Suatu hari di kelas angkot.....
Saya naik dengan beberapa penumpang lain. Dari Ramayana Rapak menuju Klandasan. Angkot biru nomor 3. Ada satu penumpang di depan, satu remaja putri di belakang, dan saya dengan Faza di tengah. Ketika angkot hendak melaju, seorang bapak berlari, "tunggu!" katanya, angkot pun berhenti lagi, dan si sopir menunggunya dengan sabar. "permisi ya... permisi.." katanya. Penumpang baru itu mengambil tempat di belakang, bersama si remaja putri tadi. Ia adalah seorang bapak paruh baya, dengan badan gempal, namun tangannya hanya sebatas siku, dan kakinya hanya sebatas paha.
Kira-kira jarak satu kilometer, bapak tadi turun. "stop depan ya..... "katanya.. "permisi mbak, permisi.." Si remaja putri rupanya ramah pula, "Silakan pak, hati-hati.." katanya penuh simpati. Melewati kami, si bapak masih mengucapkan hal serupa, "permisi.." saya pun membalas dengan senyuman, "silakan...". Ia berhenti sejenak di depan saya dan membayar, si sopir menolaknya halus, "Turun saja pak, hati-hati turunnya" katanya. Saya tersenyum. Bapak tadi lalu turun, "Makasih ya Pir! Makasih" katanya sambil menuruni angkot lalu berlalu. Angkot pun kembali melaju.
Setelah itu, tak berapa lama, penumpang lain naik, lalu penumpang di depan turun, dan tak perlu menunggu lama, penumpang lain datang mengisi tempat yang kosong. Sampai akhirnya saya harus berhenti menganalisa berapa banyak rupiah yang masuk demi menggantikan rupiah yang direlakan si sopir untuk penumpang tuna grahitanya tadi, karena saya harus turun di tempat tujuan saya.
Sebenarnya ini cerita biasa. Pengalaman biasa. Hanya tentang seseorang yang bershodaqoh, hanya tentang pribadi yang sopan, hanya tentang pribadi yang ramah, hanya tentang pribadi yang menghargai sesama tanpa melihat status dan keadaan.... Tapi rangkaian yang sedemikian rupa ini, urutan-urutan kejadian yang saya simak dan saya rasakan... begitu sungguh seirama, sungguh indah, sungguh menggugah... Dan seolah diatur sedemikian rupa demi menunjukkan kisah indah tentang amal baik manusia.
Dimulai ketika kami satu persatu menaiki kendaraan,
lalu ketika sang sopir kembali berhenti demi menunggu langkah demi langkah sang bapak,
ucapan sopan meminta ruang,
jawaban sopan mempersilakan,
penolakan halus dan shadaqah yang mengalir,
ucapan terima kasih,
himbauan simpatik....
dan hadiah-hadiah ganti dari Sang Khaliq yang begitu nyata dan cepat...
Benar-benar semua itu terasa sungguh indah di mata saya,
Sehingga saya menghabiskan sisa waktu singkat di angkot itu dengan jiwa yang penuh, yang entah bagaimana meninggalkan senyum yang tak mampu saya hilangkan dari wajah ini. Bahkan saya masih teringat hal indah itu hingga beberapa hari kemudian. Bahkan hingga saat ini ketika menuliskannya, saya masih tersenyum mengenang keindahan momen itu.
Sungguh sederhana, namun sungguh ajaib.
Dan saya berdoa, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala tetap membukakan mata saya, dan mata hati saya untuk tetap menyiksakan keindahan semacam itu, aamiin. :)
Saya naik dengan beberapa penumpang lain. Dari Ramayana Rapak menuju Klandasan. Angkot biru nomor 3. Ada satu penumpang di depan, satu remaja putri di belakang, dan saya dengan Faza di tengah. Ketika angkot hendak melaju, seorang bapak berlari, "tunggu!" katanya, angkot pun berhenti lagi, dan si sopir menunggunya dengan sabar. "permisi ya... permisi.." katanya. Penumpang baru itu mengambil tempat di belakang, bersama si remaja putri tadi. Ia adalah seorang bapak paruh baya, dengan badan gempal, namun tangannya hanya sebatas siku, dan kakinya hanya sebatas paha.
Kira-kira jarak satu kilometer, bapak tadi turun. "stop depan ya..... "katanya.. "permisi mbak, permisi.." Si remaja putri rupanya ramah pula, "Silakan pak, hati-hati.." katanya penuh simpati. Melewati kami, si bapak masih mengucapkan hal serupa, "permisi.." saya pun membalas dengan senyuman, "silakan...". Ia berhenti sejenak di depan saya dan membayar, si sopir menolaknya halus, "Turun saja pak, hati-hati turunnya" katanya. Saya tersenyum. Bapak tadi lalu turun, "Makasih ya Pir! Makasih" katanya sambil menuruni angkot lalu berlalu. Angkot pun kembali melaju.
Setelah itu, tak berapa lama, penumpang lain naik, lalu penumpang di depan turun, dan tak perlu menunggu lama, penumpang lain datang mengisi tempat yang kosong. Sampai akhirnya saya harus berhenti menganalisa berapa banyak rupiah yang masuk demi menggantikan rupiah yang direlakan si sopir untuk penumpang tuna grahitanya tadi, karena saya harus turun di tempat tujuan saya.
Sebenarnya ini cerita biasa. Pengalaman biasa. Hanya tentang seseorang yang bershodaqoh, hanya tentang pribadi yang sopan, hanya tentang pribadi yang ramah, hanya tentang pribadi yang menghargai sesama tanpa melihat status dan keadaan.... Tapi rangkaian yang sedemikian rupa ini, urutan-urutan kejadian yang saya simak dan saya rasakan... begitu sungguh seirama, sungguh indah, sungguh menggugah... Dan seolah diatur sedemikian rupa demi menunjukkan kisah indah tentang amal baik manusia.
Dimulai ketika kami satu persatu menaiki kendaraan,
lalu ketika sang sopir kembali berhenti demi menunggu langkah demi langkah sang bapak,
ucapan sopan meminta ruang,
jawaban sopan mempersilakan,
penolakan halus dan shadaqah yang mengalir,
ucapan terima kasih,
himbauan simpatik....
dan hadiah-hadiah ganti dari Sang Khaliq yang begitu nyata dan cepat...
Benar-benar semua itu terasa sungguh indah di mata saya,
Sehingga saya menghabiskan sisa waktu singkat di angkot itu dengan jiwa yang penuh, yang entah bagaimana meninggalkan senyum yang tak mampu saya hilangkan dari wajah ini. Bahkan saya masih teringat hal indah itu hingga beberapa hari kemudian. Bahkan hingga saat ini ketika menuliskannya, saya masih tersenyum mengenang keindahan momen itu.
Sungguh sederhana, namun sungguh ajaib.
Dan saya berdoa, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala tetap membukakan mata saya, dan mata hati saya untuk tetap menyiksakan keindahan semacam itu, aamiin. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar