Tampilkan postingan dengan label kelas angkot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kelas angkot. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Desember 2012

Sudut Bandara

Bukanlah satu keanehan bahwa segala jenis objek yang diperjualbelikan di bandara (atau pelabuhan laut) melonjak berkali lipat. makanan, minuman, majalah, pulsa elektronik, apalagi barang cinderamata, semua harganya hampir tak masuk akal. Semua memang mahal namun masih laris-laris saja karena kebutuhan  yang begitu tinggi. Tentu saja orang yang sudah kadung masuk bandara pastinya tidak bakal mau keluar lagi sekedar untuk cari air mineral murah, belum lagi jika urusannya dengan tenggat waktu dan hal-hal urgent, pastinya harga menjadi nomor sekian. Kesempatan itulah yang dimanfaatkan hampir semua pelaku niaga di bandara. Hampir, ya! Hampir, karena tak semuanya dijual mahal, ternyata ada juga niaga murah meriah dan saya pun baru tau saat menjemput eyangnya anak-anak beberapa hari lalu.

Sambil menanti pesawat eyang mendarat, kami tak beranjak dari mobil karena anak-anak sedang tidur di jok belakang, tak sengaja saya memperhatikan seorang ibu paruh baya yang terus mondar mandir ke belakang kendaraan kami. Tak jauh di seberang kami, segerombolan bapak-bapak sedang minum dari gelas-gelas plastik putih bermotif polkadot merah, entah kopi atau teh, atau mungkin keduanya. Tadinya saya sempat berpikir, bapak-bapak ini rajin juga bawa-bawa gelas plastik sambil nunggu di parkiran. Mungkin mereka ini driver travel, atau driver pribadi yang sedang menunggu majikannya, mereka bisa siapa saja.

Iseng-iseng saya perhatikan si ibu tadi bolak-balik, ia berjalan ke arah gazebo di tengah pelataran parkir sambil membawa sebotol air mineral, lalu kembali lagi ke belakang kami. Tak lama kemudian, pergi lagi melewati kami sudah dengan gelas plastik di tangan, ngapain dia di belakang mobil?? Saya menoleh ke belakang, melongok melalui jendela. Wallaaa!! Ini diaaaa, ternyata dagangan si ibu "bermarkas" tepat di belakang mobil kami.

Di "markasnya" ada sebuah igloo tahan panas berwarna biru, mungkin kapasitasnya sekitar delapan liter, ada pula tas oranye besar berisikan piring-piring dan gelas plastik, beberapa kotak makan transparan yang disusun bertumpuk, semuanya sudah kosong kecuali kotak terkecil paling atas, isinya empat atau lima buah tahu isi dan pisang goreng ditambah beberapa buah cabe rawit. Ada keranjang yang sudah kosong, bungkusan tas plastik, kopi instan rencengan, dan tak ketinggalan sebuah termos nasi kapasitas lima liter. Lumayan komplit.

Khawatir dianggap stalking alias menguntit, saya kembali memalingkan muka ke depan, mencoba menjaga privasi si ibu yang keliatannya sudah jengah juga sejak tadi mondar-mandir melewati kami. Tak lama berselang, seorang bapak-bapak bertubuh gempal menghampiri si ibu yang sedang berdiri tak jauh di depan mobil kami, bapak itu bertanya, "masih ada?"
si ibu menggelengkan kepalanya, "sudah habis."
"masa? nda da sisanya kah?"
"ndak ada pak! sudah habis dari tadi, aku cumak bawa sedikit aja.."
Tanpa perlu banyak penjelasan si bapak ngeluyur pergi begitu saja.

Tak lama berlalu, datang lagi seorang bapak tua, wajah-wajah oriental gitu, datang menghampiri si ibu, "masih ada nasi bungkus?" ia bertanya.
"nasi bungkus sudah habis pak.."
"yang lain ada?"
"apa pak? cuma ada itu gorengan tinggal sedikit."
"kopi ada?"
"sudah habis juga"
"wah ya sudah..."
Tak berkomentar lebih jauh, bapak tersebut lalu berjalan ke tengah areal parkir, melambai-lambai ke salah satu trotoar. Tak lama datang dua orang pemuda (karena jelas sudah bukan remaja, tapi juga belum pantas disebut pria dewasa) menghampiri bapak cina tersebut.
"Ini, nasinya sudah habis tapi masih ada gorengan, kau makanlah dulu berdua! Cukuplah itu supaya kau tak mati!" ucapnya setengah berkelakar. Kedua pemuda itu sambil tersenyum-senyum menghampiri jualan si ibu, dan mulai memakan sisa gorengan yang ada.
"Waaah.... enak ini! Apalagi lapar-lapar begini! Minumnya ada apa bu? bla..bla...bla..."
puji salah satu pemuda itu. Saya sudah tak begitu memperhatikan, pengumuman menggema menyebut pesawat yang kami tunggu telah mendarat.

Saat turun dari mobil saya berinisiatif untuk memotret aktivitas mereka. Awalnya si ibu penjual menolak, mungkin malu atau bahkan khawatir saya akan melaporkannya ke security. Tapi tentu saja tidak, saya jelaskan bahwa saya suka ide jualannya dan akan saya tulis di internet, akhirnya ia mengizinkan, mungkin kata "internet" terdengar bergengsi di telinganya, hihihi.

Dan ini dia!! jepretan maksimal yang bisa didapat, si ibu sih gak bisa berhenti bergerak canggung! :D


Tidak seperti di pelabuhan laut, terminal bus atau stasiun kereta api, bandar udara biasanya lebih steril dari pelaku niaga "tak resmi" seperti si ibu tadi. Katakanlah karena yang keluar masuk areal bandara lebih banyak dari golongan menengah ke atas. Dan pihak bandara, pihak pemerintah mungkin, pasti tidak ingin areal ekslusif pertamanya yang dilihat pendatang tampak pemandangan yang kurang teratur dengan keberadaan para pedagang ilegal tersebut.

Dikatakan ilegal, karena yang pertama mereka tak berizin dari pihak berwenang, baik pihak pengamanan maupun pihak pengelola bandara. Mungkin ini juga salah satu alasan si ibu enggan saya ambil gambarnya. Yang kedua, mereka tak memiliki tempat menetap untuk menjajakan dagangannya, ketika mereka punya tempat maka mereka harus bayar pajak, bayar sewa tempat atau bahkan mungkin membelinya, dan itu tidak mungkin dilakukan tanpa menaikkan harga dagangan hingga gila-gilaan.

Tapi, meskipun bagi sebagian orang keberadaan mereka mengganggu, ada juga kalangan yang merasa cukup lega karena tentu saja tak semua orang bersedia membayar mahal hanya untuk sepiring nasi goreng yang kerap kali rasanya tak sesuai dengan harganya. Buktinya, setengah jam di parkiran melihat ia mondar-mandir melayani pembeli di pojok sana sini hingga dagangannya habis menunjukkan bahwa pastilah pintu rizkinya terbuka lebar di situ. Pelanggannya para porter, supir taksi bandara, pegawai parkir, mungkin juga supir-supir travel liar yang sering mencari penumpang dan bermaksud menghela lapar dengan modal minimal. Atau mungkin juga penumpang pesawat yg tak memikirkan gengsi, seperti pemborong bangunan yang membawa pasukan tukang dari luar balikpapan. Pembelinya memang bisa siapa saja.

Ya, dunia selalu punya sisi-sisinya sendiri untuk memudahkan setiap individu menemukan tempat yang (setidaknya mendekati) nyaman baginya bahkan di lingkungan asing sekalipun. Dan karunia Allah akan selalu terbuka bagi siapa saja yang mau menjemput rizkinya. :-)











Minggu, 15 Agustus 2010

Rejeki Supir Taxi by. Ust. H. Yusuf Mansyur

~~~~~~~~~~~~~
Kali ini saya ingin berbagi hikmah. Saya mengutip note ini dari Yusuf Mansyur Network on Facebook, silakan di add bagi yang belum add, sangat banyak kisah inspiratif yang menggugah jiwa, dan insya Allah menambah keimanan. Selamat berwisata hati! :)

~~~~~~~~~~~~~


Tuesday, June 22, 2010 at 4:55pm
"Kramat Raya, Pak?" tanya saya setengah ragu. "Mari, Pak!" kata sopir taksi itu mengiyakan, tanpa berpikir sejenakpun.

Tentu saja saya gembira, karena tidak menyangka lelaki itu bakal mau mengantar.

Saya segera naik ke jok belakang, menutup pintu. Taksi pun melaju. Sebentar kemudian berputar 180 derajat di perempatan Cempaka Putih. Sekarang melaju ke arah Senen.

"Kok Bapak mau ke Kramat? Kan jaraknya dekat aja, Pak?" tanya saya memancing.

"Kita kan tidak pernah tahu ada apa di balik yang dekat itu, Pak," katanya sejenak kemudian. Senyumnya saya lihat di spion atas kepalanya. "Jika penumpang yang jarak dekat tidak diambil, rasanya seperti tidak menghargai Tuhan yang membagi rezeki buat kita."

Berkata bijak ternyata bukan hanya monopoli kaum filosof. Tetapi juga bisa keluar dari mulut Firmansyah, begitu nama yang terpampang di dashboard, seorang sopir taksi bersahaja yang saya temui pagi ini.

Maka meluncurlah cerita "filosof" yang sopir taksi itu.

"Saya banyak mengalami, kadang memang rasanya gimana gitu ketika sudah lama ngantri, ternyata dapat penumpang yang dekat," katanya sembari menarik napas perlahan. "Dapat lagi, dekat lagi. Dapat lagi, dekat lagi."

Saya cuma tersenyum. Tentu saja saya bisa merasakan "duka" itu. Seperti kita mengharapkan durian runtuh, tetapi apa daya jika kenari yang ternyata melayang jatuh.

"Tetapi, tak jarang," imbuh lelaki itu, "saya dapat yang dekat-dekat, tetapi berkali-kali. Juga pernah sekalinya dapat yang jauh, tetapi setelah itu baliknya tidak membawa penumpang sama sekali."

Ia tersenyum di tengah klakson jembatan layang menuju Kemayoran.

Saya mengangguk-angguk.

"Yah, artinya lebih baik terima saja yang masuk ke taksi, entah jurusan dekat ataupun jauh," kata saya. "Karena kita tidak pernah tahu, setelah itu dapat rezeki dalam bentuk apa lagi."

***

Beberapa hari berikutnya, saya menumpang taksi dari tempat dan dengan tujuan yang sama. Kali ini Bluebird, langganan saya.

"Kok Bapak mau mengantar penumpang dengan tujuan yang dekat seperti saya?" tanya saya memancing. Taksi sedang melaju ke arah Senen. Saya mencomot roti sarapan pagi dengan sekotak minuman dingin.

Ia tertawa.

"Jangankan Kramat Raya, Pak," katanya bersemangat, "bahkan saya pernah mengantar orang dari Cempaka Emas ke Ruko Cempaka Emas!"

"O, ya?" sergah saya heran. Jarak itu tak lebih dari selemparan lembing atau sebidikan panah. "Argo Bapak bahkan mungkin tidak sempat bergerak dari angka awal lima ribu perak, dong?"

"Yah, waktu itu sedang macet sih. Sempat nyampai enam ribu rupiah."



Saya mengangguk-angguk. Saya berandai-andai. Lima belas persen dari enam ribu tak lebih dari seribu rupiah. Itu yang dia dapat untuk mengantar penumpang sedekat itu, buah dari mengantri di pool mungkin setengah hari.

"Belum lagi ketika kembali ke pool, ternyata sudah penuh," katanya menerawang. "Harus berputar dulu tiga-empat kali untuk dapat antrian lagi."

"Wah, susah juga, ya Pak?" timpal saya. Sudah dapat yang sangat dekat, kembali ke pool antri di paling belakang lagi. Itu pun setelah muter lebih dulu.

"Ya. Bahkan saya pernah, sudah mengantri di belakang, diserobot teman lagi," katanya enteng, bahkan cenderung riang. "Saya sih pasrah saja. Tidak lama, teman saya mendapat penumpang dengan tujuan Patra Jasa. Sebentar kemudian, seorang penumpang mengetok pintu mobil saya. Cikarang, Pak? Tentu saja saya ambil karena jaraknya jauh, berlipat-lipat dibandingkan Patra Jasa."

Saya ikut tersenyum mendengar ceritanya. "Itu semua buah dari keikhlasan, Pak."

"Alhamdulillah, saya nggak pernah menolak penumpang sedekat apapun tujuan mereka. Saya yakin, Allah memberikan rezeki saya dengan cara yang demikian. Kadang sedikit, kadang banyak. Saya tidak pilih-pilih."

Demikianlah Pak Endang, begitu namanya terpampang di dashboard, menyimpulkan. Sebuah kesimpulan sederhana yang tidak sesederhana maknanya.

***

Saya banyak belajar dari kedua orang itu, Pak Firmansyah dan Pak Endang; sopir-sopir taksi yang sederhana. Mereka masih "menghargai Tuhan", begitu bahasa mereka. Caranya sungguh sangat sederhana: mengantarkan penumpang yang naik taksi mereka, meski dekat sekalipun jaraknya. Menolak penumpang, sama saja dengan menolak rezeki yang sudah Allah hidangkan di hadapan. Menolak penumpang, sama halnya tidak menghargai Sang Pembagi Rezeki. Karenanya, tidak ada yang sepatutnya harus dilakukan, bagi mereka, kecuali ikhlas mengantar.

Terbukti dalam berbagai kesempatan mengantar penumpang yang dekat itu, ternyata sambung-menyambung dengan penumpang yang turun naik; begitu satu penumpang turun, ada yang langsung naik. Bahkan tak jarang, banyak penumpang jarak dekat yang memberikan "uang lebih" berkat kesediaan mereka mengantar tanpa mengeluh. Jumlahnya sering lebih banyak ketimbang persentase yang mereka terima dari mengantar penumpang jarak jauh. Jarak dekat, karenanya tidak lantas identik dengan rezeki cekak.

Sungguh sebuah sikap hidup yang, kata orang Jawa, sumarah. Pasrah, tetapi bukan layaknya wayang. Dalam bahasa agama, barangkali inilah pengejawantahan sikap tawakal setelah berazam. Bukan sikap pasrah yang salah-kaprah; yang sering salah dipahami sebagai "pulung sugih pulung mlarat". Kalau Tuhan menakdirkan kita kaya, tanpa berusaha pun, kita akan kaya. Kalau ditakdir miskin, bekerja keras peras-keringat-banting-tulang sekalipun ibaratnya, tetap akan miskin.

Saya lantas teringat dengan sebuah hadits, bahwa Allah itu tergantung pada persangkaaan (dzon) hamba pada-Nya. Kedua lelaki di atas, dalam pandangan saya, telah memberikan persangkaan yang baik pada rencana Tuhan di balik penumpang yang dekat itu. Ketika sopir yang lain menyangka "rugi" ketika harus mengantar penumpang yang dekat, keduanya tidak pernah berprasangka demikian.

Boleh jadi keduanya tidak hapal dengan ayat Al-Qur'an tentang rezeki yang min haitsu laa yahtasib. Tetapi saya yakin, keduanya, juga kita, paham bahwa rezeki itu datangnya bisa tidak disangka-sangka. Tetapi sementara kedua sopir di atas sudah mempraktekkan pemahaman itu di kehidupan keseharian, kita sendiri barangkali masih berkutat pada tataran teori.

Jika Nabi Musa pernah belajar kepada Khidir, kita yang bukan siapa-siapa ini tak ada salahnya belajar pada orang-orang sederhana seperti kedua sopir taksi di atas.

Senin, 03 Mei 2010

Obrolan Anak Baru Gede

Suatu hari di kelas angkot....

Perjalanan kali ini sangat singkat... mungkin hanya 7 menit...
Dan dalam 7 menit itu...... saya tersenyum demi mendengarkan dialog tiga remaja SMP yang duduk di belakang saya. Kami sedang menunggu lampu hijau ketika seorang ibu menggandeng anaknya untuk menyebrang. Rupanya hal itu tak luput dari penglihatan salah satu remaja tersebut. Ia pun berkata pada teman-temannya,
"Wih.... malunya aku kalo kaya gitu!"
"malu apa?" tanya temannya,
"ittu naa, digandeng kaya gitu kalo nyebrang."
"itu kan masih kecil" protes temannya.
"iyaa dia masih kecil. mamaku itu naa kalo nyebrang aku masa masih digandeng! apalah apalah... nanti ketabrak, nanti keserempet...bla bla bla.." tukasnya sambil mencibir mencoba menirukan Sang Ibu yang dianggapnya cerewet.
"itu tandanya sayang, bodoh!" si teman men-judge.
"iyaa sayang sih sayang tapi kan aku sudah besar? malu dong digandeng-gandeng di depan umum??"
"ah kamu itu nda besyukur masih punya orang tua. nanti kalo kamu da diurusin lagi sama mama mu baru tau!" si teman sok menasihati.
"ah ya jangan gitu naa, memangnya kamu ga malu kalo digandeng di depan umum? kita kan sudah gede?? nanti kalo ada cewek liat kan apa bilangnya?"
"hahahahahaaaa......" teman-temannya serentak menertawakannya.
"dasar pikiranmu cewek terus. pantas aja mama mu masih gandeng kamu di depan umum. mama mu takut kamu kegenitan, kamu kan masih belum cukup umur!!" mereka menggodanya sambil tetap menertawakannya.

Seru sekali andai saya terus mengikuti obrolan ringan mereka. Sayang, saya sudah tiba di tempat tujuan. Saya pun turun, namun obrolan mereka masih beterbangan di benak saya. Sambil tersenyum saya membatin, "beruntung sekali kau dik, kau sudah kelas tiga smp, bundamu masih saja mengkhawatirkanmu dalam hal sesepele menyeberang jalan. Hal itu memang sepele dik, tapi apa yang ditakutkannya akibat keteledoran menyeberang, sama sekali bukan hal sepela dik. Bundamu sangat menyayangimu. Sayangilah ia dan teruslah bersyukur."

Saya juga jadi berpikir, saya punya dua anak, perempuan dan laki-laki. Keduanya akan segera tumbuh besar dan jadi dewasa. Pertanyaan saya, apakah saya cukup berhasil untuk mendidik mereka, dan mempercayakan dunia mereka di tangan mereka sendiri, sebagaimana orang tua saya yang mempercayakan dunia saya untuk diatur sendiri semenjak saya kelas enam SD? Pengawasan itu penting, namun apakah anak-anak saya cukup dapat dipercaya dan kami sebagai orang tua, cukup dapat memberikan kepercayaan itu?

Saya melihat begitu banyak contoh orang tua yang terlalu sayang pada anaknya, sehingga hanya mampu memberikan sedikit kepercayaan ketika si anak seharusnya memperoleh kepercayaan itu untuk mengatur hidupnya. Pada akhirnya, banyak yang menjadi bumerang bagi si anak. Misalnya, si anak jadi tidak mandiri, tidak percaya diri, tak mampu menyelesaikan masalah, tak mampu menghadapi tantangan, dan sebagainya. Sebaliknya, saya juga banyak melihat contoh orang tua yang begitu percaya pada anaknya, yang juga menjadi bumerang bagi keduanya. Jika si anak menyalah-gunakan kepercayaan, bukan tak mungkin sesuatu yang tak diinginkan terjadi, keluar jalur, melanggar hukum, kebebasan tanpa tanggung jawab, dan sebagainya. Dan saya, mampukah saya menempatkan diri di tengah-tengah keduanya? Menjadi orang tua yang memberikan pengawasan dan kepercayaan pada proporsi yang tepat, tanpa membebani psikologi anak, tanpa meracuni diri sendiri dengan pikiran-pikiran buruk tentang dunia luar yang akan dihadapi anak-anak saya... tanpa takut dengan pengaruh buruk dunia, atau dengan segenap kepercayaan diri bahwa mereka mampu menemukan jalannya jika sewaktu-waktu mereka tersesat atau kehilangan pegangan.

Saya orang yang sangat realistis dalam kehidupan. Dan kehidupan mengajari saya begitu banyak hal bahwa dunia memang punya seribu satu kemungkinan. Segala hal bisa terjadi. Kita bisa berdoa agar senantiasa terhindar dari cobaan berat, kesedihan, dan hal-hal buruk, atau apapun itu. Semoga Allah mendengar doa-doa kita. Namun tak dapat dinafikan bahwa hidup juga merupakan serangkaian ujian yang mengantarkan kita pada level-level keimanan tertentu. Dan Allah selalu punya cara tersendiri dalam menguji hambaNya, sekaligus menjawab ujian-ujian tersebut. Jadi pertanyaan saya adalah, mampukah saya menghadapi ujian-ujian tersebut? Dan mampukah saya mendidik anak-anak saya untuk jadi pribadi-pribadi yang tangguh terhadap ujian Allah, apapun bentuk dan keadaannya? Mampukah saya mendidik mereka menjadi pribadi-pribadi yang memasrahkan segala sesuatunya hanya kepadaNya tanpa berhenti berikhtiar? Apakah anak-anak saya kelak, akan menjadi seperti saya, ataukah lebih baik, ataukah lebih buruk? Na'udzubillah....

Ya Allah, hamba ini hamba yang dloif dan penuh dosa,
namun doa ini hamba panjatkan untuk anak-anak hamba, tolong dengarkan ibu yang dloif ini Ya Allah....
Berkahilah anak-anak hamba, terangi hidup mereka dengan Cahaya Kasih Sayang Engkau, selamatkan langkah mereka dengan Hidayah Engkau dalam nurani mereka, ridloilah setiap helaan nafas mereka Ya Allah.... jadikan mereka orang-orang yang membawa manfaat bagi sesama, orang-orang yang be-rupa dan berhati mulia Ya Allah... lindungilah mereka dari hal-hal buruk, pun dari keburukan orang tua mereka sendiri, Allahumma aamiin....

Jumat, 23 April 2010

Keajaiban dari Cerita Biasa

Suatu hari di kelas angkot.....

Saya naik dengan beberapa penumpang lain. Dari Ramayana Rapak menuju Klandasan. Angkot biru nomor 3. Ada satu penumpang di depan, satu remaja putri di belakang, dan saya dengan Faza di tengah. Ketika angkot hendak melaju, seorang bapak berlari, "tunggu!" katanya, angkot pun berhenti lagi, dan si sopir menunggunya dengan sabar. "permisi ya... permisi.." katanya. Penumpang baru itu mengambil tempat di belakang, bersama si remaja putri tadi. Ia adalah seorang bapak paruh baya, dengan badan gempal, namun tangannya hanya sebatas siku, dan kakinya hanya sebatas paha.

Kira-kira jarak satu kilometer, bapak tadi turun. "stop depan ya..... "katanya.. "permisi mbak, permisi.." Si remaja putri rupanya ramah pula, "Silakan pak, hati-hati.." katanya penuh simpati. Melewati kami, si bapak masih mengucapkan hal serupa, "permisi.." saya pun membalas dengan senyuman, "silakan...". Ia berhenti sejenak di depan saya dan membayar, si sopir menolaknya halus, "Turun saja pak, hati-hati turunnya" katanya. Saya tersenyum. Bapak tadi lalu turun, "Makasih ya Pir! Makasih" katanya sambil menuruni angkot lalu berlalu. Angkot pun kembali melaju.

Setelah itu, tak berapa lama, penumpang lain naik, lalu penumpang di depan turun, dan tak perlu menunggu lama, penumpang lain datang mengisi tempat yang kosong. Sampai akhirnya saya harus berhenti menganalisa berapa banyak rupiah yang masuk demi menggantikan rupiah yang direlakan si sopir untuk penumpang tuna grahitanya tadi, karena saya harus turun di tempat tujuan saya.

Sebenarnya ini cerita biasa. Pengalaman biasa. Hanya tentang seseorang yang bershodaqoh, hanya tentang pribadi yang sopan, hanya tentang pribadi yang ramah, hanya tentang pribadi yang menghargai sesama tanpa melihat status dan keadaan.... Tapi rangkaian yang sedemikian rupa ini, urutan-urutan kejadian yang saya simak dan saya rasakan... begitu sungguh seirama, sungguh indah, sungguh menggugah... Dan seolah diatur sedemikian rupa demi menunjukkan kisah indah tentang amal baik manusia.

Dimulai ketika kami satu persatu menaiki kendaraan,
lalu ketika sang sopir kembali berhenti demi menunggu langkah demi langkah sang bapak,
ucapan sopan meminta ruang,
jawaban sopan mempersilakan,
penolakan halus dan shadaqah yang mengalir,
ucapan terima kasih,
himbauan simpatik....
dan hadiah-hadiah ganti dari Sang Khaliq yang begitu nyata dan cepat...
Benar-benar semua itu terasa sungguh indah di mata saya,
Sehingga saya menghabiskan sisa waktu singkat di angkot itu dengan jiwa yang penuh, yang entah bagaimana meninggalkan senyum yang tak mampu saya hilangkan dari wajah ini. Bahkan saya masih teringat hal indah itu hingga beberapa hari kemudian. Bahkan hingga saat ini ketika menuliskannya, saya masih tersenyum mengenang keindahan momen itu.

Sungguh sederhana, namun sungguh ajaib.
Dan saya berdoa, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala tetap membukakan mata saya, dan mata hati saya untuk tetap menyiksakan keindahan semacam itu, aamiin. :)

Kamis, 08 April 2010

Kelas Angkot

Saya suka sekali membahasa tema ini. Makanya saya sebut dengan “kelas angkot”. Seperti kelas-kelas lainnya, “kelas matematika”, “kelas bahasa”, “kelas fisika”, “kelas petrokimia”…. Dan kelas-kelas lain yang tentu membahas bidangnya masing-masing. Namun kelas ini, sepele memang, tapi mencakup hampir semuanya. Terutama kehidupan masyarakat menengah ke bawah, yang akrab dengan angkot, yang menggunakan jasa angkot untuk mobilitas mereka, yang menerapkan mutualism pada para penyedia jasa ini. Hmmmm…. Jangan dikira, banyak yang bisa saya dapatkan dari “kelas” ini. Ragam kehidupan dari pribadi yang juga beragam, ragam persepsi, sudut pandang, tipe-tipe manusia, bahkan kadang, ragam keputusan yang bisa mereka ambil. Bagaimana saya bisa mencerna semua itu, tentu saja dengan cara, naik angkot (yang memang juga kendaraan sehari-hari), dan mengoptimalkan seluruh indera untuk menyerap apapun yang ada di sekeliling saya. Pendengaran dan penglihatan, (peraba, perasa, penciuman mungkin tak terlalu penting) tapi yang paling penting adalah membuka mata nurani saya. Karena tanpa nurani, kita tak mungkin mau memperhatikan apa-apa yang terjadi di sekeliling kita. Benar tidak ya, (^_^)

Angkot di Balikpapan, tidak sama dengan angkot-angkot di kota lain. Bagi saya angkot Balikpapan adalah yang terbaik di seluruh Indonesia. Penduduk local menyebutnya “taksi” , sedangkan untuk taksi yang sebenarnya, kami menyebutnya “taksi argo”, karena menggunakan argo untuk menentukan tariff angkutan. Tarif angkot seperti biasa, dekat Rp 2.500,-, jauh Rp 3.000,- dan Rp 1.000,- untuk pelajar. mungkin sama dengan daerah lain. Tapi ada alasan-alasan lain yang membuat taksi jadi jauh lebih nyaman. Hmmmmm….

Pertama, angkot di Balikpapan selalu bersih dan ada tempat sampahnya, sesuai dengan perda Kota Balikpapan No. 10 pasal 9 dan 10 tahun 2004. Bahwa setiap pemilik atau pengemudi kendaraan umum atau pribadi wajib menyediakan tempat pembuangan sampah di dalam kendaraan masing-masing sesuai dengan volume sampah yang dihasilkan, dengan criteria tempat sampah yang rapi, tertutup, dan tidak menyebarkan bau. Dan para sopir angkot, mematuhi hal ini.
Kedua, posisi tempat duduk/jok pada angkot Balikpapan menghadap ke depan, tidak menyamping sebagaimana angkot kota lain pada umumnya. Dengan kapasitas bagian tengah dua sampai tiga orang, dan bagian belakang empat orang. Di samping supir biasanya hanya diisi satu orang penumpang. Posisi ini membuat angkot terasa lebih lapang, lega, dan tidak berjejalan. Lagi pula, lagi-lagi tak seperti angkot kota lain terutama di kota-kota di pulau Jawa (atau gak perlu jauh-jauh deh, Samarinda aja), para sopir angkot di sini sepertinya tidak terlalu ngoyo untuk memenuhi angkotnya dengan banyak penumpang. Jadi jarang ditemukan angkot yang penuh sesak dengan orang dan barang. Mungkin juga pengaruh dari kebanyakan penduduk yang enggan naik angkot jika terlalu penuh. Maka tak perlu khawatir bersinggungan badan, berdesak-desakkan, bertemu orang-orang rese di hari yang penat dan melelahkan.
Ketiga, musiknya. Para sopir angkot banyak memutar lagu-lagu yang sedang hits. Beberapa memang memutar music yang tidak jelas, atau dangdut yang keterlaluan sehingga bikin pusing kepala. Tapi kebanyakan mereka memilih selera yang sedang tren. Lagi-lagi alasannya untuk menarik penumpang. Bahkan beberapa angkot melengkapinya dengan LCD dan stereo set yang sederhana namun ok punya. Kadang-kadang ketika melihat angkot yang menyetel music keras-keras dengan bass yang berdegum-degum (lengkap dengan LCD pula), saya dan suami kerap berseloroh, “dia itu naksi atau jual kaset sih?”
Hmm… intinya, angkot Balikpapan memang lebih nyaman bila dibandingkan dengan angkot kota lain (lagi-lagi kalimat ini yang keluar).

Memang, banyak juga sopir angkot yang ugal-ugalan, atau yang tidak begitu mahir menyetir sehingga pembawaannya jadi tidak smooth dan bikin mual perut. Belum lagi kebiasaan umum para sopir angkot yang tidak safety,memperlakukan jalanan seolah-olah milik nenek moyangnya. Dalam arti, suka sembarangan stop tanpa rating, atau pasang rating dan minggir tiba-tiba. Nylonong lewat begitu ada sedikit celah di antara kendaraan lain…. Hmmm… penyakit semua sopir angkot di manapun kan? Tentu saja berkaitan dengan alasan kejar setoran dan lain sebagainya.

Yaah, terlepas dari segala hiruk pikuk perkotaan dan mobilitas para penduduknya, bagi saya, angkot adalah salah satu kelas kehidupan di mana saya belajar tentang banyak hal, menemukan inspirasi, wadah mengambil hikmah dan ibrah yang begitu luas, berbagi dengan sesama… dan yang paling penting adalah, tempat di mana saya belajar untuk selalu mensyukuri atas segala keadaan, juga sebagai ladang shodaqah. Saya bisa berbagi rizqi dengan para sopir angkot, berbagi senyum dan sapa yang baik dengan sesama penumpang. Indah bukan?

Anda tak menyangka kan, sebuah mobil sederhana, tempat semua orang naik-turun dan berpindah, sesuatu hal yang sangat sepele, ternyata bisa jadi begitu indah dan mengandung banyak hikmah dan pahala bagi mereka yang mau memikirkannya? Maka jika Anda mau mencoba kelas ini, cobalah sesekali naik angkot. Tak perlu angkot yang senyaman di Balikpapan mungkin (:P), justru angkot yang penuh sesak akan lebih banyak lagi membawa hikmah. Iya tidak…?? 

adrie and faiz daisy path

Daisypath Anniversary tickers