Senin, 27 September 2010

Say Yes To Breastfeeding 1


Kenapa Semuanya Iklan Susu Formula??

“Kenapa ya ga ada iklan tentang ASI ekslusif dan menyempurnakannya hingga dua tahun?”

Itulah pertanyaan yang otomatis selalu singgah di benak saya setiap kali melihat iklan produk susu formula baik di media cetak maupun elektronik. Padahal, ASI memegang peranan teramat penting dalam menyokong kehidupan bayi pada tahun-tahun pertama kehidupannya, dan mempengaruhi pada tahap pertumbuhan anak selanjutnya, termasuk ikatan emosional ibu dan anak. Namun saat ini, semua manfaat asi itu, baik kandungan gizi, efek pemberian asi, hingga kecerdasan emosional pun diklaim sebagai efek dan kebaikan yang akan didapat jika mengkonsumsi produk susu tertentu. Sangat miris. Hal ini mengaburkan fakta bahwa asi adalah makanan terbaik yang tak ada tandingannya untuk bayi, dan pada saat yang sama, memperkuat citra susu formula sebagai makanan pengganti yang bisa bikin anak lebih sehat, lebih cerdas, dan bahkan lebih berdaya tahan.

Iklan adalah media penyampai yang sangat efektif dan pengaruhnya sangat besar terhadap masyarakat. Iklan akan disaksikan setiap kali seseorang menonton tv, dan suatu hal yang diperdengarkan secara terus-menerus akan berpengaruh pada pola pikir seseorang. Di sinilah iklan akan sangat berguna bagi penyadaran massal tentang pentingnya memberikan ASI dan tetap meneruskannya hingga dua tahun. Bagi saya Indonesia butuh iklan tersebut, karena kesadaran menyusui masih begitu rendah. Coba saja berkunjung ke pediatric, salah satu tempat paling mudah untuk bertemu berbagai macam tipe ibu. Jika diperhatikan, lebih banyak orang tua yang menyelipkan dot di mulut bayinya dibandingkan dengan para ibu yang masuk ke nursing room (ruang menyusui) untuk menyusui bayinya. Dan ketika ditanya, kebanyakan ibu telah mengkombinasikan atau bahkan mengganti asi dengan susu formula segera setelah enam bulan pertama bayi. Padahal prinsip kombinasi asi dengan susu formula adalah sesuatu yang salah kaprah. Karena bagaimanapun, komposisi nutrisi asi tak tertandingi dengan makanan cair manapun. Bagaimana bisa, jika asi adalah Tanda Cinta Tuhan untuk hambaNya yang baru lahir ke dunia?? Tentu saja formula sehebat apapun tak akan bisa menandingi formula buatanNya?

Bijaksana Memilih

Ketika Ibu membeli susu formula, pada kemasan selalu tertulis kalimat sebagai berikut,

“Asi adalah makanan terbaik bagi bayi, namun atas beberapa alasan Ibu tidak mampu memberikan ASI kepada bayinya, dst… “

Kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat penunjang yang mendoktrin ibu bahwa ASI saja tidak cukup bagi bayi setelah enam bulan pertamanya, dan bahwa produk di tangan ibu adalah yang terbaik sebagai pendamping ASI. Padahal sekali lagi, pendapat tentang mengkombinasikan antara susu formula dengan ASI sebagai pilihan tepat itu adalah salah kaprah. Ketika Ibu mengkombinasikan sufor dengan ASI, itu sama saja dengan usaha menjauhkan ASI dari anak, kenapa? Karena dari sekian juta pengalaman yang saya baca, saya dengar, saya lihat, dari pengalaman orang-orang sekitar maupun dari berbagai media, bayi akan lebih menyenangi sufor dan dot daripada ASI dan puting ibunya. Dan pada akhirnya, pemberian ASI akan sama sekali dihentikan. Ini dia alasannya :

1. Dengan dot (terutama dot tanpa regulator) susu akan mengalir otomatis ke dalam mulut bayi dengan hanya sedikit isapan. Sedangkan jika menyusu, bayi mengerahkan otot dan reflex menghisapnya dari mulut, rahang, hingga ke telinga. Tentu saja ketika bayi sering diberi dot, lambat laun ia akan mengenali mana yang lebih mudah, mana yang lebih sulit. Tentu saja ia akan pilih “cara yang lebih gampang” untuk membuatnya kenyang. Karena itu, pada bayi baru lahir ia kerap jatuh tertidur padahal baru menyusu sesaat. Ini karena ia harus menggerakkan otot rahangnya untuk mendapatkan susunya, dan harus dibangunkan dengan mencolek pipinya untuk kemudian menyusu lagi. Dan atas alasan ini pula, otot rahang bayi ASI akan lebih kuat dari pada bayi yang diberi sufor.

2. Dengan sufor, bayi akan kenyang lebih lama, dan (seolah-olah) punya manajemen waktu yang lebih teratur dibanding bayi ASI. Kenapa? Karena kandungan protein sufor itu lebih sulit dicerna oleh pencernaan bayi dibanding ASI. Sehingga waktu yang dibutuhkan bayi untuk mencerna juga lebih lama. Hal ini “memudahkan” Ibu untuk menentukan waktu pemberian sufor, karena dalam beberapa hari setelah pemberian sufor, pola makan bayi akan terlihat, jam berapa dan dalam jumlah berapa ia butuh susu, kemudian kenyang dan tidur, kemudian sejumlah susu lagi dan bermain, dan begitu seterusnya. Sedangkan bayi ASI cenderung hampir setiap waktu menyusu, terutama pada saat malam, tak jarang Ibu jadi kurang tidur karena bayinya menyusu semalaman. Hal ini karena ASI sangat mudah dicerna oleh pencernaan bayi, tapi di saat yang sama ia tetap memiliki konsentrasi gizi yang sangat tinggi untuk bayi. Dan karena mudah dicerna, maka bayi hanya mengeluarkan sedikit energy ketika perncernaannya bekerja, dan ia bisa menggunakan kelebihan energinya untuk mengoptimalkan perkembangan tubuhnya. Namun ironisnya, Ibu seringkali menyerah untuk menyusui anaknya dengan alasan anaknya tak kunjung kenyang dan Ibu kelelahan, dan pada akhirnya memutuskan bahwa peran menyusuinya dibantu dengan sufor.

3. Pemberian sufor akan mengurangi waktu dan jumlah pemberian ASI untuk bayi. Hal ini akan berkaitan langsung dengan jumlah produksi ASI, karena semakin dihisap, ASI akan secara otomatis diproduksi semakin banyak. Jika waktu dan pemberiannya dikurangi, produksi ASI akan berkurang dan lambat laun akan berhenti sebelum waktunya, dan bayi Ibu akan jadi bayi sufor sepenuhnya. Oooh! Dan jika ASInya berhenti, para ibu kerap menyalahkan keadaan kenapa ASInya berhenti, padahal sebenarnya pola yang ia terapkan sendiri yang telah menyebabkan ASInya berhenti.

4. Rasa. Sufor memberikan rasa yang lebih ‘nikmat’ bagi bayi yang tidak dibiasakan dengan ASI. Rasa sufor lebih creamy, lebih gurih, dan pada cluster 1 tahun ke atas sudah disediakan berbagai macam rasa seperti Vanilla, Madu, bahkan Cokelat. Sedangkan manis ASI rasanya lebih tawar, dan terkadang berubah mengikuti jenis makanan yang dikonsumsi Ibu, walaupun tidak berarti ASI akan jadi pedas ketika Ibu mengkonsumsi cabe. Nah, bayi yang terbiasa dengan rasa yang lebih enak mungkin lambat laun akan sama sekali menolak ASI. Padahal, walaupun tawar, ASi jauh lebih kaya rasa (pengaruh dari variasi makanan Ibu) dan kelak akan memudahkan bayi untuk mengenal berbagai macam tekstur dan rasa sehingga di saat besarnya nanti, ia tidak jadi anak yang pemilih dalam soal makanan.

Berawal Dari Rumah Sakit

Pemberian sufor kerap berawal dari rumah sakit tempat bayi dilahirkan. Di beberapa rumah sakit yang saya temui, kecuali bagi pasien VIP, pihak rumah sakit umumnya memisahkan bayi dengan ibu dan mempertemukan mereka hanya pada jam-jam tertentu. Hal ini mungkin dimaksudkan untuk menghindari kontaminasi kuman atau penyakit yang bebas beterbangan di udara, tapi juga tidak efektif karena jika di luar waktu pertemuan dan si bayi lapar, maka ia akan diberi sufor. Bahkan saya pernah mendengar langsung dari praktisi medis di suatu rumah sakit ketika ia menenangkan si ibu yang kebetulan teman saya, bahwa sufor merk A akan membuat bayinya pintar. Ketika itu teman saya mengeluhkan bayinya yang selalu tidur saat dipertemukan dengannya, dan ketika bayinya asyik menyusu waktu pertemuan sudah berakhir. Menyedihkan ya? Padahal seharusnya para bayi hanya minum kolostrum saja dalam beberapa hari pertamanya. Tetapi pihak rumah sakit justru mengenalkan sufor untuk para bayi baru lahir tersebut.

Dengarkan Bidan, Abaikan Iklan dan Rayuan SPG Sufor

Di sini saya memang kurang mengerti di mana letak ketidak sinkronan antara perawat, dokter anak, dan bidan. Tapi perawat dan dokter anak kerap menghalalkan sufor bagi bayi, berbanding terbalik dengan bidan yang “mengharamkan” sufor bagi bayi. Ya, para ibu, dengarkan bidan Anda tentang betapa pentingnya ASI eksklusif untuk perkembangan fisik dan mental, bahkan masa depan anak Ibu, dan abaikan bujuk rayu iklan. Kita semua penting untuk menyadari bahwa semua kebaikan yang ditawarkan iklan sufor itu adalah segala kebaikan dan manfaat yang hanya dapat diberikan oleh ASI. Atau jika Anda tak ingin berpikir terlalu radikal seperti itu, pikirkanlah yang demikian, jika sufor bisa menjanjikan kebaikan dan manfaat sedemikian rupa? Bagaimana dengan yang diberikan ASI? Pasti jaaaauh lebih hebat lagi.

Satu lagi hal yang perlu diwaspadai para ibu, yaitu para SPG susu formula. Jika Ibu pernah berurusan dengan mereka, Ibu pasti tau betapa cerewetnya mereka. Bahkan beberapa SPG mengklaim rasa susu yang mereka jual sama seperti ASI, padahal tidak ada yang tau rasanya ASI kecuali bayi dan ibu yang bersangkutan. Jika Ibu memberikan sufor pada bayi Ibu, mungkin bantuan mereka akan diperlukan. Namun jika Ibu adalah pemberi ASI eksklusif, mereka cenderung terkesan seperti pemaksa ya Bu? Makanya, waspadai pula rayuan para SPG ini.

[To be continue]

0 komentar:

Poskan Komentar