Tampilkan postingan dengan label life style. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life style. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Januari 2013

Short Vacation Menara Bahtera



Liburan tengah semester tadi kami tak pergi ke mana-mana. Selain ke kota tetangga Samarinda dan Tenggarong, kami menghabiskan liburan di rumah, di kota sendiri. Hehe, tapi karena bertepatan dengan ulang tahun Nabigh yang keempat, kami  ingin menghibur anak-anak dengan liburan kecil instan dalam kota. Liburan yang tak merepotkan, bebas tiket mahal, bebas berdesakan di bandara atau sejenisnya, dan yang paling penting budget affordable.
 
 the three floors ballroom and sidepool view

 Jadi kami menginap tiga hari dua malam di Menara Bahtera Hotel di Balikpapan, well… our own city. My bestfriend mamanya Alif bilang saya aneh, kenapa harus menginap di hotel kalau Cuma di kota sendiri? Hahaha… mungkin beralasan sekali pertanyaannya, apa istimewanya ya kan? Tapi itulah tadi, saya mencari liburan instan yang menghibur, tapi di satu sisi kami tak perlu khawatir dengan hal-hal kecil seperti pakaian kotor, bagasi, check-in rush… hm bahkan di siang hari saya sempat pulang untuk mengambilkan raport adik sepupu dan mencuci pakaian. LoL!

Saat check-in, receptionist merekomendasikan Mayor Suite sebagai  kamar yang nyaman untuk dihuni kami  berempat. Kamarnya luas, voyer leluasa dengan cermin lebar dan meja klasik di depan pintu masuk mengesankan kamar kami lebih private. Terletak di lantai 10 dengan elevator yang transparan merupakan satu hal baru yang mencengangkan anak-anak. Mereka bilang wooooow ini seperti terbang!

Lemari dinding tinggi dan spacious, lengkap dengan safe deposit box gratis. Mini refrigerator, desk, dan yang tak kalah penting, jaringan internet yang cepat tinggal colok (WiFi hanya di lobby). Sofa dan meja baca, lampu pojok yang berdiri anggun di sisi King sized bed yang lembut dan nyaman, bantal-bantal yang empuk dan wangi. Ada pula rak dan gantungan jas, so classy, saya gunakan untuk menggantung peralatan shalat. 

Bath amenities nya, dengan dekorasi minimalis tak mengurangi kesan suite kamar ini, separated shower and marble bathub, shampoo, soap, dan bubble bath yang diganti setiap hari membuat anak-anak betah mandi berlama-lama. Bathrobe, towels, juga keset dan serbet gosok gigi juga diganti setiap pagi. 

Kami memesan extra bed untuk anak-anak, dan ketika ranjang tambahan ini datang (saat itu sudah pukul sepuluh malam), staff hotel bersedia mengatur ulang tata kamar kami sehingga tetap nyaman dan classy look. Dan ketika kami sarapan keesokan paginya, kamar kami telah dirapikan dengan sangat baik ketika kami kembali. Service yang cepat dan hasilnya excellent, persis ketika kami pertama kali memasuki kamar itu. Beberapa hotel lain terkadang tak seteliti itu dalam membersihkan kamar terutama jika tamunya masih menginap.

Hotel ini kebetulan menghadap ke Plaza Balikpapan, sebuah komplek perbelanjaan yang besar dan komplit, yang juga berada di tepi pantai. Pemandangan yang strategis bukan? Dan view nya sungguh indah. Kami tak menyaksikan sunset karena hari mendung, tapi kami menyaksikan sunrise yang begitu cantik dan memicu semangat pagi. Beautiful!

sunrise 06.14 am, view from 10th floor direct to Aston, Balcony City, Swiss Belhotel













Sarapan di Harbour CafĂ©, hmmm… not bad… ada banyak menu, tradisional, western, roti panggang, salad, bahkan cereal semua ada, dan all you can eat! Asyik kan! Soal rasa tergantung selera, bukan yang terbaik bagi saya namun bukan berarti tak bisa dinikmati. Kecuali di pagi terakhir ketika saya tak sengaja membaca menu Triple Sandwich dengan isian telur, keju, dan bacon. Oh bacon, daging babi asap itu membuat saya resah. Dan saya berakhir makan dengan gelisah merapal doa berharap makanan yang kami santap tak terkontaminasi si bacon. Alangkah polosnya saya berharap bahwa hotel bintang empat tak punya hal-hal semcam itu! Ooooohhh.. :(

Sore hari, waktunya berenang! Tersedia dua kolam khusus anak-anak dengan kedalaman berbeda, dan kolam dewasa yang luas dipercantik air mancur modern. Di belakangnya ada ruang ganti dan sauna yang, lagi-lagi luas. Jangan khawatir tak kedapatan shower ;)

Hmmmh…. Apalagi ya?

Kuliner? Ada banyak pilihan, di depan hotel ada Mall besar yang punya banyak resto, sebut saja  Mc. Donald, Doner Kebab, Chocotiers, Dunkin Donuts, Breadlife, Ta Wan buat penggemar bubur dan sup ala Chinese, Tako Suki buat penggemar makanan Jepang, Cabe Merah dan Pacifica Food Court buat selera local. Masih di sekitaran hotel juga ada KFC Coffe yang buka sejak 6 pagi hingga pukul 11 malam. Pizza Hut yang berlokasi di Hotel Benakutai dengan versi barunya, ada juga Ayam Penyet Surabaya, menu halalan thayyiban yang kami pilih malam itu.

End of the day, jumpa lagi di liburan berikutnya! :D


Kamis, 28 Oktober 2010

Akhirnya Promosi Susu Formula Diatur Undang-Undang

Pada posting sebelumnya, saya pernah menulis Say Yes to Breasfeeding yang menyatakan tentang keresahan saya tentang maraknya iklan susu formula (sufor) yang diakui atau tidak bersifat mengaburkan fakta penting ASI sekaligus dengan seenaknya mengklaim semua manfaat ASI sebagai kebaikan yang akan didapat jika bayi kita mengkonsumsi produk susu tertentu. Di sana saya juga mempertanyakan mengapa pemerintah tak membuat iklan layanan masyarakat tentang pentingnya ASI, untuk meng-counter iklan-iklan tersebut sehingga masyarakat terutama para ibu dapat bijaksana dalam menentukan pemberian nutrisi yang terbaik bagi anak-anak mereka tanpa pengaburan citra ASI sebagai makanan terbaik bayi yang tak tergantikan.

Jadi hari ini (Senin, 25 oktober 2010) saya sangat bangga dengan pemerintah kita, yang telah mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang larangan pengiklanan susu formula pengganti ASI ke khalayak luas. Walaupun sebenarnya sih harusnya dari dulu, sebelum para ibu kita termakan rayuan iklan sufor yang demikian hebat itu. Tapi tak ada kata terlambat untuk memperbaiki sesuatu, apalagi yang diperbaiki adalah gizi anak Indonesia. Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Angela Keamey menyebutkan dalam konferensi pers, bahwa salah satu penyebab kurangnya gizi anak Indonesia adalah rendahnya jumlah ibu yang memberikan asi ekslusif pada bayinya selama enam bulan pertama, dan jika ingin memperbaiki kesehatan anak-anak Indonesia, maka para ibu harus didukung untuk dapat menyusui di manapun termasuk di tempat kerja mereka. Menurutnya pula, untuk mendukung hal tersebut maka diperlukan cuti hamil dan melahirkan yang memadai bagi Ibu yang bekerja, waktu rehat menyusui, hingga fasilitas untuk menyimpan cadangan ASI seperti refrigerator atau freezer. Begitu pula fasilitas menyusui di tempat-tempat umum.

Ya, hal ini tentu sangat melegakan. Tahukah Anda bahwa yang terjadi di Indonesia pada saat ini adalah, diakui atau tidak banyak para ibu bangga jika anak mereka diberi sufor merk tertentu yang menguras kantong, dan merasa kampungan ketika bayi mereka membutuhkan ASI saat berada di tempat umum. Pandangan seperti ini sungguh patut diubah. Memang kita tidak dapat menolak adanya factor dan beragam kondisi di mana ibu benar-benar tidak mampu memberikan ASI, seperti adanya masalah pasca persalinan yang berkaitan dg obat-obatan yang memungkinkan berkurangnya produksi ASI, atau bahkan masalah genetis (beberapa bayi autis ditemukan alergi terhadap ASI ibu mereka sendiri, naudzubillah). Namun dengan gembar-gembor iklan di berbagai media, memberikan ASI sepertinya adalah hal yang remeh dan memberi sufor adalah hal yang sangat lumrah dan seharusnya, sehingga usaha ibu dalam memberikan ASI menjadi tidak maksimal. Padahal hak anak adalah ASI dan sudah selayaknya anak mendapatkan haknya. Hal ini senada dengan alasan disusunnya RPP larangan pengiklanan sufor ini yaitu demi melindungi hak anak berupa pemenuhan nutrisi dan gizi yang tepat selama tahun-tahun pertama kehidupannya yaitu ASI, dan melindungi hak ibu untuk dapat memberikan ASI ekslusif terhadap bayinya dan menghindarkan diri dari ancaman penyakit, terutama kanker payudara, kanker indung telur, dan diabetes mellitus.

Menindaklanjuti RPP tersebut, maka kementrian kesehatan akan memberikan sanksi administrative kepada produsen susu yang melanggar aturan. Aturan ini efektif dimulai tahun depan. Namun demikian, saya masih merasa kurang sreg karena seharusnya pemerintah melakukannya setengah-setengah. Seharusnya aturan tersebut berlaku untuk sufor bagi bayi di bawah dua tahun, bukan satu tahun. Menyempurnakan penyusuan kan waktunya dua tahun, bukan satu tahun? Jika di atas satu tahun tetap boleh diiklankan, maka para produsen sufor akan tetap memproduksi iklan-iklan serupa dengan jargon-jargon periode emas tumbuh kembang bayi dan lain sebagainya, dan para ibu akan tetap terbuai dan dengan segera mengganti ASI dengan sufor setelah tahun pertama. Apalagi jika ditambah dengan lemahnya pengawasan para tingkat distributor, yang memungkinkan produsen susu bekerja sama dengan pihak rumah sakit dan pihak-pihak lain di bidang serupa untuk tetap menghimbau penggunaan sufor sebagai pendamping hingga pengganti ASI.

Di dunia, hal ini sudah diberlakukan sejak tahun 1981, ketika Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) mengatur Kode Etik Internasional Pemasaran Pengganti ASI dan melarang promosi sufor besar-besaran. Dan di Amerika sendiri, biaya yang dikeluarkan untuk susu formula sangat mahal, bisa mencapai USD 2000. Disediakan pula lembaga donor ASI yang beranggotakan para ibu yang mau mendonorkan ASInya untuk bayi-bayi kurang gizi atau bayi yang ibunya tidak mampu memberikan ASI.

Pada intinya, program ini adalah program memajukan kesehatan dan peningkatan kecerdasan bangsa dengan memperkuat akar kehidupan seseorang sejak kelahirannya . Dan bagi para ibu, intinya adalah tekad yang kuat untuk memberikan ASI sebagai hak pertama dan utama bagi buah hatinya. Satu kabar baik lagi, bahwa peran ASI setelah anak tumbuh besar ternyata baru optimal jika ia disempurnakan hingga dua tahun. Ayo Bunda, jangan sapih si kecil sebelum dua tahun ya… J


“Dan para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan,…”

QS. Al-Baqarah;233

Senin, 27 September 2010

Say Yes To Breastfeeding 1


Kenapa Semuanya Iklan Susu Formula??

“Kenapa ya ga ada iklan tentang ASI ekslusif dan menyempurnakannya hingga dua tahun?”

Itulah pertanyaan yang otomatis selalu singgah di benak saya setiap kali melihat iklan produk susu formula baik di media cetak maupun elektronik. Padahal, ASI memegang peranan teramat penting dalam menyokong kehidupan bayi pada tahun-tahun pertama kehidupannya, dan mempengaruhi pada tahap pertumbuhan anak selanjutnya, termasuk ikatan emosional ibu dan anak. Namun saat ini, semua manfaat asi itu, baik kandungan gizi, efek pemberian asi, hingga kecerdasan emosional pun diklaim sebagai efek dan kebaikan yang akan didapat jika mengkonsumsi produk susu tertentu. Sangat miris. Hal ini mengaburkan fakta bahwa asi adalah makanan terbaik yang tak ada tandingannya untuk bayi, dan pada saat yang sama, memperkuat citra susu formula sebagai makanan pengganti yang bisa bikin anak lebih sehat, lebih cerdas, dan bahkan lebih berdaya tahan.

Iklan adalah media penyampai yang sangat efektif dan pengaruhnya sangat besar terhadap masyarakat. Iklan akan disaksikan setiap kali seseorang menonton tv, dan suatu hal yang diperdengarkan secara terus-menerus akan berpengaruh pada pola pikir seseorang. Di sinilah iklan akan sangat berguna bagi penyadaran massal tentang pentingnya memberikan ASI dan tetap meneruskannya hingga dua tahun. Bagi saya Indonesia butuh iklan tersebut, karena kesadaran menyusui masih begitu rendah. Coba saja berkunjung ke pediatric, salah satu tempat paling mudah untuk bertemu berbagai macam tipe ibu. Jika diperhatikan, lebih banyak orang tua yang menyelipkan dot di mulut bayinya dibandingkan dengan para ibu yang masuk ke nursing room (ruang menyusui) untuk menyusui bayinya. Dan ketika ditanya, kebanyakan ibu telah mengkombinasikan atau bahkan mengganti asi dengan susu formula segera setelah enam bulan pertama bayi. Padahal prinsip kombinasi asi dengan susu formula adalah sesuatu yang salah kaprah. Karena bagaimanapun, komposisi nutrisi asi tak tertandingi dengan makanan cair manapun. Bagaimana bisa, jika asi adalah Tanda Cinta Tuhan untuk hambaNya yang baru lahir ke dunia?? Tentu saja formula sehebat apapun tak akan bisa menandingi formula buatanNya?

Bijaksana Memilih

Ketika Ibu membeli susu formula, pada kemasan selalu tertulis kalimat sebagai berikut,

“Asi adalah makanan terbaik bagi bayi, namun atas beberapa alasan Ibu tidak mampu memberikan ASI kepada bayinya, dst… “

Kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat penunjang yang mendoktrin ibu bahwa ASI saja tidak cukup bagi bayi setelah enam bulan pertamanya, dan bahwa produk di tangan ibu adalah yang terbaik sebagai pendamping ASI. Padahal sekali lagi, pendapat tentang mengkombinasikan antara susu formula dengan ASI sebagai pilihan tepat itu adalah salah kaprah. Ketika Ibu mengkombinasikan sufor dengan ASI, itu sama saja dengan usaha menjauhkan ASI dari anak, kenapa? Karena dari sekian juta pengalaman yang saya baca, saya dengar, saya lihat, dari pengalaman orang-orang sekitar maupun dari berbagai media, bayi akan lebih menyenangi sufor dan dot daripada ASI dan puting ibunya. Dan pada akhirnya, pemberian ASI akan sama sekali dihentikan. Ini dia alasannya :

1. Dengan dot (terutama dot tanpa regulator) susu akan mengalir otomatis ke dalam mulut bayi dengan hanya sedikit isapan. Sedangkan jika menyusu, bayi mengerahkan otot dan reflex menghisapnya dari mulut, rahang, hingga ke telinga. Tentu saja ketika bayi sering diberi dot, lambat laun ia akan mengenali mana yang lebih mudah, mana yang lebih sulit. Tentu saja ia akan pilih “cara yang lebih gampang” untuk membuatnya kenyang. Karena itu, pada bayi baru lahir ia kerap jatuh tertidur padahal baru menyusu sesaat. Ini karena ia harus menggerakkan otot rahangnya untuk mendapatkan susunya, dan harus dibangunkan dengan mencolek pipinya untuk kemudian menyusu lagi. Dan atas alasan ini pula, otot rahang bayi ASI akan lebih kuat dari pada bayi yang diberi sufor.

2. Dengan sufor, bayi akan kenyang lebih lama, dan (seolah-olah) punya manajemen waktu yang lebih teratur dibanding bayi ASI. Kenapa? Karena kandungan protein sufor itu lebih sulit dicerna oleh pencernaan bayi dibanding ASI. Sehingga waktu yang dibutuhkan bayi untuk mencerna juga lebih lama. Hal ini “memudahkan” Ibu untuk menentukan waktu pemberian sufor, karena dalam beberapa hari setelah pemberian sufor, pola makan bayi akan terlihat, jam berapa dan dalam jumlah berapa ia butuh susu, kemudian kenyang dan tidur, kemudian sejumlah susu lagi dan bermain, dan begitu seterusnya. Sedangkan bayi ASI cenderung hampir setiap waktu menyusu, terutama pada saat malam, tak jarang Ibu jadi kurang tidur karena bayinya menyusu semalaman. Hal ini karena ASI sangat mudah dicerna oleh pencernaan bayi, tapi di saat yang sama ia tetap memiliki konsentrasi gizi yang sangat tinggi untuk bayi. Dan karena mudah dicerna, maka bayi hanya mengeluarkan sedikit energy ketika perncernaannya bekerja, dan ia bisa menggunakan kelebihan energinya untuk mengoptimalkan perkembangan tubuhnya. Namun ironisnya, Ibu seringkali menyerah untuk menyusui anaknya dengan alasan anaknya tak kunjung kenyang dan Ibu kelelahan, dan pada akhirnya memutuskan bahwa peran menyusuinya dibantu dengan sufor.

3. Pemberian sufor akan mengurangi waktu dan jumlah pemberian ASI untuk bayi. Hal ini akan berkaitan langsung dengan jumlah produksi ASI, karena semakin dihisap, ASI akan secara otomatis diproduksi semakin banyak. Jika waktu dan pemberiannya dikurangi, produksi ASI akan berkurang dan lambat laun akan berhenti sebelum waktunya, dan bayi Ibu akan jadi bayi sufor sepenuhnya. Oooh! Dan jika ASInya berhenti, para ibu kerap menyalahkan keadaan kenapa ASInya berhenti, padahal sebenarnya pola yang ia terapkan sendiri yang telah menyebabkan ASInya berhenti.

4. Rasa. Sufor memberikan rasa yang lebih ‘nikmat’ bagi bayi yang tidak dibiasakan dengan ASI. Rasa sufor lebih creamy, lebih gurih, dan pada cluster 1 tahun ke atas sudah disediakan berbagai macam rasa seperti Vanilla, Madu, bahkan Cokelat. Sedangkan manis ASI rasanya lebih tawar, dan terkadang berubah mengikuti jenis makanan yang dikonsumsi Ibu, walaupun tidak berarti ASI akan jadi pedas ketika Ibu mengkonsumsi cabe. Nah, bayi yang terbiasa dengan rasa yang lebih enak mungkin lambat laun akan sama sekali menolak ASI. Padahal, walaupun tawar, ASi jauh lebih kaya rasa (pengaruh dari variasi makanan Ibu) dan kelak akan memudahkan bayi untuk mengenal berbagai macam tekstur dan rasa sehingga di saat besarnya nanti, ia tidak jadi anak yang pemilih dalam soal makanan.

Berawal Dari Rumah Sakit

Pemberian sufor kerap berawal dari rumah sakit tempat bayi dilahirkan. Di beberapa rumah sakit yang saya temui, kecuali bagi pasien VIP, pihak rumah sakit umumnya memisahkan bayi dengan ibu dan mempertemukan mereka hanya pada jam-jam tertentu. Hal ini mungkin dimaksudkan untuk menghindari kontaminasi kuman atau penyakit yang bebas beterbangan di udara, tapi juga tidak efektif karena jika di luar waktu pertemuan dan si bayi lapar, maka ia akan diberi sufor. Bahkan saya pernah mendengar langsung dari praktisi medis di suatu rumah sakit ketika ia menenangkan si ibu yang kebetulan teman saya, bahwa sufor merk A akan membuat bayinya pintar. Ketika itu teman saya mengeluhkan bayinya yang selalu tidur saat dipertemukan dengannya, dan ketika bayinya asyik menyusu waktu pertemuan sudah berakhir. Menyedihkan ya? Padahal seharusnya para bayi hanya minum kolostrum saja dalam beberapa hari pertamanya. Tetapi pihak rumah sakit justru mengenalkan sufor untuk para bayi baru lahir tersebut.

Dengarkan Bidan, Abaikan Iklan dan Rayuan SPG Sufor

Di sini saya memang kurang mengerti di mana letak ketidak sinkronan antara perawat, dokter anak, dan bidan. Tapi perawat dan dokter anak kerap menghalalkan sufor bagi bayi, berbanding terbalik dengan bidan yang “mengharamkan” sufor bagi bayi. Ya, para ibu, dengarkan bidan Anda tentang betapa pentingnya ASI eksklusif untuk perkembangan fisik dan mental, bahkan masa depan anak Ibu, dan abaikan bujuk rayu iklan. Kita semua penting untuk menyadari bahwa semua kebaikan yang ditawarkan iklan sufor itu adalah segala kebaikan dan manfaat yang hanya dapat diberikan oleh ASI. Atau jika Anda tak ingin berpikir terlalu radikal seperti itu, pikirkanlah yang demikian, jika sufor bisa menjanjikan kebaikan dan manfaat sedemikian rupa? Bagaimana dengan yang diberikan ASI? Pasti jaaaauh lebih hebat lagi.

Satu lagi hal yang perlu diwaspadai para ibu, yaitu para SPG susu formula. Jika Ibu pernah berurusan dengan mereka, Ibu pasti tau betapa cerewetnya mereka. Bahkan beberapa SPG mengklaim rasa susu yang mereka jual sama seperti ASI, padahal tidak ada yang tau rasanya ASI kecuali bayi dan ibu yang bersangkutan. Jika Ibu memberikan sufor pada bayi Ibu, mungkin bantuan mereka akan diperlukan. Namun jika Ibu adalah pemberi ASI eksklusif, mereka cenderung terkesan seperti pemaksa ya Bu? Makanya, waspadai pula rayuan para SPG ini.

[To be continue]

adrie and faiz daisy path

Daisypath Anniversary tickers