Senin, 19 April 2010

Hati dan Mobil

Sebenarnya ini tak terlalu relevan sih.... karena saya juga menganalogikannya secara tidak sengaja.
Namanya juga pikiran iseng, terbang-terbang di benak saya berusaha nyambung-nyambungin hal-hal yang sebenernya ga nyambung, hehehe...


Jadi singkat cerita, kami punya mobil, Feroza, jenis jeep keluaran tahun '95, type yang macho dengan big wheels juga. Maklumlah, pilihan suami (kalau saya yang pilih sih mungkin akan lebih cute :P). Suatu ketika, mobil kami agak-agak perlu perawatan, bannya perlu di-spooring, karena tidak seimbang antara kiri kanannya. Jadi si mobil, kalo stirnya tidak dijaga, maunya lari ke kiri terus. Selain itu, karena big wheels, walaupun pakai power steering, tetap saja lebih berat (apalagi kalau saya yang bawa, bodi saya kan ga sesuai dengan bodi si mobil), apalagi kalau dibandingkan dengan mobil keluaran tahun-tahun belakangan. hmmmm....... Jadinya kalau nyetir saya tegang jagain setir, kalau mau santai-santai ikut alur si mobil, wah bisa bikin jalanan sendiri saya, alias nubruk-nubruk. Sebenarnya ada sesuatu yang (dengan malu-malu) harus saya akui, sudah hati-hati pun saya masih diuji juga dengan accident yang lumayan parah. Intinya, berkendara dengan mobil ini, harus benar-benar fokus dan ya itu tadi stirnya harus dijaga.

Berawal dari ban mobil kami yang tak seimbang dan stir yang berat, entah kenapa tiba-tiba ada flash di benak saya. Flashhhhh!!! (kira-kira begitu ^_^), saya jadi ingat satu quote bahwa manusia itu harus dipaksa untuk berbuat kebaikan. Dipaksa untuk berbuat kebaikan, dipaksa untuk memulai suatu kebaikan. Dan bahwa kejelekan itu lebih cepat menular dari pada kebaikan. Jadi, ibarat stir yang berat dan roda yang lari ini, seperti itulah kira-kira hati manusia. Ketika kita berjalan, sungguhpun sudah berada di jalan yang semestinya (istilah jalan yang benar dalam hal ini mungkin terlalu "sholih", hehe), stir kita, hati kita, harus dijaga, dikendalikan, agar ia tidak menghasilkan pergerakan ban mobil (pergerakan amal dan perbuatan) kita ke arah yang tidak diinginkan. keluar jalur, zig zag, atau bahkan nabrak. wahhh... ini dia...! Sementara ketika mobil kita keluar jalur, atau mengambil jalur orang lain (bahkan nabrak), kita tak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga orang di sekitar kita, mulai dari orang yang bingung, kesal, tak bisa lewat, sampai-sampai orang yang dirugikan secara material, moril, dan sebagainya.

Demikian juga ketika kita tak menjaga stir hati kita, bisa-bisa ban amal kita menabrak hati orang, melukainya, membuatnya jengkel, bahkan menyakitinya. Parahnya lagi, ketika keadaannya sangat fatal, bisa jadi kita sendiri yang jadi korban, hati kita bisa sakit parah bahkan mati. Naudzubillah.... Inilah point pentingnya. Ketika kita harus menjaga hati kita untuk senantiasa berada di tempatnya dan melakukan tugasnya sebagaimana mestinya. Inilah yang harus dipaksa, sebgaimana saya memaksa stir saya untuk tetap lurus atau berbelok sesuai tempatnya, demikian pula kita memaksa hati kita untuk tetap di jalurnya, dengan memaksa hati melakukan kebaikan-kebaikan, tentu saja menurut rambu-rambu yang berlaku, menurut aturan yang berlaku, aturan Langit, juga aturan Bumi. Ketika kita melakukannya, dan tetap melakukannya, insya Allah kita tak akan merugikan orang lain, dan merugikan diri sendiri. Iya kan?

Tapi namanya hidup, selalu saja ada godaan. Ibarat orang berkendara, banyak sekali yang ditemui di sepanjang jalan. Hal yang remeh temeh, sampai yang menyita perhatian. Tak luput pula kondisi jalanan yang tak selalu lempang, kadang lurus tapi bergelombang, kadang mulus namun berliku-liku, kadang lurus dan mulus namun banyak halangan, apakah hiruk pikuk, apakah kotoran, apakah angin kencang dan hujan deras, atau bahkan panas yang menyengat. Itulah yang menguji kefokusan kita. Ikuti rambu, peka pada keadaan, rating kendaraan lain, klakson kendaraan lain, marka jalan, rambu, lampu lalu-lintas...... semuanya. Dan mempertahankan posisi, dengan stir yang berat dan ban yang lari-lari ini, mungkin (bisa saja kita -paksa-) samakan dengan mengendalikan hati kita yang senantiasa ingin mengalir semaunya, di arus yang deras pula. Sekali lagi perlu dipaksa. Sedikit demi sedikit, dan dengan terus berlatih.

Berlatih untuk tersenyum pada setiap orang yang kita temui, memaksa kita untuk jadi pribadi yang lebih hangat dan simpatik.
Berlatih untuk berhenti memikirkan hal-hal yang tidak penting, memaksa kita kita menjadi pribadi yang lebih bermanfaat. Memikirkan hal-hal yang bermanfaat akan menghasilkan perbuatan yang bermanfaat juga.
Berlatih untuk menyisakan sedikit harta, memaksa kita untuk jadi pribadi yang gemar sodaqoh dan menyadari zakat.
berlatih mengaji satu ayat setiap hari memaksa kita jadi hamba yang belajar mencintai Quran daripada bacaan duniawi lainnya....
berlatih menjawab Shalawat Nabi memaksa kita jadi pribadi yang cinta Rasulullah, kelak mungkin kita melafalkan shalawat hampir sepanjang hari sepanjang kita mengingat beliau...
berlatih memperlama shalat dan berdoa satu meniiiit saja, memaksa kita jadi hamba yang lebih dekat pada Allah....

Allahumma aamiin...

ini hanya sekelumit kisah paksaan dan latihan...
Awalnya sulit memang, karena itu dinamakan paksaan dan latihan. Tapi semua itu akan membawa kita pada kemahiran, pada suatu keadaan di mana kita tak perlu lagi dipaksa, di mana kita melibatkan nurani untuk melakukannya, di mana semua amal baik dan rambu-rambu itu menjelma jadi makanan jiwa kita... sesuatu yang bukan paksaan dan kewajiban, namun kebutuhan....

Ya Allah, kapan hamba sampai pada keadaan itu?

Mungkin saya menuliskannya terlalu berlebihan, hmmm.... sebetulnya tulisan ini saya tujukan untuk diri saya sendiri. Anggap saja saya tengah mengklakson nyaring-nyaring tepat di telinga saya supaya telinga ini dengar dan tanggap, supaya saya cepat-cepat kembali ke jalur. saya orang yang suka keluar jalur. Tentu saja, ketika salah jalur dan salah arah, memutar mobil macam ini berkali lipat lebih sulit dari pada sekedar menjaga stirnya tetap lurus. Apalagi kalau jalannya buntu dan tak ada putaran. Hmmm..... ke mana harus minta tolong....?

IyyaaKa na'budu wa iyyaKa nasta'iin.....


WaLLahu a'lam bis shawaab....



ps. Anda yang tak pernah membawa mobil seperti yang saya gambarkan di atas mungkin agak sulit membayangkan analogi ini... hehe... jangan pusing, namanya juga nyambung-nyambungin hal yang tidak nyambung. Semoga bermanfaat :)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

adrie and faiz daisy path

Daisypath Anniversary tickers