Selasa, 27 April 2010

Little Girl And The Moon Part II

Sebulan berlalu setelah sesi "menyaksikan keindahan bulan" di bulan lalu. Ketika itu Faza kecil masih ah-oh ah-oh mendengar kenapa bintang tidak terlihat kalau bulan purnama. Tapi hari ini, kelihatannya si kaka mulai nyambung dengan teori itu. Hmm...... betapa bersemangatnya saya menulis tentang putri kecil kami itu.

Jadi, tak sengaja setelah shalat maghrib, saya melihat ke jendela dan...... bulan purnama baru terbit! Wahh, anak-anak pasti suka kalau di ajak lihat bulan sebentar. Jadi setelah makan malam, saya ajak anak-anak ke teras rumah. mereka berdua berlari saling mendahului, si kecil bawa papan puzzle dan si kakak bawa keping-keping puzzle. Kami berdiri berbaris di pagar, memandang bulan yang bersinar sendirian di pekatnya malam. Eh, belum pekat banget sih, kan belum terlalu malam ^^, biasa... dramatisasi itu kan perlu, :)

"Ummi, ummi, nyanyi bulan dong nyanyi bulan..."
si kakak request lagu. Jadilah lagu Bulan Sabit dan Ambilkan Bulan Bu bergantian dinyanyikan. Si kakak bernyanyi dan adik mengiringi sambil lompat-lompat. Sudah bosan menyanyi, si adik ambil inisiatif menyusun puzzle kayu favoritnya. Kakak yang merasa sudah hafal dengan puzzle nya, mencoba membimbing dengan gaya sok tahunya. Begitu asyiknya mereka main puzzle, bongkar pasang, bongkar pasang... Sampai tiba-tiba saya teringat sesuatu...

"Kakak, coba lihat bulannya? Hayo namanya apa??"
"Itu, bulan telang!" serunya tak peduli.
"Iya, bulan terang. Namanya bulan apa?"
"Bulan sabit" jawabnya sekenanya.
"Bukaaan... bukan bulan sabit, yang satunya...."
"Emmm... apa ya... bulan telang." tegasnya.
"Eh... bulan pur.....?"
"Bulan pulamaaa!!" serunya riang sambil tertawa. Matanya sekilas melirik bulan di atasnya lalu kembali menekuni puzzle dengan si adik.
"Hmm...... mana ya bintangnya..?" saya pura-pura bicara sendiri.
"Ga ada" katanya cepat.
"Kemana ya?"
"Sembunyi" ia masih sibuk menyusun.
"Sembunyi di mana ya?" saya kembali memancing.
"Di atas rumah kitaaa!" jawabnya asal.
"Aah.. masa di atas rumah kita?" protes saya.
"Sebental na Mi, faza susunin puzzle ade dulu...." hmm.. ia beralasan. dan tiba-tiba ia bilang,
"Bintangnya itu Mi, kalah dia cahayanya sama bintang, eh bulan. makanya dia ga ada.."
wah... sekarang umi nih yang jadi murid,
"Memang kenapa ko kalah?" pancing saya lagi.
"Iyaa.... bulannya kan, telang kan?? bintangnya mana?? kecil-kecil itu jauuhh... bulannya kan dekat!"
Fazaaaaaa!!! Ummi jadi surprise,
"Waah... kakak pintar...." saya memuji.
"Eh, jadi banyak ga bintang yang sembunyi?"
"Banyak mi,"
"Jauh apa dekat?"
"Jauh jauh mi..... keciiiiiil sekali!" katanya,
"Bulannya mana?"
"Itu bulan!"
"Ada berapa?"
"Lima." mulai deh asalnya.
"Masa lima??"
"Hehehehe... empat deh"
"Masa empat? Lihat dong bulannya ada berapa?"
"Empat mi...." jawabnya asal dan memaksa.
"Hmmmm????"
"Iya.... satu...!!"
"Satuu... gitu dong.... baru anak umi yang pintar.."

Si adik masih tekun main puzzle, meletakkan kepingan kuda di tempat harimau, meletakkan sepeda di tempat kuda, dan gajah tepat di tempatnya. Kakak masih mencoba mendominasi dengan instruksi-instruksi "Gini de, jangan di situ de, looh.... lain itu, naa kaan ade...., ini na de...., iya taloh situ, bla bla bla....."


Ya Rabb, Infinite Gratitude To You only, Who has endowed us with such a cute kids with their bright minds, Please blessed our family and make them devoted to Your Path, nation, and family, aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

adrie and faiz daisy path

Daisypath Anniversary tickers