Tampilkan postingan dengan label nostalgia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nostalgia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2011

Putriku Yang Melankolis

Pagi tadi saya mengantar Faza ke sekolah dan menunggunya beberapa saat. Ia senam bersama teman-temannya. Saat senam, ia terlihat bercanda dengan beberapa temannya. Ketika waktunya kembali ke kelas, teman-temannya terlihat meninggalkannya dan ia sendiri. Memakai sepatunya sendiri dan pergi ke kelas sendiri… Memang, dalam beberapa kali mengantar-jemputnya, sering sekali saya perhatikan ia melakukan apa-apa sendiri. Terkadang teman-temannya datang bermain berpasang-pasangan dan ia tak ada di salah satu grup/pasangan manapun. Hanya ia dan dirinya sendiri.

Tiba-tiba saya merasa khawatir…. Melihatnya seperti itu seperti melihat diri saya sendiri di masa lampau, seperti melihat diri saya sendiri yang berperan di sana. Dan saya khawatir akan itu, sangat khawatir, mungkin bahkan saya takut dia akan jadi seperti saya.

Saya adalah penyendiri. Seingat saya, sejak tk saya sudah memutuskan untuk lebih suka bermain-main dengan pikiran sendiri, sehingga saat itu, saya hanya punya satu teman akrab, namanya Widyawati, entah di mana ia sekarang. Kemudian ketika SD, Tsanawiyah, Aliyah, suasana sekolah masih tak mengubah keadaan itu. Tinggal di pondok pesantren memang membuka lebih banyak hubungan sosial bagi saya, terlebih di dalam satu kamar yang suasananya sudah lebih mirip rumah dan keluarga sendiri. Namun di sekolah, saya masih penyendiri, lebih suka nongkrong di perpustakaan dan membaca apa saja yang ada.

Ketika tidak sedang membaca, saya ngobrol dengan teman-teman yang tidak terlalu popular, seperti mereka yang juga pendiam seperti saya, mereka yang terlalu kalem untuk berbicara banyak…. Ada kalanya juga saya lama tidak ke perpus, misalnya kehabisan bacaan atau asyik dengan Koran dan mading, atau saat sedang musim permainan seru seperti galasin, saya pasti ikut. Jika tidak, lagi-lagi saya lebih suka mendekam di dalam kelas dan baca kamus yang hampir selalu saya bawa-bawa meskipun bukan waktunya pelajaran bahasa Inggris.

Saya tidak sepintar itu. Bisa dibilang saya malah tidak sepintar teman-teman yang lain. Saya bawa kamus setiap hari hanya karena saya cinta bahasa Inggris, dan supaya saya tau arti dari lagu yang sering saya nyanyikan. Dan mengapa saya ke perpus hampir setiap hari? Itu karena saya merasa menemukan dunia saya di sana. Saya bisa menikmati keindahan sastra ketika saya baca puisi, saya bisa tenggelam dalam emosi seseorang ketika sedang membaca novel, saya bisa menemukan ternyata begitu banyak pertanyaan aneh dalam benak saya ketika mencoba membaca buku-buku filsafat, saya bisa melakukan perjalanan menyenangkan melalui ensiklopedi dunia, dan terbang ke ruang angkasa atau menyelam ke dalam laut, menyelusup ke dalam bumi lewat gambar-gambar dramatis di ensiklopedi sains. Begitu banyak hal yang bisa diberikan sebuah buku pada saya, bagi saya. Dan itulah yang membuat saya ketagihan. Dunia saya ada di sana, menurut saya. Tetapi itu juga yang mungkin memisahkan saya dengan dunia nyata. Sepertinya…. Dan bukan saja soal buku, hal lain seperti bepergian misalnya, ketika semua teman berkeberatan pergi ke suatu tempat sendiri, saya tak pernah keberatan jika saya harus pergi tanpa teman. Rasanya saat itu pikiran saya hampir selalu sibuk sehingga seolah-olah dunia saya sudah ramai tanpa harus saya tambahkan seseorang untuk menemani. Lalu setelah saya dewasa, saya kerap berintrospeksi diri bahwa mungkin karena saya selalu penyendiri makanya Allah beri saya karunia Long Distance Marriage.

Ketika beberapa teman ditanya, mungkin banyak di antara mereka yang tidak setuju bahwa saya pendiam. Kebanyakan kesan yang saya terima bahwa saya ceriwis, manja, jutek, sok tau, cenderung rame malah. Mungkin itu dari mereka yang benar-benar dekat dengan saya. Mereka yang memberi saya kesempatan untuk menikmati keberhargaan sebuah pertemanan dan manisnya persahabatan. Namun saya sangsi apakah ada yang pernah memperhatikan bahwa pada dasarnya saya kesulitan membaur, bahwa saya akan berpikir seratus ribu kali hanya untuk memulai percakapan dengan seseorang tanpa resiko tidak disenangi atau tidak membosankan. Saya banyak bicara, jika saya menemukan kenyamanan dengan orang-orang tertentu. Permasalahannya bahwa saya tak mudah nyaman dengan orang. Saya tak ingin seperti itu, tetapi itulah problema saya. Saya bisa berbicara di depan audiens dan mengarahkan sesuatu, namun saya tak cukup yakin menghadapi per-personal. Saya bukan pemilih dalam berteman, namun sulit memulainya. Dalam tahap ini rasanya cukup mengerikan dan tidak dewasa. Namun itulah saya. Saya kagum dengan orang-orang yang supel yang bisa berbicara dengan santai kepada siapa saja. Sedangkan saya, saya terlalu penuh pertimbangan. Ketika dalam keramaian dan menghadapi banyak orang, suara negative dalam benak saya kerap menggaung-gaungkan kekhawatiran apakah saya diterima dengan baik, apakah saya terlihat oke, apakah orang tidak tersinggung dengan apa yang saya bicarakan, apakah orang lain menyukai topik yang saya kemukakan… bla bla bla. Kebanyakan karena saya tidak punya rasa percaya diri yang adekuat untuk percaya bahwa orang lain akan mendengarkan saya. Sehingga pada akhirnya saya memang kerap sendiri dalam keramaian.

Dan itu yang saya lihat pada diri putri saya. Setelah pagi itu, malamnya saya tanyakan padanya,

“Faza, siapa aja teman Faza di sekolah?”

“emmm…. Dimas, Zaky, Zakiyah, Inayah, Nayla….”

“terus?”

“emmm… Vio…, terus siapa lagi ya Jaju ga hafal.”

“terus Jaju suka mainnya sama siapa?”

“emmm….. ga tau.. ya kadang-kadang Nayla…. Inayah… Jaju juga suka main sama Dimas..”

“kok kadang-kadang? Memang Jaju ga tiap hari main sama teman-teman?”

“iya.”

“kenapa? Biasanya Inayah kan main sama Jaju..”

“iya tapi engga.”

“engga..?”

“iya, Inayah ga suka main sama Jaju.”

“loh… memangnya Jaju tau Inayah ga suka main sama Jaju? Jaju ga asik kali jadi Inayah males main sama Jaju..?”

“Inayah sukanya main sama Nayla.”

“oh ya? Jangan-jangan Jaju suka suruh-suruh kali?”

“engga, ngga pernah..”

“sama teman yang lain?”

“engga… Jaju ga suka ngobrol.”

“Jaju ga suka ngobrol?”

“iya, Jaju ga suka…”

“kenapa? Kan asik ngobrol sama temen rame,”

“hemmm…. Engga mi, Jaju tapi ga suka ngobrol. Jaju sukanya sendiri.”

“Jaju suka sendiri?”

“iya.”

“apa enaknya sendiri, kan sepi?”

“ya atau Jaju ngobrol sama ibu guru..”

“Jaju suka ngobrol sama ibu guru?”

“iya. Jaju suka, apalagi sama ibu Tari Jaju suka.”

“Kalo bu guru lagi sibuk Jaju ngapain?”

“ya duduk-duduk aja.”

“sama siapa?”

“ya sendiri aja. Jaju sukanya kan sendiri.”

“terus ngapain Jaju sendiri? Main puzzle mungkin? Jaju kan suka puzzle.. Atau gambar gambar?”

“engga. Puzzle di sekolah bau, Jaju juga ga suka.”

“loh jadi ngapain?”

“ya Jaaju liatin teman-teman aja.”

“ngapain Jaju liatin teman-teman?”

“ya liatin aja, kadang teman Jaju itu lucu-lucu. Ada yang jatuh, kemaren ada yang dorong-dorongan, ada juga teman Jaju yang bawa dodot ke sekolah.”

“oh ya?”

“iya. Kenapa sih umi Tanya-tanya terus?”

“gak papa sih… umi Cuma khawatir aja faza ga punya teman.”

“ada kok temen Jaju mi, tapi Jaju ga suka ngobrol aja.”

Oh putriku yang melankolis…. Kau mengingatkan umi betapa seringnya umi dulu mengatakan, dan menuliskan, “Silence is Gold, and Solitude is Precious Time for Precious Thinking” Semoga saja kelak kau tidak kesulitan membaur dengan lingkungan walaupun kau tidak suka mengobrol dan lebih suka mengamati dari jauh. Semoga dengan demikian Allah menjaga lisanmu dari mengucapkan yang tidak bermanfaat, menjaga pendengaranmu dari mendengarkan yang tidak bermanfaat, menjaga hatimu dari pikiran dan prasangka yang tidak bermanfaat, aamiin…

Umi hanya khawatir kau sulit menemukan tempatmu di antara orang banyak, umi khawatir kepercayaan dirimu terkikis oleh kesendirian ketika keyakinan akan dirimu dipertanyakan (oleh dirimu sendiri kelak) berdasarkan banyaknya teman yang berdiri di sampingmu. Sebagaimana yang pernah umi rasakan, karena sungguh ketika kita tak mudah berteman nak, itu sesuatu yang tidak mengenakkan.

Rabb Yang Maha Pengasih dan Penyayang, doa hamba jadikanlah anak-anak kami anak yang sholih dan berguna, yang Engkau sayangi dan disayangi hamba-hambaMu yang sholih, aamiin…

Selasa, 16 Agustus 2011

Sepetak Kesadaran

Mungkin ini sudah malam ke enam puluh sekian di mana aku tidak lagi terbiasa memanjakan mata dengan langit malam yang penuh bintang dan bias bulan. Rasanya sudah terlalu lama kebiasaan itu berlalu sehingga malam ini, tepat pertengahan Ramadhan ketika purnama sedang bulat-bulatnya, aku membuka pintu sekedar mengecek keadaan dan mendapati diriku tertegun di depan pintu, diam terpana memandang purnama yang lama tidak kusaksikan dengan khidmat. Rasanya mataku terpatri di sana dan enggan berpaling kalau bukan karena udara kering angin dingin yang menusuk sampai ke tulang. Akhirnya kututup lagi pintu dan memilih memandanginya lewat jendela walaupun kesannya tak seindah kalau melihat langsung.

Terdengar dramatis mungkin, tapi yaaa! Aku memang selalu jatuh cinta pada langit. Memandangnya, juga benda-benda di sana, bulan, bintang, planet, awan, bahkan matahari yang redup membuatku lebih mudah menghadapi hidup, mengajarkanku untuk lebih banyak bersyukur dan membumi. Karenanya lama tak memandang bulan saja cukup membuatku rindu.

Singkatnya, bukan karena dipingit suami atau apa, tapi agenda ke teras saat malam dan ngedate dengan bulan sambil ngeteh/ngopi kutiadakan sejak tetangga membangun rumah baru di halaman samping rumah. Sampai saat ini penyelesaiannya tinggal tiga puluh persen lagi, dan rumah baru bertingkat yang menjulang arogan itu tentu saja menghalangi rumahku dari pepohonan yang menyegarkan, dan tentu saja langit terbuka dengan segala atributnya di atas sana. Ma sya Allah…..

Aku masih ingat menitikkan air mata ketika menyaksikan sekelompok kutilang dan pipit berdatangan ke sepetak tanah di samping rumah. Mereka hinggap di satu-satunya semak-semak kering yang tersisa. Beberapa berpandangan bingung dan beberapa yang lain mematuk-matuk tanah mencari apapun yang tersisa untuk dimakan, setelah itu mereka terbang menjauh dan tak pernah lagi kulihat hingga saat ini. Burung-burung itu tak pernah lewat lagi, apalagi singgah. Karena sejak hari itu tempat mereka penuh orang-orang yang menyusun batu-batu tinggi ke atas, membawa pasir dan mengaduk-aduk semen yang partikel-partikel kecilnya beterbangan di udara hingga masuk ke saluran pernafasan.

Sepetak tanah berukuran empat kali tujuh meter itu tadinya seperti surga. Paling tidak di tengah pemukiman padat yang tanahnya berganti semen dan aspal dan pohon-pohonnya berganti dengan bunga-bunga kecil di pot di halaman/teras yang sekedarnya. Lansekapnya miring khas daerah perbukitan, petak itu diapit oleh rumah-rumah beton di kanan kiri depan belakangnya. Rumahku terletak di sisi kanannya, sedangkan pemilik petak tinggal di rumah di sisi kiri dan agak menuruni bukit. Kebetulan Si empunya tanah adalah pemilik rumah yang kutempati saat ini, juga dua rumah lainnya di deretan yang sama.

Di petak yang tadinya hijau itu tumbuh beberapa pohon, ada dua batang pohon mangga baru setinggi orang dewasa, dua batang pohon lengkeng setinggi kurang lebih tiga meter, dan tepat di depan jendela kamar anak-anak berdiri kokoh sebatang pohon sawo yang berbuah lebat, juga pohon mangga yang sudah tiga kali dipanen. Di sudut yang lain ada rumpun salak yang lebat, dan tanahnya tertutupi oleh rumput hijau yang segar, rumpun-rumpun kenikir yang bunganya kontras dengan bunga-bunga di rumpun seruni yang berselang-seling menjalari rumput. Bunga-bunga itu membawa kupu-kupu terbang di sekelilingnya, sering pula lebah dan tawon berdengung-dengung meningkahi cericit burung-burung yang datang. Memang setiap pagi sekelompok burung kutilang dan pipit bergantian menguasai petak itu, biasanya kutilang datang lebih pagi daripada gerombolan pipit bersaing dengan ayam-ayam yang sudah berkokok-kokok sejak pagi dan kalau malam memang menghuni sawo itu untuk tidur. Tak jarang burung-burung merpati tetangga juga lewat walaupun tidak sering singgah. Sepertinya para binatang ini punya teritorinya masing-masing. Lucu dan menakjubkan juga. Belum lagi jadwal patrol malam oleh kelelawar-kelelawar yang begitu jeli menemukan sawo-sawo manis mereka.

Membayangkannya saja rasanya indah, apalagi memandanginya setiap hari, dan melebur di dalamnya merasakan angin sejuk beraroma tanah lembab yang disinari matahari pagi, angin segar beraroma daun di siang hari, angin sepoi dengan langit biru terbuka di sore hari, dan angin dingin malam hari yang kontras dengan kerlip bintang yang ramah dan cahaya bulan yang terkesan hangat. Tadabbur alam setiap hari kalau boleh dibilang. Sehingga ketika kehilangan semua itu (yang memang bukan benar-benar milikku), rasanya seperti kehilangan sesuatu dari dalam jiwa dan merasa bodoh di saat yang sama karena tidak berdaya melakukan apapun.

Akhirnya demi sebuah istilah bernama passive income yang sedang jadi business trending akhir-akhir ini, semua itu tidak bisa lagi dinikmati, baik olehku, oleh anak-anakku yang juga belajar dari sepetak tanah hijau itu, dari hewan-hewan yang semua sumber makanannya di sana, bahkan mungkin dua-tiga orang tetangga yang kerap memanen kenikir atas izin pemiliknya, untuk kemudian dijual dan menjadi sedikit tambahan penghasilan mereka. Subhanallah, banyak sekali sebenarnya passive income akhirat dari sepetak tanah empat kali tujuh meter itu, sungguh sebenarnya tak sebanding dengan materi yang mungkin akan diraup si pemilik. Belum lagi oksigen murni yang dihasilkan setiap helai daunnya, yang akan dihirup oleh setiap orang di sekitar lingkungan itu, setiap hari setiap waktu, bukankah itu juga jadi shadaqah? Ma sya Allah…. Indahnya kalau kita mau memikirkan…

Dan sekarang yang ada hanya debu dan udara kering yang panas.

~~~~~

Dari Jabir RA berkata, Rasulullah SAW bersabda,

“Tidak seorang muslim pun yang bercocok tanam, melainkan setip tanamannya yang dimakan atau dicuri orang, atau dimakan binatang liar, atau dimakan burung, atau hilang, niscaya semuanya itu menjadi shadaqah baginya.”

HR. Muslim

Minggu, 11 Juli 2010

Langit

Langit
Awan
Matahari
Angin
..................................................

Aku suka langit senja hari ini,
kelabu, biru cerah, biru keunguan, jingga, merah muda....
dengan awan-awan putih
begitu indah,
begitu cantik,
begitu elok,
begitu.... tak membosankan,
seolah-olah mataku terpatri ke atas sana hanya untuk memandang.
Memandang kejauhan,
memandang tak berpenghabisan,
memandang yang sebenarnya tak ada...
hmmm....
bukannya langit itu kalau didatangin, ya cuma ada kehampaan ya kan?
ruang...?
space...?
warna-warna itu kan biasan dari matahari toh...?
hehe.. semoga tidak ngawur,
dan tidak diprotes dengan langitselatan (karena aku member yang jelas-jelas malas membaca, ^_^)

..................................................................................

Hmmm......
jadi teringat kata-kata seorang sahabat,
katanya, waktu kecil dia takut melihat langit.
Kenapa?
Bukannya asyik ya melihat langit?
Katanya, ketika ia melihat langit dan arak-arakan awan yang sedemikian rupa,
akan begitu banyak ide-ide dan cerita-cerita yang begitu saja datang dan pergi seperti alur cerita yang tak berkesudahan dan tak terarah, scrambled.
Jadilah ia tak tahan dengan 'perputaran imajinasi' di benak 'anak kecil' nya itu.
Namun seiring waktu berjalan, ketika ia semakin memahami hidup dan mulai bersantai terhadap suatu hal bernama proses (yang tentu saja tidak selalu menyenangkan), ia mulai beradaptasi dengan langit. Ia mulai berteman dengan langit, sembari pelan-pelan menyusun ide-ide berantakannya menjadi sesuatu yang lebih teratur, terpilah-pilah, dan terklasifikasi dengan baik, apakah hanya untuk berdiri sendiri, ataukah menjadi satu kesatuan lagi.
Ya, dan sekarang ia bersahabat akrab dengan langit. Juga laut, gunung, sungai, kerikil, angin..... Hmmmm... ia bersahabat dengan alam yang membesarkannya.

.....................................................................................................................

Aku juga jadi teringat masa kecilku yang cintaaaaaaaaaaaaaaaaa langit!!!
aku sudah terobsesi menjadi astronot sejak kecil, hanya saja otak dan mentalku ternyata tidak memadai ;p
Dulu, waktu kecil, kalau malam hari penuh bintang, aku senang menengadahkan kepala sampai pegal, hanya untuk menghitung bintang yang uncountable, mengikuti pergerakan awan hingga terasa ikut masuk ke dalam pusaran bintang-bintang dan berputar bersama bumi... uhhh... pusing ya sepertinya??
Ya, aku cinta langit. Aku cinta memandang ke kedalaman langit (atau ketinggian langit?) hingga terasa seperti hanya aku sendirilah yang berdiri di Bumi ini sedang semua benda lain tak lebih tinggi dari mata kaki. Padahal tentu saja kenyataannya akulah makhluk newbie yang kecil mungil (bahkan sampai sekarang).

Dulu juga, setiap ahad pagi aku bangun subuh (karena harus ikut senam jantung dan jogging bareng ortu yang notabene harus pagi-pagi banget) dan bersemangat sekali karena aku tau aku pasti akan menyaksikan Bintang Timur yang terbit tepat di depan rumah kami yang menghadap ke Timur. Bintang Timur itu sebenarnya planet Mars yang terbit di arah timur dan dapat dilihat sebelum matahari terbit (ohh... lagi-lagi ini asal ingat dan tanpa cross-check pula, cek kebenarannya sendiri yah ^^). Waktu itu sih, Bintang Timur bisa terlihat sangat, sangat jelas. Dan besaaar sekali!! Pernah suatu ketika, aku batal ikut jogging karena mataku tak mampu beralih dari bintang cantik yang satu ini. Kala itu aku seakan-akan tersihir dengan keberadaannya yang sendirian, mendominasi di antara bintang-bintang lain yang kecil mungil berkelap-kelip. Sedang ia berdiri sendiri, terlihat megah dan mewah dengan cahayanya yang begitu terang dan berkilau. Aku terpukau dan tertarik ke dalamnya, bermain siapa-yang-duluan-berkedip dengan si Cantik. Tentu saja aku kalah, namanya juga main-mata dengan Planet. Bukannya ia memang tidak berkedip???
Dan kala itu (namanya juga imajinasinya anak-anak), seakan-akan aku terbang ke langit dan bermain bersama bintang-bintang, larut dalam kerlap-kerlip dan perputarannya. Hingga satu demi satu bintang-bintang itu memudar teratur dengan amat sangat perlahan seiring dengan semburat sinar matahari yang mulai terbit. Pada titik itu mataku hanya tertuju pada satu bintang, Si Cantik Bintang Timur, yang masih tetap bertahta dengan cahayanya, menegaskan ia adalah Bintang Timur. Hanya satu yang masih bertahan dengan matahari yang sudah duduk di singgasananya. Jika lengah sedikit saja, tentu ia akan "hilang" dari pandangan dan membaur bersama bintang-bintang lainnya dalam kehangatan cahaya pagi. Hingga akhirnya mataku tak mampu lagi menampung cahaya itu. Aku terduduk lelah, pegal, dan kehausan. Baru menyadari aku sendirian dan sudah berdiri di balkon rumahku sejak sebelum subuh hingga matahari terbit sempurna. Wahh.... lumayan lama!!

Kebiasaan itu berlanjut hingga masa remaja, katakanlah smp-sma. Waktu itu aku nyantri di Darul Falah, sebuah pondok pesantren di (katakanlah) sebuah desa bernama Cukir, di mana langitnya memang PENUH bintang, pengaruh lighting yang tidak sesemarak di kota-kota pada umumnya. Aku masih menyempatkan diri berlama-lama memandangi mereka kerlap-kerlip yang kecil mungil dan unik. Sangat beruntung pondok tempatku tinggal punya bangunan bertingkat yang belum selesai, sehingga aku dan teman-teman berhobi serupa suka naik (tepatnya manjat pakai tangga pak tukang) ke level teratas bangunan itu, menggelar tikar dan bantal, beberapa buku atau kitab, dan lilin (biasa, namanya juga santri, alasannya pasti belajar). Suasananya begitu tak tergambarkan. Hampir-hampir mistis! Tapi bukan mistis horor loh, mistis dalam arti religius dan spiritual, karena lingkungannya yang demikian itu, di mana-mana bergema Asma Allah, hampir tak pernah berhenti. Terlebih lagi saat padhang mbulan atau Purnama. Subhanallaaaaaaaaaaaaaaaaaah tak terlukiskan keindahannya. Duh..... saat menuliskan ini pun saya merinding mengingat kedamaian suasana itu. Kapan yaaaaaaaa mengulang hal yang sama.... hiks..... Jadi kangen pondok... :(

Namun sekarang ini, setelah dewasa malah jarang sekali berkencan dengan langit. Mungkin faktor ini-itu lah ya.. lagipula para ibu kan merasa lebih aman di dalam rumah ketika malam. Apalagi kalau kondisinya seperti aku ini, wah.. Walaupun, aku juga mengajak anak-anak belajar berkencan dengan langit, tapi tidak tiap hari juga kalii..... :P

Apalagi melihat Bintang Timur di shubuh hari, wah, sepertinya ga ada ya?? Atau aku yang tak lagi jeli?? padahal kan letak rumah kami justru di perbukitan yang terbuka sekali dengan langit. Mungkin karena rotasi Bumi, rotasi Mars nya sendiri (si Bintang Timur), atau malah mataku yang sudah error ya, jadi bintangnya tak terlihat?? Padahal rindu sekali dengan si cantik itu. Tapi bukannya aku tidak melihat yang lain. Setiap selesai shalat maghrib, tepatnya setelah matahari terbenam, selalu ada Bintang Barat yang terbit di sebelah Barat. Sama cantiknya, sama besarnya, sama kemilaunya.... hmmmmm..... Bukannya itu Bintang Kejora ya? Venus? ah... lagi-lagi inilah jeleknya menulis tanpa belajar. Cek sendiri kebenarannya ya... bisa tanya sama Mas Wikipedia, atau Om NASA, atau mas dan mbak di langit selatan. ^^
Namun sayang, harus keluar rumah untuk memandanginya, karena ia terbit di atas rumah kami, sebelah barat, dan kebetulan kondisi perbukitannya jauh lebih tinggi di banding arah timur rumah kami, jadi... tak bisa setiap hari "berkencan" dengan Sang Kejora.

Hmmmmmm

Sudah cukup tidak ya celotehnya.... ^^

..........................................................................................................................................................................

Wah.....
Sayang sekali tidak ada lampiran foto di entry yang ini....
hffhhhh... Pengen sih.....
Tadinya mau pakai gambar dari mas Google aja, tapi rasanya kok tidak orisinil, takutnya melanggar hak cipta orang pula, walaupun bisa dihindari dengan mencantumkan tautan sih..
Tapi tetap saja diurungkan niat tersebut. Maunya sih pakai koleksi pribadi, namanya juga blog sendiri masa pic nya import dari blog orang, ya ngga...
Jadi tolong doakan saja aku ya... mudah-mudahan diluaskan rizqi, jadi bisa beli Canon EOS 500D Kit 18-200mm IS, hehehehe.... Aamiin.......
Dan blog ini pun akan semakin meriah :)



adrie and faiz daisy path

Daisypath Anniversary tickers