Tampilkan postingan dengan label dunia si kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dunia si kecil. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Mei 2014

Bulan Meleleh

Malam ba'da isya.....
Nabigh lagi ikut abi buang sampah, kata abi, Nabigh di rumah aja nanti capek. Tapi Nabigh tetap mau ikut.

adek : "abi ke mana? buang sampah ya? ade ikut nah..."

abi : "gak usah.... nanti ade capek, buang sampahnya jauh loh naik gunung."

adek : "gapapaa.... ade kuat kok! ade kan sudah besal, badan ade kan sudah gede!"

abi : "nanti ade capeek... ga usah gin ade tinggal aja gin"

adek : "enda ade mau ikut!"

abi : "ya sudah ikut dah, nanti kalo ade cape abi gendong."

Akhirnya abi sama ade pergi buang sampah di pinggir jalan sekitar 200 meter dari rumah. Jalanannya menanjak karena letak rumah di perbukitan, namanya juga Gunung Polisi. hehe....
Sekitar 10 meter dari bak sampah...
abi : "sudah ade tunggu sini aja, tempatnya kotor, abi aja yang buang."

adek : "iyaaa, ade tunggu sini"

Sampah dilempar. Selesai tugas buang sampah.
abi : "ayo dek, kita pulang!"
sambil gandeng tangan adek.
jalan beberapa langkah.

adek : "bental bi, pinggang ade sakit eh!"

abi : "terus?"

adek : "iya, pinggang ade sakit eh!"

abi : "teruss??"
abi mulai curiga.

adek : "iya, kayanya ade cape deh!"

abi : "teruss??"
abi tambah curiga, perasaan ga enak nih...

adek : "iya, ade minta gendong!"
adek nyengir dengan wajah polos yang mempesona #merayu

abi : "beeeehhh.... adeeee..... katanya tadi kuaaaattt??"

adek : "hehehehee..... kan bilang  abi tadi kalo ade cape abi gendong!"

abi : "beeeehhh... ya sudah, sini hambin."
adek lompat ke punggung abi.
abi jalan lagi pulang ke rumah.

abi : "bintangnya banyak dek ya?"

adek : "iya! bagus ya bi!"

abi : "tapi ndada bulan dek, bulannya sembunyi! sembunyi atau ketutup awan ya?"

adek : "mungkin bulannya sembunyi di sanaaaa....."
tangannya menunjuk ke timur,
adek : "atau di sebelah sanaaaaaa...... nda keliatan sama kita, kan jauuuhh!!"
tangannya menunjuk ke langit barat.

abi : "iya kali ya dek,"

adek : "o iyaaaa ade tauuuu!!!"
adek berseru.

adek : "mungkin bulannya meleleh!!"

abi : "loh! kok meleleh?" abi kaget.

adek : "iya kena obol peltamina."
jawabnya kalem.

abi : ???????

hahahaahaa..... adek.... adek....



Jumat, 25 Oktober 2013

doa buat abi

Segala Puji Bagi Allah bahwa Faza sudah mulai disiplin sholat lima waktu di usia tepat enam tahun, dan sudah beberapa bulan terakhir ini Faza melakukannya dengan cukup konsisten untuk anak seusianya, tidak mengeluh capek, malas, mengantuk, atau menjadikan acara tv sebagai alasan. Semoga anak-anak umi dan abi selalu diberi hidayah Allah sepanjang hidupnya, aamiin...

Awalnya Faza hanya sholat saat ia mau, tapi kemudian Ramadhan kemarin membawa "kebiasaan" sangat baik untuk anak-anak, terutama Faza. Berawal dari semangatnya mengisi lembar Muhasabah Ramadhan (yang hasilnya jadi juara tiga di kelas), ritme ibadah itu terbawa hingga pasca Ramadhan, dan alhamdulillah, meningkat seiring pemahamannya tentang ketuhanan dan penghambaan, walaupun, tentu saja, dengan cara paling sederhana yang ia pahami.

Shalatnya pun masih "terserah Faza", seringkali tak berwudhu dan kalau kumat malasnya, gak mau pakai mukena tapi pinjam jilbab umi yang lebar. Tak jarang pula ba'da shalat saya menatap matanya dengan ekspresi pura-pura curiga dan mendapatinya tersenyum-senyum simpul karena malu ketahuan tidak membaca bacaan sholat dan hanya memainkan udara di dalam mulutnya dan membuat suara-suara seperti balon. Yang agak ekstrim, kalau sholat subuh Faza kerap kali tidak berwudhu, jadi bangun tidur langsung pakai mukena, sholat, berdoa, dan nonton tv atau balik tidur lagi. Khas anak-anak, hehehe.... Namun kebiasaan tak berwudhu saat subuh ini agak terobati di hari-hari sekolah saat ia harus langsung mandi setelah bangun tidur.

Aku memang tidak banyak mengkritik cara sholatnya, bukan karena tak ingin melihatnya sholat dengan sempurna, kadang memang ia melakukannya dengan sempurna, tapi tentu saja tidak selalu. Biarlah ia memahami dengan pikiran kanak-kanaknya, dan menjalankannya dengan apa yang ia pahami juga. Khawatirnya kalau keseringan mengoreksi bisa membuatnya malas melakukan sesuatu yang tadinya ia nikmati.

Biasanya setelah shalat Faza berdoa, hanya doa orang tua dan kebaikan dunia akhirat saja, namun kutemukan sesuatu yang berbeda seminggu ini, seminggu sejak abinya berangkat kerja lagi. Setelah sholat, biasanya ia berdoa nyaring-nyaring dan cepat-cepat. Tapi kali ini, ia berdoa dalam diam, menadahkan tangan, berbisik, dan memejamkan mata.

Terjadi empat kali sehari selama seminggu (kalau dzuhur Faza shalat di sekolah), dan aku jadi penasaran apa yang dibacanya. Jadi semalam saat melipat mukena selepas sholat isya, aku bertanya pada Faza,
"Kak, kakak biasanya doanya cepet-cepetan, kok sekarang doanya lama, bisik-bisik lagi." setengah menggoda kulirik ia. Faza senyum, "Iya, Jaju bedoa itu mi..." jawabnya.
"Faza berdoa apa boleh gak umi tau?"
"Jaju doa buat abi," katanya.
"Faza doa buat abi??" tanyaku lagi.
"Iya..."
"Beneran Faza doain abi? Sebut nama abi?" tanyaku menegaskan, surprise.
"Iya miii...." jawabnya sederhana.
"Hmmm..... Boleh tau gak Faza doain apa buat abi?"
"Emmm..... Emmmm.... tapi pendek aja mi...." ia ragu-ragu.
"Gak papa lah biar pendek. Yang penting kan Faza doa. Faza minta apa sama Allah...?" saya setengah membujuk.
"Hmmm.... Jaju doa orang tua, kaya biasa, terus robbana atina itu, terus Jaju bilang gini,
'Ya Allah, berikan abi kesehatan, panjang umur, dan yang baik-baik, dan pekerjaan yang mudah', "
Faza menatap mataku mengakhiri kalimatnya.
"Faza minta itu sama Allah?" tanyaku, setengah tak percaya.
"Iiiiyaaa....." jawabnya sambil hampir nyengir.

Aku memeluknya, haru, "Subhanallaaah.... anak umi....." ku usap kepalanya, ku cium pipinya,
"Terima kasih ya naakk.... Terima kasih sudah doakan abi ya naak,"
Kulihat matanya sambil tersenyum, Faza datar seperti biasanya.
"Faza tau, doa Faza itu luar biasa artinya buat abi. Dan doa Faza pasti didengar Allah!"
Ia menundukkan kepalanya memainkan jemarinya, sepertinya bosan ya kak ditanya-tanya terus.
"Nanti doakan abi lagi ya nak, jangan berhenti doakan abi ya nak!"
pintaku sambil membelai kepalanya lagi, Faza menelengkan kepalanya ke kanan, senyum-senyum lagi dan mengangguk.
Memberikan jawabannya.

Takjub ia menumpahkan kerinduan melalui doa sederhananya, rasanya hampir menangis melihat ia membangun ikatan dengan abinya dalam doa. Aku bahkan tak peduli ia tak menyebut namaku secara khusus, ia mendoakan abinya dengan khusyuk begitu sungguh sudah jadi anugerah. Doanya jelas jauh lebih kuat terdengar di 'Arsy daripada doa-doa kami sendiri, jelas lebih maqbul daripada doa-doa kami orangtuanya yang sudah tumpah ruah dengan dosa.

Alhamdulillaah....


"Pahlawan keluargaku!
 Dengan bismillah abiku bekerja!
 Tetes keringatnyaaa, bagai mutiaraaa!
 Bagi keluargakuuuu...!!"

Lantang Nabigh menyanyikan lagu yang diajarkan guru tknya saat menelpon abi.
Nabigh juga punya caranya sendiri untuk mendoakan abi, hehehe....
Ah, semua yang terbaik memang untuk Abi, :-)

Terima kasih Nak, terima kasih telah menjaga abi dengan doa-doa kalian.
Semoga Allah selalu melindungi abi, dan menyatukan hati kita dalam ketaatan kepadaNya,
sehingga kita selalu bisa bersama di dunia dan kelak di akhirat.
Aamiin Ya Mujibas sailiinn....



Senin, 09 April 2012

Titik Balik


Ada satu momen menggelitik dalam dialog santai-tak sengaja antara aku dan Faza, yang membuatku memikirkan dialog itu untuk beberapa waktu dan kemudian ia menjadi titik balik dalam kehidupanku.
Jadi sore itu aku sedang membantu Faza keramas, sambil memijat kepalanya ku katakan padanya bahwa ia sudah besar dan rambut lembutnya lambat laun semakin panjang. Faza memandangku sambil tersenyum lebar sekali memamerkan deretan giginya yang gigis habis, ia menanggapi ucapanku dengan berkata, “kalau besar jaju mau jadi apa yok mi?”

“jaju mau jadi apa?”
“jaju mau jadi dokter anak laaah….”
“biar apa jadi dokter anak?”
“ya biar bantuin anak-anak yang sakit laah…. Yang cekelakaan (kecelakaan)kaya Jaju, yang sakit perut, yang gatal-gatal juga kaya jaju, hihihi!”
 “jaju mau jadi dokter anak memangnya jaju suka anak-anak?”
“iyaaa…. Jaju kan senang sama ade bayi, jaju suka kalo ada ade kecil, jaju maunya jadi dokter anak…. 

Umi kalo sudah besar mau jadi apa? Lanjutnya balik bertanya.
“umi kan sudah besar,” jawabku sambil merapikan rambut kusutnya.
“iyaaa…. Umi mau jadi apa….?” Tanyanya lagi sambil mengerutkan kening dan mengerucutkan bibir.
“umi….. umi sekarang sudah jadi ibu.” Jawabku setengah ragu dengan jawabanku sendiri. Benar saja, ia meneruskan selidiknya. “iya, jaju tau umi ibu, ibu apa?”
“hmm….. ibunya jaju laaah….” Jawabku sambil memercik-mercikkan air di wajahnya.
“loooohhhh…!!! Bukan iitu yang jaju mau tau…. Itu jaju tauu…..” kilahnya sambil bibirnya kian mengerucut. “maksud jaju, umi jadi ibu yang gimana…. “
“umi mau jadi ibu yang baik selamanya buat jaju dan ade.” Jawabku sok terdengar ideal. Ternyata….
“looooh…. Iyaaa…. Kan memang umi itu baiiik…. Tapi umi mau jadi apaa…?” desaknya lagi.

“hmmm…. Cita-cita umi gitu kaaah… kaya jaju mau jadi dokter anak?”
“iiyyaaaa……” serunya.
“tapi kan katanya jaju ga mau kalo umi kerja…” aku, entah mengapa memilih jawaban bodoh itu. Ragu-ragu sambil membasuh kepalanya dengan air, menjaga agar tak ada buih yang masuk ke matanya.
“loh looh, aaah… uuumiiii…. Iya jaju tau jaju ga mau umi kerja…  Maksud jaju, memangnya umi ga mau jadi apa-apa….. kaya jaju gituuu….. kan katanya umi penulis… umi kan suka nulis kan…??” ia sedikit memberi clue, mungkin ia juga bertanya-tanya dalam hati mengapa dalam sekejap uminya sudah terlihat se-oon itu?

Deg! Aku tertampar rasanya. Diam sejenak memandangnya.

“oh iya! Betul! Cita-cita umi, umi mau jadi penulis hebat! Umi mau bikin buku yang bermanfaat buat banyak orang! Seperti anak umi yang jadi dokter anak biar bermanfaat buat banyak orang!” aku segera meralat jawabku.
Serta merta bibir kerucutnya itu merekah dan berkembang lebar sekali. Anakku tersenyum. “nah iiiitu yang jaju bilang! Kan kita bedua sama kan mi? jaju jadi dokter, umi jadi penulis kan mi???” pungkasnya ceria. Lalu meneruskan celotehnya tentang cita-cita adik yang ingin seperti abi, dan cita-cita abi yang menurutnya sudah kesampaian.

Sudah empat hari sejak acara mandi sore itu dan ya, aku tersadar bahwa ternyata selama ini aku terjebak dalam kondisi stag yang melenakan. Bahwa ketika aku berpikir aku telah memilih jalan yang sesuai dengan kebutuhan nuraniku menjadi perempuan yang mengabdi kepada keluarga, aku terlena dan melupakan bahwa aku pun harus menjadikan diriku pribadi yang bermanfaat bagi orang lain, lingkungan, banyak hal! Aku harus jadi bermanfaat untuk semesta ini! Nampaknya terlalu lama bagiku untuk hidup mengikuti arusnya tanpa mengendalikan. Aku lupa mengendalikan!

Aku pernah bermimpi dan terobsesi. Dalam suatu waktu ketika terjadi halangan, cobaan, aku menyerah begitu saja dan tak melakukan apa-apa. Tak melanjutkan obsesi-obsesi itu dalam suatu tindak nyata, dan tidak pula sekedar mempertahankan posisi sediakala. Sehingga pun merosot lah aku dalam BIG ZERO, again! Aku memang masih selalu membeli buku, membacanya bergantian, menulis di kala sempat, memutar siaran-siaran pendidikan, bahkan tetap mengajarkan mengaji. Tapi ternyata tanpa mimpi, tanpa visi dan misi, ruh dari niat amalan-amalan ini kian meredup dan meredup. Ketika aku melakukannya hanya untuk mengisi waktu, melakukannya agar tak sepi, lalu apa yang bisa menjadi manfaat bagiku? Dan dengan niat semacam itu, apakah aku membawa manfaat bagi orang lain?? Tentu saja tidak.

Dan anakku membangunkanku, dengan cara yang mungkin tak pernah ia sadari. Menyentilku bahwa kita tak pernah terlalu tua untuk mengejar impian, tak akan pernah punya cukup alasan untuk berhenti. Bahwa kodrat manusia sebagai khalifah di Bumi, membuatnya WAJIB bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk bumi.  WAJIB bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk bumi. 

Di titik ini aku memaksa diri menata ulang segala niat, mempertanyakan segala maksud tujuan, memutar haluan bila diperlukan, mengendalikan pikiran agar tetap di tempatnya, dan bersiap atas sebuah amanah. Aku harus bermanfaat bagi banyak orang, bagaimanapun caranya. Inilah pernyataan misi ku.
Allah mengirimkan malaikatNya, mengingatkanku dengan begitu lembut dan lucu. Segala puji bagi Engkau Rabb semesta alam, semoga layak ampunan atas hamba karena pernah membiarkan diri menjadi yang tak bermanfaat.

Bagaimana dengan Anda, sahabat-sahabatku? Semoga ilmu, amal, rizki, kesempatan, dan kesehatan kita membawa manfaat bagi sebanyak-banyaknya sesama kita. Aamiin…. :)

Diriwayatkan dari Jabir RA berkata,”Rasulullah SAW bersabda,
’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Thabrani dan Daruquthni)



Kamis, 22 September 2011

Putriku Yang Melankolis

Pagi tadi saya mengantar Faza ke sekolah dan menunggunya beberapa saat. Ia senam bersama teman-temannya. Saat senam, ia terlihat bercanda dengan beberapa temannya. Ketika waktunya kembali ke kelas, teman-temannya terlihat meninggalkannya dan ia sendiri. Memakai sepatunya sendiri dan pergi ke kelas sendiri… Memang, dalam beberapa kali mengantar-jemputnya, sering sekali saya perhatikan ia melakukan apa-apa sendiri. Terkadang teman-temannya datang bermain berpasang-pasangan dan ia tak ada di salah satu grup/pasangan manapun. Hanya ia dan dirinya sendiri.

Tiba-tiba saya merasa khawatir…. Melihatnya seperti itu seperti melihat diri saya sendiri di masa lampau, seperti melihat diri saya sendiri yang berperan di sana. Dan saya khawatir akan itu, sangat khawatir, mungkin bahkan saya takut dia akan jadi seperti saya.

Saya adalah penyendiri. Seingat saya, sejak tk saya sudah memutuskan untuk lebih suka bermain-main dengan pikiran sendiri, sehingga saat itu, saya hanya punya satu teman akrab, namanya Widyawati, entah di mana ia sekarang. Kemudian ketika SD, Tsanawiyah, Aliyah, suasana sekolah masih tak mengubah keadaan itu. Tinggal di pondok pesantren memang membuka lebih banyak hubungan sosial bagi saya, terlebih di dalam satu kamar yang suasananya sudah lebih mirip rumah dan keluarga sendiri. Namun di sekolah, saya masih penyendiri, lebih suka nongkrong di perpustakaan dan membaca apa saja yang ada.

Ketika tidak sedang membaca, saya ngobrol dengan teman-teman yang tidak terlalu popular, seperti mereka yang juga pendiam seperti saya, mereka yang terlalu kalem untuk berbicara banyak…. Ada kalanya juga saya lama tidak ke perpus, misalnya kehabisan bacaan atau asyik dengan Koran dan mading, atau saat sedang musim permainan seru seperti galasin, saya pasti ikut. Jika tidak, lagi-lagi saya lebih suka mendekam di dalam kelas dan baca kamus yang hampir selalu saya bawa-bawa meskipun bukan waktunya pelajaran bahasa Inggris.

Saya tidak sepintar itu. Bisa dibilang saya malah tidak sepintar teman-teman yang lain. Saya bawa kamus setiap hari hanya karena saya cinta bahasa Inggris, dan supaya saya tau arti dari lagu yang sering saya nyanyikan. Dan mengapa saya ke perpus hampir setiap hari? Itu karena saya merasa menemukan dunia saya di sana. Saya bisa menikmati keindahan sastra ketika saya baca puisi, saya bisa tenggelam dalam emosi seseorang ketika sedang membaca novel, saya bisa menemukan ternyata begitu banyak pertanyaan aneh dalam benak saya ketika mencoba membaca buku-buku filsafat, saya bisa melakukan perjalanan menyenangkan melalui ensiklopedi dunia, dan terbang ke ruang angkasa atau menyelam ke dalam laut, menyelusup ke dalam bumi lewat gambar-gambar dramatis di ensiklopedi sains. Begitu banyak hal yang bisa diberikan sebuah buku pada saya, bagi saya. Dan itulah yang membuat saya ketagihan. Dunia saya ada di sana, menurut saya. Tetapi itu juga yang mungkin memisahkan saya dengan dunia nyata. Sepertinya…. Dan bukan saja soal buku, hal lain seperti bepergian misalnya, ketika semua teman berkeberatan pergi ke suatu tempat sendiri, saya tak pernah keberatan jika saya harus pergi tanpa teman. Rasanya saat itu pikiran saya hampir selalu sibuk sehingga seolah-olah dunia saya sudah ramai tanpa harus saya tambahkan seseorang untuk menemani. Lalu setelah saya dewasa, saya kerap berintrospeksi diri bahwa mungkin karena saya selalu penyendiri makanya Allah beri saya karunia Long Distance Marriage.

Ketika beberapa teman ditanya, mungkin banyak di antara mereka yang tidak setuju bahwa saya pendiam. Kebanyakan kesan yang saya terima bahwa saya ceriwis, manja, jutek, sok tau, cenderung rame malah. Mungkin itu dari mereka yang benar-benar dekat dengan saya. Mereka yang memberi saya kesempatan untuk menikmati keberhargaan sebuah pertemanan dan manisnya persahabatan. Namun saya sangsi apakah ada yang pernah memperhatikan bahwa pada dasarnya saya kesulitan membaur, bahwa saya akan berpikir seratus ribu kali hanya untuk memulai percakapan dengan seseorang tanpa resiko tidak disenangi atau tidak membosankan. Saya banyak bicara, jika saya menemukan kenyamanan dengan orang-orang tertentu. Permasalahannya bahwa saya tak mudah nyaman dengan orang. Saya tak ingin seperti itu, tetapi itulah problema saya. Saya bisa berbicara di depan audiens dan mengarahkan sesuatu, namun saya tak cukup yakin menghadapi per-personal. Saya bukan pemilih dalam berteman, namun sulit memulainya. Dalam tahap ini rasanya cukup mengerikan dan tidak dewasa. Namun itulah saya. Saya kagum dengan orang-orang yang supel yang bisa berbicara dengan santai kepada siapa saja. Sedangkan saya, saya terlalu penuh pertimbangan. Ketika dalam keramaian dan menghadapi banyak orang, suara negative dalam benak saya kerap menggaung-gaungkan kekhawatiran apakah saya diterima dengan baik, apakah saya terlihat oke, apakah orang tidak tersinggung dengan apa yang saya bicarakan, apakah orang lain menyukai topik yang saya kemukakan… bla bla bla. Kebanyakan karena saya tidak punya rasa percaya diri yang adekuat untuk percaya bahwa orang lain akan mendengarkan saya. Sehingga pada akhirnya saya memang kerap sendiri dalam keramaian.

Dan itu yang saya lihat pada diri putri saya. Setelah pagi itu, malamnya saya tanyakan padanya,

“Faza, siapa aja teman Faza di sekolah?”

“emmm…. Dimas, Zaky, Zakiyah, Inayah, Nayla….”

“terus?”

“emmm… Vio…, terus siapa lagi ya Jaju ga hafal.”

“terus Jaju suka mainnya sama siapa?”

“emmm….. ga tau.. ya kadang-kadang Nayla…. Inayah… Jaju juga suka main sama Dimas..”

“kok kadang-kadang? Memang Jaju ga tiap hari main sama teman-teman?”

“iya.”

“kenapa? Biasanya Inayah kan main sama Jaju..”

“iya tapi engga.”

“engga..?”

“iya, Inayah ga suka main sama Jaju.”

“loh… memangnya Jaju tau Inayah ga suka main sama Jaju? Jaju ga asik kali jadi Inayah males main sama Jaju..?”

“Inayah sukanya main sama Nayla.”

“oh ya? Jangan-jangan Jaju suka suruh-suruh kali?”

“engga, ngga pernah..”

“sama teman yang lain?”

“engga… Jaju ga suka ngobrol.”

“Jaju ga suka ngobrol?”

“iya, Jaju ga suka…”

“kenapa? Kan asik ngobrol sama temen rame,”

“hemmm…. Engga mi, Jaju tapi ga suka ngobrol. Jaju sukanya sendiri.”

“Jaju suka sendiri?”

“iya.”

“apa enaknya sendiri, kan sepi?”

“ya atau Jaju ngobrol sama ibu guru..”

“Jaju suka ngobrol sama ibu guru?”

“iya. Jaju suka, apalagi sama ibu Tari Jaju suka.”

“Kalo bu guru lagi sibuk Jaju ngapain?”

“ya duduk-duduk aja.”

“sama siapa?”

“ya sendiri aja. Jaju sukanya kan sendiri.”

“terus ngapain Jaju sendiri? Main puzzle mungkin? Jaju kan suka puzzle.. Atau gambar gambar?”

“engga. Puzzle di sekolah bau, Jaju juga ga suka.”

“loh jadi ngapain?”

“ya Jaaju liatin teman-teman aja.”

“ngapain Jaju liatin teman-teman?”

“ya liatin aja, kadang teman Jaju itu lucu-lucu. Ada yang jatuh, kemaren ada yang dorong-dorongan, ada juga teman Jaju yang bawa dodot ke sekolah.”

“oh ya?”

“iya. Kenapa sih umi Tanya-tanya terus?”

“gak papa sih… umi Cuma khawatir aja faza ga punya teman.”

“ada kok temen Jaju mi, tapi Jaju ga suka ngobrol aja.”

Oh putriku yang melankolis…. Kau mengingatkan umi betapa seringnya umi dulu mengatakan, dan menuliskan, “Silence is Gold, and Solitude is Precious Time for Precious Thinking” Semoga saja kelak kau tidak kesulitan membaur dengan lingkungan walaupun kau tidak suka mengobrol dan lebih suka mengamati dari jauh. Semoga dengan demikian Allah menjaga lisanmu dari mengucapkan yang tidak bermanfaat, menjaga pendengaranmu dari mendengarkan yang tidak bermanfaat, menjaga hatimu dari pikiran dan prasangka yang tidak bermanfaat, aamiin…

Umi hanya khawatir kau sulit menemukan tempatmu di antara orang banyak, umi khawatir kepercayaan dirimu terkikis oleh kesendirian ketika keyakinan akan dirimu dipertanyakan (oleh dirimu sendiri kelak) berdasarkan banyaknya teman yang berdiri di sampingmu. Sebagaimana yang pernah umi rasakan, karena sungguh ketika kita tak mudah berteman nak, itu sesuatu yang tidak mengenakkan.

Rabb Yang Maha Pengasih dan Penyayang, doa hamba jadikanlah anak-anak kami anak yang sholih dan berguna, yang Engkau sayangi dan disayangi hamba-hambaMu yang sholih, aamiin…

Kamis, 28 Oktober 2010

Akhirnya Promosi Susu Formula Diatur Undang-Undang

Pada posting sebelumnya, saya pernah menulis Say Yes to Breasfeeding yang menyatakan tentang keresahan saya tentang maraknya iklan susu formula (sufor) yang diakui atau tidak bersifat mengaburkan fakta penting ASI sekaligus dengan seenaknya mengklaim semua manfaat ASI sebagai kebaikan yang akan didapat jika bayi kita mengkonsumsi produk susu tertentu. Di sana saya juga mempertanyakan mengapa pemerintah tak membuat iklan layanan masyarakat tentang pentingnya ASI, untuk meng-counter iklan-iklan tersebut sehingga masyarakat terutama para ibu dapat bijaksana dalam menentukan pemberian nutrisi yang terbaik bagi anak-anak mereka tanpa pengaburan citra ASI sebagai makanan terbaik bayi yang tak tergantikan.

Jadi hari ini (Senin, 25 oktober 2010) saya sangat bangga dengan pemerintah kita, yang telah mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang larangan pengiklanan susu formula pengganti ASI ke khalayak luas. Walaupun sebenarnya sih harusnya dari dulu, sebelum para ibu kita termakan rayuan iklan sufor yang demikian hebat itu. Tapi tak ada kata terlambat untuk memperbaiki sesuatu, apalagi yang diperbaiki adalah gizi anak Indonesia. Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Angela Keamey menyebutkan dalam konferensi pers, bahwa salah satu penyebab kurangnya gizi anak Indonesia adalah rendahnya jumlah ibu yang memberikan asi ekslusif pada bayinya selama enam bulan pertama, dan jika ingin memperbaiki kesehatan anak-anak Indonesia, maka para ibu harus didukung untuk dapat menyusui di manapun termasuk di tempat kerja mereka. Menurutnya pula, untuk mendukung hal tersebut maka diperlukan cuti hamil dan melahirkan yang memadai bagi Ibu yang bekerja, waktu rehat menyusui, hingga fasilitas untuk menyimpan cadangan ASI seperti refrigerator atau freezer. Begitu pula fasilitas menyusui di tempat-tempat umum.

Ya, hal ini tentu sangat melegakan. Tahukah Anda bahwa yang terjadi di Indonesia pada saat ini adalah, diakui atau tidak banyak para ibu bangga jika anak mereka diberi sufor merk tertentu yang menguras kantong, dan merasa kampungan ketika bayi mereka membutuhkan ASI saat berada di tempat umum. Pandangan seperti ini sungguh patut diubah. Memang kita tidak dapat menolak adanya factor dan beragam kondisi di mana ibu benar-benar tidak mampu memberikan ASI, seperti adanya masalah pasca persalinan yang berkaitan dg obat-obatan yang memungkinkan berkurangnya produksi ASI, atau bahkan masalah genetis (beberapa bayi autis ditemukan alergi terhadap ASI ibu mereka sendiri, naudzubillah). Namun dengan gembar-gembor iklan di berbagai media, memberikan ASI sepertinya adalah hal yang remeh dan memberi sufor adalah hal yang sangat lumrah dan seharusnya, sehingga usaha ibu dalam memberikan ASI menjadi tidak maksimal. Padahal hak anak adalah ASI dan sudah selayaknya anak mendapatkan haknya. Hal ini senada dengan alasan disusunnya RPP larangan pengiklanan sufor ini yaitu demi melindungi hak anak berupa pemenuhan nutrisi dan gizi yang tepat selama tahun-tahun pertama kehidupannya yaitu ASI, dan melindungi hak ibu untuk dapat memberikan ASI ekslusif terhadap bayinya dan menghindarkan diri dari ancaman penyakit, terutama kanker payudara, kanker indung telur, dan diabetes mellitus.

Menindaklanjuti RPP tersebut, maka kementrian kesehatan akan memberikan sanksi administrative kepada produsen susu yang melanggar aturan. Aturan ini efektif dimulai tahun depan. Namun demikian, saya masih merasa kurang sreg karena seharusnya pemerintah melakukannya setengah-setengah. Seharusnya aturan tersebut berlaku untuk sufor bagi bayi di bawah dua tahun, bukan satu tahun. Menyempurnakan penyusuan kan waktunya dua tahun, bukan satu tahun? Jika di atas satu tahun tetap boleh diiklankan, maka para produsen sufor akan tetap memproduksi iklan-iklan serupa dengan jargon-jargon periode emas tumbuh kembang bayi dan lain sebagainya, dan para ibu akan tetap terbuai dan dengan segera mengganti ASI dengan sufor setelah tahun pertama. Apalagi jika ditambah dengan lemahnya pengawasan para tingkat distributor, yang memungkinkan produsen susu bekerja sama dengan pihak rumah sakit dan pihak-pihak lain di bidang serupa untuk tetap menghimbau penggunaan sufor sebagai pendamping hingga pengganti ASI.

Di dunia, hal ini sudah diberlakukan sejak tahun 1981, ketika Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) mengatur Kode Etik Internasional Pemasaran Pengganti ASI dan melarang promosi sufor besar-besaran. Dan di Amerika sendiri, biaya yang dikeluarkan untuk susu formula sangat mahal, bisa mencapai USD 2000. Disediakan pula lembaga donor ASI yang beranggotakan para ibu yang mau mendonorkan ASInya untuk bayi-bayi kurang gizi atau bayi yang ibunya tidak mampu memberikan ASI.

Pada intinya, program ini adalah program memajukan kesehatan dan peningkatan kecerdasan bangsa dengan memperkuat akar kehidupan seseorang sejak kelahirannya . Dan bagi para ibu, intinya adalah tekad yang kuat untuk memberikan ASI sebagai hak pertama dan utama bagi buah hatinya. Satu kabar baik lagi, bahwa peran ASI setelah anak tumbuh besar ternyata baru optimal jika ia disempurnakan hingga dua tahun. Ayo Bunda, jangan sapih si kecil sebelum dua tahun ya… J


“Dan para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan,…”

QS. Al-Baqarah;233

Senin, 25 Oktober 2010

Benda Lengket di Pagar

Sore yang cerah, di depan rumah bersama anak-anak.

Saya sedang asyik mengawasi tingkah polah anak-anak yang bermain di dekat kandang kelinci yang terletak di sebelah kiri bawah tangga teras rumah kami, ketika tiba-tiba mata saya menangkap benda aneh yang nempel di pagar tempat saya berdiri. Ih, apa itu? Putih kehijauan, sangat lengket, berair, dan dirubung semut pula. Pelan-pelan saya perhatikan sambil mulai menebak-nebak kira-kira apa benda lengket itu. Mungkin kotoran kelelawar yang biasa makan malam di pohon sawo sebelah rumah, atau kotoran burung?? Tapi kotoran kelelawar tidak seperti itu, tentu saja saya hafal karena mereka kerap meninggalkan "souvenir" di teras rumah kami setelah kenyang makan sawo. Apa kotoran burung?? Tapi rasanya tidak pernah ada burung yang meninggalkan kotoran di teras ini kendati mereka seliweran terbang di sekitar rumah kami. Rasanya juga kotoran burung tidak menggumpal dan selengket itu. Apa sisa bangkai cicak yang habis dimakan semut?? Bukankah warnanya putih pucat kehijauan?? Iiihh.. menjijikkan sekali.... Tapi.. kenapa tidak berbau ya? Harusnya kalau bangkai kan bau?

Saya masih menebak-nebak sambil merasa jijik sendiri sehingga tak memperhatikan bahwa putri saya sudah berdiri di depan saya dengan tatapan keheranan.
"umi ngapain?" tanyanya.
"ini lho... umi lagi liatin ini nih... apaan sih kok lengket-lengket gitu," jawab saya sambil menunjuk si benda lengket itu dari kejauhan.
"ini??" tanyanya sambil menunjuk benda itu dengan telunjuk mungilnya.
"eeiiiitttt!!!! jangan disentuuuuh.......!" sergah saya panik sambil mengangkat kedua tangan dan wajah yang ngeri.
"kenapa sih umi??" tanyanya lagi keheranan, kali ini dengan alis dikerutkan. Belum sempat saya menjawab ia lalu melanjutkan,
"ini tuh bekas permen yupi ade yang kemaren dia luak, jadinya nempel di pagar trus dihurung semut. semutnya itu kan ga bisa bawa yupinya ke sarangnya soalnya yupinya lengket, jadi dia makan di situ aja."
"hah??" saya masih setengah percaya dengan penjelasan panjangnya ketika ia melanjutkan lagi.
"ini yupi ade mi, masa bekas yupi aja umi ga berani pegang."
Ia pun ngeloyor pergi, main lagi dengan adiknya yang menunggu di anak tangga paling bawah, kemudian bergegas kembali ke kandang kelinci.

Saya baru ingat... kemarin saya membelikan permen yupi berbentuk sapi, berwarna putih dan hijau... O la laaa.... saya jadi merasa sangat bodoh...... ^_~

> luak : dikeluarkan dari mulut/dilepeh
> dihurung: dirubung/dikelilingi

Senin, 27 September 2010

Say Yes To Breastfeeding 1


Kenapa Semuanya Iklan Susu Formula??

“Kenapa ya ga ada iklan tentang ASI ekslusif dan menyempurnakannya hingga dua tahun?”

Itulah pertanyaan yang otomatis selalu singgah di benak saya setiap kali melihat iklan produk susu formula baik di media cetak maupun elektronik. Padahal, ASI memegang peranan teramat penting dalam menyokong kehidupan bayi pada tahun-tahun pertama kehidupannya, dan mempengaruhi pada tahap pertumbuhan anak selanjutnya, termasuk ikatan emosional ibu dan anak. Namun saat ini, semua manfaat asi itu, baik kandungan gizi, efek pemberian asi, hingga kecerdasan emosional pun diklaim sebagai efek dan kebaikan yang akan didapat jika mengkonsumsi produk susu tertentu. Sangat miris. Hal ini mengaburkan fakta bahwa asi adalah makanan terbaik yang tak ada tandingannya untuk bayi, dan pada saat yang sama, memperkuat citra susu formula sebagai makanan pengganti yang bisa bikin anak lebih sehat, lebih cerdas, dan bahkan lebih berdaya tahan.

Iklan adalah media penyampai yang sangat efektif dan pengaruhnya sangat besar terhadap masyarakat. Iklan akan disaksikan setiap kali seseorang menonton tv, dan suatu hal yang diperdengarkan secara terus-menerus akan berpengaruh pada pola pikir seseorang. Di sinilah iklan akan sangat berguna bagi penyadaran massal tentang pentingnya memberikan ASI dan tetap meneruskannya hingga dua tahun. Bagi saya Indonesia butuh iklan tersebut, karena kesadaran menyusui masih begitu rendah. Coba saja berkunjung ke pediatric, salah satu tempat paling mudah untuk bertemu berbagai macam tipe ibu. Jika diperhatikan, lebih banyak orang tua yang menyelipkan dot di mulut bayinya dibandingkan dengan para ibu yang masuk ke nursing room (ruang menyusui) untuk menyusui bayinya. Dan ketika ditanya, kebanyakan ibu telah mengkombinasikan atau bahkan mengganti asi dengan susu formula segera setelah enam bulan pertama bayi. Padahal prinsip kombinasi asi dengan susu formula adalah sesuatu yang salah kaprah. Karena bagaimanapun, komposisi nutrisi asi tak tertandingi dengan makanan cair manapun. Bagaimana bisa, jika asi adalah Tanda Cinta Tuhan untuk hambaNya yang baru lahir ke dunia?? Tentu saja formula sehebat apapun tak akan bisa menandingi formula buatanNya?

Bijaksana Memilih

Ketika Ibu membeli susu formula, pada kemasan selalu tertulis kalimat sebagai berikut,

“Asi adalah makanan terbaik bagi bayi, namun atas beberapa alasan Ibu tidak mampu memberikan ASI kepada bayinya, dst… “

Kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat penunjang yang mendoktrin ibu bahwa ASI saja tidak cukup bagi bayi setelah enam bulan pertamanya, dan bahwa produk di tangan ibu adalah yang terbaik sebagai pendamping ASI. Padahal sekali lagi, pendapat tentang mengkombinasikan antara susu formula dengan ASI sebagai pilihan tepat itu adalah salah kaprah. Ketika Ibu mengkombinasikan sufor dengan ASI, itu sama saja dengan usaha menjauhkan ASI dari anak, kenapa? Karena dari sekian juta pengalaman yang saya baca, saya dengar, saya lihat, dari pengalaman orang-orang sekitar maupun dari berbagai media, bayi akan lebih menyenangi sufor dan dot daripada ASI dan puting ibunya. Dan pada akhirnya, pemberian ASI akan sama sekali dihentikan. Ini dia alasannya :

1. Dengan dot (terutama dot tanpa regulator) susu akan mengalir otomatis ke dalam mulut bayi dengan hanya sedikit isapan. Sedangkan jika menyusu, bayi mengerahkan otot dan reflex menghisapnya dari mulut, rahang, hingga ke telinga. Tentu saja ketika bayi sering diberi dot, lambat laun ia akan mengenali mana yang lebih mudah, mana yang lebih sulit. Tentu saja ia akan pilih “cara yang lebih gampang” untuk membuatnya kenyang. Karena itu, pada bayi baru lahir ia kerap jatuh tertidur padahal baru menyusu sesaat. Ini karena ia harus menggerakkan otot rahangnya untuk mendapatkan susunya, dan harus dibangunkan dengan mencolek pipinya untuk kemudian menyusu lagi. Dan atas alasan ini pula, otot rahang bayi ASI akan lebih kuat dari pada bayi yang diberi sufor.

2. Dengan sufor, bayi akan kenyang lebih lama, dan (seolah-olah) punya manajemen waktu yang lebih teratur dibanding bayi ASI. Kenapa? Karena kandungan protein sufor itu lebih sulit dicerna oleh pencernaan bayi dibanding ASI. Sehingga waktu yang dibutuhkan bayi untuk mencerna juga lebih lama. Hal ini “memudahkan” Ibu untuk menentukan waktu pemberian sufor, karena dalam beberapa hari setelah pemberian sufor, pola makan bayi akan terlihat, jam berapa dan dalam jumlah berapa ia butuh susu, kemudian kenyang dan tidur, kemudian sejumlah susu lagi dan bermain, dan begitu seterusnya. Sedangkan bayi ASI cenderung hampir setiap waktu menyusu, terutama pada saat malam, tak jarang Ibu jadi kurang tidur karena bayinya menyusu semalaman. Hal ini karena ASI sangat mudah dicerna oleh pencernaan bayi, tapi di saat yang sama ia tetap memiliki konsentrasi gizi yang sangat tinggi untuk bayi. Dan karena mudah dicerna, maka bayi hanya mengeluarkan sedikit energy ketika perncernaannya bekerja, dan ia bisa menggunakan kelebihan energinya untuk mengoptimalkan perkembangan tubuhnya. Namun ironisnya, Ibu seringkali menyerah untuk menyusui anaknya dengan alasan anaknya tak kunjung kenyang dan Ibu kelelahan, dan pada akhirnya memutuskan bahwa peran menyusuinya dibantu dengan sufor.

3. Pemberian sufor akan mengurangi waktu dan jumlah pemberian ASI untuk bayi. Hal ini akan berkaitan langsung dengan jumlah produksi ASI, karena semakin dihisap, ASI akan secara otomatis diproduksi semakin banyak. Jika waktu dan pemberiannya dikurangi, produksi ASI akan berkurang dan lambat laun akan berhenti sebelum waktunya, dan bayi Ibu akan jadi bayi sufor sepenuhnya. Oooh! Dan jika ASInya berhenti, para ibu kerap menyalahkan keadaan kenapa ASInya berhenti, padahal sebenarnya pola yang ia terapkan sendiri yang telah menyebabkan ASInya berhenti.

4. Rasa. Sufor memberikan rasa yang lebih ‘nikmat’ bagi bayi yang tidak dibiasakan dengan ASI. Rasa sufor lebih creamy, lebih gurih, dan pada cluster 1 tahun ke atas sudah disediakan berbagai macam rasa seperti Vanilla, Madu, bahkan Cokelat. Sedangkan manis ASI rasanya lebih tawar, dan terkadang berubah mengikuti jenis makanan yang dikonsumsi Ibu, walaupun tidak berarti ASI akan jadi pedas ketika Ibu mengkonsumsi cabe. Nah, bayi yang terbiasa dengan rasa yang lebih enak mungkin lambat laun akan sama sekali menolak ASI. Padahal, walaupun tawar, ASi jauh lebih kaya rasa (pengaruh dari variasi makanan Ibu) dan kelak akan memudahkan bayi untuk mengenal berbagai macam tekstur dan rasa sehingga di saat besarnya nanti, ia tidak jadi anak yang pemilih dalam soal makanan.

Berawal Dari Rumah Sakit

Pemberian sufor kerap berawal dari rumah sakit tempat bayi dilahirkan. Di beberapa rumah sakit yang saya temui, kecuali bagi pasien VIP, pihak rumah sakit umumnya memisahkan bayi dengan ibu dan mempertemukan mereka hanya pada jam-jam tertentu. Hal ini mungkin dimaksudkan untuk menghindari kontaminasi kuman atau penyakit yang bebas beterbangan di udara, tapi juga tidak efektif karena jika di luar waktu pertemuan dan si bayi lapar, maka ia akan diberi sufor. Bahkan saya pernah mendengar langsung dari praktisi medis di suatu rumah sakit ketika ia menenangkan si ibu yang kebetulan teman saya, bahwa sufor merk A akan membuat bayinya pintar. Ketika itu teman saya mengeluhkan bayinya yang selalu tidur saat dipertemukan dengannya, dan ketika bayinya asyik menyusu waktu pertemuan sudah berakhir. Menyedihkan ya? Padahal seharusnya para bayi hanya minum kolostrum saja dalam beberapa hari pertamanya. Tetapi pihak rumah sakit justru mengenalkan sufor untuk para bayi baru lahir tersebut.

Dengarkan Bidan, Abaikan Iklan dan Rayuan SPG Sufor

Di sini saya memang kurang mengerti di mana letak ketidak sinkronan antara perawat, dokter anak, dan bidan. Tapi perawat dan dokter anak kerap menghalalkan sufor bagi bayi, berbanding terbalik dengan bidan yang “mengharamkan” sufor bagi bayi. Ya, para ibu, dengarkan bidan Anda tentang betapa pentingnya ASI eksklusif untuk perkembangan fisik dan mental, bahkan masa depan anak Ibu, dan abaikan bujuk rayu iklan. Kita semua penting untuk menyadari bahwa semua kebaikan yang ditawarkan iklan sufor itu adalah segala kebaikan dan manfaat yang hanya dapat diberikan oleh ASI. Atau jika Anda tak ingin berpikir terlalu radikal seperti itu, pikirkanlah yang demikian, jika sufor bisa menjanjikan kebaikan dan manfaat sedemikian rupa? Bagaimana dengan yang diberikan ASI? Pasti jaaaauh lebih hebat lagi.

Satu lagi hal yang perlu diwaspadai para ibu, yaitu para SPG susu formula. Jika Ibu pernah berurusan dengan mereka, Ibu pasti tau betapa cerewetnya mereka. Bahkan beberapa SPG mengklaim rasa susu yang mereka jual sama seperti ASI, padahal tidak ada yang tau rasanya ASI kecuali bayi dan ibu yang bersangkutan. Jika Ibu memberikan sufor pada bayi Ibu, mungkin bantuan mereka akan diperlukan. Namun jika Ibu adalah pemberi ASI eksklusif, mereka cenderung terkesan seperti pemaksa ya Bu? Makanya, waspadai pula rayuan para SPG ini.

[To be continue]

Jumat, 27 Agustus 2010

seminggu lagi

Seminggu lagi,
ada apa ya seminggu hari lagi?
Hmmmmm......
apa coba???
Tujuh hari lagi abi faza datang, liburan sekalian lebaran bareng keluarga.
Alhamdulillah... akhirnya bisa lebaran bareng lagi setelah dua tahun berturut-turut merayakan idul fitri di tempat terpisah. Di momen seperti ini yang paling bahagia tentu anak-anak, karena mereka bisa kumpul-kumpul bareng keluarga dalam keadaan komplit ada umi-abinya. Biasanya kan, adaaa saja tatapan tersembunyi di mata mereka, ketika semua sepupunya berkumpul dengan umi-abi mereka, sedangkan anak-anak hanya bersama umi mereka. Sabar ya anakku... Allah kan Maha Penyayang dan tak akan meninggalkan kalian, :)

Cuti kali ini jaraknya cukup panjang. Kami harus menunggu selama enam belas minggu sebelum akhirnya berkumpul lagi. Enam belas minggu atau empat bulan setengah. Kalau single sih rasanya tak masalah, saya sendiri pun tak begitu mempersoalkan. Namun ketika berkeluarga, tentu rasanya jadi setengah berbeda. Kenapa setengah? Yaahhh... karena yang setengahnya lagi ya memang harus dirasakan karena Allah sudah mengaturnya begitu, jadi dinikmati saja ;)

Sedang setengah yang lain.... umm... faktor-faktor akibat terlalu lama berpisah, hehe... mungkin kebutuhan biologis bisa jadi nomor satu bagi para suami. Namun bagi para istri, kebutuhan psikologis justru biasanya menjadi faktor pemicu stress nomor satu. Secara perempuan kan biasanya butuh teman berbagi, teman ketawa, teman buat berkeluh-kesah, siapa lagi kalo bukan suami? Apalagi kalo kondisi sekitar tidak memungkinkan, seperti status saya yang notabene no bestfriends here (well... not really bad but sometimes it does stressed me out)...temen ada, tetangga banyak, tapi sebatas ok-ok friends, say hi and smile then bye kalo ketemu. Bukannya teman yang bisa diajak sharing apa aja atau hang out ke mana aja, atau bahkan bisa dititipin anak kalo pas lagi mendesak (hmm.. tapi kalo sekarang sih anak-anak juga ada pengasuhnya walo cuma temporer alias kalo pas lagi ada perlu aja). Yaah... gitu lah salah satu resiko tumbuh dan besar di kampung orang. Sekali balik ke kampung sendiri udah pada ga kenal orang, temen-temen yang biasa setia menemani juga udah jauh berpisah.. hmmm... melas banget :P

Balik lagi tentang menunggu lama, awal cerita suami harusnya sudah cuti di awal agustus lalu, tapi mengingat kami sudah dua tahun tidak berlebaran bersama, iseng-iseng suami coba ajukan pengunduran cuti hingga bisa disesuaikan dengan momen Idul Fitri, ga taunya Allah memang kasih rezeki buat sama-sama, dikasih lah itu izin pengunduran cuti. Padahal kita udah tawakkal aja dah waktu itu, soalnya mundurnya jauh banget sampe lima minggu. Untuk buruh tambang (eh hehe buruh tambang, sori bi) kaya dia sih pada dasarnya tidak dianjurkan, karena pastinya sangat mengganggu schedule cuti karyawan lain juga. Tapi ya itu tadi, alhamdulillaaaaah Allah tentuka "ya" (memang enak ya kalo minta langsung sama Yang Di Atas ^_^).

Dan jadilah kami semua harus menunggu lima minggu lagi dari cuti yang dijadwalkan. gapapa, yang penting anak-anak bisa lebaran sama abinya juga. Tapi yang agak repot menjelaskan dengan anak-anak, terutama si kakak. Walaupun belum mengerti konsep minggu dan bulan, tapi mereka sudah terbiasa dengan schedule 10 minggu atau paling lama 12 minggu, jadi ketika sampai waktunya, "alarm otomatis" di otak mereka bunyi tuh, wah ini waktunya abi datang nih... tapi kok malah dipostpone sampe 16 minggu lagi??? sehingga hampir setiap kali pesawat lewat di depan rumah, si kakak selalu teriak, "Miii!! Itu pesawatnya abi datang!!" atau, "Miii!! Itu pesawatnya lagi pergi jemputin abi!!" yang langsung disambut oleh lompatan membabi buta si adik. Wah, benar-benar kompak. Belum lagi "endless-why-questions" nya faza. Pertanyaan "kenapa" nya itu lo ga berhenti-berhenti sampai dia merasa sudah dapat jawaban yang (menurutnya) pas. Sedangkan saya pun kadang ga ngerti, jawaban seperti apa yang dia "mau". Seperti,
"Mi, kenapa abi kok belum datang?"
"Iya, soalnya abi belum libur."
"kenapa kok abi belum libur?"
"sebab abi masih kerja, belum waktunya libur."
"kenapa kok abi masih kerja, kok gak libur?"
"iya, karena jadwal liburnya abi mundur?"
"kenapa kok mundur-mundur?"
"iya, biar liburannya abi pas sama lebaran idul fitri."
"kenapa kok harus sama lebaran?"
"iya dong... biar enak nanti faza lebaran sama abi, kita bisa jalan-jalan ke mana aja. kalo cuma ada umi aja kan kita agak repot kalo mau pergi-pergi jauh."
"kenapa kalo ga lebaran sama-sama?"
"kalo ga lebaran sama-sama kan nanti ga rame. nanti sepi kalo lebaran ga da abi"
"tapi kenapa ko lebarannya lama?"
"iya, soalnya kan kita masih puasa dulu... habis puasa baru lebaran... nah kalo sudah mau lebaran baru abi libur.."
"kenapa abi ko ga puasa aja liburnya?"
"soalnya kalo abi libur pas puasa, nanti bisa-bisa pas lebaran abi udah balik kerja lagi, ga bisa lebaran sama abi kita nanti. Nanti faza sedih kalo pas lebaran semuanya kumpul tapi abi faza kerja.."
"tapi kapan abi datangnya..."
"sabar nak.... seminggu lagi ya..."
"seminggu lagi jam berapa?"
"nanti, masih tujuh hari lagi.. berarti faza harus tujuh kali tidur malam, sabar ya anak pintar..."
"kenapa kok..... bla bla blaaa..."

.....

Dan akhirnya, setelah penantian panjang, tinggal seminggu lagi deh. Tapi rasanya malah jauh lebih lamaaaaaaaa dibandingkan harus nunggu berbelas-belas minggu. Sepertinya waktu melambat :). Masalah lain adalah(bukan masalah sih sebenarnya, hanya pikiran ga penting yang sering saya anggap beban), ketika waktu cuti menjelang, saya justru jadi sangat sebal kalau ingat ini hanya akan berlangsung dua minggu. Setelah itu berpisah lagi, dan saya akan menemukan kehampaan yang sama setiap saat masuk ke rumah yang kosong sepulang dari bandara mengantarnya bekerja. Dan di hari-hari pertama, saya akan menyaksikan senyum yang tiba-tiba enggan singgah di bibir anak-anak, hanya tawa malas yang kadang singgah di saat mereka mencoba bermain-main untuk mengusir sepi.Whew.....

Tapi apapun kondisinya, Alhamdulillah, Allah menurunkan kebahagiaan buat kami, baik di saat bersama maupun kala jauh. Semoga kebahagiaan kami senantiasa berkah, Aamiin....

Bintang-bintangku yang gemerlap, sabar sedikit lagi yaaa.... seminggu lagi abi datang! ^_^

Senin, 19 Juli 2010

Umi sih, dibilangin kok...

Malam hari,
sebelum tidur..

"Mi, faza mau milo dong.."
"Ok... tunggu ya...."

Umi berjalan ke dapur membuatkan milo hangat untuk faza.

"Milonya ni kaka...."
"Makasih umi...!"

Si kaka minum milo, abis itu gelasnya dibiarkan di lantai. Umi setengah teriak dari meja kerjanya, "Faza... gelasnya taruh di bak cuci piring dong kalo sudah selesai...."
"iya mi..." sambil terus main nih si kaka,

Umi berjalan, menuju ke dapur, haus. Tiba-tiba... pyar..!!!
wah... nendang gelas faza deh.... tumpah sisa milonya.
"Faza...... kan umi sudah ingatin tadi abis minum taruh di bak cuci piring....."
umi stengah pengen marah tapi ditahanin.
"hmmm... hmmm... hmmmm...."
faza cuma nyengar-nyengir... "maaf mi....." lanjutnya sambil meringis.
selanjutnya, umi ngepel tumpahan susu.

Hari berikutnya.
Pagi-pagi.
Faza minum milo,
pas sudah selesai...
"Mi, tolong dong tarohkan di tempat cuci piring.."
"sini," umi meraih gelas, bukannya diletakkan di bak cuci piring, malah diletakkan di atas meja.
lalu asik ngetik lagi.
si ade datang, naik ke bangku, tangannya nyenggol gelas, tumpah lah sisa milo kaka. Untuuung tinggal sedikit. Umi kaget,
"Looh.... ade..... kaannn... tumpah deh jadinya.."
sambil cari tisu buat ngelap meja,
faza datang dari kamar, protes.
"bukan ade itu mi... umi sih tadi kan dibilangin taroh di bak cuci piring, kok malah ditaroh di meja..... hhffffhhhh......"
melengos pergi.

?????????????????????
wahh... kena deh .. whewww.....

Senin, 28 Juni 2010

Apparent Imperfection

~

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

A disciple is like a new moon,

In reality not different than the full moon:

Its apparent imperfection is a sign of gradual increase.

Night by night the new moon gives a lesson of gradualness:

with deliberation it says, 

"O hasty one, only step by step can one ascend to the roof."

A skillfull cook lets the pot boils slowly;

The stew boiled in a mad hurry is of no use.


~~~~~~~~~~~~~~~

Seorang pengikut itu seperti bulan baru,

Pada kenyataannya tidak berbeda dibandingkan bulan baru:

ketidaksempurnaannya yang jelas ialah tanda peningkatan bertahap.

Malam demi malam bulan baru menunjukkan kebertahapan:

dengan pertimbangan ia berkata,

"Wahai yang terburu-buru, hanya dengan selangkah demi selangkah orang bisa naik ke atas."

Juru masak yang terlatih membiarkan belanga mendidih perlahan-lahan,

karena rebusan yang dididihkan dengan terburu-buru tak ada gunanya.


-- Mathnawi VI:1208-1212
Version by Camille and Kabir Helminski
"Rumi: Jewels of Remembrance"
Threshold Books, 1996
(Persian transliteration courtesy of YahyĆ” Monastra)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku suka syair yang ini.

salah satu favoritku.

Hmm.. pada dasarnya sih aku memang lebih suka syair-syair Rumi yang singkat-singkat begini,

apalagi kalau bahasanya mudah, tidak terlalu banyak umm.... "sesuatu yang tersembunyi", makna-makna, istilah-istilah sastra yang memang gaaaaa kupahami sama sekali. Maklum, bukan jurusannya, mau belajar malas pula. Yah... inilah hasilnya pengagum amatiran. Mau menikmati tapi tidak mau menghayati dan mempelajari :P

Lagipula, jujur aku lebih suka menikmati syair-syair Rumi apa adanya, dengan terjemahan tekstual yang-sekali-baca-pikiranku-sudah-membayangkan-maksudnya-apa. Sehingga sesuai juga dengan level otakku, level mentalku, level imanku, level jahiliyahku... hehe.. jadinya kalau di luar levelku, aduh maaf, maaf, aku jadi tidak berani mengkaji lebih dalam. Takutnya salah menafsirkan, apalagi salah menyampaikan, yang makin fatal, karena salah mengintepretasikan akibatnya orang-orang pun salah mempersepsikan. Lebih baik WaLLahu a'lam bisshowab deh... aku kan termasuk plegmatic people, cari aman aja lah.. Di samping itu sufism bukan kajianku, bukan juga interestku, bukan juga hobiku... duh takut deh. Wah wah... alasan-alasan yang ku sebutkan lebih terdengar seperti apologi untuk boleh-menjadi-malas-saja, haha..

Sepertinya terlalu melebar ya? Balik lagi deh,

Hmm... syair ini,

mengingatkanku tentang, 'tidak ada hidup yang instan'

Ya, semua harus berproses. Tentu saja, hidup adalah rangkaian proses yang panjang, berulang, dan (terkadang) begitu melelahkan, sekaligus menyenangkan. Dan yang terpenting dari sebuah proses adalah tahap-tahapnya. Bagiku, tahapan/proses itu lebih penting dari pada hasil. Maksudnya, lihat prosesnya, jangan lihat hasilnya. Hasil boleh bagus, tapi proses mendapatkan hasil yang bagus itu seperti apa dulu? Atau... hasil boleh kacau, tapi prosesnya seperti apa dulu? manakah yang lebih berpengaruh pada jiwa seseorang, manakah yang lebih membekas pada jiwa seseorang? Hmmm... Anda tentu punya banyak contoh sendiri tentang proses dan hasil kan?

Dan satu lagi, bahwa kesalahan, kejatuhan, keterpurukan, kegagalan (atau sebut saja apapun itu) adalah bagian dari proses. Karena tanpa kesalahan, manusia tidak akan belajar untuk memperbaikinya, dan menghindarinya di lain waktu. Tanpa jatuh, manusia tidak akan belajar untuk bangkit... Seperti katanya Alfred pada Bruce Wayne di film Batman Begins ketika musuhnya, Ra's Al Ghul membakar rumah peninggalan orang tua Wayne. (loh kok mengutip film, bukannya mengutip hadits :P) Hal-hal semacam itu lah... yang banyak dianggap klise, tapi sesungguhnya (dan seharusnya) sangat bermakna. Kebanyakan orang menganggap kutipan-kutipan semacam itu sangat biasa, hingga nanti ketika mereka mengalami kejatuhan yang sesungguhnya. Hmm.. ini sih pengalaman pribadi juga, dulu aku termasuk orang yang meng-underestimate oleh apa yang disebut ' bangkit dari kegagalan' dan baru menyadarinya setelah merasakan suatu hal yang saat itu kusebut 'kegagalan'.

Jadi, apa yang disebut Rumi sebagai apparent imperfection ternyata justru merupakan signs of gradualness, dan tentu saja itu sangat benar. Aku jadi ingat putriku, ketika itu berusia 2 tahun, dan ia mulai memberikan amanah terhadap dirinya sendiri untuk mencoba makan sendiri, mandi sendiri, berpakaian sendiri, menyisir rambutnya sendiri.. melakukan banyak hal dengan dirinya sendiri dan tidak dibantu. Ia mulai menjadi a disciple (murid, pengikut, pembelajar), ia adalah new moon. Dan setiap tahap pembelajarannya yang apparent imperfection(dalam hal ini yang lambat dan oh... lebih sering membuatku dua kali lebih repot dari biasanya) menunjukkan peningkatan demi peningkatan. Tentu saja! Contohnya, hari ini ia memakai baju sendiri namun ia memintaku untuk mengancingkannya. Keesokan harinya, ia bilang ia bisa mengancingkan baju sendiri. Tapi, ia menghabiskan lima belas menit berkutat dengan jari-jari mungilnya yang berusaha menautkan kancing (kecil) bajunya di lubang yang benar. Membuatku tidak sabar memang, seolah-olah terasa seperti, 'ya udahlah sini umi bantu, sepertinya susah banget..' Mengemuka sekali kan kesan apparent imperfection nya, tapi idealnya para ibu tidak sepraktis itu kan dalam menghargai usaha keras anak-anaknya? Jadi aku menunggu beberapa hari, mendampinginya berpakaian, membimbingnya sedikit demi sedikit hingga suatu hari, tanpa kusadari, ia sudah bisa berpakaian lengkap dalam waktu kurang dari lima menit. Proses bukan?

Sebenarnya keseluruhan syair ini membahas tentang pentingnya sebuah proses. Dan terlihat jelas, seperti mendaki ke suatu tempat (yang tinggi) tentunya berasal dari satu langkah demi langkah. Dan yang membuat aku makin suka sama syair ini, Rumi mengingatkan aku pada dosen mata kuliah Pengolahan Migas (favoritku), Bapak Norhan Effendy, ketika ia mengatakan bahwa,

"A skillfull cook lets the pot boils slowly; The stew boiled in a mad hurry is of no use."

Kenapa demikian, karena Pak Norhan bilang, "Zat cair mencapai boiling point nya pada suhu di mana tekanan uap jenuh cairan tersebut sama dengan tekanan di atas permukaan zat cair tersebut. Jadi ketika (contohnya) mendidihkan air, yang harus dilakukan adalah mendidihkan hingga tercapai suhu boiling point nya. Memperbesar api tidak akan membuat air mendidih lebih cepat (tercapai bp nya), melainkan hanya akan mempercepat penguapan." Hmmm.. itu juga kan yang dimaksud Rumi? 'The stew boiled in a mad hurry is of no use'. Rebusan yang didihkan dengan terburu-buru sebenarnya 'belum mendidih', jadi tak ada gunanya kan? Lagi-lagi proses...


ps.

Memangnya ada, menafsirkan syair Sang Sufi dengan analogi batita dan air mendidih ya? Yaah... paling tidak itulah yang bisa kulakukan untuk berbagi keindahan syair ini. Hmmm... itulah seninya mencintai kesederhanaan, dan memahami dengan kesederhanaan. Semoga hasilnya tidak sesederhana kelihatannya yaa... aamiin..



 











Senin, 14 Juni 2010

Umi Keras kepala

Suatu hari, saya yang seorang full time mom, iseng-iseng liat lowongan kerja di satu harian. Tertarik. Banyak sekali perusahaan yang related dengan ijazah saya yang merekrut karyawan baru. Iseng-iseng, pagi itu saya tanya sam putri kecil saya, saat itu usianya hampir dua tahun. saya tanya, "Faza, umi boleh kerja ga?"
"hmmmm...... umi mau kerja?" ia malah balik bertanya. masih diam tak menjawab.
"iya, boleh ga?"
"hhmmmm..... hmmmm...."
"boleh ga....?" rayu saya.
"hmmmm..... umi mau kerja?" ia bertanya lagi seolah tak mempercayai pendengarannya.
"iya... faza bolehin ga umi kerja?"
"hmmm...... abi kerja..... umi juga kerja..... trus faza sama ade sama siapa...?"
tanyanya skeptis.
"hmmm... faza kan bisa sama nenek. nanti ade umi carikan nanny.... gimana, boleh ya...?"
"hmmm....."
"hmmmm..... boleh ga...?"
"engga boleh!" katanya. cukup tegas sih... hmmm...
Saya pun berhenti bertanya dan mencium kepalanya,
"hehehe... pintar anak umi!"

Siang hari, setelah story telling ketika dia hendak tidur siang, iseng-iseng saya bertanya lagi,
"Faza, umi boleh ga kerja?"
"buat apa?"
"ya buat faza juga, buat kita, biar faza bisa sekolah di sekolahan yang paling bagus,"
"hmm.... abi??"
"abi ya kerja juga..."
"hmmmm... ga boleh" tegasnya lagi.
Uh memang tidak boleh ternyata.
"kalau umi jalan-jalan boleh ga?"
"boleh..."
"umi jalan-jalan sendiri ga ajak faza emang boleh?"
"boleh"
"kalu gitu umi kerja ya...."
"ga boleh..."
"loh katanya umi boleh jalan-jalan...."
"iya.. jalan-jalan boleh.... tapi kerja ga boleh..."
"oh... gitu ya... ko bisa gitu?"
"iya... nanti faza sama siapa kalo umi kerja.."
"trus jadi umi gimana?"
"umi di rumah aja jaga faza sama ade..."
"trus yang kerja?"
"yang kerja abi aja....."

Sampai pada titik ini aku begitu terharu, rupanya putri kecilku sudah demikian dewasa dan mampu berpikir. Pada titik ini aku bertekad untuk mencurahkan segala pikiran, daya, dan upaya untuk mengoptimalkan pendidikan dini dan fondasi yang kkuat terhadap anak-anakku. Mengingat, dan menyadari mereka sangat bergantung padaku, sangat. Dan akulah andalan mereka, terlebih di situasi long distance yang kami jalani dengan ayahanda mereka. Faza...faza... Padahal usianya belum lagi dua tahun. Atau tepatnya, dua tahun kurang satu bulan. wah.. beda-beda tipis aja sih sebenarnya... soalnya aku ingat sekali, ketika itu si dede baru berusia dua bulan. Sedangkan jarak antara Faza dan adiknya adalah satu tahun sembilan bulan.

Tapi, ketika malam tiba, aku begitu tergoda untuk kembali mengganggunya dengan pertanyaan serupa. Sungguh ibu yang keras kepala dan 'sadis' ya? Jadi pertanyaan itu kudengungkan kembali di telinganya. Setelah baca doa dan ritual sebelum tidur lainnya, (garuk punggung, usap telinga, pijatan ringan, menyanyi, baca cerita, wah banyak), kupeluk ia dan kutanyakan lagi hal bodoh itu,
"faza, umi boleh kerja ga?"
kontan dia menatap mataku, lama. Tak ada jawaban keluar dari mulutnya. hanya suara "hhhhhhhhhhhhh......" yang panjang, ia melengos dengan pandangan tak percaya dengan apa yang barusan diedengarnya lagi (setelah seharian berdebat denganku dan ia pikir masalahnya sudah selesai). Ia memunggungiku dan TIDUR. Meninggalkanku sendiri dengan perasaan kagum, kaget, dan... wahhh.... aku tak menyangka 'akan dibeginikan'. Mungkin batin putriku, "ah, umi ku payah dan kepala batu. biar aja lah dia mau apa tar juga lupa sendiri"

Benar-benar ibu yang keras kepala.

adrie and faiz daisy path

Daisypath Anniversary tickers