Rabu, 20 Oktober 2010

Bijaksana Menceritakan Proses Kelahiran

Status saya hari ini banyak mengundang komentar. Beberapa sih memang tidak relevan alias keluar jalur, tapi, ada pula yang mempertanyakan kenapa saya harus menulis demikian. Inilah yang saya tulis,

wahai para bunda, mengapa tak kau katakan bahwa kau sudah lupa rasa sakit melahirkan, daripada kau harus mengumbar kesakitanmu dan membiarkan pahala luar biasamu itu menguap bersama cerita yang mungkin juga sebentar dilupakan orang...

Saya menulis demikian karena terispirasi oleh seseorang yang dengan demikian bersemangatnya bercerita kepada orang banyak tentang betapa sulitnya ia menjalani proses untuk menjadi seorang ibu. Mungkin bagi banyak orang hal itu biasa, tapi dalam perspektif saya ceritanya terkesan berlebihan, dan hal itu mengingatkan saya tentang wejangan yang diberikan oleh seorang guru saya, Nyai Hajjah Romlah Aly, Lc Al-Hafidzah, seorang yang sangat tawaddhu’, ahli Fiqih, mukminah yang kaffah, dan seorang Hafidzah yang insya Allah dapat dipertanggungjawabkan hafalan dan amal ibadahnya. Beliau banyak berpesan kepada saya dan salah satunya tentang bagaimana menjalani proses menjadi ibu.

Proses kehamilan hingga kelahiran bukanlah sesuatu yang mudah, hal ini jelas telah diterangkan dalam Al-Quran surah Luqman ayat 11,

“ Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang ibu bapakmu, dan hanya kepadaKu lah kembalimu.”

Keadaan setiap wanita yang mengandung memang tidak dapat disamakan satu sama lain. Ada yang tangguh dan kuat, ada yang lemah dan sangat kepayahan, ada yang terus-menerus sakit, bahkan ada pula yang tidak merasakan cobaan yang berarti. Namun tak dapat dipungkiri perubahan yang terjadi berkaitan dengan tumbuhnya kehidupan di dalam tubuh seorang wanita adalah sesuatu yang membutuhkan adaptasi. Perut yang semakin lama semakin membesar, hormon-hormon yang saling mempengaruhi antara hormone yang dikeluarkan janin dan hormone yang dikeluarkan oleh tubuh ibu sendiri menghasilkan perubahan-perubahan tertentu pada sang ibu, baik fisika maupun kimiawi. Kondisi demikian inilah yang dimaksud dengan kepayahan yang bertambah-tambah. Sama halnya dengan melahirkan, setiap wanita mengalami pengalaman melahirkan yang berbeda-beda. Kita memang dapat mempelajari proses kehamilan dan kelahiran melalui buku-buku panduan kesehatan, namun tetap saja sang ibu sendiri lah yang merasakan bagaimana prosesnya berlangsung. Dalam hal ini, saking dahsyatnya proses kelahiran itu digambarkan, Allah sampai menghadiahi pahala mati syahid jika seorang wanita beriman meninggal ketika ia melahirkan.

“Syuhada’ (orang-orang mati syahid) yang selain terbunuh di jalan Allah itu ada tujuh: Korban wabah tha’un adalah syahid, mati tenggelam adalah syahid, penderita penyakit lambung (semacam liver) adalah syahid, mati karena penyakit perut adalah syahid, korban kebakaran adalah syahid, yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid, dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Malik, Ahmad, Abu Dawud, dan al-nasai, juga Ibnu Majah. Berkata Syu’aib Al Arnauth: hadits shahih).

Dan karena rangkaian proses itu tidak mudah, makanya disebut sebagai jihadnya kaum perempuan, dan hanya dengan kesabaran lah Allah mengkaruniakan pahala tanpa batas. Namun, ketika semua proses itu selesai dilalui, euforia sang ibu kerap membuatnya lupa bahwa ia pun harus ikhlas dengan apa yang pernah dilaluinya, dengan tidak menyebut2 kembali semua penderitaannya itu karena dari situ, dikhawatirkan akan timbul rasa ujub (berbangga diri),riya (pamer), senang dipuji, dan takabbur (sombong) bahwa dia bisa melewati semuanya, padahal tak ada kekuatan melainkan kekuatan Allah. Penyakit-penyakit hati itulah yang dikhawatirkan akan menghilangkan pahala yang didapatnya, seperti orang yang bersedekah namun terus-menerus disebut.

Nah, inilah yang mendasari kenapa saya menulis status tersebut. Saya ingin berbagi motivasi kepada para ibu dan calon ibu untuk belajar bijaksana dalam menjalani proses menjadi ibu. Yang pertama, salah satu sifat manusia memang mengeluh, terutama dalam kehamilan, banyak sekali godaan untuk mengeluh, tapi kita bisa belajar bersabar dengan cara membatasi kepada siapa kita mengeluh, misal hanya kepada suami, atau kepada orang tua. Belajar bersabar juga memberikan efek yang sangat baik bagi janin. Karena sabar membuat hati ibu menjadi tenang, dan kondisi batin yang tenang akan menurunkan frekuensi gelombang otak. Rendahnya frekuensi gelombang otak akan meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu tubuh kembali pada kondisi homeostatis/seimbang, di mana seluruh organ tubuh berfungsi normal. Hal ini akan sangat berguna bagi tumbuh kembang janin, juga sebagai pelajaran spiritual pertama antara janin dan ibu, karena batin ibu berhubungan langsung dan begitu kuat dengan janin.

Yang kedua, pasca melahirkan, banyak ibu yang tanpa disadari bercerita banyak sekali tentang pengalaman rasa sakit mereka. Kita juga bisa belajar bijaksana untuk berbagi, misalnya dengan mengatakan prosesnya lancar dan bukannya sakitnya tak tertahankan. Atau dengan mengganti kalimat pengisyarat sakit dengan kata-kata yang lebih umum seperti tanda-tanda melahirkan, kontraksi, dan lain sebagainya. Cerita kelahiran memang selalu menarik, tapi dengan sedikit kebijaksanaan, kita bisa berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekeliling kita dan tetap berhati-hati semoga kita tidak salah omong dan kehilangan pahala yang luar biasa itu. Semoga Allah menjaga kita dari penyakit-penyakit hati, aamiin…

Wallahu a’lam bisshawaab..


also read this on English

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

adrie and faiz daisy path

Daisypath Anniversary tickers