Minggu, 25 April 2010

Qurratul Oeyun



Namanya Qurratul Oeyun, dipanggil Oeyun, lahir di Sumenep, kebanggaannya, 13 Januari 1985... hmmmm... setengah abad dah kau Yun :), teman sekelas saya di Aliyah Muallimat Jombang.

Dua tahun kami belajar di kelas yang sama, IIA, dan III IPA1, menurut saya, Oeyun pribadi yang periang, ramah terhadap siapa saja, manja, selalu tersenyum, lucu, dan... ya.. memang terkadang sangat kekanak-kanakan. Mungkin karena ia anak terakhir di keluarga yang sangat protektif dan begitu penuh cinta. Kata Ewie, sahabat saya yang lain (juga teman sekelas kami), Oeyun itu 'ngangeni', alias selalu dirindukan. Tentu saja, semua orang betah dengan sifatnya yang ramah apalagi tidak pelit (:P)

Kami bersahabat bertiga. Sebenarnya ketika sekolah dulu bisa dikatakan bahwa kami hanya 'ok ok friends', teman untuk have fun lah, bukan seseorang yang akrab sampai ke dalam hati. Tapi kami memang dekat, dan rasanya hampir tak pernah bermasalah. Tapi kita tak pernah tau kini dan nanti, seperti itu pula kedekatan yang tercipta di antara kami. Kami akrab dan semakin akrab justru setelah dipisahkan ruang dan waktu. Pasca lulus dari Aliyah dan punya kehidupan masing-masing, hanya terhubung oleh serat-serat optik yang kami sendiri tak tau rupanya, justru membuat hati kami terhubung. makin ke sininya, makin lama kami berpisah, entah bagaimana ikatan itu semakin erat. Itu tentang kami bertiga, tentu saja.

Dan bagi saya, Oeyun, di awal mula perpisahan cerita kami hanya seputar hows life, hows campus, hows the boys, girl's things like that. Tapi saya sudah bilang, makin lama berpisah, Allah semakin mengeratkan hubungan hati kami. Di tahun-tahun terakhir, kami saling kepikiran dan khawatir jika lama tak bertemu. Padahal 'bertemu' di sini berarti, lama tidak smsan, atau telepon. Hubungan seperti itu, bagi saya, sulit dimiliki kecuali persahabatan itu sudah teruji. Dan kami telah mengujinya, di saat kami benar-benar berpisah.

Di antara kami bertiga, saya pikir Oeyun memiliki hidup yang 'lebih lurus'. Saya dan Ewie selalu mengatakan dan setengah berkelakar bahwa ia yang paling sholihah dengan zona hidup yang paling aman. Tentu saja, dengan lingkungan yang relative jauh sangat jauh lebih aman dari rengkuhan dunia luar, bahkan sekedar dari polusi udara, keluarga yang begitu mencintainya, dan teman-teman di sekitarnya yang juga senantiasa di jalur yang tepat, membuatnya selalu terjaga. Yun, kami berdoa semoga Yun selalu terjaga (doakan pula Allah menjaga kami ya ^^), aamiin. Jika saya dan Ewie, bisa dibilang hidup kami lebih 'beresiko', beresiko bagaimana? hmm..... yang jelas, lingkungan kami sangat berbeda (bersyukurlah kau Yun ^^)

Namun terlepas dari itu, Oeyun pun mengalami jatuh bangun dalam hidupnya. Dan betapa kami sangat menyesal kami tak mendampinginya, betapa kami menyesal kami tak dapat memeluknya ketika ia butuh pelukan dan sokongan. Betapa ingin kami menyelami kehidupannya lebih dalam agar kami tau apa yang bisa membuatnya bahagia dan semampunya kami berikan kebahagiaan itu untuknya. Kadang saya dan Ewie berdiskusi hanya untuknya, mempertanyakan hal bodoh, apa yang bisa kami lakukan untuknya? Dan tentu saja tak ada yang mengalahkan kekuatan doa. Dan setiap harap itu seperti tangan-tangan tak terlihat yang merengkuhnya dalam kasih sayang dan dukungan penuh. Sungguhpun mungkin doa kami hanya sebagian kecil dari doa-doa lain yang ia dapatkan atau yang ia panjatkan sendiri.

Dan seperti pelangi yang terbit setelah hujan yang mungkin saja meruntuhkan dunia, kelembutan cahaya mentari yang terbias dari awan-gemawan, ketenangan dan kekhidmatan seperti itu pulalah yang lahir dari setiap problematika yang terselesaikan (dan terpasrahkan dengan baik kepada Sang Pencipta). Bagi saya, Oeyun selalu jadi pribadi yang ceria, bahagia, dan menyebarkan kebahagiaan di sekitarnya.

Hingga sekarang, terakhir kali saya melihatnya, mungkin hampir 7 tahun yang lalu. Rasanya baru kemarin. Tapi ya, memang sudah lama sekali. Dan begitu banyak yang terjadi dalam kehidupan setiap kami. Ketika susah dan senang bergantian datang layaknya siang dan malam. Ketika setiap tetes air mata ingin kami tumpahkan di bahu yang tepat. Ketika setiap tawa yang terurai ingin kami bagi pada wajah-wajah yang begitu kami rindukan. Ketika setiap kebingungan ingin kami jawab bersama dengan jiwa-jiwa yang jujur menilai kami. Ketika kediaman mampu mewakili semua kata.... Dan ketika segala perubahan tak pernah membuat kami berubah. Kami memang sahabat.

Saya ingat, salah satu momen paling penting dalam hidup saya, ketika melahirkan putri pertama, langsung saya kabarkan hanya sesaat setelah saya mendengar tangisannya dan bidan masih membersihkan saya. Mereka begitu penting kan? Bahkan terlalu penting, sehingga selepas pesawat yang membawa saya pergi dari Tanah Jawa, selepas itulah saya tak pernah bercerita tentang hidup saya berikut semua masalahnya, terhadap orang lain. Saya lebih memilih menerangkannya dengan repot melalui telepon atau message dengan mereka. Bukan berarti saya tak ingin menjalin persahabatan baru, hanya saja, sulit menemukan sahabat yang benar-benar menyentuh hati kita, sulit menemukan yang sebanding. Dan memang sahabat-sahabat saya adalah orang-orang yang tak tergantikan.

Yun, masih ingat kan waktu Yun pilek dan bersin di depan kelas????? iiiihhhhhh..... joroooooooooooooooooooooooooookkkkk......!!! ^_*


Saya pun selalu ingat, di awal mula pernikahan long distance, ketika penat mendera seluruh tubuh, dan sebuah pesan masuk, dari Oeyun, ia bilang,

"Ketika kehidupan memberimu seribu alasan tuk menangis, tunjukkan bahwa kamu mempunyai sejuta alasan tuk tersenyum. Nikmati setiap detik, waktu, dan akhiri kelelahan hari ini dengan keikhlasan... Semangat!!"

dan ketika itu saya merasa sebuah spirit baru memenuhi saya, dan seketika segala kepenatan itu menghilang dari tubuh dan jiwa saya. Hingga saat ini, itulah kutipan favorit saya. Thanks Yun, :) Dan tak perlu ditanyakan pula bagaimana ia menyemangati saya di saat-saat sulit, di saat-saat saya melakukan kesalahan dan buta terhadapnya, di setiap jatuh-bangun saya. That's what friends are for rite, ^_^



Dan hari ini, saya sangat berharap saya ada di sana, menjadi saksi kebahagiaannya,




Ketika ia menemukan kekasih hatinya,


Dan mengikat janji dunia akhirat dengan Sunnah Rasulullah,


Selamat Menempuh Hidup Baru
untuk sahabat terbaik ku,
Qurratul Oeyun
&
Syahril Hidayat
Semoga Allah memberkahi hidup kalian dengan segala kebaikan yang Dia Ridloi
Semoga Allah memberkahi hidup kalian dengan segala kebaikan yang Dia Ridloi
Semoga Allah memberkahi hidup kalian dengan segala kebaikan yang Dia Ridloi
Allahumma Aamiin



Dan tulisan ini, Kado Pernikahanmu girl, ^_^

Always Love u,
Kisses and Hugs,
Fa,






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

adrie and faiz daisy path

Daisypath Anniversary tickers