Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2013

doa buat abi

Segala Puji Bagi Allah bahwa Faza sudah mulai disiplin sholat lima waktu di usia tepat enam tahun, dan sudah beberapa bulan terakhir ini Faza melakukannya dengan cukup konsisten untuk anak seusianya, tidak mengeluh capek, malas, mengantuk, atau menjadikan acara tv sebagai alasan. Semoga anak-anak umi dan abi selalu diberi hidayah Allah sepanjang hidupnya, aamiin...

Awalnya Faza hanya sholat saat ia mau, tapi kemudian Ramadhan kemarin membawa "kebiasaan" sangat baik untuk anak-anak, terutama Faza. Berawal dari semangatnya mengisi lembar Muhasabah Ramadhan (yang hasilnya jadi juara tiga di kelas), ritme ibadah itu terbawa hingga pasca Ramadhan, dan alhamdulillah, meningkat seiring pemahamannya tentang ketuhanan dan penghambaan, walaupun, tentu saja, dengan cara paling sederhana yang ia pahami.

Shalatnya pun masih "terserah Faza", seringkali tak berwudhu dan kalau kumat malasnya, gak mau pakai mukena tapi pinjam jilbab umi yang lebar. Tak jarang pula ba'da shalat saya menatap matanya dengan ekspresi pura-pura curiga dan mendapatinya tersenyum-senyum simpul karena malu ketahuan tidak membaca bacaan sholat dan hanya memainkan udara di dalam mulutnya dan membuat suara-suara seperti balon. Yang agak ekstrim, kalau sholat subuh Faza kerap kali tidak berwudhu, jadi bangun tidur langsung pakai mukena, sholat, berdoa, dan nonton tv atau balik tidur lagi. Khas anak-anak, hehehe.... Namun kebiasaan tak berwudhu saat subuh ini agak terobati di hari-hari sekolah saat ia harus langsung mandi setelah bangun tidur.

Aku memang tidak banyak mengkritik cara sholatnya, bukan karena tak ingin melihatnya sholat dengan sempurna, kadang memang ia melakukannya dengan sempurna, tapi tentu saja tidak selalu. Biarlah ia memahami dengan pikiran kanak-kanaknya, dan menjalankannya dengan apa yang ia pahami juga. Khawatirnya kalau keseringan mengoreksi bisa membuatnya malas melakukan sesuatu yang tadinya ia nikmati.

Biasanya setelah shalat Faza berdoa, hanya doa orang tua dan kebaikan dunia akhirat saja, namun kutemukan sesuatu yang berbeda seminggu ini, seminggu sejak abinya berangkat kerja lagi. Setelah sholat, biasanya ia berdoa nyaring-nyaring dan cepat-cepat. Tapi kali ini, ia berdoa dalam diam, menadahkan tangan, berbisik, dan memejamkan mata.

Terjadi empat kali sehari selama seminggu (kalau dzuhur Faza shalat di sekolah), dan aku jadi penasaran apa yang dibacanya. Jadi semalam saat melipat mukena selepas sholat isya, aku bertanya pada Faza,
"Kak, kakak biasanya doanya cepet-cepetan, kok sekarang doanya lama, bisik-bisik lagi." setengah menggoda kulirik ia. Faza senyum, "Iya, Jaju bedoa itu mi..." jawabnya.
"Faza berdoa apa boleh gak umi tau?"
"Jaju doa buat abi," katanya.
"Faza doa buat abi??" tanyaku lagi.
"Iya..."
"Beneran Faza doain abi? Sebut nama abi?" tanyaku menegaskan, surprise.
"Iya miii...." jawabnya sederhana.
"Hmmm..... Boleh tau gak Faza doain apa buat abi?"
"Emmm..... Emmmm.... tapi pendek aja mi...." ia ragu-ragu.
"Gak papa lah biar pendek. Yang penting kan Faza doa. Faza minta apa sama Allah...?" saya setengah membujuk.
"Hmmm.... Jaju doa orang tua, kaya biasa, terus robbana atina itu, terus Jaju bilang gini,
'Ya Allah, berikan abi kesehatan, panjang umur, dan yang baik-baik, dan pekerjaan yang mudah', "
Faza menatap mataku mengakhiri kalimatnya.
"Faza minta itu sama Allah?" tanyaku, setengah tak percaya.
"Iiiiyaaa....." jawabnya sambil hampir nyengir.

Aku memeluknya, haru, "Subhanallaaah.... anak umi....." ku usap kepalanya, ku cium pipinya,
"Terima kasih ya naakk.... Terima kasih sudah doakan abi ya naak,"
Kulihat matanya sambil tersenyum, Faza datar seperti biasanya.
"Faza tau, doa Faza itu luar biasa artinya buat abi. Dan doa Faza pasti didengar Allah!"
Ia menundukkan kepalanya memainkan jemarinya, sepertinya bosan ya kak ditanya-tanya terus.
"Nanti doakan abi lagi ya nak, jangan berhenti doakan abi ya nak!"
pintaku sambil membelai kepalanya lagi, Faza menelengkan kepalanya ke kanan, senyum-senyum lagi dan mengangguk.
Memberikan jawabannya.

Takjub ia menumpahkan kerinduan melalui doa sederhananya, rasanya hampir menangis melihat ia membangun ikatan dengan abinya dalam doa. Aku bahkan tak peduli ia tak menyebut namaku secara khusus, ia mendoakan abinya dengan khusyuk begitu sungguh sudah jadi anugerah. Doanya jelas jauh lebih kuat terdengar di 'Arsy daripada doa-doa kami sendiri, jelas lebih maqbul daripada doa-doa kami orangtuanya yang sudah tumpah ruah dengan dosa.

Alhamdulillaah....


"Pahlawan keluargaku!
 Dengan bismillah abiku bekerja!
 Tetes keringatnyaaa, bagai mutiaraaa!
 Bagi keluargakuuuu...!!"

Lantang Nabigh menyanyikan lagu yang diajarkan guru tknya saat menelpon abi.
Nabigh juga punya caranya sendiri untuk mendoakan abi, hehehe....
Ah, semua yang terbaik memang untuk Abi, :-)

Terima kasih Nak, terima kasih telah menjaga abi dengan doa-doa kalian.
Semoga Allah selalu melindungi abi, dan menyatukan hati kita dalam ketaatan kepadaNya,
sehingga kita selalu bisa bersama di dunia dan kelak di akhirat.
Aamiin Ya Mujibas sailiinn....



Senin, 09 April 2012

Titik Balik


Ada satu momen menggelitik dalam dialog santai-tak sengaja antara aku dan Faza, yang membuatku memikirkan dialog itu untuk beberapa waktu dan kemudian ia menjadi titik balik dalam kehidupanku.
Jadi sore itu aku sedang membantu Faza keramas, sambil memijat kepalanya ku katakan padanya bahwa ia sudah besar dan rambut lembutnya lambat laun semakin panjang. Faza memandangku sambil tersenyum lebar sekali memamerkan deretan giginya yang gigis habis, ia menanggapi ucapanku dengan berkata, “kalau besar jaju mau jadi apa yok mi?”

“jaju mau jadi apa?”
“jaju mau jadi dokter anak laaah….”
“biar apa jadi dokter anak?”
“ya biar bantuin anak-anak yang sakit laah…. Yang cekelakaan (kecelakaan)kaya Jaju, yang sakit perut, yang gatal-gatal juga kaya jaju, hihihi!”
 “jaju mau jadi dokter anak memangnya jaju suka anak-anak?”
“iyaaa…. Jaju kan senang sama ade bayi, jaju suka kalo ada ade kecil, jaju maunya jadi dokter anak…. 

Umi kalo sudah besar mau jadi apa? Lanjutnya balik bertanya.
“umi kan sudah besar,” jawabku sambil merapikan rambut kusutnya.
“iyaaa…. Umi mau jadi apa….?” Tanyanya lagi sambil mengerutkan kening dan mengerucutkan bibir.
“umi….. umi sekarang sudah jadi ibu.” Jawabku setengah ragu dengan jawabanku sendiri. Benar saja, ia meneruskan selidiknya. “iya, jaju tau umi ibu, ibu apa?”
“hmm….. ibunya jaju laaah….” Jawabku sambil memercik-mercikkan air di wajahnya.
“loooohhhh…!!! Bukan iitu yang jaju mau tau…. Itu jaju tauu…..” kilahnya sambil bibirnya kian mengerucut. “maksud jaju, umi jadi ibu yang gimana…. “
“umi mau jadi ibu yang baik selamanya buat jaju dan ade.” Jawabku sok terdengar ideal. Ternyata….
“looooh…. Iyaaa…. Kan memang umi itu baiiik…. Tapi umi mau jadi apaa…?” desaknya lagi.

“hmmm…. Cita-cita umi gitu kaaah… kaya jaju mau jadi dokter anak?”
“iiyyaaaa……” serunya.
“tapi kan katanya jaju ga mau kalo umi kerja…” aku, entah mengapa memilih jawaban bodoh itu. Ragu-ragu sambil membasuh kepalanya dengan air, menjaga agar tak ada buih yang masuk ke matanya.
“loh looh, aaah… uuumiiii…. Iya jaju tau jaju ga mau umi kerja…  Maksud jaju, memangnya umi ga mau jadi apa-apa….. kaya jaju gituuu….. kan katanya umi penulis… umi kan suka nulis kan…??” ia sedikit memberi clue, mungkin ia juga bertanya-tanya dalam hati mengapa dalam sekejap uminya sudah terlihat se-oon itu?

Deg! Aku tertampar rasanya. Diam sejenak memandangnya.

“oh iya! Betul! Cita-cita umi, umi mau jadi penulis hebat! Umi mau bikin buku yang bermanfaat buat banyak orang! Seperti anak umi yang jadi dokter anak biar bermanfaat buat banyak orang!” aku segera meralat jawabku.
Serta merta bibir kerucutnya itu merekah dan berkembang lebar sekali. Anakku tersenyum. “nah iiiitu yang jaju bilang! Kan kita bedua sama kan mi? jaju jadi dokter, umi jadi penulis kan mi???” pungkasnya ceria. Lalu meneruskan celotehnya tentang cita-cita adik yang ingin seperti abi, dan cita-cita abi yang menurutnya sudah kesampaian.

Sudah empat hari sejak acara mandi sore itu dan ya, aku tersadar bahwa ternyata selama ini aku terjebak dalam kondisi stag yang melenakan. Bahwa ketika aku berpikir aku telah memilih jalan yang sesuai dengan kebutuhan nuraniku menjadi perempuan yang mengabdi kepada keluarga, aku terlena dan melupakan bahwa aku pun harus menjadikan diriku pribadi yang bermanfaat bagi orang lain, lingkungan, banyak hal! Aku harus jadi bermanfaat untuk semesta ini! Nampaknya terlalu lama bagiku untuk hidup mengikuti arusnya tanpa mengendalikan. Aku lupa mengendalikan!

Aku pernah bermimpi dan terobsesi. Dalam suatu waktu ketika terjadi halangan, cobaan, aku menyerah begitu saja dan tak melakukan apa-apa. Tak melanjutkan obsesi-obsesi itu dalam suatu tindak nyata, dan tidak pula sekedar mempertahankan posisi sediakala. Sehingga pun merosot lah aku dalam BIG ZERO, again! Aku memang masih selalu membeli buku, membacanya bergantian, menulis di kala sempat, memutar siaran-siaran pendidikan, bahkan tetap mengajarkan mengaji. Tapi ternyata tanpa mimpi, tanpa visi dan misi, ruh dari niat amalan-amalan ini kian meredup dan meredup. Ketika aku melakukannya hanya untuk mengisi waktu, melakukannya agar tak sepi, lalu apa yang bisa menjadi manfaat bagiku? Dan dengan niat semacam itu, apakah aku membawa manfaat bagi orang lain?? Tentu saja tidak.

Dan anakku membangunkanku, dengan cara yang mungkin tak pernah ia sadari. Menyentilku bahwa kita tak pernah terlalu tua untuk mengejar impian, tak akan pernah punya cukup alasan untuk berhenti. Bahwa kodrat manusia sebagai khalifah di Bumi, membuatnya WAJIB bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk bumi.  WAJIB bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk bumi. 

Di titik ini aku memaksa diri menata ulang segala niat, mempertanyakan segala maksud tujuan, memutar haluan bila diperlukan, mengendalikan pikiran agar tetap di tempatnya, dan bersiap atas sebuah amanah. Aku harus bermanfaat bagi banyak orang, bagaimanapun caranya. Inilah pernyataan misi ku.
Allah mengirimkan malaikatNya, mengingatkanku dengan begitu lembut dan lucu. Segala puji bagi Engkau Rabb semesta alam, semoga layak ampunan atas hamba karena pernah membiarkan diri menjadi yang tak bermanfaat.

Bagaimana dengan Anda, sahabat-sahabatku? Semoga ilmu, amal, rizki, kesempatan, dan kesehatan kita membawa manfaat bagi sebanyak-banyaknya sesama kita. Aamiin…. :)

Diriwayatkan dari Jabir RA berkata,”Rasulullah SAW bersabda,
’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Thabrani dan Daruquthni)



Kamis, 22 September 2011

Putriku Yang Melankolis

Pagi tadi saya mengantar Faza ke sekolah dan menunggunya beberapa saat. Ia senam bersama teman-temannya. Saat senam, ia terlihat bercanda dengan beberapa temannya. Ketika waktunya kembali ke kelas, teman-temannya terlihat meninggalkannya dan ia sendiri. Memakai sepatunya sendiri dan pergi ke kelas sendiri… Memang, dalam beberapa kali mengantar-jemputnya, sering sekali saya perhatikan ia melakukan apa-apa sendiri. Terkadang teman-temannya datang bermain berpasang-pasangan dan ia tak ada di salah satu grup/pasangan manapun. Hanya ia dan dirinya sendiri.

Tiba-tiba saya merasa khawatir…. Melihatnya seperti itu seperti melihat diri saya sendiri di masa lampau, seperti melihat diri saya sendiri yang berperan di sana. Dan saya khawatir akan itu, sangat khawatir, mungkin bahkan saya takut dia akan jadi seperti saya.

Saya adalah penyendiri. Seingat saya, sejak tk saya sudah memutuskan untuk lebih suka bermain-main dengan pikiran sendiri, sehingga saat itu, saya hanya punya satu teman akrab, namanya Widyawati, entah di mana ia sekarang. Kemudian ketika SD, Tsanawiyah, Aliyah, suasana sekolah masih tak mengubah keadaan itu. Tinggal di pondok pesantren memang membuka lebih banyak hubungan sosial bagi saya, terlebih di dalam satu kamar yang suasananya sudah lebih mirip rumah dan keluarga sendiri. Namun di sekolah, saya masih penyendiri, lebih suka nongkrong di perpustakaan dan membaca apa saja yang ada.

Ketika tidak sedang membaca, saya ngobrol dengan teman-teman yang tidak terlalu popular, seperti mereka yang juga pendiam seperti saya, mereka yang terlalu kalem untuk berbicara banyak…. Ada kalanya juga saya lama tidak ke perpus, misalnya kehabisan bacaan atau asyik dengan Koran dan mading, atau saat sedang musim permainan seru seperti galasin, saya pasti ikut. Jika tidak, lagi-lagi saya lebih suka mendekam di dalam kelas dan baca kamus yang hampir selalu saya bawa-bawa meskipun bukan waktunya pelajaran bahasa Inggris.

Saya tidak sepintar itu. Bisa dibilang saya malah tidak sepintar teman-teman yang lain. Saya bawa kamus setiap hari hanya karena saya cinta bahasa Inggris, dan supaya saya tau arti dari lagu yang sering saya nyanyikan. Dan mengapa saya ke perpus hampir setiap hari? Itu karena saya merasa menemukan dunia saya di sana. Saya bisa menikmati keindahan sastra ketika saya baca puisi, saya bisa tenggelam dalam emosi seseorang ketika sedang membaca novel, saya bisa menemukan ternyata begitu banyak pertanyaan aneh dalam benak saya ketika mencoba membaca buku-buku filsafat, saya bisa melakukan perjalanan menyenangkan melalui ensiklopedi dunia, dan terbang ke ruang angkasa atau menyelam ke dalam laut, menyelusup ke dalam bumi lewat gambar-gambar dramatis di ensiklopedi sains. Begitu banyak hal yang bisa diberikan sebuah buku pada saya, bagi saya. Dan itulah yang membuat saya ketagihan. Dunia saya ada di sana, menurut saya. Tetapi itu juga yang mungkin memisahkan saya dengan dunia nyata. Sepertinya…. Dan bukan saja soal buku, hal lain seperti bepergian misalnya, ketika semua teman berkeberatan pergi ke suatu tempat sendiri, saya tak pernah keberatan jika saya harus pergi tanpa teman. Rasanya saat itu pikiran saya hampir selalu sibuk sehingga seolah-olah dunia saya sudah ramai tanpa harus saya tambahkan seseorang untuk menemani. Lalu setelah saya dewasa, saya kerap berintrospeksi diri bahwa mungkin karena saya selalu penyendiri makanya Allah beri saya karunia Long Distance Marriage.

Ketika beberapa teman ditanya, mungkin banyak di antara mereka yang tidak setuju bahwa saya pendiam. Kebanyakan kesan yang saya terima bahwa saya ceriwis, manja, jutek, sok tau, cenderung rame malah. Mungkin itu dari mereka yang benar-benar dekat dengan saya. Mereka yang memberi saya kesempatan untuk menikmati keberhargaan sebuah pertemanan dan manisnya persahabatan. Namun saya sangsi apakah ada yang pernah memperhatikan bahwa pada dasarnya saya kesulitan membaur, bahwa saya akan berpikir seratus ribu kali hanya untuk memulai percakapan dengan seseorang tanpa resiko tidak disenangi atau tidak membosankan. Saya banyak bicara, jika saya menemukan kenyamanan dengan orang-orang tertentu. Permasalahannya bahwa saya tak mudah nyaman dengan orang. Saya tak ingin seperti itu, tetapi itulah problema saya. Saya bisa berbicara di depan audiens dan mengarahkan sesuatu, namun saya tak cukup yakin menghadapi per-personal. Saya bukan pemilih dalam berteman, namun sulit memulainya. Dalam tahap ini rasanya cukup mengerikan dan tidak dewasa. Namun itulah saya. Saya kagum dengan orang-orang yang supel yang bisa berbicara dengan santai kepada siapa saja. Sedangkan saya, saya terlalu penuh pertimbangan. Ketika dalam keramaian dan menghadapi banyak orang, suara negative dalam benak saya kerap menggaung-gaungkan kekhawatiran apakah saya diterima dengan baik, apakah saya terlihat oke, apakah orang tidak tersinggung dengan apa yang saya bicarakan, apakah orang lain menyukai topik yang saya kemukakan… bla bla bla. Kebanyakan karena saya tidak punya rasa percaya diri yang adekuat untuk percaya bahwa orang lain akan mendengarkan saya. Sehingga pada akhirnya saya memang kerap sendiri dalam keramaian.

Dan itu yang saya lihat pada diri putri saya. Setelah pagi itu, malamnya saya tanyakan padanya,

“Faza, siapa aja teman Faza di sekolah?”

“emmm…. Dimas, Zaky, Zakiyah, Inayah, Nayla….”

“terus?”

“emmm… Vio…, terus siapa lagi ya Jaju ga hafal.”

“terus Jaju suka mainnya sama siapa?”

“emmm….. ga tau.. ya kadang-kadang Nayla…. Inayah… Jaju juga suka main sama Dimas..”

“kok kadang-kadang? Memang Jaju ga tiap hari main sama teman-teman?”

“iya.”

“kenapa? Biasanya Inayah kan main sama Jaju..”

“iya tapi engga.”

“engga..?”

“iya, Inayah ga suka main sama Jaju.”

“loh… memangnya Jaju tau Inayah ga suka main sama Jaju? Jaju ga asik kali jadi Inayah males main sama Jaju..?”

“Inayah sukanya main sama Nayla.”

“oh ya? Jangan-jangan Jaju suka suruh-suruh kali?”

“engga, ngga pernah..”

“sama teman yang lain?”

“engga… Jaju ga suka ngobrol.”

“Jaju ga suka ngobrol?”

“iya, Jaju ga suka…”

“kenapa? Kan asik ngobrol sama temen rame,”

“hemmm…. Engga mi, Jaju tapi ga suka ngobrol. Jaju sukanya sendiri.”

“Jaju suka sendiri?”

“iya.”

“apa enaknya sendiri, kan sepi?”

“ya atau Jaju ngobrol sama ibu guru..”

“Jaju suka ngobrol sama ibu guru?”

“iya. Jaju suka, apalagi sama ibu Tari Jaju suka.”

“Kalo bu guru lagi sibuk Jaju ngapain?”

“ya duduk-duduk aja.”

“sama siapa?”

“ya sendiri aja. Jaju sukanya kan sendiri.”

“terus ngapain Jaju sendiri? Main puzzle mungkin? Jaju kan suka puzzle.. Atau gambar gambar?”

“engga. Puzzle di sekolah bau, Jaju juga ga suka.”

“loh jadi ngapain?”

“ya Jaaju liatin teman-teman aja.”

“ngapain Jaju liatin teman-teman?”

“ya liatin aja, kadang teman Jaju itu lucu-lucu. Ada yang jatuh, kemaren ada yang dorong-dorongan, ada juga teman Jaju yang bawa dodot ke sekolah.”

“oh ya?”

“iya. Kenapa sih umi Tanya-tanya terus?”

“gak papa sih… umi Cuma khawatir aja faza ga punya teman.”

“ada kok temen Jaju mi, tapi Jaju ga suka ngobrol aja.”

Oh putriku yang melankolis…. Kau mengingatkan umi betapa seringnya umi dulu mengatakan, dan menuliskan, “Silence is Gold, and Solitude is Precious Time for Precious Thinking” Semoga saja kelak kau tidak kesulitan membaur dengan lingkungan walaupun kau tidak suka mengobrol dan lebih suka mengamati dari jauh. Semoga dengan demikian Allah menjaga lisanmu dari mengucapkan yang tidak bermanfaat, menjaga pendengaranmu dari mendengarkan yang tidak bermanfaat, menjaga hatimu dari pikiran dan prasangka yang tidak bermanfaat, aamiin…

Umi hanya khawatir kau sulit menemukan tempatmu di antara orang banyak, umi khawatir kepercayaan dirimu terkikis oleh kesendirian ketika keyakinan akan dirimu dipertanyakan (oleh dirimu sendiri kelak) berdasarkan banyaknya teman yang berdiri di sampingmu. Sebagaimana yang pernah umi rasakan, karena sungguh ketika kita tak mudah berteman nak, itu sesuatu yang tidak mengenakkan.

Rabb Yang Maha Pengasih dan Penyayang, doa hamba jadikanlah anak-anak kami anak yang sholih dan berguna, yang Engkau sayangi dan disayangi hamba-hambaMu yang sholih, aamiin…

Kamis, 28 Oktober 2010

Akhirnya Promosi Susu Formula Diatur Undang-Undang

Pada posting sebelumnya, saya pernah menulis Say Yes to Breasfeeding yang menyatakan tentang keresahan saya tentang maraknya iklan susu formula (sufor) yang diakui atau tidak bersifat mengaburkan fakta penting ASI sekaligus dengan seenaknya mengklaim semua manfaat ASI sebagai kebaikan yang akan didapat jika bayi kita mengkonsumsi produk susu tertentu. Di sana saya juga mempertanyakan mengapa pemerintah tak membuat iklan layanan masyarakat tentang pentingnya ASI, untuk meng-counter iklan-iklan tersebut sehingga masyarakat terutama para ibu dapat bijaksana dalam menentukan pemberian nutrisi yang terbaik bagi anak-anak mereka tanpa pengaburan citra ASI sebagai makanan terbaik bayi yang tak tergantikan.

Jadi hari ini (Senin, 25 oktober 2010) saya sangat bangga dengan pemerintah kita, yang telah mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang larangan pengiklanan susu formula pengganti ASI ke khalayak luas. Walaupun sebenarnya sih harusnya dari dulu, sebelum para ibu kita termakan rayuan iklan sufor yang demikian hebat itu. Tapi tak ada kata terlambat untuk memperbaiki sesuatu, apalagi yang diperbaiki adalah gizi anak Indonesia. Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Angela Keamey menyebutkan dalam konferensi pers, bahwa salah satu penyebab kurangnya gizi anak Indonesia adalah rendahnya jumlah ibu yang memberikan asi ekslusif pada bayinya selama enam bulan pertama, dan jika ingin memperbaiki kesehatan anak-anak Indonesia, maka para ibu harus didukung untuk dapat menyusui di manapun termasuk di tempat kerja mereka. Menurutnya pula, untuk mendukung hal tersebut maka diperlukan cuti hamil dan melahirkan yang memadai bagi Ibu yang bekerja, waktu rehat menyusui, hingga fasilitas untuk menyimpan cadangan ASI seperti refrigerator atau freezer. Begitu pula fasilitas menyusui di tempat-tempat umum.

Ya, hal ini tentu sangat melegakan. Tahukah Anda bahwa yang terjadi di Indonesia pada saat ini adalah, diakui atau tidak banyak para ibu bangga jika anak mereka diberi sufor merk tertentu yang menguras kantong, dan merasa kampungan ketika bayi mereka membutuhkan ASI saat berada di tempat umum. Pandangan seperti ini sungguh patut diubah. Memang kita tidak dapat menolak adanya factor dan beragam kondisi di mana ibu benar-benar tidak mampu memberikan ASI, seperti adanya masalah pasca persalinan yang berkaitan dg obat-obatan yang memungkinkan berkurangnya produksi ASI, atau bahkan masalah genetis (beberapa bayi autis ditemukan alergi terhadap ASI ibu mereka sendiri, naudzubillah). Namun dengan gembar-gembor iklan di berbagai media, memberikan ASI sepertinya adalah hal yang remeh dan memberi sufor adalah hal yang sangat lumrah dan seharusnya, sehingga usaha ibu dalam memberikan ASI menjadi tidak maksimal. Padahal hak anak adalah ASI dan sudah selayaknya anak mendapatkan haknya. Hal ini senada dengan alasan disusunnya RPP larangan pengiklanan sufor ini yaitu demi melindungi hak anak berupa pemenuhan nutrisi dan gizi yang tepat selama tahun-tahun pertama kehidupannya yaitu ASI, dan melindungi hak ibu untuk dapat memberikan ASI ekslusif terhadap bayinya dan menghindarkan diri dari ancaman penyakit, terutama kanker payudara, kanker indung telur, dan diabetes mellitus.

Menindaklanjuti RPP tersebut, maka kementrian kesehatan akan memberikan sanksi administrative kepada produsen susu yang melanggar aturan. Aturan ini efektif dimulai tahun depan. Namun demikian, saya masih merasa kurang sreg karena seharusnya pemerintah melakukannya setengah-setengah. Seharusnya aturan tersebut berlaku untuk sufor bagi bayi di bawah dua tahun, bukan satu tahun. Menyempurnakan penyusuan kan waktunya dua tahun, bukan satu tahun? Jika di atas satu tahun tetap boleh diiklankan, maka para produsen sufor akan tetap memproduksi iklan-iklan serupa dengan jargon-jargon periode emas tumbuh kembang bayi dan lain sebagainya, dan para ibu akan tetap terbuai dan dengan segera mengganti ASI dengan sufor setelah tahun pertama. Apalagi jika ditambah dengan lemahnya pengawasan para tingkat distributor, yang memungkinkan produsen susu bekerja sama dengan pihak rumah sakit dan pihak-pihak lain di bidang serupa untuk tetap menghimbau penggunaan sufor sebagai pendamping hingga pengganti ASI.

Di dunia, hal ini sudah diberlakukan sejak tahun 1981, ketika Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) mengatur Kode Etik Internasional Pemasaran Pengganti ASI dan melarang promosi sufor besar-besaran. Dan di Amerika sendiri, biaya yang dikeluarkan untuk susu formula sangat mahal, bisa mencapai USD 2000. Disediakan pula lembaga donor ASI yang beranggotakan para ibu yang mau mendonorkan ASInya untuk bayi-bayi kurang gizi atau bayi yang ibunya tidak mampu memberikan ASI.

Pada intinya, program ini adalah program memajukan kesehatan dan peningkatan kecerdasan bangsa dengan memperkuat akar kehidupan seseorang sejak kelahirannya . Dan bagi para ibu, intinya adalah tekad yang kuat untuk memberikan ASI sebagai hak pertama dan utama bagi buah hatinya. Satu kabar baik lagi, bahwa peran ASI setelah anak tumbuh besar ternyata baru optimal jika ia disempurnakan hingga dua tahun. Ayo Bunda, jangan sapih si kecil sebelum dua tahun ya… J


“Dan para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan,…”

QS. Al-Baqarah;233

Rabu, 20 Oktober 2010

Being Wise To Tell Babybirth Process

My status today attracted many comments. Some of them were irrelevant but there were people who asked why did I write such a line. Here what I wrote,

“ to all moms, why don’t u just say that you’ve forgotten the pain of giving birth rather than announce it to all people and let your extra ordinary reward you have received (from God) disappear with a story that may also soon forgotten.”

I am writing this because inspired by someone whose excited to tell people about how hard she was undergoing the process of becoming a mom. Perhaps for many people it was common things, but in my perspective the story seems excessive, and it reminds me of a life advice given by my teacher, Nyai Hajjah Romlah Aly, Lc Alhafidzah. A very tawaddhu' and Fiqh expert, mukminah kaffah, and an accountable Hafidzah. She noticed a lot to me and one of them on how to undergo the process of becoming a mother.

The process of pregnancy until birth is not something easy, this is clearly explained in the Quran surah Luqman verse 14,

"And we commanded to man (to do good) to the two mother and his father, his mother had conceived him in a state of weakness that increase steadily, and weaning in two years. Give thank to Me and to both mother and father, and only to Me is your return."

The women’s conditions during pregnancy is something that cannot be equated with one another. There is one strong and powerful, there is one weak and very exhausted, the other one has a continuous pain, and even the other one may not feel any pain. But the undeniable changes associated with the growing life inside a woman's body is something that requires adaptation. Stomach is becoming increasingly bigger, the interplay hormones between hormones which are released by fetus or hormones that produced by mom's body creates certain changes in mom's, either physical or chemical. This condition is what is meant by exhaustion that increase steadily. This also occurred to a birthing process, every woman has given birth on their own experience. We were able to learn the process of pregnancy and birth through the handbook of health, but still, mom is the only one who felt how the process is ongoing. In this case, it described superbly that if a believing woman died after give birthing, God would determine her as shaheed dying (martyr).

"Martyrs who was died out of killed in Allah's path are seven: tha'un plague is a martyr, drowning victim is a martyr, gastric disease (such as the liver) is a martyr, died of stomach disease is a martyr, fire victim is a martyr, who died crushed by the rubble is a martyr, and a woman who died of childbirth is a martyr. “(Narrated by Malik, Ahmad, Abu Dawud, and al-Nasai, also Ibn Majah. Syu'aib Al Arnauth said: hadith saheeh).

And because the whole process is not an easy thing, then its called as “Women’s Holy War” or the jihad of muslimah. And only patience that can bring us the great rewards. However, when all the process was complete, the euphoria of moms often made them forget that they also must be sincere with what had gone through, by not mentioning all pains and suffer.Because of givebirthing, and through that context is feared there will be a sense of ujub (pride), riya (showing off), happy to be praised, and takabbur (arrogant) that they could through it all, whereas there is no power but God. Those bad hearted condition is feared will eliminate the rewards they’ve got, like people who gave alms but kept named it all the time.

Well, this is the reason why I wrote that status. I want to share motivation to all moms and moms-to-be to learn to live wisely in the process of becoming a mother. The first, one of human nature is to complain, especially in pregnancy, there ara lot of temptations to complain, but we can learn to be patient by restricting to whom we complained, for example only to the husband, or parents. Learning to be patient also gave a very good effect for the fetus. Because mom’s inner calm conditions will decrease the frequency of brain waves. The low frequency of brain waves will increase endurance and helps the body back on the condition of homeostatic in which all the organs functioning normally. This will be very useful for development of the fetus, and also working as the first spiritual lesson between fetus and mom, bacuse mom's spiritual feeling is so strong in direct communication with the fetus.

The second, after post-birth, many moms unwittingly tells a lot about their pain experience. We can also learn to be wiser to share, by saying the process is smooth and not to say about the pain was unbearable. Or by replacing the pain signing sentence with a common words for eg. signs of chhildbirth, contractions, and so forth. Birth stories are always interesting, but with a little wisdom, we can share the happiness with people around us and at the same time keep us cautious hopefully not to say wrong thing and may lose the great reward from God. May Allah protect us from bad hearts, aameen ...

Wallahu a’lam bisshawaab

Bijaksana Menceritakan Proses Kelahiran

Status saya hari ini banyak mengundang komentar. Beberapa sih memang tidak relevan alias keluar jalur, tapi, ada pula yang mempertanyakan kenapa saya harus menulis demikian. Inilah yang saya tulis,

wahai para bunda, mengapa tak kau katakan bahwa kau sudah lupa rasa sakit melahirkan, daripada kau harus mengumbar kesakitanmu dan membiarkan pahala luar biasamu itu menguap bersama cerita yang mungkin juga sebentar dilupakan orang...

Saya menulis demikian karena terispirasi oleh seseorang yang dengan demikian bersemangatnya bercerita kepada orang banyak tentang betapa sulitnya ia menjalani proses untuk menjadi seorang ibu. Mungkin bagi banyak orang hal itu biasa, tapi dalam perspektif saya ceritanya terkesan berlebihan, dan hal itu mengingatkan saya tentang wejangan yang diberikan oleh seorang guru saya, Nyai Hajjah Romlah Aly, Lc Al-Hafidzah, seorang yang sangat tawaddhu’, ahli Fiqih, mukminah yang kaffah, dan seorang Hafidzah yang insya Allah dapat dipertanggungjawabkan hafalan dan amal ibadahnya. Beliau banyak berpesan kepada saya dan salah satunya tentang bagaimana menjalani proses menjadi ibu.

Proses kehamilan hingga kelahiran bukanlah sesuatu yang mudah, hal ini jelas telah diterangkan dalam Al-Quran surah Luqman ayat 11,

“ Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang ibu bapakmu, dan hanya kepadaKu lah kembalimu.”

Keadaan setiap wanita yang mengandung memang tidak dapat disamakan satu sama lain. Ada yang tangguh dan kuat, ada yang lemah dan sangat kepayahan, ada yang terus-menerus sakit, bahkan ada pula yang tidak merasakan cobaan yang berarti. Namun tak dapat dipungkiri perubahan yang terjadi berkaitan dengan tumbuhnya kehidupan di dalam tubuh seorang wanita adalah sesuatu yang membutuhkan adaptasi. Perut yang semakin lama semakin membesar, hormon-hormon yang saling mempengaruhi antara hormone yang dikeluarkan janin dan hormone yang dikeluarkan oleh tubuh ibu sendiri menghasilkan perubahan-perubahan tertentu pada sang ibu, baik fisika maupun kimiawi. Kondisi demikian inilah yang dimaksud dengan kepayahan yang bertambah-tambah. Sama halnya dengan melahirkan, setiap wanita mengalami pengalaman melahirkan yang berbeda-beda. Kita memang dapat mempelajari proses kehamilan dan kelahiran melalui buku-buku panduan kesehatan, namun tetap saja sang ibu sendiri lah yang merasakan bagaimana prosesnya berlangsung. Dalam hal ini, saking dahsyatnya proses kelahiran itu digambarkan, Allah sampai menghadiahi pahala mati syahid jika seorang wanita beriman meninggal ketika ia melahirkan.

“Syuhada’ (orang-orang mati syahid) yang selain terbunuh di jalan Allah itu ada tujuh: Korban wabah tha’un adalah syahid, mati tenggelam adalah syahid, penderita penyakit lambung (semacam liver) adalah syahid, mati karena penyakit perut adalah syahid, korban kebakaran adalah syahid, yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid, dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Malik, Ahmad, Abu Dawud, dan al-nasai, juga Ibnu Majah. Berkata Syu’aib Al Arnauth: hadits shahih).

Dan karena rangkaian proses itu tidak mudah, makanya disebut sebagai jihadnya kaum perempuan, dan hanya dengan kesabaran lah Allah mengkaruniakan pahala tanpa batas. Namun, ketika semua proses itu selesai dilalui, euforia sang ibu kerap membuatnya lupa bahwa ia pun harus ikhlas dengan apa yang pernah dilaluinya, dengan tidak menyebut2 kembali semua penderitaannya itu karena dari situ, dikhawatirkan akan timbul rasa ujub (berbangga diri),riya (pamer), senang dipuji, dan takabbur (sombong) bahwa dia bisa melewati semuanya, padahal tak ada kekuatan melainkan kekuatan Allah. Penyakit-penyakit hati itulah yang dikhawatirkan akan menghilangkan pahala yang didapatnya, seperti orang yang bersedekah namun terus-menerus disebut.

Nah, inilah yang mendasari kenapa saya menulis status tersebut. Saya ingin berbagi motivasi kepada para ibu dan calon ibu untuk belajar bijaksana dalam menjalani proses menjadi ibu. Yang pertama, salah satu sifat manusia memang mengeluh, terutama dalam kehamilan, banyak sekali godaan untuk mengeluh, tapi kita bisa belajar bersabar dengan cara membatasi kepada siapa kita mengeluh, misal hanya kepada suami, atau kepada orang tua. Belajar bersabar juga memberikan efek yang sangat baik bagi janin. Karena sabar membuat hati ibu menjadi tenang, dan kondisi batin yang tenang akan menurunkan frekuensi gelombang otak. Rendahnya frekuensi gelombang otak akan meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu tubuh kembali pada kondisi homeostatis/seimbang, di mana seluruh organ tubuh berfungsi normal. Hal ini akan sangat berguna bagi tumbuh kembang janin, juga sebagai pelajaran spiritual pertama antara janin dan ibu, karena batin ibu berhubungan langsung dan begitu kuat dengan janin.

Yang kedua, pasca melahirkan, banyak ibu yang tanpa disadari bercerita banyak sekali tentang pengalaman rasa sakit mereka. Kita juga bisa belajar bijaksana untuk berbagi, misalnya dengan mengatakan prosesnya lancar dan bukannya sakitnya tak tertahankan. Atau dengan mengganti kalimat pengisyarat sakit dengan kata-kata yang lebih umum seperti tanda-tanda melahirkan, kontraksi, dan lain sebagainya. Cerita kelahiran memang selalu menarik, tapi dengan sedikit kebijaksanaan, kita bisa berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekeliling kita dan tetap berhati-hati semoga kita tidak salah omong dan kehilangan pahala yang luar biasa itu. Semoga Allah menjaga kita dari penyakit-penyakit hati, aamiin…

Wallahu a’lam bisshawaab..


also read this on English

Senin, 27 September 2010

Say Yes To Breastfeeding 1


Kenapa Semuanya Iklan Susu Formula??

“Kenapa ya ga ada iklan tentang ASI ekslusif dan menyempurnakannya hingga dua tahun?”

Itulah pertanyaan yang otomatis selalu singgah di benak saya setiap kali melihat iklan produk susu formula baik di media cetak maupun elektronik. Padahal, ASI memegang peranan teramat penting dalam menyokong kehidupan bayi pada tahun-tahun pertama kehidupannya, dan mempengaruhi pada tahap pertumbuhan anak selanjutnya, termasuk ikatan emosional ibu dan anak. Namun saat ini, semua manfaat asi itu, baik kandungan gizi, efek pemberian asi, hingga kecerdasan emosional pun diklaim sebagai efek dan kebaikan yang akan didapat jika mengkonsumsi produk susu tertentu. Sangat miris. Hal ini mengaburkan fakta bahwa asi adalah makanan terbaik yang tak ada tandingannya untuk bayi, dan pada saat yang sama, memperkuat citra susu formula sebagai makanan pengganti yang bisa bikin anak lebih sehat, lebih cerdas, dan bahkan lebih berdaya tahan.

Iklan adalah media penyampai yang sangat efektif dan pengaruhnya sangat besar terhadap masyarakat. Iklan akan disaksikan setiap kali seseorang menonton tv, dan suatu hal yang diperdengarkan secara terus-menerus akan berpengaruh pada pola pikir seseorang. Di sinilah iklan akan sangat berguna bagi penyadaran massal tentang pentingnya memberikan ASI dan tetap meneruskannya hingga dua tahun. Bagi saya Indonesia butuh iklan tersebut, karena kesadaran menyusui masih begitu rendah. Coba saja berkunjung ke pediatric, salah satu tempat paling mudah untuk bertemu berbagai macam tipe ibu. Jika diperhatikan, lebih banyak orang tua yang menyelipkan dot di mulut bayinya dibandingkan dengan para ibu yang masuk ke nursing room (ruang menyusui) untuk menyusui bayinya. Dan ketika ditanya, kebanyakan ibu telah mengkombinasikan atau bahkan mengganti asi dengan susu formula segera setelah enam bulan pertama bayi. Padahal prinsip kombinasi asi dengan susu formula adalah sesuatu yang salah kaprah. Karena bagaimanapun, komposisi nutrisi asi tak tertandingi dengan makanan cair manapun. Bagaimana bisa, jika asi adalah Tanda Cinta Tuhan untuk hambaNya yang baru lahir ke dunia?? Tentu saja formula sehebat apapun tak akan bisa menandingi formula buatanNya?

Bijaksana Memilih

Ketika Ibu membeli susu formula, pada kemasan selalu tertulis kalimat sebagai berikut,

“Asi adalah makanan terbaik bagi bayi, namun atas beberapa alasan Ibu tidak mampu memberikan ASI kepada bayinya, dst… “

Kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat penunjang yang mendoktrin ibu bahwa ASI saja tidak cukup bagi bayi setelah enam bulan pertamanya, dan bahwa produk di tangan ibu adalah yang terbaik sebagai pendamping ASI. Padahal sekali lagi, pendapat tentang mengkombinasikan antara susu formula dengan ASI sebagai pilihan tepat itu adalah salah kaprah. Ketika Ibu mengkombinasikan sufor dengan ASI, itu sama saja dengan usaha menjauhkan ASI dari anak, kenapa? Karena dari sekian juta pengalaman yang saya baca, saya dengar, saya lihat, dari pengalaman orang-orang sekitar maupun dari berbagai media, bayi akan lebih menyenangi sufor dan dot daripada ASI dan puting ibunya. Dan pada akhirnya, pemberian ASI akan sama sekali dihentikan. Ini dia alasannya :

1. Dengan dot (terutama dot tanpa regulator) susu akan mengalir otomatis ke dalam mulut bayi dengan hanya sedikit isapan. Sedangkan jika menyusu, bayi mengerahkan otot dan reflex menghisapnya dari mulut, rahang, hingga ke telinga. Tentu saja ketika bayi sering diberi dot, lambat laun ia akan mengenali mana yang lebih mudah, mana yang lebih sulit. Tentu saja ia akan pilih “cara yang lebih gampang” untuk membuatnya kenyang. Karena itu, pada bayi baru lahir ia kerap jatuh tertidur padahal baru menyusu sesaat. Ini karena ia harus menggerakkan otot rahangnya untuk mendapatkan susunya, dan harus dibangunkan dengan mencolek pipinya untuk kemudian menyusu lagi. Dan atas alasan ini pula, otot rahang bayi ASI akan lebih kuat dari pada bayi yang diberi sufor.

2. Dengan sufor, bayi akan kenyang lebih lama, dan (seolah-olah) punya manajemen waktu yang lebih teratur dibanding bayi ASI. Kenapa? Karena kandungan protein sufor itu lebih sulit dicerna oleh pencernaan bayi dibanding ASI. Sehingga waktu yang dibutuhkan bayi untuk mencerna juga lebih lama. Hal ini “memudahkan” Ibu untuk menentukan waktu pemberian sufor, karena dalam beberapa hari setelah pemberian sufor, pola makan bayi akan terlihat, jam berapa dan dalam jumlah berapa ia butuh susu, kemudian kenyang dan tidur, kemudian sejumlah susu lagi dan bermain, dan begitu seterusnya. Sedangkan bayi ASI cenderung hampir setiap waktu menyusu, terutama pada saat malam, tak jarang Ibu jadi kurang tidur karena bayinya menyusu semalaman. Hal ini karena ASI sangat mudah dicerna oleh pencernaan bayi, tapi di saat yang sama ia tetap memiliki konsentrasi gizi yang sangat tinggi untuk bayi. Dan karena mudah dicerna, maka bayi hanya mengeluarkan sedikit energy ketika perncernaannya bekerja, dan ia bisa menggunakan kelebihan energinya untuk mengoptimalkan perkembangan tubuhnya. Namun ironisnya, Ibu seringkali menyerah untuk menyusui anaknya dengan alasan anaknya tak kunjung kenyang dan Ibu kelelahan, dan pada akhirnya memutuskan bahwa peran menyusuinya dibantu dengan sufor.

3. Pemberian sufor akan mengurangi waktu dan jumlah pemberian ASI untuk bayi. Hal ini akan berkaitan langsung dengan jumlah produksi ASI, karena semakin dihisap, ASI akan secara otomatis diproduksi semakin banyak. Jika waktu dan pemberiannya dikurangi, produksi ASI akan berkurang dan lambat laun akan berhenti sebelum waktunya, dan bayi Ibu akan jadi bayi sufor sepenuhnya. Oooh! Dan jika ASInya berhenti, para ibu kerap menyalahkan keadaan kenapa ASInya berhenti, padahal sebenarnya pola yang ia terapkan sendiri yang telah menyebabkan ASInya berhenti.

4. Rasa. Sufor memberikan rasa yang lebih ‘nikmat’ bagi bayi yang tidak dibiasakan dengan ASI. Rasa sufor lebih creamy, lebih gurih, dan pada cluster 1 tahun ke atas sudah disediakan berbagai macam rasa seperti Vanilla, Madu, bahkan Cokelat. Sedangkan manis ASI rasanya lebih tawar, dan terkadang berubah mengikuti jenis makanan yang dikonsumsi Ibu, walaupun tidak berarti ASI akan jadi pedas ketika Ibu mengkonsumsi cabe. Nah, bayi yang terbiasa dengan rasa yang lebih enak mungkin lambat laun akan sama sekali menolak ASI. Padahal, walaupun tawar, ASi jauh lebih kaya rasa (pengaruh dari variasi makanan Ibu) dan kelak akan memudahkan bayi untuk mengenal berbagai macam tekstur dan rasa sehingga di saat besarnya nanti, ia tidak jadi anak yang pemilih dalam soal makanan.

Berawal Dari Rumah Sakit

Pemberian sufor kerap berawal dari rumah sakit tempat bayi dilahirkan. Di beberapa rumah sakit yang saya temui, kecuali bagi pasien VIP, pihak rumah sakit umumnya memisahkan bayi dengan ibu dan mempertemukan mereka hanya pada jam-jam tertentu. Hal ini mungkin dimaksudkan untuk menghindari kontaminasi kuman atau penyakit yang bebas beterbangan di udara, tapi juga tidak efektif karena jika di luar waktu pertemuan dan si bayi lapar, maka ia akan diberi sufor. Bahkan saya pernah mendengar langsung dari praktisi medis di suatu rumah sakit ketika ia menenangkan si ibu yang kebetulan teman saya, bahwa sufor merk A akan membuat bayinya pintar. Ketika itu teman saya mengeluhkan bayinya yang selalu tidur saat dipertemukan dengannya, dan ketika bayinya asyik menyusu waktu pertemuan sudah berakhir. Menyedihkan ya? Padahal seharusnya para bayi hanya minum kolostrum saja dalam beberapa hari pertamanya. Tetapi pihak rumah sakit justru mengenalkan sufor untuk para bayi baru lahir tersebut.

Dengarkan Bidan, Abaikan Iklan dan Rayuan SPG Sufor

Di sini saya memang kurang mengerti di mana letak ketidak sinkronan antara perawat, dokter anak, dan bidan. Tapi perawat dan dokter anak kerap menghalalkan sufor bagi bayi, berbanding terbalik dengan bidan yang “mengharamkan” sufor bagi bayi. Ya, para ibu, dengarkan bidan Anda tentang betapa pentingnya ASI eksklusif untuk perkembangan fisik dan mental, bahkan masa depan anak Ibu, dan abaikan bujuk rayu iklan. Kita semua penting untuk menyadari bahwa semua kebaikan yang ditawarkan iklan sufor itu adalah segala kebaikan dan manfaat yang hanya dapat diberikan oleh ASI. Atau jika Anda tak ingin berpikir terlalu radikal seperti itu, pikirkanlah yang demikian, jika sufor bisa menjanjikan kebaikan dan manfaat sedemikian rupa? Bagaimana dengan yang diberikan ASI? Pasti jaaaauh lebih hebat lagi.

Satu lagi hal yang perlu diwaspadai para ibu, yaitu para SPG susu formula. Jika Ibu pernah berurusan dengan mereka, Ibu pasti tau betapa cerewetnya mereka. Bahkan beberapa SPG mengklaim rasa susu yang mereka jual sama seperti ASI, padahal tidak ada yang tau rasanya ASI kecuali bayi dan ibu yang bersangkutan. Jika Ibu memberikan sufor pada bayi Ibu, mungkin bantuan mereka akan diperlukan. Namun jika Ibu adalah pemberi ASI eksklusif, mereka cenderung terkesan seperti pemaksa ya Bu? Makanya, waspadai pula rayuan para SPG ini.

[To be continue]

adrie and faiz daisy path

Daisypath Anniversary tickers