut. “maksud jaju, umi jadi ibu yang gimana…. “
“umi mau jadi ibu yang baik selamanya buat jaju dan ade.” Jawabku sok terdengar ideal. Ternyata….
“looooh…. Iyaaa…. Kan memang umi itu baiiik…. Tapi umi mau jadi apaa…?” desaknya lagi.

“hmmm…. Cita-cita umi gitu kaaah… kaya jaju mau jadi dokter anak?”
“iiyyaaaa……” serunya.
“tapi kan katanya jaju ga mau kalo umi kerja…” aku, entah mengapa memilih jawaban bodoh itu. Ragu-ragu sambil membasuh kepalanya dengan air, menjaga agar tak ada buih yang masuk ke matanya.
“loh looh, aaah… uuumiiii…. Iya jaju tau jaju ga mau umi kerja…  Maksud jaju, memangnya umi ga mau jadi apa-apa….. kaya jaju gituuu….. kan katanya umi penulis… umi kan suka nulis kan…??” ia sedikit memberi clue, mungkin ia juga bertanya-tanya dalam hati mengapa dalam sekejap uminya sudah terlihat se-oon itu?

Deg! Aku tertampar rasanya. Diam sejenak memandangnya.

“oh iya! Betul! Cita-cita umi, umi mau jadi penulis hebat! Umi mau bikin buku yang bermanfaat buat banyak orang! Seperti anak umi yang jadi dokter anak biar bermanfaat buat banyak orang!” aku segera meralat jawabku.
Serta merta bibir kerucutnya itu merekah dan berkembang lebar sekali. Anakku tersenyum. “nah iiiitu yang jaju bilang! Kan kita bedua sama kan mi? jaju jadi dokter, umi jadi penulis kan mi???” pungkasnya ceria. Lalu meneruskan celotehnya tentang cita-cita adik yang ingin seperti abi, dan cita-cita abi yang menurutnya sudah kesampaian.

Sudah empat hari sejak acara mandi sore itu dan ya, aku tersadar bahwa ternyata selama ini aku terjebak dalam kondisi stag yang melenakan. Bahwa ketika aku berpikir aku telah memilih jalan yang sesuai dengan kebutuhan nuraniku menjadi perempuan yang mengabdi kepada keluarga, aku terlena dan melupakan bahwa aku pun harus menjadikan diriku pribadi yang bermanfaat bagi orang lain, lingkungan, banyak hal! Aku harus jadi bermanfaat untuk semesta ini! Nampaknya terlalu lama bagiku untuk hidup mengikuti arusnya tanpa mengendalikan. Aku lupa mengendalikan!

Aku pernah bermimpi dan terobsesi. Dalam suatu waktu ketika terjadi halangan, cobaan, aku menyerah begitu saja dan tak melakukan apa-apa. Tak melanjutkan obsesi-obsesi itu dalam suatu tindak nyata, dan tidak pula sekedar mempertahankan posisi sediakala. Sehingga pun merosot lah aku dalam BIG ZERO, again! Aku memang masih selalu membeli buku, membacanya bergantian, menulis di kala sempat, memutar siaran-siaran pendidikan, bahkan tetap mengajarkan mengaji. Tapi ternyata tanpa mimpi, tanpa visi dan misi, ruh dari niat amalan-amalan ini kian meredup dan meredup. Ketika aku melakukannya hanya untuk mengisi waktu, melakukannya agar tak sepi, lalu apa yang bisa menjadi manfaat bagiku? Dan dengan niat semacam itu, apakah aku membawa manfaat bagi orang lain?? Tentu saja tidak.

Dan anakku membangunkanku, dengan cara yang mungkin tak pernah ia sadari. Menyentilku bahwa kita tak pernah terlalu tua untuk mengejar impian, tak akan pernah punya cukup alasan untuk berhenti. Bahwa kodrat manusia sebagai khalifah di Bumi, membuatnya WAJIB bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk bumi.  WAJIB bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk bumi. 

Di titik ini aku memaksa diri menata ulang segala niat, mempertanyakan segala maksud tujuan, memutar haluan bila diperlukan, mengendalikan pikiran agar tetap di tempatnya, dan bersiap atas sebuah amanah. Aku harus bermanfaat bagi banyak orang, bagaimanapun caranya. Inilah pernyataan misi ku.
Allah mengirimkan malaikatNya, mengingatkanku dengan begitu lembut dan lucu. Segala puji bagi Engkau Rabb semesta alam, semoga layak ampunan atas hamba karena pernah membiarkan diri menjadi yang tak bermanfaat.

Bagaimana dengan Anda, sahabat-sahabatku? Semoga ilmu, amal, rizki, kesempatan, dan kesehatan kita membawa manfaat bagi sebanyak-banyaknya sesama kita. Aamiin…. :)

Diriwayatkan dari Jabir RA berkata,”Rasulullah SAW bersabda,
’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Thabrani dan Daruquthni)



adrie and faiz daisy path

Daisypath Anniversary tickers