Awan
Matahari
Angin
..................................................
Aku suka langit senja hari ini,
kelabu, biru cerah, biru keunguan, jingga, merah muda....
dengan awan-awan putih
begitu indah,
begitu cantik,
begitu elok,
begitu.... tak membosankan,
seolah-olah mataku terpatri ke atas sana hanya untuk memandang.
Memandang kejauhan,
memandang tak berpenghabisan,
memandang yang sebenarnya tak ada...
hmmm....
bukannya langit itu kalau didatangin, ya cuma ada kehampaan ya kan?
ruang...?
space...?
warna-warna itu kan biasan dari matahari toh...?
hehe.. semoga tidak ngawur,
dan tidak diprotes dengan langitselatan (karena aku member yang jelas-jelas malas membaca, ^_^)
..................................................................................
Hmmm......
jadi teringat kata-kata seorang sahabat,
katanya, waktu kecil dia takut melihat langit.
Kenapa?
Bukannya asyik ya melihat langit?
Katanya, ketika ia melihat langit dan arak-arakan awan yang sedemikian rupa,
akan begitu banyak ide-ide dan cerita-cerita yang begitu saja datang dan pergi seperti alur cerita yang tak berkesudahan dan tak terarah, scrambled.
Jadilah ia tak tahan dengan 'perputaran imajinasi' di benak 'anak kecil' nya itu.
Namun seiring waktu berjalan, ketika ia semakin memahami hidup dan mulai bersantai terhadap suatu hal bernama proses (yang tentu saja tidak selalu menyenangkan), ia mulai beradaptasi dengan langit. Ia mulai berteman dengan langit, sembari pelan-pelan menyusun ide-ide berantakannya menjadi sesuatu yang lebih teratur, terpilah-pilah, dan terklasifikasi dengan baik, apakah hanya untuk berdiri sendiri, ataukah menjadi satu kesatuan lagi.
Ya, dan sekarang ia bersahabat akrab dengan langit. Juga laut, gunung, sungai, kerikil, angin..... Hmmmm... ia bersahabat dengan alam yang membesarkannya.
.....................................................................................................................
Aku juga jadi teringat masa kecilku yang cintaaaaaaaaaaaaaaaaa langit!!!
aku sudah terobsesi menjadi astronot sejak kecil, hanya saja otak dan mentalku ternyata tidak memadai ;p
Dulu, waktu kecil, kalau malam hari penuh bintang, aku senang menengadahkan kepala sampai pegal, hanya untuk menghitung bintang yang uncountable, mengikuti pergerakan awan hingga terasa ikut masuk ke dalam pusaran bintang-bintang dan berputar bersama bumi... uhhh... pusing ya sepertinya??
Ya, aku cinta langit. Aku cinta memandang ke kedalaman langit (atau ketinggian langit?) hingga terasa seperti hanya aku sendirilah yang berdiri di Bumi ini sedang semua benda lain tak lebih tinggi dari mata kaki. Padahal tentu saja kenyataannya akulah makhluk newbie yang kecil mungil (bahkan sampai sekarang).
Dulu juga, setiap ahad pagi aku bangun subuh (karena harus ikut senam jantung dan jogging bareng ortu yang notabene harus pagi-pagi banget) dan bersemangat sekali karena aku tau aku pasti akan menyaksikan Bintang Timur yang terbit tepat di depan rumah kami yang menghadap ke Timur. Bintang Timur itu sebenarnya planet Mars yang terbit di arah timur dan dapat dilihat sebelum matahari terbit (ohh... lagi-lagi ini asal ingat dan tanpa cross-check pula, cek kebenarannya sendiri yah ^^). Waktu itu sih, Bintang Timur bisa terlihat sangat, sangat jelas. Dan besaaar sekali!! Pernah suatu ketika, aku batal ikut jogging karena mataku tak mampu beralih dari bintang cantik yang satu ini. Kala itu aku seakan-akan tersihir dengan keberadaannya yang sendirian, mendominasi di antara bintang-bintang lain yang kecil mungil berkelap-kelip. Sedang ia berdiri sendiri, terlihat megah dan mewah dengan cahayanya yang begitu terang dan berkilau. Aku terpukau dan tertarik ke dalamnya, bermain siapa-yang-duluan-berkedip dengan si Cantik. Tentu saja aku kalah, namanya juga main-mata dengan Planet. Bukannya ia memang tidak berkedip???
Dan kala itu (namanya juga imajinasinya anak-anak), seakan-akan aku terbang ke langit dan bermain bersama bintang-bintang, larut dalam kerlap-kerlip dan perputarannya. Hingga satu demi satu bintang-bintang itu memudar teratur dengan amat sangat perlahan seiring dengan semburat sinar matahari yang mulai terbit. Pada titik itu mataku hanya tertuju pada satu bintang, Si Cantik Bintang Timur, yang masih tetap bertahta dengan cahayanya, menegaskan ia adalah Bintang Timur. Hanya satu yang masih bertahan dengan matahari yang sudah duduk di singgasananya. Jika lengah sedikit saja, tentu ia akan "hilang" dari pandangan dan membaur bersama bintang-bintang lainnya dalam kehangatan cahaya pagi. Hingga akhirnya mataku tak mampu lagi menampung cahaya itu. Aku terduduk lelah, pegal, dan kehausan. Baru menyadari aku sendirian dan sudah berdiri di balkon rumahku sejak sebelum subuh hingga matahari terbit sempurna. Wahh.... lumayan lama!!
Kebiasaan itu berlanjut hingga masa remaja, katakanlah smp-sma. Waktu itu aku nyantri di Darul Falah, sebuah pondok pesantren di (katakanlah) sebuah desa bernama Cukir, di mana langitnya memang PENUH bintang, pengaruh lighting yang tidak sesemarak di kota-kota pada umumnya. Aku masih menyempatkan diri berlama-lama memandangi mereka kerlap-kerlip yang kecil mungil dan unik. Sangat beruntung pondok tempatku tinggal punya bangunan bertingkat yang belum selesai, sehingga aku dan teman-teman berhobi serupa suka naik (tepatnya manjat pakai tangga pak tukang) ke level teratas bangunan itu, menggelar tikar dan bantal, beberapa buku atau kitab, dan lilin (biasa, namanya juga santri, alasannya pasti belajar). Suasananya begitu tak tergambarkan. Hampir-hampir mistis! Tapi bukan mistis horor loh, mistis dalam arti religius dan spiritual, karena lingkungannya yang demikian itu, di mana-mana bergema Asma Allah, hampir tak pernah berhenti. Terlebih lagi saat padhang mbulan atau Purnama. Subhanallaaaaaaaaaaaaaaaaaah tak terlukiskan keindahannya. Duh..... saat menuliskan ini pun saya merinding mengingat kedamaian suasana itu. Kapan yaaaaaaaa mengulang hal yang sama.... hiks..... Jadi kangen pondok... :(
Namun sekarang ini, setelah dewasa malah jarang sekali berkencan dengan langit. Mungkin faktor ini-itu lah ya.. lagipula para ibu kan merasa lebih aman di dalam rumah ketika malam. Apalagi kalau kondisinya seperti aku ini, wah.. Walaupun, aku juga mengajak anak-anak belajar berkencan dengan langit, tapi tidak tiap hari juga kalii..... :P
Apalagi melihat Bintang Timur di shubuh hari, wah, sepertinya ga ada ya?? Atau aku yang tak lagi jeli?? padahal kan letak rumah kami justru di perbukitan yang terbuka sekali dengan langit. Mungkin karena rotasi Bumi, rotasi Mars nya sendiri (si Bintang Timur), atau malah mataku yang sudah error ya, jadi bintangnya tak terlihat?? Padahal rindu sekali dengan si cantik itu. Tapi bukannya aku tidak melihat yang lain. Setiap selesai shalat maghrib, tepatnya setelah matahari terbenam, selalu ada Bintang Barat yang terbit di sebelah Barat. Sama cantiknya, sama besarnya, sama kemilaunya.... hmmmmm..... Bukannya itu Bintang Kejora ya? Venus? ah... lagi-lagi inilah jeleknya menulis tanpa belajar. Cek sendiri kebenarannya ya... bisa tanya sama Mas Wikipedia, atau Om NASA, atau mas dan mbak di langit selatan. ^^
Namun sayang, harus keluar rumah untuk memandanginya, karena ia terbit di atas rumah kami, sebelah barat, dan kebetulan kondisi perbukitannya jauh lebih tinggi di banding arah timur rumah kami, jadi... tak bisa setiap hari "berkencan" dengan Sang Kejora.
Hmmmmmm
Sudah cukup tidak ya celotehnya.... ^^
..........................................................................................................................................................................
Wah.....
Sayang sekali tidak ada lampiran foto di entry yang ini....
hffhhhh... Pengen sih.....
Tadinya mau pakai gambar dari mas Google aja, tapi rasanya kok tidak orisinil, takutnya melanggar hak cipta orang pula, walaupun bisa dihindari dengan mencantumkan tautan sih..
Tapi tetap saja diurungkan niat tersebut. Maunya sih pakai koleksi pribadi, namanya juga blog sendiri masa pic nya import dari blog orang, ya ngga...
Jadi tolong doakan saja aku ya... mudah-mudahan diluaskan rizqi, jadi bisa beli Canon EOS 500D Kit 18-200mm IS, hehehehe.... Aamiin.......
Dan blog ini pun akan semakin meriah :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar