
Version by Camille and Kabir Helminski
"Rumi: Jewels of Remembrance"
Threshold Books, 1996

.gif)
His name is Sriharsha Karanth.
He comes from Bangalore, India.
We met about six years ago, or in a mid of 2004, in Yahoo Chat room.
at that time our interaction is very intense, even after I got married we were still taking the time to mailing each other. but as time passed, with each activity, we began to lose contact. but I always think of him as a best friend.and never change though we never met or talked.
Last year, probably in June or July, we met again.
And this time as I was not too busy, our interactions became more stable.
We often talk and write again.
We try to figure out the traits of each, and of course, again become best friends.
And soon in a year, he entered the closest circle of my life.
as he has always been a best friend who supports me in every condition. friends who made me see the world with all its problems, from the more positive view. I share problems with him, and he always gave me a fair solution. and always.
for me, Karanth was a genius and brilliant. he was a software engineer, and I think he has had many achievements in his life. He just did not realize it.
He was a shy guy, sensitive and tenderhearted. But at the same time he was over sensitive until he was easily hurt. according to his confession, he was a lazy and eater. and as I remember our conversation, he was very excited when talking about food, or about ... sleep!
and if about a job, I think he's hardworker, dedicated, and forward-looking. he has well-organized plan, which I thought it would be accomplished well.
Its not easy to maintain communication in virtual friendship , because in addition to vulnerable misunderstanding, trust and honesty is also a prerequisite for this friendship.but I believe Karanth as I believe in my other best friends in my real world. I love him just like I love my best friend in my real world. I treat him just like I treat my best friends in my real world. even sometimes, he is more real than they are. and since we met in the 2004, I did not find that he changed against me. that's what makes me believe in him, and I highly respect to him.
sometimes, like all best friends in this world, we also fought and argued. mainly due to a misunderstanding, differences in language, customs, habits, and even culture. some things are common in India, which is not common in Indonesia, and vice versa. and it all does not make us stop being friends, but makes us feel even richer with all these differences. and make us proud of this friendship when we are able to bridge the differences between us.
for my very best friend, Sriharsha Karanth, I am proud of you, and I am proud of this very precious friendship, bestfriends forever!! ^_^
Hmmmm. Agak kontradiktif dengan tema-tema yang biasa saya angkat.
Tema-tema yang biasa saya pikirkan … mungkin karena saya suka sekali menulis tentang kemanusiaan, segala hal yang berhubungan hati, jiwa, cinta…. Tuhan… hmmmm… mungkin banyak orang yang berpikir saya hanya mendengarkan nasyid, shalawat, dan sejenisnya….
Wah… saya akui sih, lagu-lagu western masih mendominasi ruang dengar saya. Hmmm…. Beberapa ekstremis pasti beranggapan saya ini liberal, atau apa. Sebaliknya saya tak mau munafik dengan mengatakan saya pendengar setia nasyid dan sejenisnya. Dalam artian, dengan segala kerendahan hati saya (malu-malu) mengakui bahwa saya masih tak mampu meninggalkan music.
Hmm…..
Beberapa orang lain pasti juga bilang, “emang ngaruh, gitu?”
Yaa…. Pada kenyataannya, dan idealnya sih begitu. Saya sendiri bercita-cita meninggalkan music yang tidak membuat saya muhasabah dan lebih banyak ingat padaNya. ... tapi sekarang mungkin iman saya belum sampai pada level itu ya?? Hmmm…..
Bagi saya (yang lagi-lagi mungkin ditolak oleh para extremis dan salafi), apa yang saya pikirkan, hikmah dan ibrah yang dapat saya ambil dari setiap kejadian, setiap orang yang saya temui, di manapun dan kapanpun, itulah yang terpenting. Hmm…… jadi, jangan lihat dari play list saya ya :P
Dan doakan kelak saya menjadi muslimah yang kaaffah. Begitu juga Anda semua, aamiin…. ^_~
Suamiku orang terbaik di dunia, ia punya kepribadian menarik, seimbang, dan selalu menularkan keceriaan bagi sekitarnya. Ia tidak mudah terbawa/terpengaruh orang lain, namun sebaliknya ia begitu mudah memberi bagi orang lain, membuat orang tidak ragu berbagi rahasi terdalam dengannya. Sering ia bergurau bahwa ia layaknya bak sampah tempat orang ‘membuang’ keluh kesah, tapi terlepas dari itu, ia bangga, aku bangga ia bisa bermanfaat bagi yang lain.
Dia tipe family man, ia bersedia membantu melakukan segala jenis pekerjaan rumah tangga, mulai dari memasak hingga urusan anak-anak. Terkadang ada kalanya aku begitu keterlaluan dan bangun kesiangan hingga sarapan sudah tersedia.
Terhadap anak-anak ia begitu cinta, ia bisa lembut dan tegas pada waktu yang tepat. Ketika mereka sakit, ia lebih tenang menanganinya dibanding aku yang cenderung mudah panik. Ia memberikan yang terbaik untuk mereka, dan salah satunya dengan memintaku untuk tetap di rumah agar ia bisa tenang bekerja untuk menyiapkan masa depan gemilang bagi mereka, tanpa perlu merasa cemas karena anak-anak ada di tangan orang yang tepat.
Sebagai kepala keluarga yang menunaikan amanah mencari nafkah, ia adalah seorang yang berdedikasi tinggi. Ia belajar dari nol, tak malu bertanya, tak gengsi bergaul dengan siapa saja, kepada yang bertanya ia jabarkan jawaban. Istiqamah dalam meniti tahap-tahap achievement.
Tapi sebenarnya…… ia juga pemalas, penidur, tidak romantic, tidak pandai memuji…. Dan ketika membantu, terkadang hanya membuat pekerjaan dua kali lipat lebih berat…. Ia suka menggampangkan hal-hal, hmmmm….. makannya banyak, boros….. :D
I Love You forever Sweetheart,
Truly grateful that God sent you for me, and me for you,
I Love You My
Sweet Handsome Charming Tenderhearted husband
Sidiq Faizal…!!! ^^

NOT A DAY ON ANY CALENDAR
Spring, and everything outside is growing,
even the tall cypress tree.
We must not leave this place.
Around the lip of the cup we share, these words,
"My Life Is Not Mine."
If someone were to play music, it would have to be very sweet.
We're drinking wine, but not through lips.
We're sleeping it off, but not in bed.
Rub the cup across your forehead.
This day outside is living and dying.
Give up wanting what other people have.
That way you're safe.
"Where, where can I be safe?" you ask.
This is not a day for asking questions,
not a day on any calendar.
This day is conscious of itself.
This day is a lover, bread, and gentleness,
more manifest than saying can say.
Thoughts take form with words,
but this daylight is beyond and before
thinking and imagining. Those two,
they are so thirsty, but this gives smoothness
to water. Their mouths are dry, and they are tired.
The rest of this poem is too blurry
for them to read.
BUKAN HARI KALENDER
Musim semi, dan segala sesuatu tumbuh di luar,
bahkan pohon cemara yang tinggi.
Kita tidak boleh meninggalkan tempat ini.
di sekeliling bibir cangkir yang kita bagi,
kata-kata ini,
"My Life Is Not Mine."
Jika ada orang yang memainkan musik, hal itu harus sangat manis.
Kita minum anggur, tetapi tidak melalui bibir.
Kami tidur, tapi tidak di tempat tidur.
mengusapkan cangkir di dahi mu.
Hari ini di luar hidup dan mati.
Menyerah menginginkan apa yang orang lain punya.
Dengan cara itu kau sudah aman.
"Di mana, di mana aku bisa aman?" kau bertanya.
Ini bukan hari untuk mengajukan pertanyaan,
bukan hari kalender.
Hari ini sadar akan dirinya sendiri.
Hari ini adalah seorang kekasih, roti, dan kelembutan,
lebih nyata daripada berkata bisa bilang.
Pikiran mengambil bentuk dengan kata-kata,
tapi siang ini berada di luar-dan-sebelum
berpikir dan membayangkan. Keduanya,
mereka begitu haus, tapi ini memberikan rasa licin pada air. Kering mulut mereka, dan mereka lelah.
Sisanya puisi ini terlalu kabur
bagi mereka untuk dibaca.
- Version by Coleman Barks
"The Essential Rumi"
HarperSanFrancisco 1995
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui."
(QS 62: 9)
"Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan shalat Jum’at atau kalau tidak, Allah akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai."
(HR. Muslim)
Di satu hari yang terik, Jumat siang, saya pulang dari kursus mengemudi dan berniat ke rumah sakit, ibu saya sedang sakit. Saya menyetop angkot kosong yg lewat dan langsung naik begitu saja tanpa memberi tahu tujuan saya. Sopir angkot itu, seorang bapak tua, mungkin di atas 50an umurnya, memakai kopiah haji usang, dan garis kehidupan terukir jelas di wajahnya. Beliau tersenyum melihat saya naik. Lalu bertanya melalui spion di atasnya,
" mau ke mana de'?"
"Gunung Sari" jawab saya.
Lalu sambil terus tersenyum beliau berkata, "saya antarkan sampai ke seberang lampu merah terus ade nyambung pake angkot lain ya, ga usah bayar, ya?"
"oh, ga ke gunung sari ya?" tanya saya,
kemudian beliau jawab, "wahh.... Ini kan hari jumat de, saya mau pulang, solat jumat dulu. Nanti Bos marah, nanti kataNya, kamu itu sudah Saya kasih nafas sampai setua ini disuruh jungkir balik saja susah. Naaa kan de, apa kita jawab ya kan? Sekalian saya mau istirahat, pagi ini saya sudah banyak uang..!"
dengan logat Bugis nya yang khas beliau berseloroh sambil memamerkan beberapa lembar uang hasil narik angkot, hanya beberapa lembar, mungkin tidak sampai 20 lembar, terdiri dari dua lembar sepuluh ribuan, beberapa lembar lima ribuan, dan kebanyakan seribuan. Agak lusuh pula, maklumlah, angkot....
Saya tersenyum, "iya, pak, alhamdulillah ya pak"
"iyaaa...." lanjutnya,
"harus disyukuri kan de' "
Dan saya merasa sejuk seketika. detik itu kami sudah sampai ke seberang lampu merah dan beliau mempersilakan saya turun. Saya segera mengangsurkan ongkos angkot yang segera pula ditolak halus oleh beliau.
"sudah de' saya cuma mengantar, terima kasih" teruus saja beliau tersenyum sambil berlalu dengan angkotnya.
Hati saya makin sejuk, bersihnya hatinya.... Batin saya. Saya lirik arloji, masih pukul 11.15, hmmm... rupanya sang sopir angkot tidak hanya berniat sholat jumat, tapi juga mungkin i'tikaf sebentar di masjid. Apa jangan2 beliau juga khotibnya?? Saya masih kagum sambil terus berjalan dan cari angkot baru.
Saya pun dapat angkot berikutnya, sopirnya mungkin seumuran dengan bapak tadi. Sama-sama tua, tapi dengan wajah yang lebih datar, tidak banyak tersenyum juga tak banyak bicara. Sepanjang jalan lumayan banyak penumpang yang naik hingga angkotnya hampir penuh. Beberapa anak sekolah, guru, juga penumpang biasa seperti saya. Sepertinya hari itu rezekinya sedang banyak, karena setiap ada penumpang yang turun selalu digantikan dengan penumpang lain yang baru naik.
Saya jadi berpikir dan membanding-bandingkan antara kedua sopir angkot ini. Siang-siang begini, di jam-jam pulang sekolah/kantor, di saat orang-orang butuh sarana angkutan, tentu merupakan saat-saat yang paling ditunggu oleh para penyedia jasa angkutan, terutama para sopir angkot ini. Di saat-saat seperti ini tentu saja jadi dilematis bagi mereka yang lemah iman, untuk meninggalkan kewajiban shalat jumat (hari itu) atau menunda shalat wajib hanya demi beberapa rupiah dari angkot yang laris. Atau…. Apakah mereka akan meninggalkan rupiah-rupiah yang senantiasa datang sendiri demi beberapa saat di dalam masjid. Kira-kira mereka akan pilih yang mana ya? Bagaimana jika mereka sedang sangat butuh uang? Hmmmm……
Sopir angkot pertama, meninggalkan urusan mencari nafkah dunianya, untuk kembali pada Rabb nya, mencari nafkah bathinnya (yang kelak akan menjadi nafkah akhiratnya), menunaikan kewajibannya terhadap Pencipta nya, meneguhkan kembali tiang agamanya, semua itu insya Allah dalam upaya menggapai Ridlo Rabb nya. Apa yang akan terjadi, tentu saja beberapa rupiah yang melayang tak akan sebanding dengan berkah yang Allah janjikan kan? Penghasilannya hari itu boleh jadi lebih sedikit dari sopir angkot kedua, tetapi ia jauh lebih kaya. Ketika ia mensyukuri rizqinya (yang mungkin bagi orang lain tak ada artinya), Allah memperkaya hatinya, meluaskan lagi rizqinya entah dengan cara yang hanya Dia yang tau. Ketika ia bersodaqah lagi di hari itu (dengan membiarkan saya turun tanpa membayar), Allah akan memperkaya lagi hatinya, membuka pintu hidayah baginya, meluaskan lagi rizqinya. Belum lagi jika ia pulang ke rumahnya dan memberikan nafkah untuk anak istrinya, dengan keikhlasan yang selalu menghiasi wajahnya, apa lagi yang akan Allah berikan padanya??? Belum lagi jika ia mendatangi masjid Nya dan bermunajat di sana…. Mungkin Allah senantiasa mendengar doanya, menghapus segala dosanya….. memberikan keberkahan dalam hidupnya, istri dan seluruh keluarganya..
Saya memang hanya mengenalnya lima menit, mungkin saya terlalu sok tau untuk menguraikan segala kebaikan yang mungkin dimiliki beliau. Bisa saja saya salah. Tapi wajah yang teduh oleh keikhlasan tidak pernah salah, mata yang memancarkan syukur tak pernah berbohong, dan nasihat sederhana yang keluar begitu saja dari bibir tua nya begitu lancar terucap tanpa jeda, seperti keikhlasan yang mengalir..
Sedangkan sopir angkot kedua, hari itu memang banyak rupiah yang didapatnya….. namun dengan cara yang demikian, mampukah kita membandingkan hasilnya jika ia melakukan hal yang sebaliknya?? Saya sedih membayangkannya. Tapi masih ada asa semoga Allah mengampuninya dan memberinya hidayah. Dan ada pula sekelumit kemungkinan bahwa ia bukan orang Islam, hmmm…. Bisa saja.
Tapi tetap…. Keduanya memberikan saya inspirasi, bagaimana kita menjalani hidup, bagaimana kita menyikapi hal-hal kecil di sekeliling kita, dan bagaimana…. Bahwa suatu hal, kebaikan/sebaliknya, disadari atau tidak, merupakan rantai sebab akibat atas kehidupan kita selanjutnya, berpengaruh pada setiap menit berikutnya….
Dan saya juga jadi berpikir, orang-orang seperti saya, saya sendiri seorang muslim, tapi saya menjadi ujian bagi mereka, para sopir angkot itu, untuk membuat pilihan apakah mereka akan pergi shalat atau kejar setoran. Harusnya orang-orang seperti saya tidak berkeliaran di waktu-waktu shalat begini…. Jadi saya tidak perlu menjadi ujian bagi orang-orang tersebut. Saya jadi khawatir tersangkut dosa social…. Hmmm…
Memang, setelah bertemu sopir angkot pertama, saya akui sepanjang perjalanan menuju rumah sakit saya terus mengutuki diri, menyesali kenapa saya tidak masuk ke salah satu mall di dekat situ, makan siang mungkin, sambil menunggu berlalunya waktu shalat jumat. Setidaknya itu lebih baik dari pada saya memaksa terburu-buru pergi. Toh para pramusajinya banyak yang perempuan… saya tak perlu merasa bersalah jika ada pramusaji muslim yang tidak pergi shalat ya salah mereka sendiri….
Dan akhirnya saya kembali berdoa, Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang selalu bersukur atas setiap keadaan, dan karuniakanlah hidayahMu untuk menuntun hidup kami, Allahumma aamiin…..
Sepi......
Ingin bersamanya....
ingin di peluknya,
ingin selalu terjangkau pandangannya..
Oh ingin rasanya kuteriaki waktu
tapi teriak bagaimana?
Ingin ku teriaki keadaan
tapi teriak bagaimana?
Ingin ku teriaki dia...
Ah mungkin dia juga berpikiran sama...
Ya Allah...
Hamba mohon perlindungan...
Dari diri hamba sendiri...
Dari bahayanya pikiran pikiran yang dipengaruhi godaan
dari dosa dosa yang tertutupi dan terhiasi dengan kepolosan
dari waktu waktu yang terbuang...
Ya Allah....
Engkau tak akan mengubah hamba kecuali hamba berubah sendiri..
Tapi bagaimana hamba bisa berubah kalau bukan karena Engkau
sebab Engkau
akibat Engkau
Ya Allah....
Apakah hidup itu selalu begini rumit???