Tampilkan postingan dengan label pencerahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pencerahan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Maret 2013

lazy

there are days where you don't wanna do anything but curled up on the couch and headset sticked on your ears listening your favourite playslist while imagining the life you want.

you know it's not  such good thing to keep, you know there are jobs to be done, you know its not healthy, you know it definitely useless fruitless thing, and the worst of all, YOU KNOW THAT THE DEVIL INSIDE tempts you to do so, give you a slight peace and euphoria with an empty delusion. and at the same time, it keeping you away from God, divert your mind from remambrance of Allah, The One who was supposed to be The Only you remember. yes it will keep you away from Him, and further away from His Jannah.

you knew it.
but somehow, in some days, you are still doing it shamelessly.
may God give u mercy.

Senin, 18 Maret 2013

Telinga

Saya sedang teringat almarhum abah saya Haji Salim Umar, yang saat usianya lima puluh sembilan tahun mulai menggunakan alat bantu dengar untuk mempertajam fungsi pendengarannya yang mulai memudar.
Sebelum menggunakan alat bantu dengar, abah hampir selalu berbicara dengan suara nyaring sehingga kami di rumah juga ikut saling berteriak. Begitu pula dengan siaran televisinya yang seolah-olah menyajikan acara untuk orang sekampung, saking kencangnya volume yang diset.
Hari-hari pertama mengenakan alat bantu dengar, beliau kerap tersenyum sendiri, bahkan terkikik kecil. Ketika ditanya alasannya beliau berkata, "Abah ini bingung, mau dibesarkan volumnya semua suara masuk, mulai suara mamamu ngomong, suara ayam, suara orang nukul (memukul palu,-), suara orang bersin nda tau dimana...hahaha."
Sambil tertawa beliau melanjutkan, "Mau dikecilkan volumnya, ya kecil betul juga dengarnya, samar-samar juga suaramu abah dengar."

Pada akhirnya alat bantu dengar itu hanya dipakai sesekali saat ada tamu atau menonton berita, selainnya, abah lebih senang bercanda dan berbicara sambil teriak-teriak, kami pun begitu. Lucu rasanya mengingat kenangan itu, dan sekarang lebih terasa menyedihkan mengingat beliau sudah hampir tujuh tahun tak lagi bersama kami. Allahumma ighfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu, aamiin....

Beberapa minggu lalu saya terserang flu yang salah satu gejalanya adalah nyeri di telinga. Telinga saya benar-benar tersumbat dan sulit mendengar, saat menelan pun telinga ikut sakit. Dan saat itu saya benar-benar memahami betapa maha Agungnya Allah yang telah menciptakan telinga yang begitu sempurna untuk kita.

Bayangkan, telinga kita menangkap suara-suara yang seliweran di sekitar kita dengan cara adaptasi yang ajaib. Burung yang berkicau dapat kita nikmati sambil lalu (tapi tetap menyenangkan) lewat suaranya yg sayup sayup mendekat menjauh. Kita juga bisa mendengar orang yang memukulkan palu atau anak-anak yang bermain drum di sekolahan seberang sana tanpa mengganggu konsentrasi dengar kita terhadap hal-hal yang ada di depan kita. Telinga kita tak hanya memproses semua suara itu secara bersamaan tapi juga menciptakan harmoni di dalamnya.

Abah saya mengatakan, alat bantu dengar memang membantunya mendengar lebih baik. Tapi tentu saja itu adalah buatan makhluq, buatan manusia, pastilah tak dapat menggantikan fungsi telinga secara sempurna. Sekali lagi ia hanya membantu.

Beliau bilang, ia mendengar semua suara, namun tak seperti telinga yang seolah punya harmoni dan ritme, alat bantu dengar menampung semua suara, dan menghasilkan volum suara yang sama sesuai dengan yang diset. Bukannya berdasarkan jarak jauh dekat dan frekuensinya. Sehingga ketika beliau mendengar anak-anak sekolah main drum band, atau ketika tetangga memukul palu, beliau merasa orang-orang itu sedang menabuh drum dan mamukulkan palu tepat ditelinganya. Katanya, "Ini tak bisa diandalkan!'

Atau hal yang lebih istimewa lagi, telinga menyaring informasi dari otak bahwa kita tak ingin mendengar suara itu, hanya ingin mendengar suara ini, sehingga kita bisa fokus pada satu hal dan menjadikan suara-suara yang masuk hanya jadi latar belakang yang tak penting.

Abah bilang, alat bantu dengar seringkali menyulitkannya. Seperti ketika beliau sedang berbicara serius dengan tamu namun tetap tak bisa fokus dengan pembicaraan karena suara motor yang lewat di depan rumah seolah-olah sedang melintas ke dalam kepalanya, sehingga ia jadi sulit mendengar tamunya berbicara.

Ah Abah, engkau katakan itu hampir sembilan tahun yang lalu, dan baru sekarang ananda mengambil pelajaran.  Dan tentu saja, dua telinga dan satu mulut agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Hmmm.... Jaga telinga, syukuri pendengaran, dan hindarkan orang lain dari mendengar hal-hal menyakitkan dari diri kita. Sungguh anugerah dari Rabb semesta alam.




Senin, 09 April 2012

Titik Balik


Ada satu momen menggelitik dalam dialog santai-tak sengaja antara aku dan Faza, yang membuatku memikirkan dialog itu untuk beberapa waktu dan kemudian ia menjadi titik balik dalam kehidupanku.
Jadi sore itu aku sedang membantu Faza keramas, sambil memijat kepalanya ku katakan padanya bahwa ia sudah besar dan rambut lembutnya lambat laun semakin panjang. Faza memandangku sambil tersenyum lebar sekali memamerkan deretan giginya yang gigis habis, ia menanggapi ucapanku dengan berkata, “kalau besar jaju mau jadi apa yok mi?”

“jaju mau jadi apa?”
“jaju mau jadi dokter anak laaah….”
“biar apa jadi dokter anak?”
“ya biar bantuin anak-anak yang sakit laah…. Yang cekelakaan (kecelakaan)kaya Jaju, yang sakit perut, yang gatal-gatal juga kaya jaju, hihihi!”
 “jaju mau jadi dokter anak memangnya jaju suka anak-anak?”
“iyaaa…. Jaju kan senang sama ade bayi, jaju suka kalo ada ade kecil, jaju maunya jadi dokter anak…. 

Umi kalo sudah besar mau jadi apa? Lanjutnya balik bertanya.
“umi kan sudah besar,” jawabku sambil merapikan rambut kusutnya.
“iyaaa…. Umi mau jadi apa….?” Tanyanya lagi sambil mengerutkan kening dan mengerucutkan bibir.
“umi….. umi sekarang sudah jadi ibu.” Jawabku setengah ragu dengan jawabanku sendiri. Benar saja, ia meneruskan selidiknya. “iya, jaju tau umi ibu, ibu apa?”
“hmm….. ibunya jaju laaah….” Jawabku sambil memercik-mercikkan air di wajahnya.
“loooohhhh…!!! Bukan iitu yang jaju mau tau…. Itu jaju tauu…..” kilahnya sambil bibirnya kian mengerucut. “maksud jaju, umi jadi ibu yang gimana…. “
“umi mau jadi ibu yang baik selamanya buat jaju dan ade.” Jawabku sok terdengar ideal. Ternyata….
“looooh…. Iyaaa…. Kan memang umi itu baiiik…. Tapi umi mau jadi apaa…?” desaknya lagi.

“hmmm…. Cita-cita umi gitu kaaah… kaya jaju mau jadi dokter anak?”
“iiyyaaaa……” serunya.
“tapi kan katanya jaju ga mau kalo umi kerja…” aku, entah mengapa memilih jawaban bodoh itu. Ragu-ragu sambil membasuh kepalanya dengan air, menjaga agar tak ada buih yang masuk ke matanya.
“loh looh, aaah… uuumiiii…. Iya jaju tau jaju ga mau umi kerja…  Maksud jaju, memangnya umi ga mau jadi apa-apa….. kaya jaju gituuu….. kan katanya umi penulis… umi kan suka nulis kan…??” ia sedikit memberi clue, mungkin ia juga bertanya-tanya dalam hati mengapa dalam sekejap uminya sudah terlihat se-oon itu?

Deg! Aku tertampar rasanya. Diam sejenak memandangnya.

“oh iya! Betul! Cita-cita umi, umi mau jadi penulis hebat! Umi mau bikin buku yang bermanfaat buat banyak orang! Seperti anak umi yang jadi dokter anak biar bermanfaat buat banyak orang!” aku segera meralat jawabku.
Serta merta bibir kerucutnya itu merekah dan berkembang lebar sekali. Anakku tersenyum. “nah iiiitu yang jaju bilang! Kan kita bedua sama kan mi? jaju jadi dokter, umi jadi penulis kan mi???” pungkasnya ceria. Lalu meneruskan celotehnya tentang cita-cita adik yang ingin seperti abi, dan cita-cita abi yang menurutnya sudah kesampaian.

Sudah empat hari sejak acara mandi sore itu dan ya, aku tersadar bahwa ternyata selama ini aku terjebak dalam kondisi stag yang melenakan. Bahwa ketika aku berpikir aku telah memilih jalan yang sesuai dengan kebutuhan nuraniku menjadi perempuan yang mengabdi kepada keluarga, aku terlena dan melupakan bahwa aku pun harus menjadikan diriku pribadi yang bermanfaat bagi orang lain, lingkungan, banyak hal! Aku harus jadi bermanfaat untuk semesta ini! Nampaknya terlalu lama bagiku untuk hidup mengikuti arusnya tanpa mengendalikan. Aku lupa mengendalikan!

Aku pernah bermimpi dan terobsesi. Dalam suatu waktu ketika terjadi halangan, cobaan, aku menyerah begitu saja dan tak melakukan apa-apa. Tak melanjutkan obsesi-obsesi itu dalam suatu tindak nyata, dan tidak pula sekedar mempertahankan posisi sediakala. Sehingga pun merosot lah aku dalam BIG ZERO, again! Aku memang masih selalu membeli buku, membacanya bergantian, menulis di kala sempat, memutar siaran-siaran pendidikan, bahkan tetap mengajarkan mengaji. Tapi ternyata tanpa mimpi, tanpa visi dan misi, ruh dari niat amalan-amalan ini kian meredup dan meredup. Ketika aku melakukannya hanya untuk mengisi waktu, melakukannya agar tak sepi, lalu apa yang bisa menjadi manfaat bagiku? Dan dengan niat semacam itu, apakah aku membawa manfaat bagi orang lain?? Tentu saja tidak.

Dan anakku membangunkanku, dengan cara yang mungkin tak pernah ia sadari. Menyentilku bahwa kita tak pernah terlalu tua untuk mengejar impian, tak akan pernah punya cukup alasan untuk berhenti. Bahwa kodrat manusia sebagai khalifah di Bumi, membuatnya WAJIB bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk bumi.  WAJIB bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk bumi. 

Di titik ini aku memaksa diri menata ulang segala niat, mempertanyakan segala maksud tujuan, memutar haluan bila diperlukan, mengendalikan pikiran agar tetap di tempatnya, dan bersiap atas sebuah amanah. Aku harus bermanfaat bagi banyak orang, bagaimanapun caranya. Inilah pernyataan misi ku.
Allah mengirimkan malaikatNya, mengingatkanku dengan begitu lembut dan lucu. Segala puji bagi Engkau Rabb semesta alam, semoga layak ampunan atas hamba karena pernah membiarkan diri menjadi yang tak bermanfaat.

Bagaimana dengan Anda, sahabat-sahabatku? Semoga ilmu, amal, rizki, kesempatan, dan kesehatan kita membawa manfaat bagi sebanyak-banyaknya sesama kita. Aamiin…. :)

Diriwayatkan dari Jabir RA berkata,”Rasulullah SAW bersabda,
’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Thabrani dan Daruquthni)



Selasa, 16 Agustus 2011

Sepetak Kesadaran

Mungkin ini sudah malam ke enam puluh sekian di mana aku tidak lagi terbiasa memanjakan mata dengan langit malam yang penuh bintang dan bias bulan. Rasanya sudah terlalu lama kebiasaan itu berlalu sehingga malam ini, tepat pertengahan Ramadhan ketika purnama sedang bulat-bulatnya, aku membuka pintu sekedar mengecek keadaan dan mendapati diriku tertegun di depan pintu, diam terpana memandang purnama yang lama tidak kusaksikan dengan khidmat. Rasanya mataku terpatri di sana dan enggan berpaling kalau bukan karena udara kering angin dingin yang menusuk sampai ke tulang. Akhirnya kututup lagi pintu dan memilih memandanginya lewat jendela walaupun kesannya tak seindah kalau melihat langsung.

Terdengar dramatis mungkin, tapi yaaa! Aku memang selalu jatuh cinta pada langit. Memandangnya, juga benda-benda di sana, bulan, bintang, planet, awan, bahkan matahari yang redup membuatku lebih mudah menghadapi hidup, mengajarkanku untuk lebih banyak bersyukur dan membumi. Karenanya lama tak memandang bulan saja cukup membuatku rindu.

Singkatnya, bukan karena dipingit suami atau apa, tapi agenda ke teras saat malam dan ngedate dengan bulan sambil ngeteh/ngopi kutiadakan sejak tetangga membangun rumah baru di halaman samping rumah. Sampai saat ini penyelesaiannya tinggal tiga puluh persen lagi, dan rumah baru bertingkat yang menjulang arogan itu tentu saja menghalangi rumahku dari pepohonan yang menyegarkan, dan tentu saja langit terbuka dengan segala atributnya di atas sana. Ma sya Allah…..

Aku masih ingat menitikkan air mata ketika menyaksikan sekelompok kutilang dan pipit berdatangan ke sepetak tanah di samping rumah. Mereka hinggap di satu-satunya semak-semak kering yang tersisa. Beberapa berpandangan bingung dan beberapa yang lain mematuk-matuk tanah mencari apapun yang tersisa untuk dimakan, setelah itu mereka terbang menjauh dan tak pernah lagi kulihat hingga saat ini. Burung-burung itu tak pernah lewat lagi, apalagi singgah. Karena sejak hari itu tempat mereka penuh orang-orang yang menyusun batu-batu tinggi ke atas, membawa pasir dan mengaduk-aduk semen yang partikel-partikel kecilnya beterbangan di udara hingga masuk ke saluran pernafasan.

Sepetak tanah berukuran empat kali tujuh meter itu tadinya seperti surga. Paling tidak di tengah pemukiman padat yang tanahnya berganti semen dan aspal dan pohon-pohonnya berganti dengan bunga-bunga kecil di pot di halaman/teras yang sekedarnya. Lansekapnya miring khas daerah perbukitan, petak itu diapit oleh rumah-rumah beton di kanan kiri depan belakangnya. Rumahku terletak di sisi kanannya, sedangkan pemilik petak tinggal di rumah di sisi kiri dan agak menuruni bukit. Kebetulan Si empunya tanah adalah pemilik rumah yang kutempati saat ini, juga dua rumah lainnya di deretan yang sama.

Di petak yang tadinya hijau itu tumbuh beberapa pohon, ada dua batang pohon mangga baru setinggi orang dewasa, dua batang pohon lengkeng setinggi kurang lebih tiga meter, dan tepat di depan jendela kamar anak-anak berdiri kokoh sebatang pohon sawo yang berbuah lebat, juga pohon mangga yang sudah tiga kali dipanen. Di sudut yang lain ada rumpun salak yang lebat, dan tanahnya tertutupi oleh rumput hijau yang segar, rumpun-rumpun kenikir yang bunganya kontras dengan bunga-bunga di rumpun seruni yang berselang-seling menjalari rumput. Bunga-bunga itu membawa kupu-kupu terbang di sekelilingnya, sering pula lebah dan tawon berdengung-dengung meningkahi cericit burung-burung yang datang. Memang setiap pagi sekelompok burung kutilang dan pipit bergantian menguasai petak itu, biasanya kutilang datang lebih pagi daripada gerombolan pipit bersaing dengan ayam-ayam yang sudah berkokok-kokok sejak pagi dan kalau malam memang menghuni sawo itu untuk tidur. Tak jarang burung-burung merpati tetangga juga lewat walaupun tidak sering singgah. Sepertinya para binatang ini punya teritorinya masing-masing. Lucu dan menakjubkan juga. Belum lagi jadwal patrol malam oleh kelelawar-kelelawar yang begitu jeli menemukan sawo-sawo manis mereka.

Membayangkannya saja rasanya indah, apalagi memandanginya setiap hari, dan melebur di dalamnya merasakan angin sejuk beraroma tanah lembab yang disinari matahari pagi, angin segar beraroma daun di siang hari, angin sepoi dengan langit biru terbuka di sore hari, dan angin dingin malam hari yang kontras dengan kerlip bintang yang ramah dan cahaya bulan yang terkesan hangat. Tadabbur alam setiap hari kalau boleh dibilang. Sehingga ketika kehilangan semua itu (yang memang bukan benar-benar milikku), rasanya seperti kehilangan sesuatu dari dalam jiwa dan merasa bodoh di saat yang sama karena tidak berdaya melakukan apapun.

Akhirnya demi sebuah istilah bernama passive income yang sedang jadi business trending akhir-akhir ini, semua itu tidak bisa lagi dinikmati, baik olehku, oleh anak-anakku yang juga belajar dari sepetak tanah hijau itu, dari hewan-hewan yang semua sumber makanannya di sana, bahkan mungkin dua-tiga orang tetangga yang kerap memanen kenikir atas izin pemiliknya, untuk kemudian dijual dan menjadi sedikit tambahan penghasilan mereka. Subhanallah, banyak sekali sebenarnya passive income akhirat dari sepetak tanah empat kali tujuh meter itu, sungguh sebenarnya tak sebanding dengan materi yang mungkin akan diraup si pemilik. Belum lagi oksigen murni yang dihasilkan setiap helai daunnya, yang akan dihirup oleh setiap orang di sekitar lingkungan itu, setiap hari setiap waktu, bukankah itu juga jadi shadaqah? Ma sya Allah…. Indahnya kalau kita mau memikirkan…

Dan sekarang yang ada hanya debu dan udara kering yang panas.

~~~~~

Dari Jabir RA berkata, Rasulullah SAW bersabda,

“Tidak seorang muslim pun yang bercocok tanam, melainkan setip tanamannya yang dimakan atau dicuri orang, atau dimakan binatang liar, atau dimakan burung, atau hilang, niscaya semuanya itu menjadi shadaqah baginya.”

HR. Muslim

Kamis, 21 Oktober 2010

You Are Nearer To Me Than My Jugular Vein

You are my face;

no wonder I don't see You:
such closeness is a mystifying veil.
You are my reason;

it's no wonder I don't see You,
because of all this perplexity of thought.
You are nearer to me

than my jugular vein.

Minggu, 26 September 2010

God I want home


Rabb,
I'm longing for Your Presence
in my life,
I'm desperately need Your Guidance
I'm exhausted,
I've been lost for such a long long time
I want home
Please......

Rabu, 25 Agustus 2010

mencoba sadar

Hidup itu Indah maka jangan dibuat susah,
Namun jika dunia tak cukup ramah kepadamu,
kenapa tak berhenti mengejarnya?
Bukankah kita punya Pilihan yang Pasti?

Bahkan jika ia terlalu ramah padamu,
berhati-hatilah mungkin kau akan terjebak di dalamnya.
mengapa kita tak berhenti melenakan diri?
Bukankah kita punya Pilihan yang Pasti?



Balikpapan, Ramadhan 15th, 1431 Hijriyah
Adrie Faizal, dalam rangka mentaubatkan hatiku

Senin, 16 Agustus 2010

Maaf

Ada seseorang yang saat ini menurutku melakukan kesalahan yang fatal terhadapku. Dan aku mau dia minta maaf. Childish banget ya? karena sampai sekarang, hatiku belum ikhlas mengingat kesalahannya. Saat itu (bahkan sampai sekarang) sakitnya masih terasa. Dan dia ga tau tuh kayanya kalo sudah bikin salah.

Wah.. wahhh... betapa sempitnya hatiku.
betapa dangkalnya telaga hatiku.
Sedikit garam membuatnya pahit.
Mungkin ia sangat berlumpur dan becek.
oh my God... apakah segitu dangkalnya hatiku???

Tapi ya, bisa jadi.
Karena aku belum bisa mendamaikan hatiku dengan masa lalu,
dalam hal ini, merelakan rasa sakit akibat kalimatnya yang menusuk hati.
Tapi bukankah itu hanya kalimat???
Ia seperti angin yang berhembus lalu hilang??
Aku bahkan tidak kehilangan rumah, harta benda, bahkan badanku pun tidak jatuh. Ia hanya angin kagetan yang tiba-tiba berhembus. Bukan angin puting beliung, bukan katrina...
Bisa jadi ia hanya seperti rem angin dari truk tronton yang kebetulan menghembuskan 'nafas' bau, panas, polutive, dan bertekanan itu, saat aku lewat di sampingnya di lampu merah. Hanya begitu saja??? Dan aku masih mengingatnya hingga berbulan-bulan ini???? I cant believe this!

Hatiku tersayang.....
Melunaklah...
Allah itu Maha Mengampuni,
padahal dosamu kalo dihitung udah ga keampunan lagi,
Lagi pula mana tau, ada orang lain di luar sana, siapapun dia,
yang ternyata menyimpan dendam yang sama dengan yang kau simpan terhadapnya,
tanpa kau sadari, mungkin kau tak kan pernah tau??
Tiba-tiba di akhirat, dengan amalmu yang sudah sedikit itu,
masih pula dikurangi lagi akibat dendam orang-orang yang tak kau sadari itu.
Orang-orang yang mungkin tak ingin memaafkanmu seperti kau segan memaafkan dia.
Memangnya, kamu mau seperti itu???

Bukankah lebih baik memaafkan?
Bahkan jika kau diberi kesempatan untuk membalas,
Bukannya lebih baik memaafkan?
Semoga kesalahanmu pada orang lain, diikhlaskannya juga.
Maafkan sudah....
Dia cuma manusia biasa sepertimu,
Dan kesombonganmu itu sangat tidak pantas!!

Hatiku...
berdamailah,
:)

Sahabat...
maafkan aku ya,
karena begitu lama aku baru memaafkanmu,
kuharap kau maafkan khilafku,
...


"Usah mengharapkan kesenangan,
Dalam perjuangan perlu pengorbanan,
Usah dendam berpanjangan,
Maafkan kesalahan insan,
Begitu aturan Tuhan.."

^_^

untuk setiap hati yang masih menyimpan sangkal, lepaskanlah, atau kau tak akan pernah damai :)

Minggu, 15 Agustus 2010

Rejeki Supir Taxi by. Ust. H. Yusuf Mansyur

~~~~~~~~~~~~~
Kali ini saya ingin berbagi hikmah. Saya mengutip note ini dari Yusuf Mansyur Network on Facebook, silakan di add bagi yang belum add, sangat banyak kisah inspiratif yang menggugah jiwa, dan insya Allah menambah keimanan. Selamat berwisata hati! :)

~~~~~~~~~~~~~


Tuesday, June 22, 2010 at 4:55pm
"Kramat Raya, Pak?" tanya saya setengah ragu. "Mari, Pak!" kata sopir taksi itu mengiyakan, tanpa berpikir sejenakpun.

Tentu saja saya gembira, karena tidak menyangka lelaki itu bakal mau mengantar.

Saya segera naik ke jok belakang, menutup pintu. Taksi pun melaju. Sebentar kemudian berputar 180 derajat di perempatan Cempaka Putih. Sekarang melaju ke arah Senen.

"Kok Bapak mau ke Kramat? Kan jaraknya dekat aja, Pak?" tanya saya memancing.

"Kita kan tidak pernah tahu ada apa di balik yang dekat itu, Pak," katanya sejenak kemudian. Senyumnya saya lihat di spion atas kepalanya. "Jika penumpang yang jarak dekat tidak diambil, rasanya seperti tidak menghargai Tuhan yang membagi rezeki buat kita."

Berkata bijak ternyata bukan hanya monopoli kaum filosof. Tetapi juga bisa keluar dari mulut Firmansyah, begitu nama yang terpampang di dashboard, seorang sopir taksi bersahaja yang saya temui pagi ini.

Maka meluncurlah cerita "filosof" yang sopir taksi itu.

"Saya banyak mengalami, kadang memang rasanya gimana gitu ketika sudah lama ngantri, ternyata dapat penumpang yang dekat," katanya sembari menarik napas perlahan. "Dapat lagi, dekat lagi. Dapat lagi, dekat lagi."

Saya cuma tersenyum. Tentu saja saya bisa merasakan "duka" itu. Seperti kita mengharapkan durian runtuh, tetapi apa daya jika kenari yang ternyata melayang jatuh.

"Tetapi, tak jarang," imbuh lelaki itu, "saya dapat yang dekat-dekat, tetapi berkali-kali. Juga pernah sekalinya dapat yang jauh, tetapi setelah itu baliknya tidak membawa penumpang sama sekali."

Ia tersenyum di tengah klakson jembatan layang menuju Kemayoran.

Saya mengangguk-angguk.

"Yah, artinya lebih baik terima saja yang masuk ke taksi, entah jurusan dekat ataupun jauh," kata saya. "Karena kita tidak pernah tahu, setelah itu dapat rezeki dalam bentuk apa lagi."

***

Beberapa hari berikutnya, saya menumpang taksi dari tempat dan dengan tujuan yang sama. Kali ini Bluebird, langganan saya.

"Kok Bapak mau mengantar penumpang dengan tujuan yang dekat seperti saya?" tanya saya memancing. Taksi sedang melaju ke arah Senen. Saya mencomot roti sarapan pagi dengan sekotak minuman dingin.

Ia tertawa.

"Jangankan Kramat Raya, Pak," katanya bersemangat, "bahkan saya pernah mengantar orang dari Cempaka Emas ke Ruko Cempaka Emas!"

"O, ya?" sergah saya heran. Jarak itu tak lebih dari selemparan lembing atau sebidikan panah. "Argo Bapak bahkan mungkin tidak sempat bergerak dari angka awal lima ribu perak, dong?"

"Yah, waktu itu sedang macet sih. Sempat nyampai enam ribu rupiah."



Saya mengangguk-angguk. Saya berandai-andai. Lima belas persen dari enam ribu tak lebih dari seribu rupiah. Itu yang dia dapat untuk mengantar penumpang sedekat itu, buah dari mengantri di pool mungkin setengah hari.

"Belum lagi ketika kembali ke pool, ternyata sudah penuh," katanya menerawang. "Harus berputar dulu tiga-empat kali untuk dapat antrian lagi."

"Wah, susah juga, ya Pak?" timpal saya. Sudah dapat yang sangat dekat, kembali ke pool antri di paling belakang lagi. Itu pun setelah muter lebih dulu.

"Ya. Bahkan saya pernah, sudah mengantri di belakang, diserobot teman lagi," katanya enteng, bahkan cenderung riang. "Saya sih pasrah saja. Tidak lama, teman saya mendapat penumpang dengan tujuan Patra Jasa. Sebentar kemudian, seorang penumpang mengetok pintu mobil saya. Cikarang, Pak? Tentu saja saya ambil karena jaraknya jauh, berlipat-lipat dibandingkan Patra Jasa."

Saya ikut tersenyum mendengar ceritanya. "Itu semua buah dari keikhlasan, Pak."

"Alhamdulillah, saya nggak pernah menolak penumpang sedekat apapun tujuan mereka. Saya yakin, Allah memberikan rezeki saya dengan cara yang demikian. Kadang sedikit, kadang banyak. Saya tidak pilih-pilih."

Demikianlah Pak Endang, begitu namanya terpampang di dashboard, menyimpulkan. Sebuah kesimpulan sederhana yang tidak sesederhana maknanya.

***

Saya banyak belajar dari kedua orang itu, Pak Firmansyah dan Pak Endang; sopir-sopir taksi yang sederhana. Mereka masih "menghargai Tuhan", begitu bahasa mereka. Caranya sungguh sangat sederhana: mengantarkan penumpang yang naik taksi mereka, meski dekat sekalipun jaraknya. Menolak penumpang, sama saja dengan menolak rezeki yang sudah Allah hidangkan di hadapan. Menolak penumpang, sama halnya tidak menghargai Sang Pembagi Rezeki. Karenanya, tidak ada yang sepatutnya harus dilakukan, bagi mereka, kecuali ikhlas mengantar.

Terbukti dalam berbagai kesempatan mengantar penumpang yang dekat itu, ternyata sambung-menyambung dengan penumpang yang turun naik; begitu satu penumpang turun, ada yang langsung naik. Bahkan tak jarang, banyak penumpang jarak dekat yang memberikan "uang lebih" berkat kesediaan mereka mengantar tanpa mengeluh. Jumlahnya sering lebih banyak ketimbang persentase yang mereka terima dari mengantar penumpang jarak jauh. Jarak dekat, karenanya tidak lantas identik dengan rezeki cekak.

Sungguh sebuah sikap hidup yang, kata orang Jawa, sumarah. Pasrah, tetapi bukan layaknya wayang. Dalam bahasa agama, barangkali inilah pengejawantahan sikap tawakal setelah berazam. Bukan sikap pasrah yang salah-kaprah; yang sering salah dipahami sebagai "pulung sugih pulung mlarat". Kalau Tuhan menakdirkan kita kaya, tanpa berusaha pun, kita akan kaya. Kalau ditakdir miskin, bekerja keras peras-keringat-banting-tulang sekalipun ibaratnya, tetap akan miskin.

Saya lantas teringat dengan sebuah hadits, bahwa Allah itu tergantung pada persangkaaan (dzon) hamba pada-Nya. Kedua lelaki di atas, dalam pandangan saya, telah memberikan persangkaan yang baik pada rencana Tuhan di balik penumpang yang dekat itu. Ketika sopir yang lain menyangka "rugi" ketika harus mengantar penumpang yang dekat, keduanya tidak pernah berprasangka demikian.

Boleh jadi keduanya tidak hapal dengan ayat Al-Qur'an tentang rezeki yang min haitsu laa yahtasib. Tetapi saya yakin, keduanya, juga kita, paham bahwa rezeki itu datangnya bisa tidak disangka-sangka. Tetapi sementara kedua sopir di atas sudah mempraktekkan pemahaman itu di kehidupan keseharian, kita sendiri barangkali masih berkutat pada tataran teori.

Jika Nabi Musa pernah belajar kepada Khidir, kita yang bukan siapa-siapa ini tak ada salahnya belajar pada orang-orang sederhana seperti kedua sopir taksi di atas.

Kamis, 12 Agustus 2010

When You Ask, The Answer Will Be Given - Quatrain 99

Do you know what the music is saying?
"Come follow me and you will
find the way.
Your mistakes can also lead you
to the Truth.
When you ask,
the answer
will be given.

-- Translation by Azima Melita Kolin
and Maryam Mafi
Rumi: Whispers of the Beloved
HarperCollins Publishers Ltd, 1999

do you hear
the fiddle's surround sound
follow me and
your path will be found
only going astray
ypu'll find a saintly way
only knowing questions
you'll find a reply.

-- Translation by Nader Khalili
"Dancing the Flame"
Cal-Earth, 2001

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Jika saya ditanya tentang syair ini,
maka saya katakan ini adalah sesuatu yang nyata.
Dan saya selalu tertarik dengan pertanyaa. Hidup saya pun berkutat dengan pertanyaan. Tentu saja, semua orang yang mencari jati dirinya, pasti berkutat dengan pertanyaan kan? Dan di usia saya yang baru menginjak 25 tahun, hmm... saya akui (dengan malu-malu) bahwa saya baru saja mengenal sedikit tetang jiwa dan hati saya. duh!


Saya, sejak kecil selalu sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan tentang diri saya,
tentang apa yang saya lakukan, tentang mengapa saya lahir, mengapa saya bernama adrie, mengapa saya harus jadi anak terakhir, mengapa bumi ini kadang terlihat 'aneh', mengapa saya dapat melihat dan mendengar, mengapa 'bola' itu dinamakan 'bola', dan pertanyaan-pertanyaan konyol lainnya. Tak jarang saya menganalogi satu pertanyaan dengan pertanyaan lainnya, atau membayangkan kemungkinan jawabannya seperti apa.. Bahkan pernah di saat saya empat SD, saya tertegun lama sekali memperhatikan kedua tangan saya. Dalam hati saya sibuk bertanya, kenapa bentuk tangan saya seperti ini? kenapa kulit saya teksturnya begini, kenapa jari-jarinya 'terlihat' begitu aneh, kenapa pori-pori saya berpola sedemikian rupa? kenapa rasanya menyentuh itu seperti ini? kenapa menyentuh kulit orang lain berbeda rasanya dengan menyentuh kulit sendiri? kenapa garis telapak tangan saya terlihat seperti simpul yang rapat? dan pertanyaan-pertanyaan absurd lainnya. Tentu saja sebenarnya dari segi ilmiah semua itu terjawabkan. Tapi berhubung saya masih kelas empat esde, dan kurikulum ketika itu juga tidak memuat masalah tekstur kulit dalam buku IPA, jadi bagi saya itu hanya pertanyaan-pertanyaan yang entah kenapa kok melintas di kepala saya. Tapi ketika itu, saking lamanya saya berkutat dengan semua pertanyaan itu (itu yang mampu saya ingat, rasanya saya mengajukan begitu banyak pertanyaan yang sebagia besarnya tak mampu saya ingat lagi), saya sampai merasa di dunia ini hanya ada mata dan tangan saya yang seolah-olah makin membesar, blur, dan semakin tampak aneh. Hingga pada akhirnya saya menutup mata dan menggeleng kuat-kuat, mencoba menepis semua pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa saya jawab sendiri itu.


Beranjak remaja, pertanyaan-pertanyaan saya masih sekonyol itu. Namun bedanya, saya mulai belajar mencari jawabnya, secara kan tiap tahun juga saya naik kelas ^_~, seiring itu pula, pertanyaan-pertanyaan saya berkembang menjadi lebih diplomatis, kritis, puitis, terkadang begitu mendalam, tapi sering pula retoris dan lagi-lagi, ya konyol. Apalagi ketika itu, saya termasuk remaja yang berpikiran terlalu idealist (padahal faktanya sih paling tidak ideal ;p) dan opportunist. Saya memang bukan bintang kelas yang 'tak tergantikan', bagaimana tidak, 6 tahun masa remaja, hanya satu kali ranking 1. hahaha!! Tapi saya cukup percaya diri, saya tangguh, saya merasa berbakat (dan menyalurkan bakat-bakat tersebut), penuh semangat, saya berbeda. Dan lingkungan saya saat itu mengakui keunggulan dan keberbedaan saya. Wah kedengarannya arogan banget ya?? Sebenarnya sih ga arogan (semoga benar tidak arogan), mungkin penggambaran saya kali ini membuatnya terlihat begitu. Pada dasarnya saya saaaaangat pemalu, tipe yang tidak akan disadari keberadaannya (duh tragis amat ~_~'), namun saya pengamat yang ulung, saya mencerna dalam diam, menilai dengan objektivitas, dan membangun kekuatan diri perlahan tapi pasti (wah, kok saya terlihat makin weird sih :D). Dan pada usia dan posisi demikian, pertanyaan-pertanyaan saya lebih sering jadi kritik dan judge terhadap orang lain maupun sistem yang mengikat saya ketika itu. Sebagian saya utarakan, terutama kepada pihak-pihak yang saya anggap mampu mengerti maksud saya, selebihnya saya simpan sendiri karena saya lebih suka menganggap teman-teman sebaya saya 'ga sampe' mikirnya dengan apa yang saya pikirkan (wah kalo ini sih benar-benar remaja yang angkuh... tobat!!!! "~_~`)



Beranjak dewasa, mulai mengerti dunia, mulai memahami iman, juga memahami dosa dan rasa bersalah, mulai mengenal permainan dunia, ujian keimanan.... hmmm.... pertanyaan-pertanyaan saya kini pun banyak berorientasi kepada, apa yang sebenarnya saya cari dalam hidup ini. Yaa, dalam tahap ini tentu saja semua orang memiliki pertanyaan yang sama. Setiap orang yang berusaha mengenali dirinya pasti akan berhadapan dengan pertanyaan ini. Terdengar klise, namun itulah yang terjadi pada setiap proses berkehidupan seorang anak manusia. Terlebih jika seseorang melakukan kesalahan dan terperangkap dalam kesalahannya. Ia tau jalan keluarnya di mana, tau ke mana harus menuju tapi ia tak melihat jalannya. Matanya kerap buta. Hmm... ia bisa melihat 'pintunya', di mana ia bisa mengakhiri permainan dunianya, tapi ia tak melihat 'jalan' pintu itu. Lagi pula, ada beberapa faktor, ketika seorang manusia tergoda hal-hal duniawi, atau melakukan dosa, apapun itu mulai dari sekedar kebohongan kecil hingga, naudzubillah, dosa-dosa besar, syeitan menggodanya, membisikinya bermacam apologi dan justifikasi sehingga ia merasa dapat 'berhak' melakukan dosa itu, lalu terjadilah sin circle, lingkaran dosa, jerat dosa... naudzubillah mindzalik...



Namun, kodrat manusia adalah kembali pada PenciptaNya. Setiap hati merindukan Rabb nya, setiap jiwa merindukan pulang. Setiap ruh meyakini bahwa tempatnya yang sebenarnya adalah di Sisi Rabb nya. Kembali pada aturanNya, kembali pada penghambaan total terhadapNya, kembali berkeluh kesah hanya kepadaNya, mengembalikan segala harapan kepadaNya... setiap manusia ingin meniti jalan pulang. Dan, seorang guru yang telah begitu banyak mengarungi ujian kepahitan demi kemanisan iman, mengajarkan kepada saya, bahwa, "semua diawali oleh satu pertanyaan"

Dan dari pertanyaan-pertanyaan itu, jawabannya akan menentukan arah kita selanjutnya. Ada orang yang berkutat mencari jawaban atas setiap panggilan dan pertanyaan hatinya, namun tak kunjung ia temukan. Ada pula yang mendapatkan jawaban namun bimbang, ada yang mendapatkan jawaban namun ia butuh waktu untuk menyadari bahwa ia telah menemukan apa yang ia cari…. Hmm.. banyak hal, setiap orang punya perjalanan spiritual masing-masing kan..?

Nah kan, hanya hati kita yang tau, pertanyaan yang mana, dan jawaban mana yang kita pilih untuk mengubah hidup kita menjadi muslim kaffah... jalan mana yang kita pilih untuk pulang…?? :)


^^^^^^^^^^^^^^

Ya Allah…

Hamba pun masih meniti jalan pulang menujuMu,

Sungguh ini tak mudah Ya Allah…

Hamba rindu BimbinganMu...


(Balikpapan, 4 Ramadhan 1431 H)








adrie and faiz daisy path

Daisypath Anniversary tickers