Kamis, 22 September 2011

Putriku Yang Melankolis

Pagi tadi saya mengantar Faza ke sekolah dan menunggunya beberapa saat. Ia senam bersama teman-temannya. Saat senam, ia terlihat bercanda dengan beberapa temannya. Ketika waktunya kembali ke kelas, teman-temannya terlihat meninggalkannya dan ia sendiri. Memakai sepatunya sendiri dan pergi ke kelas sendiri… Memang, dalam beberapa kali mengantar-jemputnya, sering sekali saya perhatikan ia melakukan apa-apa sendiri. Terkadang teman-temannya datang bermain berpasang-pasangan dan ia tak ada di salah satu grup/pasangan manapun. Hanya ia dan dirinya sendiri.

Tiba-tiba saya merasa khawatir…. Melihatnya seperti itu seperti melihat diri saya sendiri di masa lampau, seperti melihat diri saya sendiri yang berperan di sana. Dan saya khawatir akan itu, sangat khawatir, mungkin bahkan saya takut dia akan jadi seperti saya.

Saya adalah penyendiri. Seingat saya, sejak tk saya sudah memutuskan untuk lebih suka bermain-main dengan pikiran sendiri, sehingga saat itu, saya hanya punya satu teman akrab, namanya Widyawati, entah di mana ia sekarang. Kemudian ketika SD, Tsanawiyah, Aliyah, suasana sekolah masih tak mengubah keadaan itu. Tinggal di pondok pesantren memang membuka lebih banyak hubungan sosial bagi saya, terlebih di dalam satu kamar yang suasananya sudah lebih mirip rumah dan keluarga sendiri. Namun di sekolah, saya masih penyendiri, lebih suka nongkrong di perpustakaan dan membaca apa saja yang ada.

Ketika tidak sedang membaca, saya ngobrol dengan teman-teman yang tidak terlalu popular, seperti mereka yang juga pendiam seperti saya, mereka yang terlalu kalem untuk berbicara banyak…. Ada kalanya juga saya lama tidak ke perpus, misalnya kehabisan bacaan atau asyik dengan Koran dan mading, atau saat sedang musim permainan seru seperti galasin, saya pasti ikut. Jika tidak, lagi-lagi saya lebih suka mendekam di dalam kelas dan baca kamus yang hampir selalu saya bawa-bawa meskipun bukan waktunya pelajaran bahasa Inggris.

Saya tidak sepintar itu. Bisa dibilang saya malah tidak sepintar teman-teman yang lain. Saya bawa kamus setiap hari hanya karena saya cinta bahasa Inggris, dan supaya saya tau arti dari lagu yang sering saya nyanyikan. Dan mengapa saya ke perpus hampir setiap hari? Itu karena saya merasa menemukan dunia saya di sana. Saya bisa menikmati keindahan sastra ketika saya baca puisi, saya bisa tenggelam dalam emosi seseorang ketika sedang membaca novel, saya bisa menemukan ternyata begitu banyak pertanyaan aneh dalam benak saya ketika mencoba membaca buku-buku filsafat, saya bisa melakukan perjalanan menyenangkan melalui ensiklopedi dunia, dan terbang ke ruang angkasa atau menyelam ke dalam laut, menyelusup ke dalam bumi lewat gambar-gambar dramatis di ensiklopedi sains. Begitu banyak hal yang bisa diberikan sebuah buku pada saya, bagi saya. Dan itulah yang membuat saya ketagihan. Dunia saya ada di sana, menurut saya. Tetapi itu juga yang mungkin memisahkan saya dengan dunia nyata. Sepertinya…. Dan bukan saja soal buku, hal lain seperti bepergian misalnya, ketika semua teman berkeberatan pergi ke suatu tempat sendiri, saya tak pernah keberatan jika saya harus pergi tanpa teman. Rasanya saat itu pikiran saya hampir selalu sibuk sehingga seolah-olah dunia saya sudah ramai tanpa harus saya tambahkan seseorang untuk menemani. Lalu setelah saya dewasa, saya kerap berintrospeksi diri bahwa mungkin karena saya selalu penyendiri makanya Allah beri saya karunia Long Distance Marriage.

Ketika beberapa teman ditanya, mungkin banyak di antara mereka yang tidak setuju bahwa saya pendiam. Kebanyakan kesan yang saya terima bahwa saya ceriwis, manja, jutek, sok tau, cenderung rame malah. Mungkin itu dari mereka yang benar-benar dekat dengan saya. Mereka yang memberi saya kesempatan untuk menikmati keberhargaan sebuah pertemanan dan manisnya persahabatan. Namun saya sangsi apakah ada yang pernah memperhatikan bahwa pada dasarnya saya kesulitan membaur, bahwa saya akan berpikir seratus ribu kali hanya untuk memulai percakapan dengan seseorang tanpa resiko tidak disenangi atau tidak membosankan. Saya banyak bicara, jika saya menemukan kenyamanan dengan orang-orang tertentu. Permasalahannya bahwa saya tak mudah nyaman dengan orang. Saya tak ingin seperti itu, tetapi itulah problema saya. Saya bisa berbicara di depan audiens dan mengarahkan sesuatu, namun saya tak cukup yakin menghadapi per-personal. Saya bukan pemilih dalam berteman, namun sulit memulainya. Dalam tahap ini rasanya cukup mengerikan dan tidak dewasa. Namun itulah saya. Saya kagum dengan orang-orang yang supel yang bisa berbicara dengan santai kepada siapa saja. Sedangkan saya, saya terlalu penuh pertimbangan. Ketika dalam keramaian dan menghadapi banyak orang, suara negative dalam benak saya kerap menggaung-gaungkan kekhawatiran apakah saya diterima dengan baik, apakah saya terlihat oke, apakah orang tidak tersinggung dengan apa yang saya bicarakan, apakah orang lain menyukai topik yang saya kemukakan… bla bla bla. Kebanyakan karena saya tidak punya rasa percaya diri yang adekuat untuk percaya bahwa orang lain akan mendengarkan saya. Sehingga pada akhirnya saya memang kerap sendiri dalam keramaian.

Dan itu yang saya lihat pada diri putri saya. Setelah pagi itu, malamnya saya tanyakan padanya,

“Faza, siapa aja teman Faza di sekolah?”

“emmm…. Dimas, Zaky, Zakiyah, Inayah, Nayla….”

“terus?”

“emmm… Vio…, terus siapa lagi ya Jaju ga hafal.”

“terus Jaju suka mainnya sama siapa?”

“emmm….. ga tau.. ya kadang-kadang Nayla…. Inayah… Jaju juga suka main sama Dimas..”

“kok kadang-kadang? Memang Jaju ga tiap hari main sama teman-teman?”

“iya.”

“kenapa? Biasanya Inayah kan main sama Jaju..”

“iya tapi engga.”

“engga..?”

“iya, Inayah ga suka main sama Jaju.”

“loh… memangnya Jaju tau Inayah ga suka main sama Jaju? Jaju ga asik kali jadi Inayah males main sama Jaju..?”

“Inayah sukanya main sama Nayla.”

“oh ya? Jangan-jangan Jaju suka suruh-suruh kali?”

“engga, ngga pernah..”

“sama teman yang lain?”

“engga… Jaju ga suka ngobrol.”

“Jaju ga suka ngobrol?”

“iya, Jaju ga suka…”

“kenapa? Kan asik ngobrol sama temen rame,”

“hemmm…. Engga mi, Jaju tapi ga suka ngobrol. Jaju sukanya sendiri.”

“Jaju suka sendiri?”

“iya.”

“apa enaknya sendiri, kan sepi?”

“ya atau Jaju ngobrol sama ibu guru..”

“Jaju suka ngobrol sama ibu guru?”

“iya. Jaju suka, apalagi sama ibu Tari Jaju suka.”

“Kalo bu guru lagi sibuk Jaju ngapain?”

“ya duduk-duduk aja.”

“sama siapa?”

“ya sendiri aja. Jaju sukanya kan sendiri.”

“terus ngapain Jaju sendiri? Main puzzle mungkin? Jaju kan suka puzzle.. Atau gambar gambar?”

“engga. Puzzle di sekolah bau, Jaju juga ga suka.”

“loh jadi ngapain?”

“ya Jaaju liatin teman-teman aja.”

“ngapain Jaju liatin teman-teman?”

“ya liatin aja, kadang teman Jaju itu lucu-lucu. Ada yang jatuh, kemaren ada yang dorong-dorongan, ada juga teman Jaju yang bawa dodot ke sekolah.”

“oh ya?”

“iya. Kenapa sih umi Tanya-tanya terus?”

“gak papa sih… umi Cuma khawatir aja faza ga punya teman.”

“ada kok temen Jaju mi, tapi Jaju ga suka ngobrol aja.”

Oh putriku yang melankolis…. Kau mengingatkan umi betapa seringnya umi dulu mengatakan, dan menuliskan, “Silence is Gold, and Solitude is Precious Time for Precious Thinking” Semoga saja kelak kau tidak kesulitan membaur dengan lingkungan walaupun kau tidak suka mengobrol dan lebih suka mengamati dari jauh. Semoga dengan demikian Allah menjaga lisanmu dari mengucapkan yang tidak bermanfaat, menjaga pendengaranmu dari mendengarkan yang tidak bermanfaat, menjaga hatimu dari pikiran dan prasangka yang tidak bermanfaat, aamiin…

Umi hanya khawatir kau sulit menemukan tempatmu di antara orang banyak, umi khawatir kepercayaan dirimu terkikis oleh kesendirian ketika keyakinan akan dirimu dipertanyakan (oleh dirimu sendiri kelak) berdasarkan banyaknya teman yang berdiri di sampingmu. Sebagaimana yang pernah umi rasakan, karena sungguh ketika kita tak mudah berteman nak, itu sesuatu yang tidak mengenakkan.

Rabb Yang Maha Pengasih dan Penyayang, doa hamba jadikanlah anak-anak kami anak yang sholih dan berguna, yang Engkau sayangi dan disayangi hamba-hambaMu yang sholih, aamiin…

Selasa, 16 Agustus 2011

Sepetak Kesadaran

Mungkin ini sudah malam ke enam puluh sekian di mana aku tidak lagi terbiasa memanjakan mata dengan langit malam yang penuh bintang dan bias bulan. Rasanya sudah terlalu lama kebiasaan itu berlalu sehingga malam ini, tepat pertengahan Ramadhan ketika purnama sedang bulat-bulatnya, aku membuka pintu sekedar mengecek keadaan dan mendapati diriku tertegun di depan pintu, diam terpana memandang purnama yang lama tidak kusaksikan dengan khidmat. Rasanya mataku terpatri di sana dan enggan berpaling kalau bukan karena udara kering angin dingin yang menusuk sampai ke tulang. Akhirnya kututup lagi pintu dan memilih memandanginya lewat jendela walaupun kesannya tak seindah kalau melihat langsung.

Terdengar dramatis mungkin, tapi yaaa! Aku memang selalu jatuh cinta pada langit. Memandangnya, juga benda-benda di sana, bulan, bintang, planet, awan, bahkan matahari yang redup membuatku lebih mudah menghadapi hidup, mengajarkanku untuk lebih banyak bersyukur dan membumi. Karenanya lama tak memandang bulan saja cukup membuatku rindu.

Singkatnya, bukan karena dipingit suami atau apa, tapi agenda ke teras saat malam dan ngedate dengan bulan sambil ngeteh/ngopi kutiadakan sejak tetangga membangun rumah baru di halaman samping rumah. Sampai saat ini penyelesaiannya tinggal tiga puluh persen lagi, dan rumah baru bertingkat yang menjulang arogan itu tentu saja menghalangi rumahku dari pepohonan yang menyegarkan, dan tentu saja langit terbuka dengan segala atributnya di atas sana. Ma sya Allah…..

Aku masih ingat menitikkan air mata ketika menyaksikan sekelompok kutilang dan pipit berdatangan ke sepetak tanah di samping rumah. Mereka hinggap di satu-satunya semak-semak kering yang tersisa. Beberapa berpandangan bingung dan beberapa yang lain mematuk-matuk tanah mencari apapun yang tersisa untuk dimakan, setelah itu mereka terbang menjauh dan tak pernah lagi kulihat hingga saat ini. Burung-burung itu tak pernah lewat lagi, apalagi singgah. Karena sejak hari itu tempat mereka penuh orang-orang yang menyusun batu-batu tinggi ke atas, membawa pasir dan mengaduk-aduk semen yang partikel-partikel kecilnya beterbangan di udara hingga masuk ke saluran pernafasan.

Sepetak tanah berukuran empat kali tujuh meter itu tadinya seperti surga. Paling tidak di tengah pemukiman padat yang tanahnya berganti semen dan aspal dan pohon-pohonnya berganti dengan bunga-bunga kecil di pot di halaman/teras yang sekedarnya. Lansekapnya miring khas daerah perbukitan, petak itu diapit oleh rumah-rumah beton di kanan kiri depan belakangnya. Rumahku terletak di sisi kanannya, sedangkan pemilik petak tinggal di rumah di sisi kiri dan agak menuruni bukit. Kebetulan Si empunya tanah adalah pemilik rumah yang kutempati saat ini, juga dua rumah lainnya di deretan yang sama.

Di petak yang tadinya hijau itu tumbuh beberapa pohon, ada dua batang pohon mangga baru setinggi orang dewasa, dua batang pohon lengkeng setinggi kurang lebih tiga meter, dan tepat di depan jendela kamar anak-anak berdiri kokoh sebatang pohon sawo yang berbuah lebat, juga pohon mangga yang sudah tiga kali dipanen. Di sudut yang lain ada rumpun salak yang lebat, dan tanahnya tertutupi oleh rumput hijau yang segar, rumpun-rumpun kenikir yang bunganya kontras dengan bunga-bunga di rumpun seruni yang berselang-seling menjalari rumput. Bunga-bunga itu membawa kupu-kupu terbang di sekelilingnya, sering pula lebah dan tawon berdengung-dengung meningkahi cericit burung-burung yang datang. Memang setiap pagi sekelompok burung kutilang dan pipit bergantian menguasai petak itu, biasanya kutilang datang lebih pagi daripada gerombolan pipit bersaing dengan ayam-ayam yang sudah berkokok-kokok sejak pagi dan kalau malam memang menghuni sawo itu untuk tidur. Tak jarang burung-burung merpati tetangga juga lewat walaupun tidak sering singgah. Sepertinya para binatang ini punya teritorinya masing-masing. Lucu dan menakjubkan juga. Belum lagi jadwal patrol malam oleh kelelawar-kelelawar yang begitu jeli menemukan sawo-sawo manis mereka.

Membayangkannya saja rasanya indah, apalagi memandanginya setiap hari, dan melebur di dalamnya merasakan angin sejuk beraroma tanah lembab yang disinari matahari pagi, angin segar beraroma daun di siang hari, angin sepoi dengan langit biru terbuka di sore hari, dan angin dingin malam hari yang kontras dengan kerlip bintang yang ramah dan cahaya bulan yang terkesan hangat. Tadabbur alam setiap hari kalau boleh dibilang. Sehingga ketika kehilangan semua itu (yang memang bukan benar-benar milikku), rasanya seperti kehilangan sesuatu dari dalam jiwa dan merasa bodoh di saat yang sama karena tidak berdaya melakukan apapun.

Akhirnya demi sebuah istilah bernama passive income yang sedang jadi business trending akhir-akhir ini, semua itu tidak bisa lagi dinikmati, baik olehku, oleh anak-anakku yang juga belajar dari sepetak tanah hijau itu, dari hewan-hewan yang semua sumber makanannya di sana, bahkan mungkin dua-tiga orang tetangga yang kerap memanen kenikir atas izin pemiliknya, untuk kemudian dijual dan menjadi sedikit tambahan penghasilan mereka. Subhanallah, banyak sekali sebenarnya passive income akhirat dari sepetak tanah empat kali tujuh meter itu, sungguh sebenarnya tak sebanding dengan materi yang mungkin akan diraup si pemilik. Belum lagi oksigen murni yang dihasilkan setiap helai daunnya, yang akan dihirup oleh setiap orang di sekitar lingkungan itu, setiap hari setiap waktu, bukankah itu juga jadi shadaqah? Ma sya Allah…. Indahnya kalau kita mau memikirkan…

Dan sekarang yang ada hanya debu dan udara kering yang panas.

~~~~~

Dari Jabir RA berkata, Rasulullah SAW bersabda,

“Tidak seorang muslim pun yang bercocok tanam, melainkan setip tanamannya yang dimakan atau dicuri orang, atau dimakan binatang liar, atau dimakan burung, atau hilang, niscaya semuanya itu menjadi shadaqah baginya.”

HR. Muslim

Selasa, 05 April 2011

Empati Untuk Kelomang

Suatu pagi dalam perjalanan ke pasar melewati sebuah kompleks sekolah dasar, aku dan anak-anak berpapasan dengan seorang ibu penjual kelomang. Ia menawarkan jajaannya kepada kami sementara kami tetap berlalu, sampai aku sadar bahwa Faza telah menarik tangan ku karena ternyata ia masih memperhatikan apa yang dijual ibu tersebut. Aku mengikutinya kembali ke tempat si penjual berdiri di tepi gerbang sekolah dan Faza bertanya lirih, "apa itu yang dia jual Mi?"

Ya! Ibu itu menjual kelomang laut hidup yang entah didapatnya dari mana, mungkin pantai-pantai di Handil atau Samboja, karena pantai-pantai Balikpapan kebanyakan sudah kehilangan salah satu biota laut jenis ini. Kelomang-kelomang itu ditampung dalam sebuah ember tanggung berwarna oranye, yang diisi pasir dan potongan-potongan kubis. Ember itu penuh hingga tiga perempat bagiannya, dan di atasnya berjejer plastik-plastik transparan berisi dua hingga enam ekor kelomang aneka ukuran.
"berapa?" tanyaku bermaksud membuka penawaran.
"satu bungkus seribu." jawabnya.
"seribu??" tanyaku lagi.
"iya, kalo yang kecil-kecil isinya enam, kalo yang besar-besar isinya dua atau tiga. Pilih aja!"
Aku lalu mengambil satu bungkus berisi enam kelomang kecil, membayar seribu rupiah, dan memberikannya ke tangan Faza.
"ini kubisnya untuk apa? makanannya?" tanyaku iseng.
"iya, bisa juga." jawabnya sekenanya.
"emang bisa dia makan kubis?"
Si penjual tersenyum dan bilang, " yaah itu sih akal-akalan saya aja, sekalian buat hias-hiasan. mungkin makanannya bisa apa aja." katanya.
"oh yaaa...." aku menimpali. Kami pergi setelah mengucapkan terima kasih. Kali ini, sepanjang perjalanan Faza tak henti-hentinya mengamati kelomang-kelomang barunya.

Kami baru membuka bungkus kelomang itu setelah pulang dari pasar. Kami berkumpul mengelilingi baskom putih besar dan melepaskan binatang-binatang itu di dalamnya. Anak-anak menjerit-jerit senang! Ini pertama kalinya mereka benar-benar bermain dengan kelomang laut. Kami memang sering ke pantai, tapi tak seperti ketika aku kecil dulu, rupanya kelomang-kelomang laut sudah enggan singgah ke pantai-pantai kami, mungkin terlalu banyak manusia, atau sampah, atau karena kawan-kawan mereka banyak yang diculik, ya seperti yang berakhir di baskom kami ini!

Kami menjalankan kelomang-kelomang itu di teras. Kentara sekali mereka frustasi karena langsung berlarian lambat tak beraturan ke sana kemari dan saling tabrak. Kami juga meletakkannya di telapak tangan dan Faza tertawa kegelian saat si kelomang berjalan merambat di telapak mungilnya. Ketika dikembalikan ke baskom, mereka berusaha saling memanjat naik. Seperti biasa, Nabigh ikut bersenang-senang namun sedikit menjaga jarak dari binatang-binatang itu, dia takut!! Namun Faza mengoceh mengapa kelomang punya capit seperti kepiting sementara 'sesuatu yang bercangkang seperti kelomang' yang dilihatnya di buku tak punya capit dan punya badan lembek seperti ulat. Tentu saja itu adalah siput dan yang kami pegang sekarang adalah kelomang.

Tak lama bagi Faza untuk menyadari dua dari enam kelomangnya sejak tadi hanya diam tak bergerak. Ia mengambil salah satu keong diam itu dan menyerahkannya padaku. "Mi, ini na kenapa dia kok gak jalan-jalan?" tanyanya.
Aku meniup bagian bawah kelomang itu berharap ia menggerakkan capit-capitnya. Tetap tak ada repon. Hal yang sama kulakukan pada kelomang kedua, yang ternyata juga tak bereaksi. "Yaaahhh.... kelomangnya mati Fazaaaa...!" seruku setengah mengeluh.
"Haaa??? Matiiii......??? Kenapaaaa...??" tanyanya histeris.
"Ya kelomang kan tinggalnya di laut. Mungkin dia sudah terlalu lama di darat jadinya kepanasan, ga ada air, ga ada makanannya, atau mungkin dia ga bisa nafas pas tadi disimpan di tas umi." jelasku.
"Iiihh... iya, dia mati mi.... kasiannya.... dia pasti sakit ga bisa makan...."
Ia mengamati kedua kelomang mati itu di tangannya yang mungil, meletakkannya, lalu berlari ke dalam rumah. Ketika ia kembali, ia menggenggam segumpal nasi putih di dalam tangannya. "Ayo mi, kita kasih makan kelomangnya, biar dia ga sakit!" ia berseru.
Ia lalu meletakkan butiran nasi itu di lantai dan mengangkat kelomang-kelomang yang masih hidup di sekitar nasi-nasi itu. Nasinya lengket di antara capit-capitnya, dan si kelomang terlihat "bermain" dengan butiran nasi itu, entah bermaksud memakannya, atau malah bermaksud melepaskan diri dari nasi-nasi lengket itu.

Roman muka Faza berubah memelas, "yaaahh dia ga mau makan nasi....." keluhnya. Si adik ikut-ikutan ber-yaaahhh....
"Mungkin nasinya terlalu besar untuk mulutnya yang kecil" aku mencoba menghiburnya.
"oh iya... pasti nasinya kebesaran! Jadi dia makan apa dong biar ga kelaparan?" tanyanya lagi.
"Hmmm.... apa yaaa..... kalo di laut dia makan plankton... tapi apa ya yang bisa kita kasih ke dia? aku malah balik bertanya.
"dia makan apa?"
"plankton."
"pank... apa?"
"plankton."
"pankton?? apa itu??"
"plankton itu binatang atau tanaman di laut yang bentuknya keciiiiiillll sekali!" kataku sambil menyatukan jempol dan kelingking mengisyaratkan bentuk terkecil yang pernah ada.
"Faza ga tau ada pankton di laut?" tanyanya penasaran."
"Iyaaa... itu karena plankton kan terlalu kecil jadi mata Faza ga liat."
"ooohhh..." katanya. Si adik ikut be-ooohhh.
"Kalo kelomangnya besar dia bisa makan udang kecil sama kelapa juga!" aku menambahkan.
"tapi ini kelomangnya kecill......" Faza menunjukkan wajah prihatinnya lagi.
"hmmm....."

Tiba-tiba.....

"Mi!! Tangan Faza bau amis! Kaya bau ikan!!" serunya sambil mengendus kedua tangannya.
"Iya.... kan Faza pegang kelomang yang mati itu, makanya jadi ikut bau amis juga."
"Kenapa bau amis???"
" Ya kan kelomangnya tinggal di pantai, di laut, sama kaya ikan. Kalo kelomangnya mati ya jadi bau amis juga, sama kaya ikan..."
" umiii.......... kasiannya dia...!!! Pasti nanti dia sakit, dia kelaparan, ga bisa makan, ga da makanannya di sini.... kasiaaannnn....." wajahnya tampak semakin memelas.
"terus???"
"kita taroh di pantai aja mi kelomangnya, biar dia bisa makan...."
"taroh di pantai?"
"iya mi.... sebelum dia ikut mati juga...."
"memangnya ga papa ditaroh di pantai, Faza ga papa sebentar doang main sama kelomangnya?"
"iya... kasian dia mi, kelaparan...."

Dan diskusi itu berlanjut terus tentang misi pengembalian kelomang ke pantai, dan bahwa kami tidak bisa memberi makan yang layak buat si kelomang, dan sebagainya, dan sebagainya. Aku mencoba memberi opsi untuk melepas si kelomang di pekarangan samping rumah, tapi kenyataan bahwa di sana tempat tinggal para ayam membuat Faza khawatir ayam-ayam itu malah mematuk kelomang-kelomang malang itu. Opsi lain yang kutawarkan adalah melepas kelomang-kelomang itu di parit besar di depan rumah sepupunya, ia tak berargumen kali ini, hanya memasang tampang sedih dengan mata merah hampir menangis. Ah kalau sudah begini, pastilah satu-satunya opsi hanya mengantarkan kelomang-kelomang ini kembali ke habitat asalnya. Dan ketika kusetujui, Faza memberi jawaban dengan satu senyuman termanisnya.

Sore harinya dari kamar depan, aku bisa mendengarnya berkata kepada kelomang-kelomangnya di teras, " Sabar ya kelomang.... umi shalat dulu, habis ni kita ke laut yaa......"

Dan kami pun pergi di sore yang berawan itu. Tujuan kami ke Pantai Kemala, tempat kami biasa berenang, atau sekedar makan-makan. Sesampainya di sana, aku mengeluarkan kelomang-kelomang itu dari pembungkusnya, dan memberikannya satu-persatu ke tangan Faza. Ia melepasnya dekat dengan garis ombak, tempat di mana ombak bisa menyapu apa yang ia terpa. Satu-persatu kelomang-kelomang itu berguling dan terseret ombak. Dua kelomang lari ke arah daratan, dan kami mengembalikannya lagi ke ombak. Faza tampak sangat senang. Sayang adik tak pergi bersama kami, kalau tidak ia pasti juga senang melihat kelomang-kelomang itu pulang. Faza masih memandangi kelomang-kelomang itu ketika ia berkata padaku,
"Mi, sekarang dia sudah senang...."
"iya.... semua orang kan senang pulang, kelomang juga senang ada di rumahnya...!" hiburku sambil merangkul bahunya.
"ayo kita pulang sekarang?" ajakku membujuk.
"ayo! da daah kelomanggg..... da daaaahhhh!!" serunya sambil melambai ke arah kelomang-kelomang yang hilang terbawa ombak itu.

Ah naakk..... empatimu membuat keadaan begitu dramatis!! Dan mungkin juga mengundang tanya orang-orang yang memandangi kami dari kejauhan. "Ngapain tuh ibu dan anak 'melarung sesuatu' di sore yang gerimis kaya gini??"

Yaa! Kami memang melarung sesuatu, kami melarung kelomang!! :D

adrie and faiz daisy path

Daisypath Anniversary tickers