Suatu hari di kelas angkot....
Perjalanan kali ini sangat singkat... mungkin hanya 7 menit...
Dan dalam 7 menit itu...... saya tersenyum demi mendengarkan dialog tiga remaja SMP yang duduk di belakang saya. Kami sedang menunggu lampu hijau ketika seorang ibu menggandeng anaknya untuk menyebrang. Rupanya hal itu tak luput dari penglihatan salah satu remaja tersebut. Ia pun berkata pada teman-temannya,
"Wih.... malunya aku kalo kaya gitu!"
"malu apa?" tanya temannya,
"ittu naa, digandeng kaya gitu kalo nyebrang."
"itu kan masih kecil" protes temannya.
"iyaa dia masih kecil. mamaku itu naa kalo nyebrang aku masa masih digandeng! apalah apalah... nanti ketabrak, nanti keserempet...bla bla bla.." tukasnya sambil mencibir mencoba menirukan Sang Ibu yang dianggapnya cerewet.
"itu tandanya sayang, bodoh!" si teman men-judge.
"iyaa sayang sih sayang tapi kan aku sudah besar? malu dong digandeng-gandeng di depan umum??"
"ah kamu itu nda besyukur masih punya orang tua. nanti kalo kamu da diurusin lagi sama mama mu baru tau!" si teman sok menasihati.
"ah ya jangan gitu naa, memangnya kamu ga malu kalo digandeng di depan umum? kita kan sudah gede?? nanti kalo ada cewek liat kan apa bilangnya?"
"hahahahahaaaa......" teman-temannya serentak menertawakannya.
"dasar pikiranmu cewek terus. pantas aja mama mu masih gandeng kamu di depan umum. mama mu takut kamu kegenitan, kamu kan masih belum cukup umur!!" mereka menggodanya sambil tetap menertawakannya.
Seru sekali andai saya terus mengikuti obrolan ringan mereka. Sayang, saya sudah tiba di tempat tujuan. Saya pun turun, namun obrolan mereka masih beterbangan di benak saya. Sambil tersenyum saya membatin, "beruntung sekali kau dik, kau sudah kelas tiga smp, bundamu masih saja mengkhawatirkanmu dalam hal sesepele menyeberang jalan. Hal itu memang sepele dik, tapi apa yang ditakutkannya akibat keteledoran menyeberang, sama sekali bukan hal sepela dik. Bundamu sangat menyayangimu. Sayangilah ia dan teruslah bersyukur."
Saya juga jadi berpikir, saya punya dua anak, perempuan dan laki-laki. Keduanya akan segera tumbuh besar dan jadi dewasa. Pertanyaan saya, apakah saya cukup berhasil untuk mendidik mereka, dan mempercayakan dunia mereka di tangan mereka sendiri, sebagaimana orang tua saya yang mempercayakan dunia saya untuk diatur sendiri semenjak saya kelas enam SD? Pengawasan itu penting, namun apakah anak-anak saya cukup dapat dipercaya dan kami sebagai orang tua, cukup dapat memberikan kepercayaan itu?
Saya melihat begitu banyak contoh orang tua yang terlalu sayang pada anaknya, sehingga hanya mampu memberikan sedikit kepercayaan ketika si anak seharusnya memperoleh kepercayaan itu untuk mengatur hidupnya. Pada akhirnya, banyak yang menjadi bumerang bagi si anak. Misalnya, si anak jadi tidak mandiri, tidak percaya diri, tak mampu menyelesaikan masalah, tak mampu menghadapi tantangan, dan sebagainya. Sebaliknya, saya juga banyak melihat contoh orang tua yang begitu percaya pada anaknya, yang juga menjadi bumerang bagi keduanya. Jika si anak menyalah-gunakan kepercayaan, bukan tak mungkin sesuatu yang tak diinginkan terjadi, keluar jalur, melanggar hukum, kebebasan tanpa tanggung jawab, dan sebagainya. Dan saya, mampukah saya menempatkan diri di tengah-tengah keduanya? Menjadi orang tua yang memberikan pengawasan dan kepercayaan pada proporsi yang tepat, tanpa membebani psikologi anak, tanpa meracuni diri sendiri dengan pikiran-pikiran buruk tentang dunia luar yang akan dihadapi anak-anak saya... tanpa takut dengan pengaruh buruk dunia, atau dengan segenap kepercayaan diri bahwa mereka mampu menemukan jalannya jika sewaktu-waktu mereka tersesat atau kehilangan pegangan.
Saya orang yang sangat realistis dalam kehidupan. Dan kehidupan mengajari saya begitu banyak hal bahwa dunia memang punya seribu satu kemungkinan. Segala hal bisa terjadi. Kita bisa berdoa agar senantiasa terhindar dari cobaan berat, kesedihan, dan hal-hal buruk, atau apapun itu. Semoga Allah mendengar doa-doa kita. Namun tak dapat dinafikan bahwa hidup juga merupakan serangkaian ujian yang mengantarkan kita pada level-level keimanan tertentu. Dan Allah selalu punya cara tersendiri dalam menguji hambaNya, sekaligus menjawab ujian-ujian tersebut. Jadi pertanyaan saya adalah, mampukah saya menghadapi ujian-ujian tersebut? Dan mampukah saya mendidik anak-anak saya untuk jadi pribadi-pribadi yang tangguh terhadap ujian Allah, apapun bentuk dan keadaannya? Mampukah saya mendidik mereka menjadi pribadi-pribadi yang memasrahkan segala sesuatunya hanya kepadaNya tanpa berhenti berikhtiar? Apakah anak-anak saya kelak, akan menjadi seperti saya, ataukah lebih baik, ataukah lebih buruk? Na'udzubillah....
Ya Allah, hamba ini hamba yang dloif dan penuh dosa,
namun doa ini hamba panjatkan untuk anak-anak hamba, tolong dengarkan ibu yang dloif ini Ya Allah....
Berkahilah anak-anak hamba, terangi hidup mereka dengan Cahaya Kasih Sayang Engkau, selamatkan langkah mereka dengan Hidayah Engkau dalam nurani mereka, ridloilah setiap helaan nafas mereka Ya Allah.... jadikan mereka orang-orang yang membawa manfaat bagi sesama, orang-orang yang be-rupa dan berhati mulia Ya Allah... lindungilah mereka dari hal-hal buruk, pun dari keburukan orang tua mereka sendiri, Allahumma aamiin....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar