Selasa, 16 Agustus 2011

Sepetak Kesadaran

Mungkin ini sudah malam ke enam puluh sekian di mana aku tidak lagi terbiasa memanjakan mata dengan langit malam yang penuh bintang dan bias bulan. Rasanya sudah terlalu lama kebiasaan itu berlalu sehingga malam ini, tepat pertengahan Ramadhan ketika purnama sedang bulat-bulatnya, aku membuka pintu sekedar mengecek keadaan dan mendapati diriku tertegun di depan pintu, diam terpana memandang purnama yang lama tidak kusaksikan dengan khidmat. Rasanya mataku terpatri di sana dan enggan berpaling kalau bukan karena udara kering angin dingin yang menusuk sampai ke tulang. Akhirnya kututup lagi pintu dan memilih memandanginya lewat jendela walaupun kesannya tak seindah kalau melihat langsung.

Terdengar dramatis mungkin, tapi yaaa! Aku memang selalu jatuh cinta pada langit. Memandangnya, juga benda-benda di sana, bulan, bintang, planet, awan, bahkan matahari yang redup membuatku lebih mudah menghadapi hidup, mengajarkanku untuk lebih banyak bersyukur dan membumi. Karenanya lama tak memandang bulan saja cukup membuatku rindu.

Singkatnya, bukan karena dipingit suami atau apa, tapi agenda ke teras saat malam dan ngedate dengan bulan sambil ngeteh/ngopi kutiadakan sejak tetangga membangun rumah baru di halaman samping rumah. Sampai saat ini penyelesaiannya tinggal tiga puluh persen lagi, dan rumah baru bertingkat yang menjulang arogan itu tentu saja menghalangi rumahku dari pepohonan yang menyegarkan, dan tentu saja langit terbuka dengan segala atributnya di atas sana. Ma sya Allah…..

Aku masih ingat menitikkan air mata ketika menyaksikan sekelompok kutilang dan pipit berdatangan ke sepetak tanah di samping rumah. Mereka hinggap di satu-satunya semak-semak kering yang tersisa. Beberapa berpandangan bingung dan beberapa yang lain mematuk-matuk tanah mencari apapun yang tersisa untuk dimakan, setelah itu mereka terbang menjauh dan tak pernah lagi kulihat hingga saat ini. Burung-burung itu tak pernah lewat lagi, apalagi singgah. Karena sejak hari itu tempat mereka penuh orang-orang yang menyusun batu-batu tinggi ke atas, membawa pasir dan mengaduk-aduk semen yang partikel-partikel kecilnya beterbangan di udara hingga masuk ke saluran pernafasan.

Sepetak tanah berukuran empat kali tujuh meter itu tadinya seperti surga. Paling tidak di tengah pemukiman padat yang tanahnya berganti semen dan aspal dan pohon-pohonnya berganti dengan bunga-bunga kecil di pot di halaman/teras yang sekedarnya. Lansekapnya miring khas daerah perbukitan, petak itu diapit oleh rumah-rumah beton di kanan kiri depan belakangnya. Rumahku terletak di sisi kanannya, sedangkan pemilik petak tinggal di rumah di sisi kiri dan agak menuruni bukit. Kebetulan Si empunya tanah adalah pemilik rumah yang kutempati saat ini, juga dua rumah lainnya di deretan yang sama.

Di petak yang tadinya hijau itu tumbuh beberapa pohon, ada dua batang pohon mangga baru setinggi orang dewasa, dua batang pohon lengkeng setinggi kurang lebih tiga meter, dan tepat di depan jendela kamar anak-anak berdiri kokoh sebatang pohon sawo yang berbuah lebat, juga pohon mangga yang sudah tiga kali dipanen. Di sudut yang lain ada rumpun salak yang lebat, dan tanahnya tertutupi oleh rumput hijau yang segar, rumpun-rumpun kenikir yang bunganya kontras dengan bunga-bunga di rumpun seruni yang berselang-seling menjalari rumput. Bunga-bunga itu membawa kupu-kupu terbang di sekelilingnya, sering pula lebah dan tawon berdengung-dengung meningkahi cericit burung-burung yang datang. Memang setiap pagi sekelompok burung kutilang dan pipit bergantian menguasai petak itu, biasanya kutilang datang lebih pagi daripada gerombolan pipit bersaing dengan ayam-ayam yang sudah berkokok-kokok sejak pagi dan kalau malam memang menghuni sawo itu untuk tidur. Tak jarang burung-burung merpati tetangga juga lewat walaupun tidak sering singgah. Sepertinya para binatang ini punya teritorinya masing-masing. Lucu dan menakjubkan juga. Belum lagi jadwal patrol malam oleh kelelawar-kelelawar yang begitu jeli menemukan sawo-sawo manis mereka.

Membayangkannya saja rasanya indah, apalagi memandanginya setiap hari, dan melebur di dalamnya merasakan angin sejuk beraroma tanah lembab yang disinari matahari pagi, angin segar beraroma daun di siang hari, angin sepoi dengan langit biru terbuka di sore hari, dan angin dingin malam hari yang kontras dengan kerlip bintang yang ramah dan cahaya bulan yang terkesan hangat. Tadabbur alam setiap hari kalau boleh dibilang. Sehingga ketika kehilangan semua itu (yang memang bukan benar-benar milikku), rasanya seperti kehilangan sesuatu dari dalam jiwa dan merasa bodoh di saat yang sama karena tidak berdaya melakukan apapun.

Akhirnya demi sebuah istilah bernama passive income yang sedang jadi business trending akhir-akhir ini, semua itu tidak bisa lagi dinikmati, baik olehku, oleh anak-anakku yang juga belajar dari sepetak tanah hijau itu, dari hewan-hewan yang semua sumber makanannya di sana, bahkan mungkin dua-tiga orang tetangga yang kerap memanen kenikir atas izin pemiliknya, untuk kemudian dijual dan menjadi sedikit tambahan penghasilan mereka. Subhanallah, banyak sekali sebenarnya passive income akhirat dari sepetak tanah empat kali tujuh meter itu, sungguh sebenarnya tak sebanding dengan materi yang mungkin akan diraup si pemilik. Belum lagi oksigen murni yang dihasilkan setiap helai daunnya, yang akan dihirup oleh setiap orang di sekitar lingkungan itu, setiap hari setiap waktu, bukankah itu juga jadi shadaqah? Ma sya Allah…. Indahnya kalau kita mau memikirkan…

Dan sekarang yang ada hanya debu dan udara kering yang panas.

~~~~~

Dari Jabir RA berkata, Rasulullah SAW bersabda,

“Tidak seorang muslim pun yang bercocok tanam, melainkan setip tanamannya yang dimakan atau dicuri orang, atau dimakan binatang liar, atau dimakan burung, atau hilang, niscaya semuanya itu menjadi shadaqah baginya.”

HR. Muslim

2 komentar:

  1. mama faza, mana kok blm follow balik blog-ku clinicoustic.blogspot.com

    BalasHapus
  2. hehehe.... segera laksanakan!
    aku lg jarang buka blog mba, afwan yaa :D

    BalasHapus

adrie and faiz daisy path

Daisypath Anniversary tickers