Pagi tadi saya mengantar Faza ke sekolah dan menunggunya beberapa saat. Ia senam bersama teman-temannya. Saat senam, ia terlihat bercanda dengan beberapa temannya. Ketika waktunya kembali ke kelas, teman-temannya terlihat meninggalkannya dan ia sendiri. Memakai sepatunya sendiri dan pergi ke kelas sendiri… Memang, dalam beberapa kali mengantar-jemputnya, sering sekali saya perhatikan ia melakukan apa-apa sendiri. Terkadang teman-temannya datang bermain berpasang-pasangan dan ia tak ada di salah satu grup/pasangan manapun. Hanya ia dan dirinya sendiri.
Tiba-tiba saya merasa khawatir…. Melihatnya seperti itu seperti melihat diri saya sendiri di masa lampau, seperti melihat diri saya sendiri yang berperan di sana. Dan saya khawatir akan itu, sangat khawatir, mungkin bahkan saya takut dia akan jadi seperti saya.
Saya adalah penyendiri. Seingat saya, sejak tk saya sudah memutuskan untuk lebih suka bermain-main dengan pikiran sendiri, sehingga saat itu, saya hanya punya satu teman akrab, namanya Widyawati, entah di mana ia sekarang. Kemudian ketika SD, Tsanawiyah, Aliyah, suasana sekolah masih tak mengubah keadaan itu. Tinggal di pondok pesantren memang membuka lebih banyak hubungan sosial bagi saya, terlebih di dalam satu kamar yang suasananya sudah lebih mirip rumah dan keluarga sendiri. Namun di sekolah, saya masih penyendiri, lebih suka nongkrong di perpustakaan dan membaca apa saja yang ada.
Ketika tidak sedang membaca, saya ngobrol dengan teman-teman yang tidak terlalu popular, seperti mereka yang juga pendiam seperti saya, mereka yang terlalu kalem untuk berbicara banyak…. Ada kalanya juga saya lama tidak ke perpus, misalnya kehabisan bacaan atau asyik dengan Koran dan mading, atau saat sedang musim permainan seru seperti galasin, saya pasti ikut. Jika tidak, lagi-lagi saya lebih suka mendekam di dalam kelas dan baca kamus yang hampir selalu saya bawa-bawa meskipun bukan waktunya pelajaran bahasa Inggris.
Saya tidak sepintar itu. Bisa dibilang saya malah tidak sepintar teman-teman yang lain. Saya bawa kamus setiap hari hanya karena saya cinta bahasa Inggris, dan supaya saya tau arti dari lagu yang sering saya nyanyikan. Dan mengapa saya ke perpus hampir setiap hari? Itu karena saya merasa menemukan dunia saya di sana. Saya bisa menikmati keindahan sastra ketika saya baca puisi, saya bisa tenggelam dalam emosi seseorang ketika sedang membaca novel, saya bisa menemukan ternyata begitu banyak pertanyaan aneh dalam benak saya ketika mencoba membaca buku-buku filsafat, saya bisa melakukan perjalanan menyenangkan melalui ensiklopedi dunia, dan terbang ke ruang angkasa atau menyelam ke dalam laut, menyelusup ke dalam bumi lewat gambar-gambar dramatis di ensiklopedi sains. Begitu banyak hal yang bisa diberikan sebuah buku pada saya, bagi saya. Dan itulah yang membuat saya ketagihan. Dunia saya ada di sana, menurut saya. Tetapi itu juga yang mungkin memisahkan saya dengan dunia nyata. Sepertinya…. Dan bukan saja soal buku, hal lain seperti bepergian misalnya, ketika semua teman berkeberatan pergi ke suatu tempat sendiri, saya tak pernah keberatan jika saya harus pergi tanpa teman. Rasanya saat itu pikiran saya hampir selalu sibuk sehingga seolah-olah dunia saya sudah ramai tanpa harus saya tambahkan seseorang untuk menemani. Lalu setelah saya dewasa, saya kerap berintrospeksi diri bahwa mungkin karena saya selalu penyendiri makanya Allah beri saya karunia Long Distance Marriage.
Ketika beberapa teman ditanya, mungkin banyak di antara mereka yang tidak setuju bahwa saya pendiam. Kebanyakan kesan yang saya terima bahwa saya ceriwis, manja, jutek, sok tau, cenderung rame malah. Mungkin itu dari mereka yang benar-benar dekat dengan saya. Mereka yang memberi saya kesempatan untuk menikmati keberhargaan sebuah pertemanan dan manisnya persahabatan. Namun saya sangsi apakah ada yang pernah memperhatikan bahwa pada dasarnya saya kesulitan membaur, bahwa saya akan berpikir seratus ribu kali hanya untuk memulai percakapan dengan seseorang tanpa resiko tidak disenangi atau tidak membosankan. Saya banyak bicara, jika saya menemukan kenyamanan dengan orang-orang tertentu. Permasalahannya bahwa saya tak mudah nyaman dengan orang. Saya tak ingin seperti itu, tetapi itulah problema saya. Saya bisa berbicara di depan audiens dan mengarahkan sesuatu, namun saya tak cukup yakin menghadapi per-personal. Saya bukan pemilih dalam berteman, namun sulit memulainya. Dalam tahap ini rasanya cukup mengerikan dan tidak dewasa. Namun itulah saya. Saya kagum dengan orang-orang yang supel yang bisa berbicara dengan santai kepada siapa saja. Sedangkan saya, saya terlalu penuh pertimbangan. Ketika dalam keramaian dan menghadapi banyak orang, suara negative dalam benak saya kerap menggaung-gaungkan kekhawatiran apakah saya diterima dengan baik, apakah saya terlihat oke, apakah orang tidak tersinggung dengan apa yang saya bicarakan, apakah orang lain menyukai topik yang saya kemukakan… bla bla bla. Kebanyakan karena saya tidak punya rasa percaya diri yang adekuat untuk percaya bahwa orang lain akan mendengarkan saya. Sehingga pada akhirnya saya memang kerap sendiri dalam keramaian.
Dan itu yang saya lihat pada diri putri saya. Setelah pagi itu, malamnya saya tanyakan padanya,
“Faza, siapa aja teman Faza di sekolah?”
“emmm…. Dimas, Zaky, Zakiyah, Inayah, Nayla….”
“terus?”
“emmm… Vio…, terus siapa lagi ya Jaju ga hafal.”
“terus Jaju suka mainnya sama siapa?”
“emmm….. ga tau.. ya kadang-kadang Nayla…. Inayah… Jaju juga suka main sama Dimas..”
“kok kadang-kadang? Memang Jaju ga tiap hari main sama teman-teman?”
“iya.”
“kenapa? Biasanya Inayah kan main sama Jaju..”
“iya tapi engga.”
“engga..?”
“iya, Inayah ga suka main sama Jaju.”
“loh… memangnya Jaju tau Inayah ga suka main sama Jaju? Jaju ga asik kali jadi Inayah males main sama Jaju..?”
“Inayah sukanya main sama Nayla.”
“oh ya? Jangan-jangan Jaju suka suruh-suruh kali?”
“engga, ngga pernah..”
“sama teman yang lain?”
“engga… Jaju ga suka ngobrol.”
“Jaju ga suka ngobrol?”
“iya, Jaju ga suka…”
“kenapa? Kan asik ngobrol sama temen rame,”
“hemmm…. Engga mi, Jaju tapi ga suka ngobrol. Jaju sukanya sendiri.”
“Jaju suka sendiri?”
“iya.”
“apa enaknya sendiri, kan sepi?”
“ya atau Jaju ngobrol sama ibu guru..”
“Jaju suka ngobrol sama ibu guru?”
“iya. Jaju suka, apalagi sama ibu Tari Jaju suka.”
“Kalo bu guru lagi sibuk Jaju ngapain?”
“ya duduk-duduk aja.”
“sama siapa?”
“ya sendiri aja. Jaju sukanya kan sendiri.”
“terus ngapain Jaju sendiri? Main puzzle mungkin? Jaju kan suka puzzle.. Atau gambar gambar?”
“engga. Puzzle di sekolah bau, Jaju juga ga suka.”
“loh jadi ngapain?”
“ya Jaaju liatin teman-teman aja.”
“ngapain Jaju liatin teman-teman?”
“ya liatin aja, kadang teman Jaju itu lucu-lucu. Ada yang jatuh, kemaren ada yang dorong-dorongan, ada juga teman Jaju yang bawa dodot ke sekolah.”
“oh ya?”
“iya. Kenapa sih umi Tanya-tanya terus?”
“gak papa sih… umi Cuma khawatir aja faza ga punya teman.”
“ada kok temen Jaju mi, tapi Jaju ga suka ngobrol aja.”
Oh putriku yang melankolis…. Kau mengingatkan umi betapa seringnya umi dulu mengatakan, dan menuliskan, “Silence is Gold, and Solitude is Precious Time for Precious Thinking” Semoga saja kelak kau tidak kesulitan membaur dengan lingkungan walaupun kau tidak suka mengobrol dan lebih suka mengamati dari jauh. Semoga dengan demikian Allah menjaga lisanmu dari mengucapkan yang tidak bermanfaat, menjaga pendengaranmu dari mendengarkan yang tidak bermanfaat, menjaga hatimu dari pikiran dan prasangka yang tidak bermanfaat, aamiin…
Umi hanya khawatir kau sulit menemukan tempatmu di antara orang banyak, umi khawatir kepercayaan dirimu terkikis oleh kesendirian ketika keyakinan akan dirimu dipertanyakan (oleh dirimu sendiri kelak) berdasarkan banyaknya teman yang berdiri di sampingmu. Sebagaimana yang pernah umi rasakan, karena sungguh ketika kita tak mudah berteman nak, itu sesuatu yang tidak mengenakkan.
Rabb Yang Maha Pengasih dan Penyayang, doa hamba jadikanlah anak-anak kami anak yang sholih dan berguna, yang Engkau sayangi dan disayangi hamba-hambaMu yang sholih, aamiin…