Bukanlah satu keanehan bahwa segala jenis objek yang diperjualbelikan di bandara (atau pelabuhan laut) melonjak berkali lipat. makanan, minuman, majalah, pulsa elektronik, apalagi barang cinderamata, semua harganya hampir tak masuk akal. Semua memang mahal namun masih laris-laris saja karena kebutuhan yang begitu tinggi. Tentu saja orang yang sudah kadung masuk bandara pastinya tidak bakal mau keluar lagi sekedar untuk cari air mineral murah, belum lagi jika urusannya dengan tenggat waktu dan hal-hal urgent, pastinya harga menjadi nomor sekian. Kesempatan itulah yang dimanfaatkan hampir semua pelaku niaga di bandara. Hampir, ya! Hampir, karena tak semuanya dijual mahal, ternyata ada juga niaga murah meriah dan saya pun baru tau saat menjemput eyangnya anak-anak beberapa hari lalu.
Sambil menanti pesawat eyang mendarat, kami tak beranjak dari mobil karena anak-anak sedang tidur di jok belakang, tak sengaja saya memperhatikan seorang ibu paruh baya yang terus mondar mandir ke belakang kendaraan kami. Tak jauh di seberang kami, segerombolan bapak-bapak sedang minum dari gelas-gelas plastik putih bermotif polkadot merah, entah kopi atau teh, atau mungkin keduanya. Tadinya saya sempat berpikir, bapak-bapak ini rajin juga bawa-bawa gelas plastik sambil nunggu di parkiran. Mungkin mereka ini driver travel, atau driver pribadi yang sedang menunggu majikannya, mereka bisa siapa saja.
Iseng-iseng saya perhatikan si ibu tadi bolak-balik, ia berjalan ke arah gazebo di tengah pelataran parkir sambil membawa sebotol air mineral, lalu kembali lagi ke belakang kami. Tak lama kemudian, pergi lagi melewati kami sudah dengan gelas plastik di tangan, ngapain dia di belakang mobil?? Saya menoleh ke belakang, melongok melalui jendela. Wallaaa!! Ini diaaaa, ternyata dagangan si ibu "bermarkas" tepat di belakang mobil kami.
Di "markasnya" ada sebuah igloo tahan panas berwarna biru, mungkin kapasitasnya sekitar delapan liter, ada pula tas oranye besar berisikan piring-piring dan gelas plastik, beberapa kotak makan transparan yang disusun bertumpuk, semuanya sudah kosong kecuali kotak terkecil paling atas, isinya empat atau lima buah tahu isi dan pisang goreng ditambah beberapa buah cabe rawit. Ada keranjang yang sudah kosong, bungkusan tas plastik, kopi instan rencengan, dan tak ketinggalan sebuah termos nasi kapasitas lima liter. Lumayan komplit.
Khawatir dianggap stalking alias menguntit, saya kembali memalingkan muka ke depan, mencoba menjaga privasi si ibu yang keliatannya sudah jengah juga sejak tadi mondar-mandir melewati kami. Tak lama berselang, seorang bapak-bapak bertubuh gempal menghampiri si ibu yang sedang berdiri tak jauh di depan mobil kami, bapak itu bertanya, "masih ada?"
si ibu menggelengkan kepalanya, "sudah habis."
"masa? nda da sisanya kah?"
"ndak ada pak! sudah habis dari tadi, aku cumak bawa sedikit aja.."
Tanpa perlu banyak penjelasan si bapak ngeluyur pergi begitu saja.
Tak lama berlalu, datang lagi seorang bapak tua, wajah-wajah oriental gitu, datang menghampiri si ibu, "masih ada nasi bungkus?" ia bertanya.
"nasi bungkus sudah habis pak.."
"yang lain ada?"
"apa pak? cuma ada itu gorengan tinggal sedikit."
"kopi ada?"
"sudah habis juga"
"wah ya sudah..."
Tak berkomentar lebih jauh, bapak tersebut lalu berjalan ke tengah areal parkir, melambai-lambai ke salah satu trotoar. Tak lama datang dua orang pemuda (karena jelas sudah bukan remaja, tapi juga belum pantas disebut pria dewasa) menghampiri bapak cina tersebut.
"Ini, nasinya sudah habis tapi masih ada gorengan, kau makanlah dulu berdua! Cukuplah itu supaya kau tak mati!" ucapnya setengah berkelakar. Kedua pemuda itu sambil tersenyum-senyum menghampiri jualan si ibu, dan mulai memakan sisa gorengan yang ada.
"Waaah.... enak ini! Apalagi lapar-lapar begini! Minumnya ada apa bu? bla..bla...bla..."
puji salah satu pemuda itu. Saya sudah tak begitu memperhatikan, pengumuman menggema menyebut pesawat yang kami tunggu telah mendarat.
Saat turun dari mobil saya berinisiatif untuk memotret aktivitas mereka. Awalnya si ibu penjual menolak, mungkin malu atau bahkan khawatir saya akan melaporkannya ke security. Tapi tentu saja tidak, saya jelaskan bahwa saya suka ide jualannya dan akan saya tulis di internet, akhirnya ia mengizinkan, mungkin kata "internet" terdengar bergengsi di telinganya, hihihi.
Dan ini dia!! jepretan maksimal yang bisa didapat, si ibu sih gak bisa berhenti bergerak canggung! :D
Tidak seperti di pelabuhan laut, terminal bus atau stasiun kereta api, bandar udara biasanya lebih steril dari pelaku niaga "tak resmi" seperti si ibu tadi. Katakanlah karena yang keluar masuk areal bandara lebih banyak dari golongan menengah ke atas. Dan pihak bandara, pihak pemerintah mungkin, pasti tidak ingin areal ekslusif pertamanya yang dilihat pendatang tampak pemandangan yang kurang teratur dengan keberadaan para pedagang ilegal tersebut.
Dikatakan ilegal, karena yang pertama mereka tak berizin dari pihak berwenang, baik pihak pengamanan maupun pihak pengelola bandara. Mungkin ini juga salah satu alasan si ibu enggan saya ambil gambarnya. Yang kedua, mereka tak memiliki tempat menetap untuk menjajakan dagangannya, ketika mereka punya tempat maka mereka harus bayar pajak, bayar sewa tempat atau bahkan mungkin membelinya, dan itu tidak mungkin dilakukan tanpa menaikkan harga dagangan hingga gila-gilaan.
Tapi, meskipun bagi sebagian orang keberadaan mereka mengganggu, ada juga kalangan yang merasa cukup lega karena tentu saja tak semua orang bersedia membayar mahal hanya untuk sepiring nasi goreng yang kerap kali rasanya tak sesuai dengan harganya. Buktinya, setengah jam di parkiran melihat ia mondar-mandir melayani pembeli di pojok sana sini hingga dagangannya habis menunjukkan bahwa pastilah pintu rizkinya terbuka lebar di situ. Pelanggannya para porter, supir taksi bandara, pegawai parkir, mungkin juga supir-supir travel liar yang sering mencari penumpang dan bermaksud menghela lapar dengan modal minimal. Atau mungkin juga penumpang pesawat yg tak memikirkan gengsi, seperti pemborong bangunan yang membawa pasukan tukang dari luar balikpapan. Pembelinya memang bisa siapa saja.
Ya, dunia selalu punya sisi-sisinya sendiri untuk memudahkan setiap individu menemukan tempat yang (setidaknya mendekati) nyaman baginya bahkan di lingkungan asing sekalipun. Dan karunia Allah akan selalu terbuka bagi siapa saja yang mau menjemput rizkinya. :-)
Sambil menanti pesawat eyang mendarat, kami tak beranjak dari mobil karena anak-anak sedang tidur di jok belakang, tak sengaja saya memperhatikan seorang ibu paruh baya yang terus mondar mandir ke belakang kendaraan kami. Tak jauh di seberang kami, segerombolan bapak-bapak sedang minum dari gelas-gelas plastik putih bermotif polkadot merah, entah kopi atau teh, atau mungkin keduanya. Tadinya saya sempat berpikir, bapak-bapak ini rajin juga bawa-bawa gelas plastik sambil nunggu di parkiran. Mungkin mereka ini driver travel, atau driver pribadi yang sedang menunggu majikannya, mereka bisa siapa saja.
Iseng-iseng saya perhatikan si ibu tadi bolak-balik, ia berjalan ke arah gazebo di tengah pelataran parkir sambil membawa sebotol air mineral, lalu kembali lagi ke belakang kami. Tak lama kemudian, pergi lagi melewati kami sudah dengan gelas plastik di tangan, ngapain dia di belakang mobil?? Saya menoleh ke belakang, melongok melalui jendela. Wallaaa!! Ini diaaaa, ternyata dagangan si ibu "bermarkas" tepat di belakang mobil kami.
Di "markasnya" ada sebuah igloo tahan panas berwarna biru, mungkin kapasitasnya sekitar delapan liter, ada pula tas oranye besar berisikan piring-piring dan gelas plastik, beberapa kotak makan transparan yang disusun bertumpuk, semuanya sudah kosong kecuali kotak terkecil paling atas, isinya empat atau lima buah tahu isi dan pisang goreng ditambah beberapa buah cabe rawit. Ada keranjang yang sudah kosong, bungkusan tas plastik, kopi instan rencengan, dan tak ketinggalan sebuah termos nasi kapasitas lima liter. Lumayan komplit.
Khawatir dianggap stalking alias menguntit, saya kembali memalingkan muka ke depan, mencoba menjaga privasi si ibu yang keliatannya sudah jengah juga sejak tadi mondar-mandir melewati kami. Tak lama berselang, seorang bapak-bapak bertubuh gempal menghampiri si ibu yang sedang berdiri tak jauh di depan mobil kami, bapak itu bertanya, "masih ada?"
si ibu menggelengkan kepalanya, "sudah habis."
"masa? nda da sisanya kah?"
"ndak ada pak! sudah habis dari tadi, aku cumak bawa sedikit aja.."
Tanpa perlu banyak penjelasan si bapak ngeluyur pergi begitu saja.
Tak lama berlalu, datang lagi seorang bapak tua, wajah-wajah oriental gitu, datang menghampiri si ibu, "masih ada nasi bungkus?" ia bertanya.
"nasi bungkus sudah habis pak.."
"yang lain ada?"
"apa pak? cuma ada itu gorengan tinggal sedikit."
"kopi ada?"
"sudah habis juga"
"wah ya sudah..."
Tak berkomentar lebih jauh, bapak tersebut lalu berjalan ke tengah areal parkir, melambai-lambai ke salah satu trotoar. Tak lama datang dua orang pemuda (karena jelas sudah bukan remaja, tapi juga belum pantas disebut pria dewasa) menghampiri bapak cina tersebut.
"Ini, nasinya sudah habis tapi masih ada gorengan, kau makanlah dulu berdua! Cukuplah itu supaya kau tak mati!" ucapnya setengah berkelakar. Kedua pemuda itu sambil tersenyum-senyum menghampiri jualan si ibu, dan mulai memakan sisa gorengan yang ada.
"Waaah.... enak ini! Apalagi lapar-lapar begini! Minumnya ada apa bu? bla..bla...bla..."
puji salah satu pemuda itu. Saya sudah tak begitu memperhatikan, pengumuman menggema menyebut pesawat yang kami tunggu telah mendarat.
Saat turun dari mobil saya berinisiatif untuk memotret aktivitas mereka. Awalnya si ibu penjual menolak, mungkin malu atau bahkan khawatir saya akan melaporkannya ke security. Tapi tentu saja tidak, saya jelaskan bahwa saya suka ide jualannya dan akan saya tulis di internet, akhirnya ia mengizinkan, mungkin kata "internet" terdengar bergengsi di telinganya, hihihi.
Dan ini dia!! jepretan maksimal yang bisa didapat, si ibu sih gak bisa berhenti bergerak canggung! :D
Tidak seperti di pelabuhan laut, terminal bus atau stasiun kereta api, bandar udara biasanya lebih steril dari pelaku niaga "tak resmi" seperti si ibu tadi. Katakanlah karena yang keluar masuk areal bandara lebih banyak dari golongan menengah ke atas. Dan pihak bandara, pihak pemerintah mungkin, pasti tidak ingin areal ekslusif pertamanya yang dilihat pendatang tampak pemandangan yang kurang teratur dengan keberadaan para pedagang ilegal tersebut.
Dikatakan ilegal, karena yang pertama mereka tak berizin dari pihak berwenang, baik pihak pengamanan maupun pihak pengelola bandara. Mungkin ini juga salah satu alasan si ibu enggan saya ambil gambarnya. Yang kedua, mereka tak memiliki tempat menetap untuk menjajakan dagangannya, ketika mereka punya tempat maka mereka harus bayar pajak, bayar sewa tempat atau bahkan mungkin membelinya, dan itu tidak mungkin dilakukan tanpa menaikkan harga dagangan hingga gila-gilaan.
Tapi, meskipun bagi sebagian orang keberadaan mereka mengganggu, ada juga kalangan yang merasa cukup lega karena tentu saja tak semua orang bersedia membayar mahal hanya untuk sepiring nasi goreng yang kerap kali rasanya tak sesuai dengan harganya. Buktinya, setengah jam di parkiran melihat ia mondar-mandir melayani pembeli di pojok sana sini hingga dagangannya habis menunjukkan bahwa pastilah pintu rizkinya terbuka lebar di situ. Pelanggannya para porter, supir taksi bandara, pegawai parkir, mungkin juga supir-supir travel liar yang sering mencari penumpang dan bermaksud menghela lapar dengan modal minimal. Atau mungkin juga penumpang pesawat yg tak memikirkan gengsi, seperti pemborong bangunan yang membawa pasukan tukang dari luar balikpapan. Pembelinya memang bisa siapa saja.
Ya, dunia selalu punya sisi-sisinya sendiri untuk memudahkan setiap individu menemukan tempat yang (setidaknya mendekati) nyaman baginya bahkan di lingkungan asing sekalipun. Dan karunia Allah akan selalu terbuka bagi siapa saja yang mau menjemput rizkinya. :-)


woooow, tulisannya bagus banget.. saya ngiri, gak bisa nulis gitu :D
BalasHapusτĥάηƙƴόύ say, walaupun begini kok ya dibilang bagus. Aku malah ngiri sama sampean, bisa istiqomah sharing setiap hari, meluangkan ωαƙƫư menyebar informasi pada orang banyak. Sesuatu ƴαŋğ belum kupunya ;)
BalasHapus