Awalnya Faza hanya sholat saat ia mau, tapi kemudian Ramadhan kemarin membawa "kebiasaan" sangat baik untuk anak-anak, terutama Faza. Berawal dari semangatnya mengisi lembar Muhasabah Ramadhan (yang hasilnya jadi juara tiga di kelas), ritme ibadah itu terbawa hingga pasca Ramadhan, dan alhamdulillah, meningkat seiring pemahamannya tentang ketuhanan dan penghambaan, walaupun, tentu saja, dengan cara paling sederhana yang ia pahami.
Shalatnya pun masih "terserah Faza", seringkali tak berwudhu dan kalau kumat malasnya, gak mau pakai mukena tapi pinjam jilbab umi yang lebar. Tak jarang pula ba'da shalat saya menatap matanya dengan ekspresi pura-pura curiga dan mendapatinya tersenyum-senyum simpul karena malu ketahuan tidak membaca bacaan sholat dan hanya memainkan udara di dalam mulutnya dan membuat suara-suara seperti balon. Yang agak ekstrim, kalau sholat subuh Faza kerap kali tidak berwudhu, jadi bangun tidur langsung pakai mukena, sholat, berdoa, dan nonton tv atau balik tidur lagi. Khas anak-anak, hehehe.... Namun kebiasaan tak berwudhu saat subuh ini agak terobati di hari-hari sekolah saat ia harus langsung mandi setelah bangun tidur.
Aku memang tidak banyak mengkritik cara sholatnya, bukan karena tak ingin melihatnya sholat dengan sempurna, kadang memang ia melakukannya dengan sempurna, tapi tentu saja tidak selalu. Biarlah ia memahami dengan pikiran kanak-kanaknya, dan menjalankannya dengan apa yang ia pahami juga. Khawatirnya kalau keseringan mengoreksi bisa membuatnya malas melakukan sesuatu yang tadinya ia nikmati.
Biasanya setelah shalat Faza berdoa, hanya doa orang tua dan kebaikan dunia akhirat saja, namun kutemukan sesuatu yang berbeda seminggu ini, seminggu sejak abinya berangkat kerja lagi. Setelah sholat, biasanya ia berdoa nyaring-nyaring dan cepat-cepat. Tapi kali ini, ia berdoa dalam diam, menadahkan tangan, berbisik, dan memejamkan mata.
Terjadi empat kali sehari selama seminggu (kalau dzuhur Faza shalat di sekolah), dan aku jadi penasaran apa yang dibacanya. Jadi semalam saat melipat mukena selepas sholat isya, aku bertanya pada Faza,
"Kak, kakak biasanya doanya cepet-cepetan, kok sekarang doanya lama, bisik-bisik lagi." setengah menggoda kulirik ia. Faza senyum, "Iya, Jaju bedoa itu mi..." jawabnya.
"Faza berdoa apa boleh gak umi tau?"
"Jaju doa buat abi," katanya.
"Faza doa buat abi??" tanyaku lagi.
"Iya..."
"Beneran Faza doain abi? Sebut nama abi?" tanyaku menegaskan, surprise.
"Iya miii...." jawabnya sederhana.
"Hmmm..... Boleh tau gak Faza doain apa buat abi?"
"Emmm..... Emmmm.... tapi pendek aja mi...." ia ragu-ragu.
"Gak papa lah biar pendek. Yang penting kan Faza doa. Faza minta apa sama Allah...?" saya setengah membujuk.
"Hmmm.... Jaju doa orang tua, kaya biasa, terus robbana atina itu, terus Jaju bilang gini,
'Ya Allah, berikan abi kesehatan, panjang umur, dan yang baik-baik, dan pekerjaan yang mudah', "
Faza menatap mataku mengakhiri kalimatnya.
"Faza minta itu sama Allah?" tanyaku, setengah tak percaya.
"Iiiiyaaa....." jawabnya sambil hampir nyengir.
Aku memeluknya, haru, "Subhanallaaah.... anak umi....." ku usap kepalanya, ku cium pipinya,
"Terima kasih ya naakk.... Terima kasih sudah doakan abi ya naak,"
Kulihat matanya sambil tersenyum, Faza datar seperti biasanya.
"Faza tau, doa Faza itu luar biasa artinya buat abi. Dan doa Faza pasti didengar Allah!"
Ia menundukkan kepalanya memainkan jemarinya, sepertinya bosan ya kak ditanya-tanya terus.
"Nanti doakan abi lagi ya nak, jangan berhenti doakan abi ya nak!"
pintaku sambil membelai kepalanya lagi, Faza menelengkan kepalanya ke kanan, senyum-senyum lagi dan mengangguk.
Memberikan jawabannya.
Takjub ia menumpahkan kerinduan melalui doa sederhananya, rasanya hampir menangis melihat ia membangun ikatan dengan abinya dalam doa. Aku bahkan tak peduli ia tak menyebut namaku secara khusus, ia mendoakan abinya dengan khusyuk begitu sungguh sudah jadi anugerah. Doanya jelas jauh lebih kuat terdengar di 'Arsy daripada doa-doa kami sendiri, jelas lebih maqbul daripada doa-doa kami orangtuanya yang sudah tumpah ruah dengan dosa.
Alhamdulillaah....
"Pahlawan keluargaku!
Dengan bismillah abiku bekerja!
Tetes keringatnyaaa, bagai mutiaraaa!
Bagi keluargakuuuu...!!"
Lantang Nabigh menyanyikan lagu yang diajarkan guru tknya saat menelpon abi.
Nabigh juga punya caranya sendiri untuk mendoakan abi, hehehe....
Ah, semua yang terbaik memang untuk Abi, :-)
Terima kasih Nak, terima kasih telah menjaga abi dengan doa-doa kalian.
Semoga Allah selalu melindungi abi, dan menyatukan hati kita dalam ketaatan kepadaNya,
sehingga kita selalu bisa bersama di dunia dan kelak di akhirat.
Aamiin Ya Mujibas sailiinn....
