Akhirnya sampai juga kami di Surabaya, begitu menjejakkan kaki di gerbang pulau Jawa ini kami langsung meneruskan perjalanan ke Jombang, tujuan utama silaturrahim ini, sudah tak sabar ingin memeluk guru kehidupan saya, Ibu Hj. Siti Romlah Aly.
Kami tak mengontak satu pun teman untuk menjemput dan mengantar ke Jombang, akhirnya armada resmi bandara jadi alternatif. Kami gunakan Trans Bandara yang saat itu berupa mobil Kijang Innova. Lumayan sesuai dengan tarifnya seharga Rp. 345,000,- yang dihitung sesuai jarak tempuh kendaraan. Kami keluar bandara pukul sebelas dan smpai di Jombang kira-kira pukul satu.
Jombang terkenal dengan kota santrinya, ribuan pondok pesantren tersebar di setiap desa dan kecamatan dalam radius yang tidak berjauhan. Jombang saat ini tentu saja jauh jauh lebih maju dibanding saat saya mondok 17 tahun lalu. Wah, lama sekali ternyata.. Tapi keadaan kotanya masih sama, saya masih mengingat beberapa spot dan jalur penting. Jalan-jalannya masih mudah diingat, dan yang mengesankan banyak bangunan-bangunan lama di pinggir jalan yg tidak dipugar. Rumah-rumah khas Jawa dengan campuran arsitektur berciri Belanda masih bisa dilihat di sana-sini. Rumah-rumah yang sejak dulu sudah saya lihat itu tentu saja membangkitkan kenangan dan nostalgia masa-masa nyantri di sana. Suatu hal yang saya ingin anak-anak saya kelak merasakannya.
Yang paling khas adalah Tebuireng. Anda akan melihat santri-santri berlalu lalang di mana-mana, dengan sarung dan koko, juga kopiah yang diletakkan setengah ke belakang memperlihatkan rambut poninya, mewakili santri putera yang terkesan gayaa, slengean, mungkin sedikit mokong, hahaha istilah itu, istilah kami dulu! Atau pula santri putera dengan sarung dan koko rapi, kopiah yang juga rapi, membawa kitab salaf berlembar kuning atau Qurannya, mewakili santri yang manis dan sholih. Yang membuat para santri putri mencuri-curi lirik. Ya indah dilihat, ya lucu, ya membuat dada berdesir (ketika itu!) hahaha.... tapi sekarang ketika saya melihat hal serupa terpampang di hadapan saya, justru air mata haru yang tergenang, dan sebaris doa semoga mereka santri-santri yang terberkahi ilmunya sehingga dapat membawa perubahan bagi Indonesia yang akhlaqnya sekarat ini. Sebaris doa semoga anak-anak saya menjadi bagian dari jamaah yang berkah ini, aamiin....
Saya menghabiskan tiga tahun di Pondok ini sambil bersekolah di Madrasah Aliyah Perguruan Muallimat, Cukir. Sebuah madrasah yang dikelola oleh Yayasan KH. Adlan Aly. Sepertinya orangtua saya sengaja menempatkan kami anak-anaknya di pesantrian kecil di sekeliling pesantren besar agar kami lebih mudah dibina, dikenal oleh pengasuh, dan lebih terarah dalam keseharian.
Sebelumnya saat sekolah menengah saya juga sudah nyantri di sekitar Tebuireng, tepatnya di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Khoiriah Hasyim, lebih dikenal dengan sebutan Pondok Seblak. Pastinya akan ada cerita-cerita khusus untuk pesantren-pesantren tersebut. :)
Teriring doa untuk para Kyai dan Nyai pengasuh kami, semoga Allah melimpahkan Rahmat kepada beliau semua, Aamiin.... Al-fatihah!
Kami tak mengontak satu pun teman untuk menjemput dan mengantar ke Jombang, akhirnya armada resmi bandara jadi alternatif. Kami gunakan Trans Bandara yang saat itu berupa mobil Kijang Innova. Lumayan sesuai dengan tarifnya seharga Rp. 345,000,- yang dihitung sesuai jarak tempuh kendaraan. Kami keluar bandara pukul sebelas dan smpai di Jombang kira-kira pukul satu.
Jombang terkenal dengan kota santrinya, ribuan pondok pesantren tersebar di setiap desa dan kecamatan dalam radius yang tidak berjauhan. Jombang saat ini tentu saja jauh jauh lebih maju dibanding saat saya mondok 17 tahun lalu. Wah, lama sekali ternyata.. Tapi keadaan kotanya masih sama, saya masih mengingat beberapa spot dan jalur penting. Jalan-jalannya masih mudah diingat, dan yang mengesankan banyak bangunan-bangunan lama di pinggir jalan yg tidak dipugar. Rumah-rumah khas Jawa dengan campuran arsitektur berciri Belanda masih bisa dilihat di sana-sini. Rumah-rumah yang sejak dulu sudah saya lihat itu tentu saja membangkitkan kenangan dan nostalgia masa-masa nyantri di sana. Suatu hal yang saya ingin anak-anak saya kelak merasakannya.
![]() |
| Main Gate of TBI #foto from ponpesoftheday |
Yang paling khas adalah Tebuireng. Anda akan melihat santri-santri berlalu lalang di mana-mana, dengan sarung dan koko, juga kopiah yang diletakkan setengah ke belakang memperlihatkan rambut poninya, mewakili santri putera yang terkesan gayaa, slengean, mungkin sedikit mokong, hahaha istilah itu, istilah kami dulu! Atau pula santri putera dengan sarung dan koko rapi, kopiah yang juga rapi, membawa kitab salaf berlembar kuning atau Qurannya, mewakili santri yang manis dan sholih. Yang membuat para santri putri mencuri-curi lirik. Ya indah dilihat, ya lucu, ya membuat dada berdesir (ketika itu!) hahaha.... tapi sekarang ketika saya melihat hal serupa terpampang di hadapan saya, justru air mata haru yang tergenang, dan sebaris doa semoga mereka santri-santri yang terberkahi ilmunya sehingga dapat membawa perubahan bagi Indonesia yang akhlaqnya sekarat ini. Sebaris doa semoga anak-anak saya menjadi bagian dari jamaah yang berkah ini, aamiin....
Ponpes yang akan saya kunjungi adalah Pondok Pesantren Darul Falah II, sebuah pondok pesantren kecil nan hangat di sudut masid Jami' Cukir, dirintis oleh KH. Aly Ahmad dan kemudian dikembangkan oleh dzurriyatnya hingga menjadi lima pesantren berbasis kutubus salaf, kemudian jenjang pendidikan formal yang lengkap sejak Raudhatul Athfal, Tsanawiyah, dan Aliyah, juga akan menyusul SDIT Darul Falah.
![]() |
| Para Pengasuh PP. Darul Falah di depan gedung baru SDIT Darul Falah |
Saya menghabiskan tiga tahun di Pondok ini sambil bersekolah di Madrasah Aliyah Perguruan Muallimat, Cukir. Sebuah madrasah yang dikelola oleh Yayasan KH. Adlan Aly. Sepertinya orangtua saya sengaja menempatkan kami anak-anaknya di pesantrian kecil di sekeliling pesantren besar agar kami lebih mudah dibina, dikenal oleh pengasuh, dan lebih terarah dalam keseharian.
Sebelumnya saat sekolah menengah saya juga sudah nyantri di sekitar Tebuireng, tepatnya di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Khoiriah Hasyim, lebih dikenal dengan sebutan Pondok Seblak. Pastinya akan ada cerita-cerita khusus untuk pesantren-pesantren tersebut. :)
Teriring doa untuk para Kyai dan Nyai pengasuh kami, semoga Allah melimpahkan Rahmat kepada beliau semua, Aamiin.... Al-fatihah!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar